Toxic Positivity: Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Kesehatan Mental
Hana Nuralifiah
27 Apr 2021
Toxic Positivity: Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Toxic Positivity: Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Halo, Perseners! How’s life?

Kenalin, nama gue Hana. Gue di sini menulis sebagai Associate Writer dari Satu Persen.

Pasti ada dari kalian yang akhir-akhir ini lagi gak baik-baik aja. Mungkin ada yang lagi dapet cobaan atau mengalami kegagalan. Lalu, gimana sih cara kalian menghadapi perasaan yang kurang enak itu?

Mungkin ada berbagai macam cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan berusaha untuk tetap berpikir positif. Tentunya, gak ada yang salah dari bersikap optimis kayak begitu. Akan tetapi, kalau dilakukan secara berlebihan, yang ada malah menambah masalah baru—alih-alih menyelesaikan masalah dan bikin lo merasa lebih baik.

Pernah dengar tentang toxic positivity? Nah, istilah yang lagi lumayan rame di media sosial ini sering digunakan untuk menggambarkan sikap “terlalu positif” tadi.

Tapi, toxic positivity itu sebenernya apa sih? Yakin udah bener-bener paham sama toxic positivity?

Apa Itu Toxic Positivity?

Sederhananya, toxic positivity adalah keyakinan yang gak wajar bahwa kita harus berpikir positif dalam situasi apapun. Bahkan ketika pada faktanya kita lagi gak baik-baik aja. Sehingga, sikap positif tersebut justru malah merugikan alih-alih memberi dampak baik.

Terus gimana dampaknya? Well, sama seperti hal lainnya, sikap positif yang berlebihan dapat berakhir menjadi racun. Iya sih, niatnya baik, yaitu mau ngasih semangat supaya gak sedih terus. Tapi, sikap positif yang udah di tahap toxic gak akan bikin orang yang mendengarnya merasa lebih baik.

Toxic positivity dapat berupa pembungkaman emosi negatif yang sebenernya gak apa-apa buat diekspresikan. Bisa juga dengan bersikap menyepelekan kesedihan alih-alih memvalidasinya. Hal itu bisa bikin orang malah menekan perasaan yang sebenarnya dan berpura-pura bahagia.

Ucapan penyemangat yang mengandung toxic positivity gak hanya dilakukan kepada orang lain aja. Ternyata, kita juga bisa menjadi pelaku toxic positivity kepada diri sendiri, lho! Misalnya, dengan maksain diri buat selalu kelihatan hepi.

Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay

Berpikir positif sebenernya bagus buat kesehatan mental kita. Ada banyak bukti dari buku dan studi mengenai manfaat berpikir positif. Misalnya, jadi lebih menghargai diri dan mencegah bunuh diri.

Akan tetapi, ditemukan pula bahwa berpikir positif bukanlah satu-satunya cara yang selalu bisa digunakan dalam menghadapi semua masalah. Dukungan dari orang lain dan keyakinan terhadap diri sendiri juga menjadi faktor keberhasilan dalam menghadapi tantangan hidup. Kalo cuma maksain buat berpikir positif, nanti jatuhnya jadi berlebihan atau toxic positivity.

Mungkin lo jadi bertanya-tanya. Terus, gimana dong cara membedakan berpikir positif yang wajar dan toxic positivity?

Umumnya, toxic positivity ditandai dengan menutupi atau mengabaikan perasaan yang sebenarnya, menghilangkan emosi secara langsung, invalidasi emosi, mempermalukan orang yang mengungkapkan perasaan negatif, dan lain-lain. Berpikir positif yang benar tentu bukan dengan cara seperti ini ya, guys.

Gak cuma bikin seseorang merasa bersalah ketika merasakan emosi negatif, toxic positivity juga dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental, lho. Terutama kalo toxic positivity terus-menerus dilakukan.

Baca Juga: Toxic Positivity: Niat Berbuat Baik, Malah Bikin Buruk

Dampak Toxic Positivity: Sisi Gelap Menjadi Terlalu Positif

Sebagai manusia, wajar aja dong kalo kita merasa marah, sedih, atau lagi gak semangat. Soalnya, hidup juga gak selalu menyenangkan. Kadang kita mengalami hal-hal yang gak diinginkan. Jadi, kita gak perlu maksain diri buat selalu dalam mode “positive vibes”, kok!

Selain itu, toxic positivity juga bisa berdampak buruk buat kesehatan mental kita. Efeknya gak cuma sesaat aja, tapi bisa dalam jangka panjang juga.

Wah, emangnya bisa sampe seburuk apa, sih?

1. Toxic positivity bikin ngerasa malu sama emosi sendiri

Maksain buat berpikir positif ketika lagi ngerasa sakit cenderung bisa ngebuat seseorang menderita dalam diam. Kita menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya karena takut dinilai negatif, lemah, atau gak asyik. Kalo udah kayak begitu, biasanya kita jadi malu kalo diminta buat jujur mengenai perasaan kita.

Rasa malu sendiri merupakan sesuatu yang cukup mengganggu. Biasanya, kalo udah malu duluan, pasti susah banget buat diusahain jadi berani. Bener, gak?

Nah, supaya nanti gak perlu malu lagi sama apa yang kita rasakan, yuk kurangi toxic positivity dari sekarang! Mending banyak-banyakin memvalidasi perasaan dan berdamai sama kehadirannya :)

Baca Juga: Marah Bagian Dari Kita: Bagaimana Mengatasinya?

2. Toxic positivity berarti menekan emosi yang sebenarnya dirasakan

Sebuah studi menemukan bahwa mengekspresikan emosi, bahkan yang negatif sekali pun, ternyata membantu kita untuk mengatur respon stres. Menekan emosi dengan bertindak seolah-olah gak ada apa-apa malah meningkatkan kadar stres di dalam diri kita.

Artinya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa menekan emosi gak akan mengurangi masalah. Justru terus-terusan menekan emosi malah memunculkan kebiasaan yang gak sehat. Sehingga, penting banget nih buat belajar menerima emosi, termasuk emosi yang menyakitkan.

3. Merasa terisolasi gara-gara toxic positivity

Bersikap seolah-olah selalu tangguh karena toxic positivity malah membuat kita seperti bukan manusia sewajarnya. Akhirnya, kita jadi gak terkoneksi lagi dengan diri sendiri, dan orang lain pun jadi sulit juga buat terkoneksi sama kita.

Padahal, lo bisa minta bantuan kepada orang terdekat pas lagi gak baik-baik aja. Tapi, toxic positivity bikin lo gak bisa jujur bahwa sebenernya lo butuh pertolongan. Kalo udah begitu, gak heran kalo lo mulai ngerasa terisolasi.

Bersikap positif tanpa melakukan toxic positivity

Menjadi “terlalu positif” itu gak selamanya baik. Oke, mungkin lo udah paham soal itu. Tapi, lo jadi kepikiran gak sih, gimana cara ngasih semangat yang benar tanpa toxic positivity?

Pada akhirnya, lo pasti pengen diri lo atau orang lain yang lagi gak baik-baik aja itu bangkit dari keterpurukan dan mulai optimis lagi. Tentunya, gak ada orang yang mau mikir negatif terus.

Well, kita bisa jadi suportif buat diri sendiri atau orang lain tanpa toxic positivity. Caranya? Kita harus lebih memperhatikan ucapan ketika lagi nyemangatin seseorang yang sedang gak baik-baik aja.

Nah, berikut adalah ucapan yang cenderung toxic dan sebaiknya lo hindari:

“Udah, pikirin yang bagus-bagus aja, deh.”

“Setiap kejadian buruk pasti ada alasan dan hikmah baik di baliknya, kok.”

“Kalo gue bisa, lo pasti juga bisa kok melaluinya.”

“Masih mending kalo cuma segitu. Bisa lebih parah lagi, lho!”

Alangkah lebih baik kalo lo melakukan validasi terhadap apapun yang dirasakan. Kalo posisinya lo lagi ngasih support ke orang lain, jangan lupa buat nanyain apa yang bisa kita bantu buat mereka. Bisa juga dengan bilang bahwa lo ada buat mereka.

“Pasti berat buat lo, ya. Wajar aja kalo lo jadi ngerasa sedih.”

“Tenang, gue di sini ada buat nemenin lo, kok. Lo gak sendirian.”

“Kira-kira ada yang bisa gue bantu gak, supaya lo ngerasa lebih baik?”

Gimana? Keliatan kan, bedanya?

Dengan validasi, orang jadi lebih ngerasa aman buat menerima emosi mereka. Menerima fakta bahwa lo terluka itu merupakan awal dari tahap pemulihan. Lo pasti juga bisa menilai sendiri kan, perkataan seperti apa yang lebih enak buat didengar dan diterima?

Coba Juga: Tes Tingkat Resiliensi: Belajar Bangkit Lagi Yuk!
gambar-orang-overthinking
Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay

Oke, kita udah tahu apa itu toxic positivity dan bagaimana supaya gak melakukan itu. Tapi, gimana kalo lo belum punya support system yang gak melakukan toxic positivity, padahal lo lagi butuh banget buat divalidasi dan ditemenin? Atau gimana kalo lo udah punya support system yang tepat, tapi lo ngerasa itu belum cukup membantu?

Tenang aja, Perseners. Cari bantuan itu gak cuma sebatas ke orang terdekat aja, kok. Mungkin lo juga butuh yang namanya konsultasi sama psikolog. Dan kabar baiknya, Satu Persen punya layanan konseling online yang pastinya cocok buat lo.

Layanan konseling online hadir buat lo yang butuh bantuan klinis dan ditangani oleh psikolog. Nantinya, lo difasilitasi dengan psikotes, worksheet, dan juga bisa mendapatkan diagnosa. Gak cuma itu, lo juga bakal diberikan asesmen mendalam dan terapi apabila dibutuhkan. Tentunya, lo gak perlu takut mengalami toxic positivity kalo konseling sama Satu Persen.

Buat informasi selengkapnya, langsung aja klik gambar di bawah ini yah!

Satu-Persen-Artikel--30--6

Kalo lo ngerasa pembahasan di artikel ini masih kurang, lo juga bisa cari tahu lebih dalam tentang toxic positivity lewat video YouTube Satu Persen. Tinggal klik dan tonton aja video di bawah, ya!

Oke, cukup segitu dulu tulisan gue kali ini. Gue harap, artikel ini bisa bermanfaat buat lo yang lagi butuh, ya. Gak perlu khawatir, semua perasaan kalian itu valid buat dirasakan, kok. Semoga bisa cepat pulih, ya :)

Buat lo yang mungkin masih sering menyangkal emosi dan toxic positivity ke diri sendiri, lo gak berusaha sendirian, kok. Gue, lo, dan kita semua sama-sama belajar buat jadi orang yang lebih baik. Yang penting lo terus berproses, minimal #SatuPersen setiap hari menuju #HidupSeutuhnya.

Akhir kata, thanks a million!

Referensi

Quintero, S., Long, J. (2019). Toxic Positivity: The Dark Side of Positive Vibes. Retrieved on April 16, 2021 from https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/.

Villines, Z. (March 30, 2021). What to know about toxic positivity. Retrieved on April 16, 2021 from https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-positivity.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.