Self-Efficacy, Apa dan Bagaimana Implementasinya?

Pemahaman Diri
Fathan Akbar
14 Jul 2020

Pernah denger istilah "self-efficacy" sebelumnya? Setiap dari lo bisa dibilang punya suatu target yang ingin dicapai dalam hidup, baik skala kecil sampai besar. Mulai dari target untuk dapetin hati gebetan, berkuliah di kampus idaman, sampai bekerja di suatu perusahaan ternama. Dari situ, lo pun membuat berbagai rencana buat mencapainya.

Namun, seringkali lo gagal mencapai target tersebut karena kurang yakin dengan kemampuan diri sendiri. Misalnya saja, lo lagi jatuh hati sama seorang mahasiswi dari Fakultas Psikologi, yang terkenal cantik dan pintar. Akan tetapi, lo sadar diri kalo muka lo pas-pas an, dan yang naksir sama dia ada banyak. Hal itu membuat lo merasa, “Duh, yang suka sama dia banyak banget lagi, mana tampang gue pas-pas an begini.” Dari situ, akhirnya lo berpikir, “Kayaknya dia gak bakal mau sama gue yang begini deh.” Alhasil, lo pun mengurungkan niat buat deketin mahasiswi tersebut deh.

Kalo lo pernah begitu, tandanya lo punya self-efficacy yang rendah dalam sehari-hari sob! Tapi tenang aja, gue bakal mencoba jelasin apa itu self-efficacy, serta cara buat lo meningkatkannya. Penasaran? Yuk simak sampai habis!

Mengenal Self-Efficacy

Nah, konsep self-efficacy adalah suatu penilaian diri seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri dalam mengorganisir serta mengeksekusi rencana untuk mencapai tujuan tertentu (Zimmerman, 2000). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Psikolog asal Kanada, Albert Bandura pada 1977. Sederhananya, self-efficacy merupakan sebuah rasa percaya bahwa diri lo mampu untuk mencapai sesuatu sob!

Self-efficacy berguna buat diri lo miliki dalam berkehidupan sehari-hari. Hal ini berguna buat membantu lo menghadapi masalah, serta mencapai tujuan dengan baik. Dengan begitu, lo dapat meningkatkan rasa percaya lo dalam menjalani sesuatu, sehingga lo “gak kalah sebelum bertanding”. Selain itu, ini juga dapat mengurangi rasa cemas lo terhadap suatu hal, seperti misalnya pekerjaan kantor. Alhasil, lo pun jadi lebih santuy dalam menyelesaikan masalah, dan hasilnya pun jadi lebih maksimal sob!

Oleh sebab itu, penting bagi diri lo untuk memiliki self-efficacy dalam menjalani kehidupan sehari-hari sob! Contohnya nih ya, lo lagi ada banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan dalam waktu seminggu. Mulai dari masalah sama pacar, deadline pekerjaan, sampai meeting dengan atasan di kantor. Tak jarang itu mungkin membuat lo merasa cemas dan stress dalam pengerjaannya. Nah, melalui memiliki self-efficacy, lo jadi bisa ngelewatin semua itu dengan baik sob!

Faktor Pembentuk

Mungkin lo pernah ngeliat orang yang punya banyak kesibukan, tetapi tetap bisa menyelesaikannya dengan baik. Dari situ, lo berpikir, “Kok bisa ya dia kayak begitu, makan apa sih dia sehari-harinya?.” Jawabannya, ya jelas makan nasi lah, masa iya makan batu. Tandanya dia memiliki self-efficacy yang baik dalam bekerja sob! Nah, terdapat beberapa hal yang membentuk orang tersebut bisa memiliki self-efficacy yang baik. Di antaranya:

1. Mastery experiences (Memiliki Segudang Pengalaman)

Faktor pengalaman bisa dibilang berpengaruh besar terhadap tingkat self-efficacy seseorang. Biasanya, pengalaman saat lo berhasil dapat meningkatkan self-efficacy dalam mengerjakan sesuatu. Namun sebaliknya, pengalaman kegagalan milik lo dapat menurunkan itu sob!. Alhasil, berbagai pengalaman lo itu membentuk self-efficacy yang lo miliki saat ini deh.

Pengalaman berhasil yang lo miliki itu tergantung pada tingkat kesulitan pengerjaannya. Misalnya, seperti beban pembagian kerja sampai deadline pengerjaan yang lo miliki. Selain itu, pekerjaan yang lo lakukan sendiri cenderung meningkatkan self-efficacy diri lo ketimbang dengan bantuan orang lain sob!

Namun, kegagalan yang lo alami saat telah berusaha maksimal dinilai dapat menurunkan self-efficacy diri lo lho! Salah satunya dikarenakan perasaan kecewa akibat itu, sehingga menurunkan keyakinan lo dalam menyelesaikan suatu hal. Akan tetapi, kegagalan saat lo merasa stress dianggap gak terlalu menurunkan self-efficacy. Itu dikarenakan karena lo beralasan stress saat mengerjakannya sob!

2. Social Modeling (Belajar Melalui Orang Lain)

Selain pengalaman, faktor social modeling yang lo lakukan juga dapat mempengaruhi self-efficacy lho! Hal itu dikarenakan lo memperhatikan keberhasilan orang lain yang lo rasa berkaitan dengan pengerjaan lo. Akan tetapi, self-efficacy lo pun ikut menurun jika mereka gagal dalam hal itu. Misalnya, lo ngeliat temen lo yang mendapat nilai ujian bagus, maka lo juga akan lebih percaya diri terhadap hasil ujiannya, dan sebaliknya.

3. Social Persuasion (Dorongan Sosial)

Nah, social persuasion juga dapat mempengaruhi self-efficacy diri seseorang lho! Hal itu biasanya ditunjukkan melalui dorongan yang diberikan orang lain terhadap diri lo. Misalnya, lo akan bertanding sepak bola akhir pekan ini. Dari situ, keluarga dan teman-teman lo pun memberikan dukungan, seperti, “Gue yakin banget lo bisa ngegolin sabtu nanti!”

4. Physical and Emotional States (Kondisi Fisik dan Mental)

Nah, kondisi fisik dan mental juga dapat mempengaruhi self-efficacy diri seseorang lho! Misalnya, besok lo lagi mau ujian akhir semester, tetapi kondisi lo lagi gak fit buat ujian. Dari situ, lo mungkin akan merasa gak yakin buat bisa ngerjain ujian dengan baik. Alhasil, self-efficacy diri lo pun menurun akibat kondisi fisik lo yang lagi gak fit sob!

Cara Meningkatkan Self-Efficacy

self efficacy
Photo by Alex Woods on Unsplash

Sampai disini, mungkin lo bakal bertanya, “Terus gimana dong cara buat gue ningkatin self-efficacy? Gue kan orangnya gak percaya diri.” Nah, tenang aja sob, lo bisa kok ningkatin itu, selama diri lo ada kemauan! Maka dari itu, terdapat beberapa hal yang bisa lo lakuin buat meningkatkan self-efficacy. Di antaranya:

1. Membandingkan Diri Secukupnya

Membandingkan diri dengan orang lain sebenarnya sah-sah saja, sebab lo gak bisa menghindarinya sebagai makhluk sosial. Namun, jika berlebihan tentu gak baik bagi diri lo, terutama kesehatan mental. Maka dari itu, cobalah untuk membandingkan diri secukupnya dengan orang lain. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, sampai kesuksesan yang lo miliki.

2. Fokus Pada Gambaran Besar

Seringkali suatu kegagalan menurunkan keyakinan diri lo dalam mencapai suatu hal. Mulai dari kegagalan skala kecil, sampai besar. Padahal, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebagai suatu pembelajaran yang bisa lo petik. Oleh sebab itu, lo bisa mencoba  fokus terhadap gambaran besar dari hal yang ingin lo capai.

3. Ciptakan Lingkungan Positif Di sekeliling Lo

Tak jarang mungkin lingkungan yang negatif dapat berpengaruh terhadap keyakinan lo dalam mengerjakan sesuatu. Padahal, lingkungan bisa dibilang memberi pengaruh besar terhadap diri lo berperilaku. Maka dari itu, lo bisa mencoba menciptakan lingkungan yang positif di sekeliling lo. Mulai dari mencari teman yang suportif, sampai menghindari teman yang menghambat lo dalam berkembang. Oleh karena itu, pastikan lo berada di lingkungan yang positif.

Nah, perlu lo ingat bahwa dibutuhkan waktu serta usaha untuk meningkatkan self-efficacy.  Awalnya ini mungkin merupakan hal yang berat , sebab bisa dibilang lo perlu keluar dari zona nyaman yang telah ada. Namun, percayalah semua hal gak ada yang gak mungkin selama lo berusaha. Semoga tulisan gue ini bisa membantu lo ya sob!

Kalo lo merasa bingung dalam mempelajari ilmu psikologi, santai aja, lo bisa ikut mentoring Satu Persen. Di dalamnya lo bisa menceritakan kesulitan lo tersebut bersama mentor-mentor yang terlatih. Lo bisa ikut mentoring dengan ngeklik tulisan ini.

Jangan lupa buat terus pantengin informasi dari kita dengan follow instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Selain itu, lo juga bisa nonton video YouTube Satu Persen tentang “Tips Agar Selalu Siap Menghadapi Masalah” di bawah ini. Gue harap lewat membaca artikel ini ini bisa membuat lo berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap harinya. Gua Fathan dari Satu Persen, thanks!

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.