Trust Issues, Bekas Luka dari Masa Lalu dan Cara Mengatasinya

Kesehatan Mental
Thissa Yona
8 Jul 2020

Pernah denger istilah “trust issues?” Kita semua mungkin pernah disakiti sama orang lain. Dikhianati dan dibohongi oleh orang yang kita percaya banget. Dan ini bisa dilakuin  sama siapapun, mungkin sama orang tua, pacar, sahabat, atau rekan kerja. Banyak lah dari kita yang mungkin pernah ngerasain kejadian yang bikin kita malah jadi susah percaya orang.

Dan gue tahu sih rasanya: Pastinya sakit banget. Gue tau banget rasanya udah percaya sama orang, eh tapi malah dikhianati. Udah deal sama sesuatu, eh deal-nya berubah-ubah terus. Jadinya, kita yang udah menginvestasikan waktu dan tenaga malah dikecewain. Sampai akhirnya, kadang kita juga jadi capek dan memutuskan buat gak percaya lagi.

Kalo lo pernah atau sedang mengalami keadaan tersebut atau sekedar penasaran dan pengen tau lebih dalam soal ini, lo berada di artikel yang tepat karena Satu Persen akan ngebahas tentang trust issues dan tips-tips menghadapinya.

Jadi, apa sih trust issues itu?

Simpelnya, trust issues itu gak percayaan sama orang. Orang yang punya trust issues cenderung punya pandangan yang pesimistis terhadap manusia (Zak, Gold, Ryckman, & Lenney, 1998). Kayak, mereka tuh selalu beranggapan bahwa orang punya niatan buruk sama dia. Meskipun pada realitanya, sebenarnya ya orang tuh nggak selalu punya niatan buruk.

Kenapa orang bisa trust issue? Nah, biasanya, penderita trust issue itu punya pengalaman yang kurang menyenangkan sebelumnya. Atau, bisa jadi trust issues-nya disebabkan oleh rasa takut dan trauma. Dan akhirnya mereka yang trust issue pun memilih langkah sederhana, yaitu langkah buat yaudah: Gak usah percaya lagi aja sama orang untuk menghindari rasa sakit dan kekecewaan yang kerasa negatif banget buat dia. ( (Zak, Gold, Ryckman, & Lenney, 1998))

Nah, mungkin ada dari lo yang nanya, “Gue itu mengalami trust issue gak sih?” Berikut ini adalah sih ciri-ciri dari orang yang punya trust issues. (Zak, Gold, Ryckman, & Lenney, 1998)

1. Suka Jaga Jarak

Kalo ada orang yang ngedeketin, orang yang trust issues kemungkinan besar akan menarik diri. Kesannya, kayak gak pengen deket gitu sama orang. Kalaupun pengen, biasanya emang tingkah lakunya nunjukkin gak pengen. Dan ini mungkin banget terjadi karena mereka takut, takut untuk disakitin lagi dan takut mengalami pengalaman buruk lagi.

2. Susah Percaya Sama Orang

Jadinya, kadang muncul perilaku-perilaku yang menunjukkan ketidakpercayaan itu. Contohnya, ngecek hal-hal pribadi di HP pasangannya dengan baca-baca chat pasangan dengan teman-temannya atau lawan jenis yang nge-chat doi. Sebenarnya, memang yang jadi perdebatan apakah hp itu boleh dikasih ke pasangan atau nggak. Tapi di luar perdebatan itu, orang yang memiliki trust issue cenderung mencari-cari kesalahan pasangan, dan ini nggak sehat. Bukan berarti gak boleh cemburu atau cemas, cuman kalau ini sampai ngeganggu kehidupan lo, mungkin lo punya trust issue yang belum terselesaikan.

3. Cenderung Punya Pandangan yang Pesimistis atau Negatif

Seperti yang sudah disebutkan, orang dengan trust issues merasa bahwa setiap orang pasti punya intensi buruk sama dia. Mereka merasa nggak ada manusia yang benar-benar  tulus ngedeketin dia atau temenan sama dia.

Bagaimana cara mengatasinya?

Nah, terus kita harus ngapain? Ada nih langkah2 yang bisa lo lakuin supaya lo gak trust  issues lagi!

Pertama, refleksikan pengalaman buruk dan belajar mengikhlaskannya

Pasti sakit rasanya mengalami peristiwa ketika orang memperlakukan lo dengan buruk. Wajar banget buat lo untuk marah, sedih, dan jadinya gak percaya lagi sama orang. Tapi sekali lagi, peristiwa itu sudah terjadi. Dan ketika itu sudah terjadi, mau mengutuk orang yang melakukannya terus-terusan juga nggak baik buat diri lo. Pada akhirnya, memang peristiwa itu perlu kita ikhlaskan. Lo boleh marah dan sedih, tapi jangan berlarut-larut

Terimalah kekesalan yang lo rasakan sebagai hal yang manusiawi. Setelah itu, ikhlaskanlah peristiwa tersebut. Memang berat sih, tapi ini adalah step awal yang penting. Supaya kita nggak dipenuhi dengan kebencian, rasa pengen balas dendam, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Terima masa lalu lo, dan sambut masa depan yang pastinya bakal penuh dengan hal2 menarik lainnya yang lo alami.

Kedua, move on

Apa yang terjadi di masa lalu biarlah ada di masa lalu. Sekarang, kita coba fokus dengan hal yang bisa dilakukan sekarang yang akan berdampak baik untuk lo di masa depan. Apa nih cita-cita yang dulu sempet lo lupakan karena nggak bisa move on dari kejadian masa lalu?

Lakukan hal yang lo suka, kenalan sama orang baru, jalani hobi baru, potong rambut lo, pergi liburan, nongkrong sama temen. Banyak hal yang selama ini mungkin nggak sempet lo lakuin. Dan cara move on paling ampuh: lakukan itu sekarang, apapun itu. Coba fokuskan diri lo ke masa depan, dibandingkan ke masa lalu

Terakhir, belajarlah dari pengalaman.

Mungkin setelah kejadian itu akhirnya kita tersadar bahwa kita pernah berbuat kesalahan, entah percaya dengan orang yang salah, komunikasi yang negatif, dsb. Tapi, balik lagi ke poin sebelumnya. Jadikan kesalahan yang lo perbuat sebagai sarana untuk introspeksi dan evaluasi diri. Sambutlah masa depan dengan excited. Tapi inget buat gak berekspektasi terlalu banyak. Kayak yang udah pernah gue bahas di  Filosofi Stoicism. Fokus aja dan live life to the fullest. Kalau tujuannya tercapai, ya lo bersyukur, kalau nggak, terima dan kembali lanjutkan hidup.

Kalau lo butuh bantuan, udah lama mengalami trust issue dan merasa gak sanggup ngejalanin sendirian. Lo bisa minta bantuan, mungkin ke temen, keluarga, atau profesional.

Satu Persen sendiri memiliki layanan mentoring dan konseling. Lo bisa diskusi sama Mentor atau Psikolog, dan lo bakal dikasih tahu penanganan yang baik buat menangani kondisi lo, dan juga dapet interpretasi tes psikologi: Supaya lo bisa tahu, mulai dari tingkat stress lo kayak gimana, kepribadian lo kayak gimana, dan lo juga bisa tahu minat-bakat lo kayak gimana. Selain itu, lo juga kalo ikut mentoring, biasanya akan dikasih worksheet untuk buat action plan buat nyelesain masalah lo

Jangan lupa untuk terus pantengin informasi dari kita dengan follow instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Gue harap lewat membaca artikel ini ini bisa membuat lo berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap hari!

Konsultasi Satu Persen Psikolog

References

Hergenhahn, B. R., & Henley, T. B. (2014). An Introduction to the History of Psychology: Seventh Edition. New York: Jon-David Hague.

Zak, A. M., Gold, J. A., Ryckman, R. M., & Lenney, E. (1998). Assessments of trust in intimate relationships and the self-perception process. The Journal of Social Psychology, 138(2), 217-228. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/199792384?accountid=1229

Weiler, L. (2017, November 13). Tips to Help You Overcome Trust Issues. Retrieved from https://www.cheatsheet.com/health-fitness/ways-to-overcome-your-trust-issues.html/

Vilhauer, J. (2015, August 29). 5 Ways to Move on From an Ex You Still Love. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-forward/201508/5-ways-move-ex-you-still-love

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.