Inner Child: Mengenal Bagian Diri Lebih Dalam

Kesehatan Mental
Rebecca Meliani Sembiring
8 Agt 2020
inner child

Semua orang memandangku sebagai sosok yang percaya diri. Namun, sebenarnya, aku tidak pernah berani berdiri di hadapan banyak orang tanpa persiapan. Aku ingat, ketika namaku dipanggil tiba-tiba, jantungku berdebar kencang dan pikiranku menjadi kosong—aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mendadak lupa akan hal-hal lainnya, benar-benar merasa tidak berdaya. Rasanya, aku benar-benar harus memperbaiki hal ini.

Saat itu, aku duduk dihadapan seorang psikolog untuk menceritakan persoalanku ini. Ia bertanya, “Sejak kapan kamu merasa demikian?” “Hmm, sejak kapan ya?” pikirku dalam hati. Aku sudah terlalu lama merasakan ini, sampai aku lupa bertanya sebenarnya kapan awal mula situasi ini terjadi. Akhirnya aku sadar, bahwa perasaan ini telah kurasakan sejak masa kecilku— saat aku dipaksa bernyanyi dan dikritik di depan umum. Ternyata, memori puluhan tahun lalu itu sangat kuat hingga berbekas bertahun-tahun lamanya. Pengalaman masa kanak-kanak yang mempengaruhimu hingga saat ini— apakah kamu juga memilikinya? Mungkin, saran yang kuterima kala itu juga bisa membantumu: berdamailah dengan inner child-mu. Tunggu, apa itu inner child? Apakah dia bagian dari diriku?

Apa itu inner child?

Menurut Dr. Diana Raab, seorang peneliti psikologis dan penulis, setiap dari kita memiliki inner child. Apakah itu sebenarnya inner child? Seperti apakah wujud keberadaannya?

Ahli menjelaskan inner child sebagai ekspresi sisi masa lalu kita, mulai dari masa kanak-kanak hingga setelahnya. Segala pengalaman hidup kita, baik pengalaman yang membawa kebahagiaan dan kesedihan, akan mempengaruhi kita dalam mengekspresikan diri ketika sudah dewasa. Pengalaman itu bahkan juga mempengaruhi proses tumbuh kembang kita selanjutnya. Seperti apa sih contoh pengaruh-pengaruh yang dapat diberikan inner child kepada perkembangan kita?

Contohnya, kita dapat melihat pergaulan kita ketika masih kanak-kanak. Menurut Cutting dan Dunn (2006), anak-anak yang sering bermain dengan teman-teman seusianya atau pun saudara yang mencintai dan mendukung dirinya akan tumbuh menjadi sosok yang mencintai petualangan ketika dewasa. Mereka juga cenderung memiliki kemampuan bersosial yang lebih baik karena mereka menyadari pentingnya bekerja sama dan berbagi kasih sayang. Tak hanya hubungan pergaulan, hubungan kita dengan orang tua juga banyak mempengaruhi hal itu, lho. Orang tua yang banyak menanyakan kabar dan perasaan anaknya sehari-hari mendorong anak untuk lebih peduli kepada kondisi temannya dan lebih memahami kondisi emosionalnya sendiri.

Namun, sama seperti pengalaman baik yang berhasil mempengaruhi kita secara positif dalam berbagai hal, pengalaman-pengalaman buruk yang kita rasakan juga dapat mempengaruhi kita. Trauma dan kesedihan masa lalu dapat tinggal dalam diri kita untuk waktu yang lama dan ketika ada trigger tertentu, dapat kembali timbul ke permukaan. Pengalaman menyedihkan seperti kehilangan teman semasa kecil, kekerasan psikis dan fisik, serta perpisahan keluarga dapat mempengaruhi kita sepanjang hidup. Tanpa benar-benar berdamai dengan inner child, kesedihan dan trauma dapat terus timbul sewaktu-waktu, bahkan ketika kita merasa telah melupakannya. Lho, jadi melupakan saja tidak cukup ya?

Alasan Mengapa Melupakan itu Belum Cukup

Terkadang, situasi masa lalu yang melukai inner child kita bahkan sudah tidak lagi kita ingat. Sudah pasti tidak ada orang yang ingin mengingat pengalaman yang melukainya. Mereka tentu ingin melupakan pengalaman ini. Namun, justru, upaya itu membuat kita merasakan sakit yang mendalam.  Riset menunjukkan bahwa tubuh menyimpan luka emosional dan fisik. Meskipun kita berusaha keras untuk melupakan hal itu dan melanjutkan kehidupan kita, luka itu bisa saja tetap tinggal. Ketika trigger-nya datang, kita kembali merasakan luka dan trauma sebelumnya.

Pengalaman menyakitkan di masa lalu ternyata dapat mempengaruhi kita melalui berbagai cara. Contohnya, cerita yang sudah disampaikan di atas. Pengalaman dipermalukan di depan umum membuatku merasa sangat gentar ketika harus berada di dalam situasi yang sama. Pengalaman diabaikan oleh orang yang kita kasihi sangat mungkin juga mempengaruhi kelekatan kita dengan orang lain. Pada beberapa kasus, hal-hal yang membuat trauma dan menyakitkan kita justru mendorong kita untuk melakukan hal yang sama. Misalnya, ketika kita sering dimarahi semasa kecil, kita memiliki tendensi untuk mudah marah. Hal ini merupakan bentuk pertahanan diri kita dari bahaya yang diciptakan oleh lingkungan agar situasi buruk yang dialami semasa kecil tidak lagi terjadi.

Untuk bisa lepas dari kecenderungan kita yang disebabkan oleh pengalaman menyakitkan semasa kecil, kita tidak hanya harus melupakannya, tetapi benar-benar menyembuhkannya. Jika kita berusaha menghindarinya untuk merasa lebih baik, kecenderungan kita tidak akan pernah selesai.

Menyembuhkan Inner Child

Menyembuhkan inner child yang terluka bukanlah hal mudah, tapi harus dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk menyembuhkannya, kita harus berusaha menghubungkan diri kita dengan sosok masa lalu kita yang terluka untuk berusaha bersama-sama menyembuhkan diri. Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menyembuhkannya:

1. Menuliskan pengalaman dan perasaan buruk

Menuliskan rasa sakit yang dirasakan adalah salah satu cara untuk menyembuhkan inner child kita. Dengan menulis, kita dapat mencurahkan emosi negatif yang selama ini kita simpan. Pengalaman-pengalaman buruk itu mungkin sudah lama tidak kita ingat, tetapi kemungkinan besar masih menetap dalam diri kita. Menulis membantu kita kembali mengingatnya, merasakannya, dan mendamaikan diri dengannya.

Kamu dapat menulis beberapa dialog dari sudut pandang inner child-mu. Hal ini mungkin membuatmu kembali teringat dengan luka yang kau miliki. Namun, setelahnya, kamu dapat merasa lebih lega dan menerima situasinya dengan lebih baik.

2. Melakukan Sesi Ho’oponopono Pribadi

Apa itu Ho’oponopono? Ini adalah proses memaafkan yang berasal dari Hawai, membantu kita untuk membangun kembali hubungan dengan orang lain—bahkan inner child kita. Kita dapat mengambil waktu untuk menyendiri dan mengatakan hal-hal ini:

I am sorry”, katakan itu kepada dirimu bukan karena kamu telah berbuat salah, melainkan karena kamu telah menyimpan emosi negatif untuk waktu yang lama dan tidak berusaha menyembuhkannya. Luka dan kenangan buruk itu kamu simpan dan tidak kamu ungkapkan sehingga memuncak dalam dirimu.

Please forgive me, ungkapkanlah rasa maaf yang lebih mendalam kepada inner child-mu. Ungkapkanlah maaf karena kamu tidak banyak mempedulikan cara pandangnya atau bahkan mencoba melupakannya. Permintaan maaf ini akan membawamu dapat mencintai dirimu dengan lebih baik, termasuk inner child-mu.

I love you, katakana bahwa apapun yang telah terjadi kepadamu, kamu mencintai dirimu sendiri tanpa syarat. Tunjukkanlah rasa cinta kepada dirimu yang terus bertahan hingga saat ini. Cintailah dirimu, tubuhmu, udara yang kamu hirup, dan perjalanan hidupmu.

Thank you, tunjukanlah rasa syukur atas kehidupan, cinta, dunia, dan pengalaman yang telah membentukmu menjadi sosokmu yang sekarang. Tunjukkanlah rasa syukur atas inner child yang telah bertahan meskipun memiliki perihnya luka yang dirasakan. Rasa syukur ini bisa membantumu lepas dari emosi negatif yang kamu rasakan.

Dalam melakukan proses ini, kamu juga dapat kembali membayangkan dan menvisualisasikan pengalaman-pengalaman masa lalumu dan perasaanmu saat itu. Upaya ini membuatmu lebih lega dan jujur kepada dirimu sendiri.

3. Membuka diri

Proses penyembuhan inner child adalah sebuah proses seumur hidup dan tidak memiliki akhir yang pasti. Oleh karena itu, penting untuk melakukan dua tahap sebelumnya untuk kembali membuka hubungan dengan inner child kita. Selanjutnya, mungkin akan ada banyak hal-hal baru yang kamu sadari dari masa lalumu. Oleh karena itu, tetap buka diri selama prosesnya. Kamu dapat membaca lebih jauh soal self healing melalui tulisan Satu Persen "Self Healing Bisa Membuatmu Merasa Lebih Baik"

Berdamai dengan masa lalu memang tidak mudah dan bukanlah proses yang sebentar. Karena itu, kamu harus bersabar menghadapi setiap prosesnya. Jika kamu merasa kesulitan melakukannya sendiri, kamu dapat meminta bantuan psikolog untuk membantumu menghadapinya.

Satu Persen juga menyediakan layanan Konseling 1-on-1 sama Psikolog. Di konseling ini kamu bakal dapet tes psikologi untuk tau gambaran kondisi kamu saat ini. Lalu kamu juga akan dapet asesmen mendalam untu mengenali peristiwa masa lalu apa sih yang bisa memunculkan luka dan trauma itu. Diakhir kamu bakal dapet worksheet dan terapi yang bakal disesuaiin sama hasil tes dan asesmen supaya bisa ngebantu kamu nyembuhin trauma itu.

Untuk daftar layanan konseling ini kamu bisa klik link berikut ini, https://1persen.link/konselingpsikolog-1

Jangan lupa tonton video Satu Persen tentang "Trauma Masa Lalu" Follow juga Instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Semoga tulisan ini bisa membantumu hidup lebih baik, setidaknya Satu Persen setiap harinya.

Referensi

Jess, D. (2018, October 04). What Is Hooponopono? Benefits & Techniques In The Art Of Forgiveness. Retrieved August 07, 2020, from https://www.thenaturaldoctors.com/what-is-hooponopono/

Noorvitri, I. (2020, April 03). Memahami Inner Child dalam Diri. Retrieved August 07, 2020, from https://pijarpsikologi.org/memahami-inner-child-dalam-diri/

Raypole, C. (2020, July 08). 8 Tips for Healing Your Inner Child. Retrieved August 07, 2020, from https://www.healthline.com/health/mental-health/inner-child-healing

Raypole, C. (2020, June 26). Inner Child: 6 Ways to Find Yours. Retrieved August 07, 2020, from https://www.healthline.com/health/inner-child

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.