Apa Itu Quarter Life Crisis? Bagaimana Cara Kamu Menghadapinya?

Pemahaman Diri
Fathan Akbar
8 Jul 2020

Mungkin dari lo sudah banyak yang mendengar istilah quarter life crisis. Atau malah lo salah satu orang yang lagi mengalami fase ini? Menjadi dewasa merupakan keharusan bagi setiap orang, sebab tentunya lo gak bisa menahan laju waktu. Tak jarang itu memunculkan krisis dalam diri lo. Oleh sebab itu, yang bisa lo lakukan hanyalah mempersiapkan sebaik-baiknya masa dewasa tersebut. Salah satunya dengan cara mengenali ciri dari fase quarter life crisis.

Di fase quarter life crisis, mungkin bakal muncul pertanyaan, misalnya dalam karier, “Apakah gue melakukan pekerjaan yang benar-benar gue sukai? Rasanya kok bosen banget ya ngerjain hal yang itu-itu aja?” Pertanyaan semacam ini mungkin terus menghantui lo dalam sehari-hari. Mulai saat lo bangun tidur, bekerja di kantor, sampai balik lagi ke rumah untuk istirahat.

Dari situ, quarter life crisis mungkin akan membuat lo merasa, “kayaknya hidup gue cuma buat nyenengin orang lain doang deh”. Alhasil, lo mungkin jadi mulai mempertanyakan apa sebenarnya tujuan dari hidup lo. “Untuk apa gue menjalani semua ini kalo gue gak bahagia?”

Kalo lo pernah ngalamin kayak begitu, wajar aja kok sob. Karena usia menjelang dewasa emang lagi rentan-rentannya mengalami krisis diri. Mungkin dari kalian banyak yang penasaran dengan istilah quarter life crisis. Gue bakal coba ngejelasin apa sih maksudnya dan gimana cara menghadapinya. Penasaran? Yuk simak tulisan gue sampai habis!

Jadi, Arti Quarter Life Crisis Adalah...

Mendengar istilah ini, mungkin lo bakal mikir, “Emangnya ada ya quarter life crisis itu? Palingan cuma buat nakut-nakutin orang-orang aja gak sih”. Mungkin lo bisa ngomong kayak begitu karena belum paham tentang fenomena quarter life crisis ini, sehingga jadi cenderung mengabaikan tanda-tandanya.

Quarter life crisis adalah periode pencarian jati diri yang biasa terjadi di usia 25-30 tahun. Biasanya, krisis ini ditandai dengan munculnya kebingungan serta kebimbangan akan kehidupan. Salah satunya disebabkan oleh banyaknya pilihan hidup yang harus dipilih.

Quarter life crisis dinilai berdampak pada 86% kaum milenial yang sering merasa tidak nyaman, kesepian, serta depresi dalam hidupnya. Terlepas dari itu, fase ini merupakan suatu hal yang penting untuk dialami seseorang. Salah satunya guna mengenali diri secara lebih mendalam serta mempersiapkan berbagai kemungkinan yang ada di masa depan.

Akan tetapi, quarter life crisis bukanlah sesuatu yang harus lo takutkan. Hal ini memang wajar dialami seseorang yang lagi transisi menuju fase hidup berikutnya. Makanya, penting bagi lo untuk mempersiapkan fase satu ini dengan baik agar bisa menjalani hidup yang bahagia di masa mendatang.

Tanda Seseorang Mengalami Quarter Life Crisis

Maka dari itu, lo perlu mengetahui apa saja tanda-tanda dari quarter life crisis ini, di antaranya adalah

1. Merasa gak bahagia menjalani rutinitas saat ini

Misalnya, dari segi finansial dan pekerjaan, lo mungkin bisa dibilang sudah cukup stabil. Mulai dari hunian di tengah ibu kota, mobil keluaran terbaru, sampai tabungan yang cukup. Akan tetapi, lo merasa bahwa rutinitas pekerjaan lo itu gak membuat lo bahagia.  Entah karena lo menjalaninya hanya karena ingin membahagiakan orang tua atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

2. Sering mencemaskan apa yang akan terjadi di masa depan

Misalnya, lo lagi pergi ke coffee shop selepas pulang dari kantor buat melepas penat selama bekerja. Di sela-selanya, muncul pikiran dalam benak lo tentang masa depan. Misalnya, “Duh, nanti setelah pensiun hidup gue bakal kayak gimana ya?” Pikiran itu mungkin terus menghantui lo, baik saat bekerja maupun beristirahat.

3. Merasa minder saat melihat aktivitas teman di medsos

Misalnya, lo lagi main instagram nih di sela kesibukan pekerjaan kantor. Pas lagi buka instastory, ada teman kuliah lo yang ternyata telah menikah di usia lo saat ini. Mana pasangannya cantik dan terlihat bahagia lagi. Alhasil, lo mungkin jadi minder gara-gara lo belum menikah.

Baca Juga Pengaruh Sosial Media Terhadap Self-Esteem: Bikin Bahagia atau Menderita?

4. Menyadari bahwa segala hal gak selalu berjalan sempurna

Saat lo kecil, menjadi dewasa mungkin menjadi sesuatu yang lo idam-idamkan. Mulai dari punya uang banyak, bisa bebas bepergian, sampai menikah dengan pasangan idaman. Hal itu terus menerus melekat dalam pikiran lo sampai lo lupa bahwa kadang hidup tak seindah yang dibayangkan.

5. Merasa gak bahagia walaupun memiliki segudang prestasi

Saat kuliah, bisa dibilang mungkin lo salah satu mahasiswa yang berprestasi, mulai dari lomba internal sampai eksternal kampus. Namun, setelah lo lulus dan bekerja di perusahaan bonafide, lo merasa gak bahagia dengan pekerjaan tersebut. Entah karena lingkungan yang gak nyaman atau pekerjaan yang bukan passion lo.

Dilema yang Terjadi: Pemicu Quarter Life Crisis

Seiring bertambahnya usia, bisa dibilang semakin banyak pula pilihan yang lo miliki. Mulai dari pilihan seputar pendidikan, pekerjaan, sampai keimanan. Tak jarang, itu mungkin kerap membuat lo merasa berada di persimpangan jalan, antara mengambil jalur kiri atau kanan. Alhasil, persimpangan tersebut membuat lo jadi bimbang mau ambil jalur yang mana.

Nah, mungkin ada banyak dilema saat lo mengalami quarter life crisis. Di antaranya:

1. Berbagai Pilihan dalam Hidup

Selepas dari bangku kuliah, berbagai pilihan mungkin lo temui dengan mudah. Mulai dari pilihan untuk melanjutkan studi, langsung bekerja, sampai memutuskan menikah. Dari situ, lo mungkin akan dihantui perasaan anxious, insecure, sampai overthinking. Hal itu antara lain disebabkan oleh dilema akan pilihan hidup lo sob!

Misalnya, lo lagi bingung mau melanjutkan S2 atau langsung bekerja. Jika melanjutkan S2, pertimbangannya mungkin lo jadi lebih menguasai bidang yang lo geluti. Akan tetapi, lo juga dituntut harus realistis dengan kondisi finansial keluarga, yang membuat lo berpikir untuk langsung bekerja. Alhasil, lo merasa dilema dalam memutuskan pilihan lo tersebut sob!

2. Menentukan Makna Hidup

Saat masih dibangku sekolah, mungkin lo berpikir bahwa hidup akan jadi lebih bermakna ketika dapat membantu orang lain. Misalnya, seperti bekerja di bidang lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemanusiaan, sampai relawan bencana. Lo mungkin percaya bahwa uang bukanlah segalanya dalam hidup, melainkan sesuatu yang bersifat sementara. Alhasil, dalam bayangan lo, “Yang penting hidup gue bermakna bagi orang lain deh.”

Akan tetapi, seiring beranjak dewasa, lo menyadari bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang gak realistis. Salah satunya karena tuntutan finansial dalam hidup lo saat ini, sehingga pekerjaan yang bermakna tadi hanyalah mimpi belaka. Alhasil, lo menghadapi dilema untuk memilih antara tujuan hidup lo, atau mengikuti realitas saat ini.

Baca Juga IKIGAI: Konsep Hidup Bahagia dan Cara Mencapainya

3. Ekspektasi dari Orang Lain

Sebagai makhluk sosial, hidup bersama orang lain adalah hal yang sangat wajar. Mulai dari keluarga, teman-teman, hingga pasangan hidup. Tak jarang mereka memiliki ekspektasi tersendiri terhadap diri lo. Entah itu sesuai dengan ekspektasi lo pribadi, sampai yang tidak. Hal itu terkadang mungkin menjadi dilema lo dalam mengambil keputusan dalam hidup.

Misalnya, lo telah berpacaran dengan seseorang selama 5 tahun sejak berkuliah. Tak terasa, tibalah saatnya bagi lo untuk melanjutkan hubungan ke jenjang lebih serius, alias menikah. Akan tetapi, keluarga lo memiliki ekspektasi tersendiri terhadap diri lo soal pernikahan. Mulai dari menikah dengan seseorang yang berasal dari suku yang sama, bisa memasak, sampai stabil secara finansial. Alhasil, ekspektasi tersebut mungkin menjadi dilema bagi diri lo dalam memutuskan untuk menikah.

4. Pertemanan yang Semakin Mengerucut

Saat masih bersekolah, jumlah temen lo mungkin bisa dibilang sangat banyak. Mulai dari teman sekolah, bimbingan belajar, sampai teman dari teman-teman lo. Namun, seiring berjalannya waktu, lo merasa satu per satu dari mereka mulai menghilang. Entah karena kesibukan masing-masing, hingga emang udah pada ketemu teman baru. Dari situ, muncul dilema seperti, “Mana nih teman-teman yang dulu bilangnya selalu ada buat gue di kala senang dan susah?”

Misalnya, lo dulu deket banget sama teman tongkrongan lo pas masih sekolah. Seperti pada umumnya, moto anak tongkrongan adalah, “Solidaritas tanpa batas bos!” Akan tetapi, makin ke sini lo merasa bahwa itu hanyalah bualan belaka. Buktinya, “Mana mereka sekarang pas gue lagi susah-susahnya cari kerjaan?”

5. Seputar Percintaan

Ngomongin soal cinta, pasti gak akan ada habisnya lah ya. Mulai dari cinta monyet alias suka-sukaan doang, cinta yang semi serius, sampai yang berkomitmen penuh. Terlepas dari itu, menjadi sesuatu yang wajar bagi lo untuk ingin merasa dicintai oleh seseorang. Apalagi sekarang lo sudah semakin beranjak dewasa, berarti sudah waktunya buat lo menjalani hubungan yang serius. Ditambah mungkin banyak dari teman-teman lo yang udah mulai menikah.

Dari situ, mungkin muncul dilema dalam diri lo seperti, “Duh, gue pengen sih segera nikah kayak teman-teman gue”. Atau kayak gini “Tapi kayaknya orang tua gue kurang sreg deh sama pacar gue sekarang”. Hal itu akhirnya membuat lo bingung, “Ngikutin kata-kata orang tua atau diri sendiri ya?”

Misalnya, lo lagi pergi ke pesta pernikahan teman sekolah lo bernama Vincent. Saat masih berkuliah, si Vincent mungkin dijuluki jomblo akut, alias susah banget dapet pacar. Namun, sekarang kondisinya berbalik, malah lo yang belum kesampaian buat nikah. Alhasil, mungkin lo merasa dilema, “Duh, Vincent si jomblo akut udah nikah, giliran gue kapan ya?”

Cara Menghadapi Quarter Life Crisis

Mungkin lo bakal bertanya, “Terus gimana dong cara gue menghadapi quarter life crisis ini?” “Apakah cuma perlu meratapi keadaan yang gue alami saat ini?” Jawabannya, tentu enggak sob! Bagaimanapun juga, lo perlu mempersiapkan fase ini dengan sebaik-baiknya. Salah satunya melalui paham kiat-kiat untuk menghadapinya.

Terdapat beberapa cara yang bisa lo lakukan untuk menghadapi quarter life crisis ini. Di antaranya:

1. Kenali Diri Lebih Dalam

Lo bisa mencoba mengenali lebih dalam. Maka dari itu, cobalah untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut:

- Apa kelebihan serta kekurangan diri lo?

- Apa yang hendak lo capai dalam hidup?

- Apakah lo telah melakukan pekerjaan yang lo sukai saat ini?

Dengan menjawabnya, harapannya lo jadi bisa lebih paham hidup seperti apa yang hendak lo jalani ke depannya. Selain itu, lo jadi bisa lebih leluasa untuk menentukan pilihan hidup lo sendiri, tanpa bayang-bayang orang lain. Namun, tentunya hal itu juga perlu lo diskusikan dengan orang sekitar. Supaya lo jadi memiliki banyak pertimbangan dalam menentukan pilihan itu.

Misalnya, lo udah tau nih tujuan hidup lo ingin jadi astronot, dan bekerja di NASA. Alasannya karena lo ingin melihat serta menjelajahi luar angkasa dengan mata kepala lo sendiri. Nah, lo bisa mencoba mencari informasi seputar lowongan kerja di NASA lewat internet, serta mempersiapkan berbagai keperluan pendaftarannya. Harapannya, lo bisa fokus untuk mengejar mimpi jadi astronot, dan bahagia saat menjalaninya sob!

2. Buat Perencanaan dalam 5 Tahun Kedepan

Tak ada salahnya untuk bermimpi akan suatu hal, sebab kalau kata Baskara Hindia, “Bermimpilah sendiri-sendiri”. Akan tetapi, lo juga perlu merencanakan langkah-langkah untuk mencapai mimpi tersebut. Mulai dari apa yang perlu dipersiapkan, menabung, sampai membuat rencana kecil untuk mencapainya. Harapannya, mimpi lo tersebut gak jadi bunga tidur doang sob, alias benar-benar terealisasi dengan baik!

Misalnya, umur lo sekarang 25 tahun, dan lo pengen menikah di umur 28 tahun. Nah, lo bisa mencoba bikin perencanaan 5 tahun untuk merealisasikan keinginan lo tersebut sob! Mulai dari mencari calon pasangan, matang secara finansial, dan terus memperbaiki kekurangan diri lo. Harapannya, lo jadi tahu hal apa saja yang harus lo persiapkan untuk menikah di umur segitu.

3. Sadar bahwa People Come and Go

Ada kalanya lo mungkin berharap seseorang bakal selalu ada di sisi lo sampai dewasa nanti. Tak jarang lo pun menempatkan sumber kebahagiaan lo di diri mereka. Entah itu orang tua, teman-teman, sampai pasangan lo. Padahal, lo gak pernah tau kapan mereka akan meninggalkan diri lo tiba-tiba, baik karena ditinggalkan tanpa sebab sampai selamanya.

Maka dari itu, cobalah sadar bahwa orang dapat silih berganti datang dan pergi dalam kehidupan lo. Misalnya, lo udah pacaran selama 3 tahun nih sejak duduk di bangku kuliah. Tiba-tiba, pacar lo minta putus, dengan alasan dia telah menemukan sosok pendamping yang lebih baik. Nah, mau gak mau, lo harus menerima kenyataan tersebut sob! Hidup lo terus berjalan baik itu dengan dia atau tidak bukan?

4. Batasi Penggunaan Media Sosial

Tak jarang media sosial mungkin membuat lo menjadi merasa insecure alias kurang berharga. Salah satunya karena lo membandingkan pencapaian diri lo dengan mereka. Entah itu membandingkan kesuksesan, paras muka, sampai hidup yang bahagia. Maka dari itu, cobalah buat membatasi penggunaan media sosial, serta fokus menjalani hidup lo saat ini sob!

Contohnya, akibat lo sering main instagram, lo jadi insecure gara-gara ngeliat teman lo yang menurut lo hidupnya bahagia banget. Mulai dari makan makanan yang enak, udah menikah, sampai bekerja di perusahaan ternama. Nah, lo bisa mengurangi penggunaan media sosial dalam sehari-hari. Kenapa? Agar lo bisa fokus menjalani rutinitas lo saat ini, daripada fokus sama kebahagiaan teman lo itu sob!

5. Carilah Mentor Sebagai Pembimbing

Ada yang bilang, “Orang sukses merupakan seseorang yang memiliki keinginan belajar dari orang lain”. Setelah gue pikir-pikir, itu ada benarnya juga sih. Karena melalui itu, lo bisa belajar apa yang membuat mereka sukses, termasuk kegagalan yang pernah mereka alami. Maka dari itu, cobalah buat mencari seorang yang lo anggap bisa menjadi mentor dalam hidup lo sob!

Misalnya, lo ingin membuka usaha ternak lele sebagai usaha sampingan. Nah, lo bisa banget mencari seseorang mentor ternak lele buat jadi pembimbing usaha lo tersebut. Dari situ, lo bisa mencari tahu dengan dia apa saja yang perlu disiapkan, seperti berapa modal yang dibutuhkan. Harapannya, lo bisa menjadi peternak lele yang sukses, dan bahagia akan hal yang lo jalani dalam hidup sob!

Mengenal-Quarter-Life-Crisis-dan-Pemicunya

Mungkin emang gak mudah buat lo menghadapi krisis seperempat hidup ini. Tentunya tantangan yang dihadapi setiap dari lo berbeda-beda. Akan tetapi, percayalah bukan urusan lo buat menjawab pertanyaan dalam benak lo. Serahkan semua pada waktu, sambil mengusahakan yang terbaik tentunya sob!

Kalo lo merasa bingung dalam menghadapi Quarter Life Crisis, santai aja, lo bisa ikut mentoring Satu Persen. Di dalamnya lo bisa menceritakan kesulitan lo tersebut bersama mentor-mentor yang terlatih. Jangan lupa buat terus pantengin informasi dari kita dengan follow instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Selain itu, lo juga bisa nonton video YouTube Satu Persen tentang “Bagaimana Menghadapi Quarter-Life Crisis? (Apakah Berbahaya?)” di bawah ini. Gue harap lewat membaca artikel ini ini bisa membuat lo berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap harinya. Gua Fathan dari Satu Persen, thanks!

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.