Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD): Penjelasan Lengkap!

Kesehatan Mental
Hana Nuralifiah
15 Mar 2021
mengenal PTSD
mengenal PTSD

Halo, Perseners! How’s life?

Kenalin, gue Hana. Gue di sini menulis sebagai associate writer dari Satu Persen.

Gue yakin nih, kalian para Perseners pasti punya pengalaman yang beragam dan udah gak kehitung lagi banyaknya. Di antara pengalaman-pengalaman itu, mungkin ada yang pengen diulang lagi saking indahnya. Ada juga yang pengen dilupain, soalnya bikin nangis terus tiap nginget. Bener gak? :(

Wajar aja kalo ada kalanya lo ngalamin kejadian yang gak diinginkan. Pada akhirnya, hidup gak bisa selalu enak.

Tapi, gimana kalo gara-gara kejadian yang gak enak itu, lo malah ngalamin ketakutan yang gak wajar? Lo keingetan terus, sering flashback bahkan mimpi buruk. Padahal, lo lagi dalam situasi yang aman-aman aja, alias gak ada bahaya apa-apa.

Kalo pengalaman traumatis itu mengganggu lo dalam waktu yang lama, mungkin lo punya gejala PTSD, nih.

PTSD atau Post-Traumatic Stress Disorder adalah gangguan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami kejadian traumatis. Iya, PTSD termasuk gangguan mental, guys. Jadi, ini bukan sesuatu yang bisa lo selesaikan sendiri selayaknya pengalaman buruk biasa.

Menurut National Center for PTSD, cukup banyak orang yang pernah mengalami trauma dalam hidupnya. Tapi, gak semuanya mengalami sampe ke tahap PTSD. Untuk PTSD sendiri, setidaknya diderita oleh 10% dari populasi perempuan dan 5% dari populasi laki-laki pada tahun 2017.

Kalo yang gue lihat di film, biasanya yang ngalamin PTSD ini adalah veteran perang. Meskipun tempat tinggal mereka udah aman-aman aja, beberapa kali gue melihat mereka digambarkan punya respon yang berlebihan terhadap suatu pemicu, misalnya suara yang keras.

Tapi, apakah cuma veteran perang aja yang bisa menderita PTSD? Kita bisa gak sih berisiko kena PTSD juga?

Nah, sesuai judul artikelnya, gue bakal kupas tuntas informasi umum mengenai PTSD. Buat lo yang pengen tahu lebih jauh soal ini, yuk simak artikel selengkapnya!

PTSD: bukan cuma gara-gara perang

Jadi, PTSD itu gak cuma bisa dialami sama veteran perang aja ya, guys.

Seenggaknya, ada beberapa kejadian yang bisa menyebabkan PTSD. Baik mengalami atau cuma jadi saksi mata, dua-duanya bisa memicu gangguan PTSD.

Pengalaman traumatis tersebut dapat berupa perang militer, kekerasan fisik atau seksual, penyiksaan atau pengabaian, bencana alam, kecelakaan, luka parah atau diagnosis penyakit mematikan, kematian seseorang, dan lain-lain.

mengenal PTSD
Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay

Akan tetapi, sama seperti gangguan mental lainnya, gak berarti semua orang yang pernah mengalami kejadian tadi pasti terkena PTSD.

Trauma yang dialami orang dengan PTSD berlanjut hingga mengakibatkan perubahan nyata pada otak mereka. Misalnya, sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa orang dengan PTSD memiliki area hippocampus yang lebih kecil. Mereka juga punya tingkat stres yang gak wajar dan memicu reaksi seperti mengamuk atau melarikan diri.

Coba juga: Tes Tingkat Keparahan Stres

Selain gejala yang udah gue sebutin sebelumnya, gejala lain yang mungkin terjadi dapat berupa penghindaran dari situasi yang mengingatkan akan trauma, suasana hati negatif yang berkelanjutan (cemas, malu, gak punya harapan, gak nafsu makan, dan lain sebagainya), dan hilang konsentrasi sehingga sulit menjalani keseharian.

Kalau gak ditangani dengan benar, penderita PTSD juga mungkin melakukan hal yang menyakiti diri mereka sendiri, lho. Seperti penggunaan obat-obatan, self-harm, hingga pikiran untuk bunuh diri.

Bahaya banget, kan? :(

Supaya kita bisa menghindari hal-hal yang gak diinginkan, ada baiknya kita aware sama diri sendiri dan orang sekitar, nih. Kalo ada gejala yang gak wajar dan gak bisa diatasi sendiri, mungkin udah saatnya minta tolong orang lain.

PTSD vs PTS

Seperti yang udah gue bilang sebelumnya, gak semua orang yang mengalami pengalaman traumatis itu pasti mengidap PTSD.

Ada sebagian orang yang beberapa kali menunjukkan reaksi berlebihan, tapi lambat laun bisa membaik sendiri. Yang seperti ini gak bisa disebut PTSD ya, guys. Dalam artikelnya, Dr. James Brender menyebutnya sebagai PTS.

Nah, gimana sih cara membedakannya?

PTSD

Seperti yang kita tahu, PTSD adalah gangguan mental pasca trauma yang perlu diagnosa dan penanganan dari tenaga profesional supaya bisa sembuh. Soalnya, gejala yang mereka rasakan menetap lebih lama, bahkan bikin penderitanya gak bisa beraktivitas dengan normal

Coba Juga: Tes Layanan Konsultasi yang Paling Sesuai dengan Kebutuhanmu

PTS (bukan PTSD)

Yang bukan PTSD, atau PTS (Post-Traumatic Stress) adalah respon was-was yang umum terjadi setelah mengalami kejadian traumatis. Kondisi yang seperti ini gak bisa disebut sebagai gangguan mental, karena gejala yang muncul bisa membaik sendiri seiring berjalannya waktu.

Misalnya, lo baru aja mengalami perampokan dan sempet ditodong pake benda tajam. Mungkin beberapa hari setelah kejadian, lo masih suka parno kalo ngeliat orang bawa benda tajam di jalan.

Itu kan wajar aja, soalnya kejadian itu masih fresh banget di otak lo. Nah, tubuh lo secara otomatis tahu kalo lo harus berhati-hati. Selama lo masih bisa survive dari ketakutan itu, bisa jadi yang lo alami itu adalah PTS.

Mengatasi gejala PTSD

Gejala PTSD tentunya bakal ganggu banget kalo kambuh di tengah-tengah aktivitas kita. Terus, gimana ya cara ngurangin gejalanya—selain minum obat yang diresepkan oleh dokter?

1. Cari tahu apa itu PTSD dan kenali gejala yang dirasakan

Mempelajari apa itu PTSD bisa bikin lo lebih memahami gejala yang lo alami. Mungkin lo bisa mengidentifikasi waktu dan pemicu ketika gejalanya kambuh dan mencatat semuanya di buku jurnal. Dengan begitu, lo jadi bisa memikirkan lebih lanjut cara yang efektif buat mengatasinya.

2. Pola hidup sehat untuk mengurangi gejala PTSD

Pola hidup yang baik tentunya bikin tubuh lo sehat. Jadi, lo bisa ngerasa lebih rileks dan gejala yang dirasakan gak terlalu parah. Misalnya, gejala PTSD mungkin bikin lo jadi sesak napas, tapi berkat tubuh yang sehat, lo jadi bisa ngatur pernapasan lo pelan-pelan.

Coba deh lo konsumsi makanan yang sehat, istirahat yang cukup, olahraga, meditasi, dan juga self-care. Hindari melakukan sesuatu yang berdampak buruk pada tubuh pas lo lagi ngalamin gejala PTSD, misalnya merokok atau mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Baca juga: Kenapa Kesehatan Mental Penting?

3. Support system yang mendukung kesembuhan PTSD

Hadirnya support system berpengaruh besar buat kesembuhan PTSD, lho. Kita mungkin gak bisa menjadikan semua orang di sekitar kita sebagai support system. Cukup fokus sama orang yang peduli aja. Siapa pun mereka, pasti bersedia buat membantu dan mendukung lo, kok :)

4. Konsultasi gejala PTSD ke tenaga profesional

Kalo gejala yang lo rasakan udah gak terkontrol lagi, mungkin udah saatnya lo mengunjungi tenaga profesional, Perseners. Atau kalo lo bingung, “Gejala yang gue alami itu PTSD atau PTS, sih?”. Nah, lo bisa banget buat konsultasi supaya dapet diagnosa.

Kabar baiknya, PTSD itu termasuk gangguan mental yang bisa disembuhkan, lho! Nah, yang bisa menyembuhkannya adalah tenaga profesional. Jadi, lo gak perlu menderita sendirian atau khawatir kalo hidup lo bakal dihantui PTSD terus-terusan.

Baca Juga: Tips Pertama Kali Konseling Online dengan Psikolog: Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan?

mengenal PTSD Satu Persen
Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay

Mungkin setelah lo tahu PTSD itu bisa disembuhkan, lo jadi punya harapan, nih. Lo pengen coba konsultasi ke tenaga profesional, tapi di mana sih nyarinya? Bisa gak ya cari tenaga profesional yang recommended tanpa ribet?

Bisa banget dong, Perseners! Lo bisa kok coba layanan konsultasi dari Satu Persen!

Layanan konsultasi dari Satu Persen bisa membantu lo mengatasi gangguan klinis yang dialami, termasuk PTSD. Lo bakal diberikan diagnosa, supaya lo gak bingung lagi sama masalah yang lo alami. Selain itu, lo juga diberikan asesmen mendalam serta terapi sesuai kebutuhan.

Semuanya bakal ditangani oleh psikolog yang udah tersertifikasi di bidangnya. Jadi, lo gak perlu ragu lagi, ya!

Buat lo yang pengen cari tahu lebih dalam lagi mengenai PTSD, Satu Persen juga punya video YouTube yang sesuai banget nih buat lo. Yuk, klik aja link-nya di bawah!

Oke, gue bakal cukupkan tulisan gue di sini. Gue harap bisa bermanfaat buat lo yang lagi butuh. Big support dari gue buat lo yang lagi berjuang menghadapi trauma, semoga cepat pulih, ya :)

Dengan mengusahakan kesembuhan buat diri lo sendiri, tandanya lo lagi melangkah buat lebih berkembang. Mungkin progress yang lo jalani rasanya lama banget, tapi gak apa-apa, seenggaknya Satu Persen setiap hari menuju #HidupSeutuhnya.

CTA-Konsultasi--1--3

Referensi

Bender, J. (July 25, 2018). What Are the Differences Between PTS and PTSD?. Retrieved on March 1, 2021 from https://www.brainline.org/article/what-are-differences-between-pts-and-ptsd.

Donohue, M. (November 11, 2019). Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Retrieved on February 28, 2021 from https://www.healthline.com/health/post-traumatic-stress-disorder.

Ferguson, S. (February 20, 2019). PTSD Causes: Why People Experience PTSD. Retrieved on February 28, 2021 from https://www.healthline.com/health/mental-health/ptsd-causes.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.