Dampak Quarter Life Crisis terhadap Diri Kamu

Pemahaman Diri
Ruth Gabriele Tambunan
14 Mei 2021
Dampak Quarter Life Crisis terhadap Diri Kamu
Satu Persen - Dampak Quarter Life Crisis terhadap Diri Kamu

Halo, Perseners! How was your day? Semoga baik-baik aja ya. Kenalin aku Ruth, sebagai Associate Blog Writer di Satu Persen.

Kamu pernah gak sih? Pas lagi rebahan sambil liat-liat sosial media, tiba-tiba liat akun si X. Terus mikir,

“Kita seumuran, tapi si X udah dapet kerjaan. Udah beli rumah sendiri. Udah lanjut S2. Udah nunggu anak ke-2 (dan seterusnya) Dan gue masih gini-gini aja... ”

Abis itu rebahan jadi gak senikmat itu lagi. Kita jadi overthinking. Pun kita mau nyoba berhenti rebahan, misalnya ngelakuin sesuatu: Entah itu daftar lomba, belajar main musik, lamar kerja atau bangun usaha, eh tetep aja muncul pikiran: ‘Emang gue bisa ya? Kayaknya gak deh.’

Nah, kalau kamu sering overthinking, kayak contoh aku tadi, maka bisa jadi kamu lagi mengalami satu dampak dari QLC alias quarter life crisis.

Tapi gak apa-apa, ini wajar banget. Memang rasanya gak enak terlebih kalo dampaknya udah merembet ke mana-mana. Jalanin aktivitas pun bisa gak sepenuh hati. Padahal sumbernya cuman dari pikiran.

Makanya perihal QLC, seringkali ada akun-akun motivasi yang suka nawarin solusi. Yang seringkali nyaranin kita buat tenangin pikiran, buat ngeyakinin diri kita, dsb. Sampai akhirnya muncul sebuah quote, yaitu:

‘Semua orang punya waktu dan porsinya masing-masing, kok’.

Sebenernya, aku setuju sama pernyataan itu. Tapi, aku juga tau sekalinya keadaan lagi gak baik-baik aja, kita ya jadi overthinking lagi tentang hal yang negatif. Dan kadang mengontrol pikiran yang negatif itu lebih susah.

Tapi, apa quarter life crisis selalu berdampak negatif? Sebenernya gak juga kok. “Lah terus dampaknya positif?”. Well, kalau kamu kepo, kamu bisa simak artikel ini sampai bawah untuk tahu dampaknya quarter life crisis dan gimana caranya supaya QLC bisa ngasih dampak positif buat kita.

Nah, sebelumnya kenalan dulu yuk sama quarter life crisis!

Quarter Life Crisis

Sebenarnya gak ada definisi pasti dari quarter life crisis. QLC adalah krisis yang biasa dialami oleh orang dengan kisaran umur 25-30 tahun yang bingung sama pilihan hidupnya. Singkatnya, QLC dialami oleh dewasa muda yang lagi gencar-gencarnya mencari jati diri.

Sumber: someecards via Pinterest

Fenomena ini bisa ditandai dengan kebingungan akan berbagai pilihan hidup yang nyangkut antara dirinya dengan lingkungan sekitar. Sebenarnya QLC bukan suatu hal yang perlu ditakutkan. Malah, menurut Psychology Today seseorang butuh ngalamin QLC untuk menentukan kemana arah yang dia mau tuju dalam hidup.

Mengutip dari The Guardian, sebuah survei menemukan 86% dari 1.100 anak muda ngalamin QLC. Mereka mengaku merasa tertekan untuk bisa sukses dalam semua aspek dalam waktu tertentu. Hubungan, keuangan, dan pekerjaan diharapkan berhasil sebelum mencapai usia 30 tahun. Kalo mau baca penelitiannya lebih lanjut bisa klik di sini.

Jadi, bisa dibilang penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari pertemanan, pekerjaan, percintaan, dan lain-lain yang melibatkan pencarian identitas diri. Dengan melalui hal-hal itu seseorang bisa lebih mendalami diri dan mengenal perannya dalam lingkungan sosial.

Yang perlu diwaspadai itu ketika kita gak tau dampaknya apa. Nyatanya, larut dalam QLC bisa kasih dampak negatif yang kebawa sampe lewat fase itu. Itu kenapa QLC perlu ditangani supaya bisa kasih positif buat hidup kita kedepannya.

Kan kita udah bahas sedikit tentang definisi, tanda, dan penyebab quarter life crisis. Terus, apa aja tuh dampaknya?

Apa Dampak Quarter Life Crisis?

1. Kepercayaan Diri Menurun

QLC bisa nurunin kepedean-mu kalo kamu bandingin pencapaianmu dengan jadiin pencapaian orang lain sebagai acuan. Misal orang lain memutuskan Y dan berhasil sedangkan kamu ngga. Terus kamu jadi minder dan meragukan kemampuanmu.

Padahal kamu gak berhasil disitu bukan karena gak bisa. Kalo kamu emang ngerasa belum maksimal, oke. ATAU bisa jadi tempatmu bukan di Y. Dan kamu gak sadar kalo ada ABC yang belum dicoba karena terlalu fokus sama Y.

Jadi, fokus dengan dirimu sendiri. Buat acuan sendiri. Kamu bisa capai yang kamu mau dengan caramu sendiri kalo kamu luangkan waktu untuk mengenal dirimu. Waktumu pun jadi lebih banyak ketika kamu gak fokus sama orang lain.

Baca juga: Sudahkah Aku Mengenal Diriku Sendiri?
Sumber: @sukabelajarr via Twitter

Jangan biarin hal ini ketutup sama pikiranmu yang udah keburu terlena sama pencapaian orang. Kamu gak yakin dengan kemampuan dirimu sampe jadinya takut mencoba. Kepercayaan diri yang makin menurun ini bisa mengarah ke self-sabotage.

2. Stres dan Cemas Berlebih

Stres dan cemas berlebih adalah ketika kamu mengalami tekanan emosional yang berlebih. Kamu mungkin mengalami kegelisahan yang bisa ganggu psikis hingga fisikmu. Ini juga yang bisa jadi dampak dari quarter life crisis.

Karena membandingkan diri dengan orang lain, muncul perasaan gak puas. Kamu gak merasa cukup dengan apa yang kamu punya atau raih. Padahal kayak aku sebut di atas. Masing-masing dari kita punya porsi dan acuan sendiri. Hal ini bisa berujung jadi stres kalo kamu terlalu memikirkan hal-hal yang ada di luar kendalimu.

Coba juga: Tes Tingkat Keparahan Stres

Selain itu, merasa ketinggalan pengalaman juga kadang jadi penyebabnya. Mungkin kamu mengkhawatirkan kalo gak ada waktu lagi atau terlambat untuk mulai ini-itu karena faktor umur. Padahal, waktu bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Jadi, untuk apa kamu pikirkan?

Mulailah kapan pun. Perihal cepat atau lambat itu hanya ukuran yang dibuat orang-orang. Kamu gak terlambat, Kamu udah tepat.

Kamu udah sesuai dengan timelinemu sendiri.

Sumber: @nksthi via Twitter

Atasi stres dan rasa cemasmu dengan berhenti mendengarkan penilaian orang. Ngelakuin sesuatu untuk orang lain cuman bikin usahamu terasa kosong. Lakukan hal yang kamu mau sesuai dengan yang dibutuhkan untuk pengembangan diri kamu.

3. Kesepian

Kesepian di sini gak selalu berarti sendiri. Mungkin Perseners saat ini lagi berada di situasi yang baru. Alias ada hal-hal lama yang udah gak sama lagi.

Misal tinggal jauh sendirian untuk pertama kalinya. Belum bekerja sementara teman-teman lagi asik explore pekerjaan atau nikmatin duit mereka. Ada juga teman yang mulai membina keluarga jadi gak bisa sering ketemuan lagi.

Seketika semua orang sibuk dengan dunia masing-masing. Lingkaran sosial mengerucut dan seakan kamu merasa terasingkan dari dunia yang udah kamu bentuk selama ini. Bisa jadi kamu ngerasa gitu karena lagi coba menyesuaikan diri terhadap hal-hal di luar zona yang kamu tau.

Gambar oleh pch.vector via Freepik

Nyatanya, semua orang lagi gencar-gencarnya mencari diri mereka di umur-umur ini. Gunakan waktumu dengan baik dengan melakukan hal-hal baru yang mau kamu coba. Dengan begitu kamu punya banyak waktu untuk PDKT dengan dirimu sendiri.

Kalo Perseners lagi merasa kesepian dan mau tahu cara mengatasinya, bisa tonton video di bawah ini ya!

mengatasi rasa kesepian

4. Demotivasi

Demotivasi juga menjadi dampak kamu mengalami quarter life crisis. Demotivasi ini terjadi setelah kamu merasa gak yakin dengan kemampuanmu. Mikir kalo akhir-akhirnya gak bakal berhasil juga. Kamu jadi gak usaha dengan maksimal karena takut gagal.

Penyebabnya bisa karena kamu udah keburu kecewa dengan diri sendiri. Membandingkan diri dengan orang lain dan merasa gak bisa mengejar itu. Padahal itu karena kamu bertumpu sama target dia. Dan bukan target kamu.

Coba cari tahu akar permasalahanmu untuk menangani rasa demotivasi itu. Tentukan tujuanmu mengerjakan X, mengerjakan Y. Kendalikan pikiranmu kalo kerjaanmu gak berjalan mulus. Kemungkinan gagal itu pasti ada. Tapi, jalan keluar pasti bisa ditemuin kalo kamu tetap berpikir positif.

Sumber: cheezburger via Pinterest

Mungkin gak banyak orang yang tau kondisimu sekarang. Cuman, aku percaya ungkapan ‘satu pintu ketutup ada pintu lain yang kebuka’. Kamu masih bisa ada di titik ini karena keputusan dan kemampuanmu.

Dan gapapa kalo kamu sering bingung dalam proses pencarian diri. Kita semua gak pernah berhenti untuk belajar setiap hari. Coba hal yang beda hari ini dari yang kemarin. Yang paling penting perkembangan dirimu bukan berapa lama waktumu yang udah lalu (baca: umur).

Tapi, kalo dirasa fenomena quarter life crisis ini udah ganggu kamu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Contohnya kayak demotivasi tadi atau sulit untuk balikin kepercayaan diri kamu. Kamu bisa mengikuti layanan mentoring yang disediakan oleh Satu Persen, loh.

Nantinya, kamu bakal dikasih tahu penanganan yang baik untuk mengatasi dampak dari quarter life crisis yang kamu alami. Selain bisa cerita dan mencari jalan keluar dari masalahmu bareng Mentor Satu Persen, kamu juga bisa dapat banyak benefit lainnya, loh!

Nah, sekian dulu dari aku. Semoga artikel ini bisa membantu kamu lebih lagi menuju #HidupSeutuhnya, setidaknya Satu Persen setiap harinya. Terima kasih dan sampai jumpa di lain waktu, Perseners!

References

Beaton, C. (2015, December 29). Quarter-Life Crisis: 5 Steps To Stop Floundering. Psychology Today. Retrieved May 3, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-gen-y-guide/201512/quarter-life-crises-5-steps-stop-floundering

Bradley University. (n.d.). Understanding The Quarter Life Crisis. Bradley University Online. Retrieved May 3, 2021, from https://onlinedegrees.bradley.edu/blog/understanding-the-quarter-life-crisis/

Robbins, A. and Abby Wilner. (2001). Quarterlife Crisis: The Unique Challenge of Life in

Your Twenties. New York: MJF Books

Schroeder, J. (2016, September 8). Millenials, This Is What Your Quarter-Life Crisis Is Telling You. Forbes. Retrieved May 2, 2021, from https://www.forbes.com/sites/julesschroeder/2016/09/08/millennials-this-is-what-your-quarter-life-crisis-is-telling-you/?sh=100e9eaf3262

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.