Menghadapi Rasa Takut Terhadap Kematian (Filosofi Epicureanism)

Filosofi
Nida Khairunnisaa
16 Nov 2020

Halo, Perseners! Coba kalau aku sebut kata: kematian, apa yang muncul dalam pikiranmu setelah mendengar kata itu?

Pernahkah kamu overthinking tengah malam memikirkan kematian? Bagaimana kehidupan setelah kematian? Dan Apa yang terjadi ketika kamu pergi meninggalkan dunia? Benarkah ketika kita mati, semua rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan akan turut hilang? Pikiran-pikiran ini mungkin pernah mampir dalam diri kamu. Mungkin ketika kamu kecil, pertanyaan ini pernah kamu lontarkan ke orang tua atau guru di kelas.

Lalu, emosi apa yang muncul ketika kamu memikirkan tentang kematian? Kebanyakan orang, bahkan aku, akan merasa takut ketika membicarakan atau memikirkan kematian. Rasa takut yang aku miliki didasarkan oleh ketidaktahuanku terhadap apa yang akan aku lalui setelah aku mati nantinya.

Pertanyaan, pemikiran, dan rasa takut ini dipandang dengan sudut pandang yang berbeda oleh seorang filsuf yang bernama Epicurus dengan aliran filsafat yang dimilikinya yaitu Epicureanism. Ia memandang kematian bukanlah hal yang menakutkan sama sekali.

Lalu, bagaimanakah pemikiran dari Epicurus ini? Mari kita bahas bersama melalui artikel ini!

photo by  Mat Reding on Unsplash

Epicurus merupakan seorang filsuf yang lahir di Pulau Samos dan berasal dari keluarga Athena. Epicurus termasuk sebagai salah satu filsuf yang hidup di zaman Helenistik. Pada zaman ini, para filsuf membentuk atau menciptakan sebuah aliran yang berkenaan dengan seni untuk menjalani hidup.

Itulah kenapa pada zaman Helenistik, aliran-aliran filsafat yang muncul erat kaitannya dengan bagaimana manusia dapat menikmati hidupnya dengan bahagia, meskipun berada di tengah-tengah penderitaan.

Oleh karena itu, Epicurus pun menciptakan aliran Epicureanism, yang sangat menekankan pada bagaimana caranya agar manusia dapat bahagia menjalani hidup dan terbebas dari segala penderitaan yang dialaminya.

Untuk mencapai hal tersebut, Epicurus pun membentuk dasar-dasar hidup bagi manusia yang ia sebut sebagai keutamaan. Keutamaan hidup adalah kebijaksanaan dalam mengejar sebuah kenikmatan. Kenikmatan ini diartikan sebagai awal dan akhir dari hidup yang bahagia, tidak merasakan sakit dan penderitaan dalam hidup.

Namun, Epicurus pun menyampaikan bahwa tidak ada kenikmatan yang mudah diperoleh. Akan selalu ada hambatan-hambatan bagi manusia untuk mencapai kenikmatan ini.

Hambatan terbesar apakah yang dimiliki manusia untuk mencapai sebuah kenikmatan?

Menurut Epicurus, hambatan yang dimiliki oleh manusia bersumber dari kecemasan atau rasa takut, khususnya rasa takut akan kematian. Maka rasa takut akan kematian inilah yang menjadi fokus bagi Epicurus untuk membantu manusia dapat mencapai kenikmatan dalam hidup. Bagaimana caranya?

Epicurus memperkenalkan empat obat mujarab dalam menjalani hidup. Keempat obat inilah menjadi terapi bagi para pengikutnya pada zaman tersebut untuk terbebas dari berbagai kecemasan yang dialami oleh mereka.

Obat mujarab dalam hidup ala Epicurus

1. Good is readily attainable

Apa yang baik mudah diperoleh. Obat yang pertama ini fokus pada kenikmatan hidup manusia.

Dalam bukunya, Epicurus menekankan bahwa kenikmatan hidup yang dimaksudnya bukanlah merupakan kenikmatan secara fisik saja, namun yang juga tidak kalah penting adalah kenikmatan batin. Kedua jenis kenikmatan ini yang akan mengarahkan manusia menuju tujuan hidup.

Salah satu tokoh dalam Psikologi yang terkenal dengan teori kenikmatannya, yaitu Freud, juga mengembangkan konsep dari Epicurus ini. Ia memaparkan bahwa kesenangan merupakan prinsip mendasar dalam kehidupan manusia. Untuk itu, obat mujarab inilah yang menjadi pegangan bagi para pengikut Epicureanism dalam menikmati kehidupan dan mencapai keutamaan dalam hidup.

2. Bad is readily endurable

Apa yang buruk, mudah dihindari. Lawan dari obat sebelumnya, yang baik mudah diperoleh dan yang buruk mudah untuk dihindari. Pemikiran sederhana dari aliran Epicureanism sebagai bentuk dan cara agar manusia dapat menikmati hidupnya dan mencapai keutamaan hidup.

Hal yang buruk di sini digambarkan oleh Epicurus sebagai hal-hal yang dapat menghalangi manusia, terutama rasa takut tadi. Rasa takut itu bagi aliran ini, hanya akan membuat manusia kesulitan untuk menikmati hidupnya meskipun berada di tengah-tengah penderitaan. Rasa takut kadang menjadi sangat besar hingga menutupi hal-hal baik atau kesenangan dalam hidup manusia.

3. God presents no fears

Obat ini merujuk bahwa Tuhan dan Para Dewa, tidak berurusan dengan manusia. Pandangan ini tentu menjadi perdebatan di zaman tersebut, dimana Kaum Stoa menganggap bahwa Illahi merupakan sesuatu yang berpengaruh dan menentukan nasib manusia.

Namun, bagi Epicurus tidaklah demikian, ia beranggapan bahwa Para Dewa tidak mungkin mencampuri urusan-urusan hidup manusia dan kebebasan manusia akan tercapai jika Para Dewa tidak berurusan dengan manusia.

Dengan obat pertama ini, Epicurus menekankan bahwa manusia berhak dalam menentukan dan memutuskan bagaimana hidupnya akan ia jalani, bagaimana nasibnya, dan jika sesuatu hal buruk terjadi itu bukanlah kesalahan dari Tuhan atau Para Dewa, melainkan hal tersebut memang pilihan dari manusia itu sendiri.

4. Death no worries

Kematian bukanlah hal yang dapat dipisahkan dengan kehidupan. Menurut Epicurus, kematian adalah satu kesatuan dari sebuah kehidupan yang baik.

Kematian tidaklah memiliki arti. Selama diri kita ada, kematian tidak ada. Dan ketika kematian ada, kita tidak ada lagi. Berdasarkan gagasan inilah, aliran Epicureanism menganggap rasa takut terhadap kematian merupakan hal yang tidak rasional atau keliru.

Lebih lanjutnya, melalui konsep metafisika, Epicurus membahas hal ini. Epicurus menganggap bahwa manusia dibentuk oleh kumpulan-kumpulan atom. Jika manusia mati, atom-atom tersebut tidak akan hilang, namun hanya akan bertebaran dan berpindah tempat.

Jika kamu memahami cara pandang dari aliran Epicureanism kamu akan menemukan bahwa kematian bukanlah hal yang harus ditakuti. Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut terkait konsep metafisika ini, kamu dapat menontonnya melalui video Satu Persen berikut ini!

Bagi Epicurus, kematian bukanlah hal yang harus dipandang menakutkan. Takut akan kematian adalah hal yang wajar. Banyak manusia yang juga akan merasakan takut  menghadapi kematian karena ketidaktahuan kita terhadap apa yang terjadi setelah kita mati.

Namun, jika ketakutan-ketakutan ini hanya menjadi penghambat bagi diri kamu, tentunya kamu akan menjadi manusia yang merugi. Banyak kesenangan dan kemudahan yang dapat kamu peroleh jika kamu tidak merasa takut.

Jika kamu sering merasa takut dan cemas berlebihan terhadap sesuatu, jangan khawatir! Kamu bisa mendapatkan bantuan dari dari mentor dan psikolog profesional Satu Persen melalui layanan mentoring dan konseling.

Part--1---Introduction-to-Digital-Marketing-4

Jangan lupa untuk untuk selalu mengikuti informasi menarik dan bermanfaat dari Satu Persen melalui instagram, podcast, youtube, blog dan webinar yang rutin diadakan oleh Satu Persen. Melalui berbagai media ini, Satu Persen akan menemanimu bertumbuh, setidaknya Satu Persen setiap harinya menuju #hidupseutuhnya!

Reference

Burton, N. (Dec 27, 2012). Are You An Epicurean? Really?. Retrieved on November 11, 2020 from https://www.psychologytoday.com/us/blog/hide-and-seek/201212/are-you-epicurean-really

Seaburn, D.B. (Feb 23, 2017). What if We Didn’t Have to Die?. Retrieved on November 11, 2020 from https://www.psychologytoday.com/us/blog/going-out-not-knowing/201702/what-if-we-didn-t-have-die

Thpanorama. Asal Epicureanisme, Karakteristik, Perwakilan, dan Gagasannya. Retrieved on November 11, 2020 from https://id.thpanorama.com/articles/filosofa/epicuresmo-origen-caractersticas-representantes-y-sus-ideas.html

Tutupary, V.D. (June 15, 2013). Epicurus: Hidup Tanpa Penderitaan, Mati Tanpa Ketakutan. Retrieved on November 11, 2020 from https://philosophyangkringan.wordpress.com/2013/06/15/epicurus-hidup-tanpa-penderitaan-mati-tanpa-ketakutan/#:~:text=Secara%20gamblang%20Epicurus%20mengatakan%20bahwa,adalah%20(justru)%20peniadaan%20perasaan.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.