Hubungan

Broken Home, Bagaimana Menghadapinya?

Author: Nouvend Setiawan

Broken home, sebuah istilah yang sayangnya begitu familiar dengan beberapa dari kita. Sering kita bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi broken home? Apa pengaruhnya? Apakah hidup dalam broken home mempengaruhi kita secara langsung? Bagaimana cara menghadapi broken home?

“Ayahmu kerja apa?”

“Oh begitu… bagaimana dengan ibumu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kita dengar, bukan? Mungkin kamu mendengarnya dalam suatu percakapan, dilontarkan oleh seorang kerabat yang tentu saja tidak memiliki intensi buruk.

Lalu kamu mendapati dirimu mengalami keraguan sesaat, terbentuk dari banyak keraguan panjang yang kian memendek –mungkin kamu sudah terbiasa-. Kamu tersenyum dan mengalihkan topik, atau mungkin menjawabnya dengan yakin. Tapi tidak bisa dipungkiri tetap ada sedikit rasa janggal dalam hatimu ketika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Paling tidak itu yang terjadi orang-orang yang menghadapi broken home.

Artikel ini akan memberikanmu pencerahan singkat tentang broken home dan cara menghadapinya.

Di Balik Broken Home

Menurut Ruksana Saikia (2017), ada beberapa penyebab broken home, mulai dari perceraian, kematian salah satu orang tua, kesalahpahaman dalam keluarga yang gagal diselesaikan dengan baik, atau bahkan kehadiran pihak ketiga dalam pengurusan rumah tangga (ya, tetangga contohnya).

“Oke terus apa?” pikirmu mungkin. Yang ingin aku utarakan adalah, broken home is NOT always about a family which the parents are separated. Memang, sebagian besar demikian, tetapi sebuah keluarga bisa dikatakan broken home ketika tidak ada cinta, tidak ada kebaikan, tidak ada aspek-aspek positif dari keluarga tersebut. Kehadiran cinta dalam keluargalah yang menjadi penting. Ketika ada cinta dalam keluarga tersebut, tidak ada yang rusak. There’s nothing broken. (Kusumo, 2019)

Meskipun demikian, perceraian dalam hal ini memiliki peran yang besar dalam menyebabkan broken home. Ketika perceraian dalam keluarga terjadi, tidak jarang salah satu atau mungkin kedua orang tua harus pergi dari rumah. Kepergian dari orang tua ini akan memberikan dampak yang besar bagi keluarga, menjadikannya broken home. Hal yang lebih berat lagi adalah ketika keluarga tersebut memiliki anak karena sang anaklah yang akan merasakan sebagian besar dampak dari hidup dalam broken home.

Menjadi Anak dalam Broken Home

broken home
Photo by Chinh Le Duc on Unsplash

Sebuah tantangan yang sangat berat bagi seorang anak untuk hidup dalam keluarga yang tidak "utuh". Hidup dengan hilangnya salah satu atau bahkan kedua sosok orang tua memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang kamu kira (siapa sih yang tidak mau keluarga harmonis dengan anggota yang lengkap?). Ketika sosok yang seharusnya menjadi sumber cinta dan kasih sayang itu hilang atau mungkin bahkan hadir namun gagal memberikan hal-hal tersebut, sang anak akan kehilangan ‘amunisi’ penting dalam pengembangan karakternya. Sang anak akan mengalami kekosongan yang bahkan mereka pun tidak terlalu tahu cara mengisinya bagaimana hingga ketika mereka beranjak lebih dewasa.

Hal ini akan membuat sang anak mengalami banyak hal yang merugikan dalam  perkembangan hidupnya, mulai dari hal sesederhana perilaku yang buruk, hingga hal-hal lebih kompleks seperti depresi, kesulitan menjalin hubungan di masa depan, atau gangguan-gangguan lainnya. (Asha, 2017; Saikia, 2017)

Tenang! Hal ini bukanlah hal yang mutlak. Mungkin, seoarang anak dalam broken home memiliki kesulitan yang lebih daripada mereka yang tidak, maybe they have it harder, tetapi anak dalam broken home bisa mencapai kesuksesan terlepas dari kondisi kelauarga mereka. Kamu, bisa menjadi lebih baik.

Kamu bisa menemukan kedamaian dalam kondisi tersebut dan menggunakannya untuk menjadi lebih baik dalam hidupmu, mencapai hal-hal luar biasa dalam hidupmu.

The question is: how?

Menghadapinya Sebagai Seorang Anak

Sebagai seorang anak dalam broken home, tidak bisa dipungkiri bahwa kamu pasti mengalami satu atau beberapa hal yang berdampak buruk pada dirimu. Entah itu perilaku atau kondisi mental. Ingat, ini bukan salahmu. Kamu bisa pergi ‘bertemu’ dengan masa lalu yang membuatmu seperti sekarang ini dan mungkin duduk bersamanya, membicarakan hal-hal yang sudah lama kamu simpan. Inilah langkah awal dari mencari kedamaian dalam kondisi broken home.

1. Temukan "masalah"-nya

Menjadi anak dalam broken home tentu memiliki dampak besar bagi diri sang anak, baik maupun buruk. Mungkin kamu belum sadar, atau mungkin sudah sadar tapi masih membantah. Sulit memang, tapi langkah pertama yang sebaiknya kamu lakukan adalah dengan mengiyakan, menyadarkan diri bahwa memang, ada dampak buruk yang kamu alami sehingga dirimu atau hubunganmu dengan keluarga terpengaruh, sebagai hasil dari bertahun-tahun hidup dalam broken home (ini bukan berarti kamu sudah tervonis buruk, ya). Maka kamu harus bisa, cepat atau lambat, berani untuk mengakuinya dan merangkul masalah tersebut. Mungkin itu adalah kebiasaan yang ingin kamu hilangkan, mungkin itu kekesalanmu yang tidak pernah jelas sebabnya, mungkin itu adalah pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab, atau mungkin keinginan untuk berdamai yang tidak pernah terwujud. Hal-hal yang sudah terlanjur kamu kubur dalam-dalam.

Kuatkan dirimu, lalu ambil kembali masalah-masalah tersebut. Bawa mereka, peluk mereka dengan erat, dekatkanlah denganmu. Lalu ketika kamu sudah selesai bercengkrama dengan mereka, majulah ke langkah berikutnya.

2. Pengampunan dan Cinta: Usaha Merajut Kembali

Sebuah hal yang terdengar sederhana namun sulit. Untuk kembali merajut cinta yang telah lama hilang dalam sebuah keluarga, dibutuhkan sosok yang kuat. Jika kamu ingin paling tidak berusaha untuk memperbaiki keretakan dalam keluarga, mulailah dari memaafkan hal-hal yang selama ini membuatmu kehilangan cahayamu. Mungkin kamu memaafkan ayahmu yang pergi meninggalkanmu dan ibumu sendirian, mungkin kamu memaafkan ibumu yang selingkuh diam-diam, mungkin kamu memaafkan saudaramu yang selalu membuat atmosfir rumah tegang, atau mungkin kamu memaafkan dirimu sendiri karena terlalu lama membiarkan dirimu tersiksa dalam kondisi yang berada di luar kendalimu.

Maafkanlah hal-hal tersebut. Sedikit demi sedikit, kamu akan menemukan sisi baru kehidupanmu dalam broken home. Kau akan mendapati dirimu lebih terbuka, lebih berseri, lebih bahagia. Sedikit pun tidak masalah. Lalu ketika kamu sudah berhasil merelakan, melepaskan, dan menyelesaikan masalah-masalah tersebut, kamu akan menemukan dirimu berada pada fase baru di mana kamu mulai merubah gaya hidupmu atau mungkin memperbaiki masalahmu dengan menggunakan bantuan profesional.

Namun, apakah itu berarti kamu hanya bisa berdamai dengan masalahmu dengan tetap berada dalam broken home dan memperbaikinya dari dalam? Tentu saja tidak selalu.

3. Tidak Apa-Apa Jika Kamu Harus Melepas atau Tetap Bertahan.

Sayangnya, seringkali anak dalam broken home memiliki orang tua yang toxic atau bahkan abusive. Orang tua yang toxic itu seperti apa? Kamu bisa cari insight terlebih dahulu di sini untuk sekedar tahu bagaimana ciri-ciri orang toxic. Tapi jika kamu hidup dalam broken home, bisa jadi orang tuamu itu mungkin ada yang toxic (jika memang penyebabnya adalah orang tua).

Lalu apakah kita otomatis mengemban tugas mulia untuk memperbaiki orang tua kita, memperbaiki hubungan kita dan keadaan kita?

Jawabannya: tidak. Kamu tidak harus mempertahankan orang tuamu kalau mereka toxic atau abusive. Mungkin iya, kamu akan berusaha untuk bertahan, untuk memperbaiki. Namun ingat, hidupmu adalah milikmu. Ketika kebaikan dirimu untuk tetap bertahan bersama orang tua menggerogoti kesejahteraan dirimu secara fisik dan batin, apakah pantas? Tidak ada jawaban yang pasti, hanya saja, ingatlah bahwa dirimu juga butuh bernafas dengan lega.

Karena terkadang, jawaban terbaik dari sebuah hubungan yang tidak sehat adalah dengan pergi menjauh. Rasa bersalah mungkin akan tetap mengikutimu ketika kamu memutuskan untuk meninggalkan orang tuamu entah itu dengan bekerja di kota/negara lain atau hidup dengan pasangan barumu, namun itu tidak semata-mata membuatmu menjadi orang yang salah, orang yang buruk. Tidak ada salahnya dari mempertahankan diri sendiri.

4. Terakhir, Kelilingi Dirimu dengan Orang-Orang yang Suportif

Kehadiran lingkungan dan orang-orang yang suportif sudah terbukti akan membuatmu merasa atau menjadi lebih baik ketika kamu hidup dalam broken home. Ketika cinta tidak bisa ditemukan di rumah, maka natural saja kamu pergi mencarinya ke tempat lain.

Terus? Sudah? Begitu Saja?

Sayangnya, hidup dalam broken home tidak semudah itu. Menghadapi broken home bisa dipastikan akan menjadi perjalanan panjang. Tips-tips di atas aku utarakan hanya untuk membantumu, membantu kita semua dalam menghadapi broken home. Ingat! Kamu tidak sendiri. Kamu, aku, dan kita semua akan selalu berusaha untuk menghadapi dan berdamai dengan keadaan suatu hari nanti. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu!

Jika kamu mungkin masih bertanya-tanya apakah kamu hidup dalam broken home, video ini di bawah ini bisa membantumu. Akhir kata, semoga kamu terus kuat, ya. I’m with you! Semoga tulisanku ini bisa berguna buatmu ya! Kalau kamu mau cek tulisanku yang lain, aku juga sedang menulis cerita di wattpad, judulnya LIGHT. Terima kasih banyak!

References

Asha. (2017, January 12). Child Development and Behavior: Broken Homes, Hopes, and Dreams. Retrieved from youth voices: https://www.youthvoices.live/2017/01/12/child-development-and-behavior-broken-homes-hopes-and-dreams/

Friedman, R. A. (2009, October 19). When Parents Are Too Toxic to Tolerate. Retrieved from The New York Times: https://www.nytimes.com/2009/10/20/health/20mind.html

Kusumo, F. I. (2019). Broken Homes Tak Selalu Tentang Keluarga dengan Orangtua Bercerai. Retrieved from Mommies Daily: https://mommiesdaily.com/2019/04/16/broken-home-tak-selalu-tentang-keluarga-dengan-orangtua-bercerai/

Saikia, R. (2017). Broken family: Its Causes and Effects on the Development of Children. International Journal of Applied Research, 445-448.

Unsolicited Thoughts. (2018, January 30). How Growing Up In A Broken Homes Changes Your Heart. Retrieved from your Tango: https://www.yourtango.com/2018310293/how-growing-up-broken-home-affects-relationships

Widyastuti, T. (2017). RESILIENCE OF A CHILD FROM BROKEN-HOME FAMILY: A PHENOMENOLOGY STUDY. IJASOS- International E-Journal of Advances in Social Sciences, Vol. III, Issue 9, 1024-1034.

Woodard, M. (2020). How to Grow Beyond the Pain of a Broken Family. Retrieved from cru.Young, K. (2016, January). Stronger for the Breaks – How to Heal from a Toxic Parent. Retrieved from Hey SIGMUND: https://www.heysigmund.com/toxic-parent/

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.