Cara Menghadapi Pasangan yang Posesif (Possessiveness)

Hubungan
Rebecca Meliani Sembiring
26 Nov 2020
Cara-Menghadapi-Pasangan-Posesif

Halo, Perseners!

Bayangkan, saat ini kamu sedang berkegiatan dengan asyik bersama teman-teman, melakukan hobimu yang sejak berbulan-bulan tidak sempat kamu lakukan. Tiba-tiba, handphone-mu tidak berhenti berdering. Saat kamu cek, ternyata sudah ada puluhan pesan yang masuk dan panggilan telepon tak terjawab yang asalnya dari pacarmu.

“Kamu dimana?”

“Dengan siapa?”

“Ngapain aja?”

“Jawab dong”

“Jangan-jangan kamu nggak jalan sama temen, tapi sama orang lain. Ngaku!”

Dan puluhan pertanyaan lain memenuhi layar handphone-mu. Apa yang mungkin kamu rasakan saat itu? Gerah, capek, dan kesal? “Gue kan udah capek banget akhir-akhir ini, kok dia nggak bisa ngerti dan ngasih sedikit space buat gue?” atau “Kenapa sih gue harus dicurigai terus?” dan berbagai reaksi lain tentu memenuhi otakmu.

Tentu rasanya sangat mengesalkan jika harus dikekang, bukan?

Posesif-dalam-Berpacaran

Sesayang-sayangnya kamu dengan pacarmu, tindakan possessiveness yang berlebihan tentu nggak baik buat kamu dan dia. Daripada kamu harus berjerih lelah menahan diri untuk nggak berkomentar tentang posessiveness yang dia miliki terhadapmu (yang tentu saja tidak hanya akan menyakitimu, tetapi juga buruk untuk pengembangan dirinya), kamu bisa mulai mengkomunikasikannya dengan pasanganmu. Penasaran bagaimana cara menghadapi pasangan yang posesif dengan baik dan benar? Yuk, simak!

Sebenarnya, apa sih tanda-tanda adanya possessiveness?

Kalau yang terlintas di kepalamu adalah rasa cemburu berlebihan, kamu benar. Nyatanya, rasa cemburu atau jealous itu bisa bermacam-macam bentuknya: reaktif, anxious, dan possessiveness. Lantas, apa yang membedakan posessiveness dengan bentuk cemburu lainnya?

Familiar dengan kata-kata “Kamu nyebelin, jangan ngomong sama aku lagi!” dan “Terserah kamu, deh!” setiap kali kamu pamit untuk main bareng teman-temanmu? Sebenarnya, itu adalah salah satu bentuk reaksi dari kecemburuannya. Jika pasanganmu cenderung bereaksi, baik mengekspresikan rasa marah atau sedih, ketika merasa cemburu, pasanganmu tergolong mengalami bentuk cemburu yang reaktif, nih. Alhasil, mungkin kamu merasa jengkel dengan dia yang marah-marah terus kepadamu (padahal sebenarnya dia lagi cemburu, lho).

“Jangan-jangan kamu lagi selingkuh sama si A ya?”, ujar pacarmu tiba-tiba. Kamu kaget melihatnya tiba-tiba mengambil kesimpulan yang benar-benar tidak masuk akal. Kamu merasa pacarmu selalu membuat asumsi-asumsi yang tidak tepat tanpa alasan. Sebenarnya, pacarmu sedang mengalami anxious jealousy, yang ditandai dengan terbentuknya pemahaman-pemahaman yang salah atau cenderung imajinatif sehingga dia merasa khawatir dan tidak aman.

Berbeda dengan dua tipe kecemburuan di atas, jika pasanganmu cenderung menahanmu untuk tidak berinteraksi dengan teman-teman dekatmu dan bahkan nge-block semua kontak lawan jenis di handphone-mu, dia tergolong memiliki kecemburuan posesif. Dia berusaha melakukan usaha-usaha untuk menjauhkan dirimu dengan orang lain, terutama lawan jenis, dan membatasi pergaulanmu. Jika pasanganmu memiliki rasa posesif yang amat berlebihan, dia mungkin saja melakukan tindakan ekstrem lain, seperti misalnya mengikutimu secara diam-diam.

Apakah possessiveness adalah tanda cinta?

Banyak sekali orang yang membenarkan rasa posesif karena menganggapnya bentuk dari rasa sayang. Padahal, dua hal tersebut jauh sekali berbeda, lho. Di dalam rasa cinta, terdapat rasa percaya, keinginan berbagi, dan rasa nyaman berada bersama pasangan. Sementara, di dalam rasa posesif, kamu justru selalu merasa curiga, ingin membatasi, dan merasa terancam jika berada dengan pasanganmu.

Akhirnya, bukannya merasa dikelilingi emosi positif, kamu justru dipenuhi emosi negatif dan tentu saja, hal ini tidak baik untukmu dan pasanganmu.

Biasanya, orang-orang yang memiliki possessiveness mengalami pengalaman yang kurang baik dalam hubungan yang dijalani sebelumnya, entah hubungan dalam keluarga atau lingkungan pertamanan, terhitung sejak masa kecil.

Buat orang-orang yang pernah merasa dikhianati atau ditinggalkan, mereka akan cenderung memiliki rasa posesif terhadap orang lain, terutama terhadap pasangan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pengalaman masa lalu yang memicu rasa posesif dan mencoba berdamai dengan pengalaman tersebut.

Buat tahu lebih banyak soal pengaruh dari pengalaman di masa lalu dan konsep inner child, kamu bisa baca artikel Satu Persen yang membahas soal itu di sini.

Lantas, apa sih yang harus dilakukan untuk menghadapi pasangan yang posesif?

Communication is the key

Percaya atau tidak, rasa curiga umumnya muncul ketika tidak ada keterbukaan yang terjalin sehingga terdapat ruang untuk berasumsi soal hubungan kalian. Sangat penting nih untuk menjalin komunikasi yang baik dan terbuka di antara kalian berdua.

Ingat, selalu ada 3 sisi dari cerita, cerita dari sudut pandangmu, sudut pandangnya, dan cerita sebenarnya. Jadi, seberapapun kamu merasa benar, jangan pernah merasa yang paling benar. Dengan komunikasi yang baik dan jujur, kamu dapat perlahan-lahan membangun kepercayaan di antara kalian yang dapat menghindarkanmu dari perilaku cemburu dan posesif.

Meski begitu, penting untuk diingat agar kalian berdua mencari momen yang tepat untuk ngobrolin masalah atau unek-unek yang kalian miliki. Kalau pasanganmu lagi dilanda cemburu, akan sangat susah untuk memberi penjelasan dan menyadarkannya karena ia sedang tidak dalam kondisi yang cukup rasional untuk berdiskusi. Jadi, pastikan kalian berdua sudah cukup tenang untuk bisa membicarakan penyelesaian dari masalah yang dimiliki.

Hal yang penting selanjutnya adalah jangan ngotot. Meskipun kamu tahu bahwa pacarmu sedang cemburu dan mengambil kesimpulan yang nggak tepat, bukan berarti memojokkan dan menyalahkannya adalah hal yang bijak untuk dilakukan. Bahkan, dia bisa saja memilih menarik diri darimu dan semakin tidak ingin mendengar penjelasanmu.

Ingat, kamu belum tentu yang paling benar. Jadi, pastikan untuk menjaga cara komunikasi tetap baik agar kalian bisa berdiskusi dengan baik pula.

Melawan possessiveness

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, rasa posesif kerap kali berhubungan erat dengan pengalaman berelasi yang kurang mengenakkan di masa lalu. Untuk bisa pulih dan membaik, tentu pasanganmu harus berdamai dengan pengalaman masa lalu itu.

Don’t get me wrong, kamu nggak bertanggung jawab untuk mengubah dia menjadi lebih baik, itu adalah ranahnya sendiri. Namun, ketika dia sudah punya kesadaran itu, kamu bisa banget mendampingi dan mendukung dia dalam prosesnya agar dia bisa menjadi lebih baik. Gimana caranya?

  1. Menyadarkan dia akan sikap posesifnya

“Aku nggak nyaman lho kalau kamu membatasi aku”, “Aku merasa kamu mulai posesif”, dan bentuk penyadaran lainnya sangat penting lho untuk membantunya sadar bahwa rasa yang ia miliki bukanlah rasa sayang cinta, tetapi posessiveness yang sebenarnya kurang baik. Ingat, caramu berkomunikasi yang baik!

2. Menemaninya menemukan akar masalah dari sikap posesifnya

Jika pasanganmu sudah sadar akan sikap posesifnya, kamu dapat menemaninya menyelesaikan persoalan itu, salah satunya adalah dengan menemaninya berdamai dengan masa lalu yang berpeluang memicunya merasa demikian. Jika ia membutuhkan teman cerita soal masa lalunya, kamu dapat menjadi sosok yang dapat diajaknya bercerita. Kamu juga bisa menganjurkannya untuk meditasi atau olahraga untuk membantunya menenangkan diri dan berpikir secara lebih tenang. Jika dibutuhkan untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga profesional, kamu dapat mendampinginya pula.

3. Mengajaknya untuk memfokuskan hidup kepada dirinya

Melakukan tindakan berlebihan sebagai bentuk posessiveness sebenarnya adalah tanda bahwa ia lebih banyak memfokuskan diri kepadamu dibandingkan dirinya sendiri. Kamu, sebagai pasangannya, dapat mengajaknya untuk kembali menemukan dirinya sendiri dan fokus terhadap pengembangan diri sendiri.

Kamu bisa menemaninya menghabiskan waktu dengan melakukan hobi atau kegiatan kesukaannya sehingga membantu dia lebih mencintai diri sendiri dan independen, tidak bergantung terhadap orang lain, termasuk dirimu.

Baca Juga: Memahami Arti Self-Love

Mengatasi pasangan yang posesif dan menjaga hubungan tetap baik memang tidak mudah. Meskipun demikian, hal ini tidak mustahil untuk dilakukan. Dengan cara dan dukungan yang tepat, kamu tentu dapat mendukung pasanganmu untuk terlepas dari possessiveness. Mau informasi lebih banyak soal posessiveness? Kamu bisa akses konten youtube Satu Persen yang membahas soal itu di sini.

Kamu juga bisa mengikuti layanan online konseling yang dimiliki oleh Satu Persen untuk membantumu memecahkan masalah ketika menghadapi pasangan posesif yang tidak dapat kamu tangani sendiri. Hal ini dikarenakan kamu akan dibantu oleh psikolog Satu Persen.

CTA-Konsultasi-4

Gimana, apakah sudah lega telah mengetahui cara menghadapi pasanagn yang posesif setelah baca artikel ini? Kamu juga bisa baca-baca artikel lainnya dari Satu Persen dengan langsung kunjungi blog Satu Persen atau dengerin kisah-kisah insightful melalui Podcast Satu Persen. Nah, kalau kamu mau tahu kualitas romantisme hubunganmu dengan pasangan, kamu bisa mencoba tes relationship quality gratis dari Satu Persen.

Jangan lupa buat terus pantengin informasi menarik dari kita dengan follow instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Aku harap lewat membaca artikel ini bisa membuat kamu berproses menuju #HidupSeutuhnya dan berkembang menjadi lebih setiap hari, seenggaknya Satu Persen setiap harinya. See you next time!

Referensi

Firestone, L., PhD. (2017, February 14). Be Mine: Dealing With Possessiveness in ... - Psychology Today. Retrieved November 18, 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/compassion-matters/201702/be-mine-dealing-possessiveness-in-relationship

Exploring Your Mind (2017, January 11). The Truth About Possessiveness and Love. Retrieved November 18, 2020, from https://exploringyourmind.com/truth-possessiveness-love/

Sumber foto:

Photo by Brooke Cagle on Unsplash










Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.