Rasa Takut Terhadap Hubungan (Fearful Avoidant Attachment Style)

Hubungan
Angeline Harjono
14 Jan 2022
fearful avoidant attachment style
Satu Persen - Fearful Avoidant Attachment Style

Halo, Perseners! How’s your love life? Semoga lo dan pasangan tetap baik-baik saja, ya.

Teruntuk para pasangan lama mau pun baru, blog kali ini mungkin bisa bermanfaat buat kamu. Di sini, gue Angel sebagai Part-time Blog Writer Satu Persen akan ngebahas teori attachment style dalam hubungan. Khususnya, tipe fearful avoidant attachment style.

Basically, manusia udah mulai belajar buat merasakan kasih sayang dari sesama, bahkan sejak kecil. Dalam hubungan bersama orangtua, teman, atau pacar, tentu kita otomatis mengalami koneksi (attachment) yang mendalam pada mereka. Jadi, attachment style ini menandakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih, serta dampaknya terhadap kita.

Tapi, gimana kalau hubungan sama orang itu kurang baik? Nah, ini yang bisa berujung menjadi permasalahan dalam teori attachment style tersebut. Akhirnya, lo malah mengalami hubungan yang kurang sehat dengan sesama, ya.

attachment style
Source: makeameme.org

Untuk membedakan hubungan yang sehat atau kurang sehat, teori ini terbagi lagi menjadi dua kategori, yaitu secure attachment style dan insecure attachment style. Apabila lo merasa aman dan nyaman dalam hubungan, ini yang disebut dengan secure attachment style. Sebaliknya, insecure attachment style menandakan ketidaknyamanan dalam hubungan akibat kurang kasih sayang.

Kim Bartholomew, salah satu peneliti attachment style, lalu memberikan klasifikasi tambahan terkait insecure attachment style ini. Lebih tepatnya jadi 3 tipe, yakni fearful avoidant, anxious preoccupied, dan dismissive avoidant. Akan tetapi, tipe fearful avoidant ini masih jarang ditemukan.

Meski langka, beberapa riset menemukan bahwa avoidant attachment style ini justru lebih berbahaya dari tipe lainnya, lho. Makanya, gue pengin bahas soal tipe fearful avoidant attachment style ini lebih lanjut dari pengertian, penyebab, ciri-ciri sampai tips menghadapinya. So, baca terus hingga akhir, ya!

Pengertian Fearful Avoidant Attachment Style

Fearful-avoidant attachment style menandakan kecenderungan seseorang untuk mendambakan hubungan yang dekat dengan orang lain. Namun, di sisi lainnya, ada rasa takut dan ragu untuk melakukannya. Disebut juga dengan disorganized attachment, tipe ini merupakan kombinasi antara anxious attachment style dan avoidant attachment style.

pengertian fearful avoidant attachment style
Source: Makeameme.org

Sebuah studi dalam Journal of Sex & Marital Therapy di 2019 menjelaskan bahwa tipe attachment style ini seolah menggambarkan dilema seseorang terhadap suatu hubungan. Secara bersamaan, lo ingin merasakan kasih sayang, tetapi enggan untuk mendekati orang lain. Agak membingungkan, ya?

Biar lebih jelas, gue bakal kasih tahu ciri-ciri tipe fearful avoidant attachment style ini. Yuk simak bagian berikutnya!

Ciri-Ciri Fearful Avoidant Attachment Style

ciri-ciri fearful avoidant attachment style
Source: Ballmemes.com

Menurut Nicolas Favez dan Herve Tissot, ahli psikologi, berikut ciri-ciri umum fearful avoidant attachment style:

1.Rasa takut terhadap hubungan secara umum

2. Menghindari komitmen dalam hubungan

3. Sering merasa gelisah

4. Suka merendahkan diri sendiri

5. Nggak mudah menerima dukungan orang lain

6. Sering merasa nggak puas dengan suatu hubungan

7. Ada kemungkinan besar lainnya: melakukan aksi kekerasan dalam hubungan

Baca Juga: Mengenal Faktor Kecemasan Terhadap Hubungan (Anxious Attachment Style)

Penyebab Fearful Avoidant Attachment Style

penyebab fearful avoidant attachment style
Source: imgflip.com

Umumnya, fearful avoidant attachment style ini berawal dari masa kanak-kanak ketika salah satu orangtua atau wali menunjukkan perilaku yang terkesan menakutkan. Bentuk perilaku ini bisa beragam, mulai dari kekerasan, pengasingan, hingga kurangnya perhatian pada anak. Alhasil, si anak jadi merasa canggung untuk mendekatkan diri pada orang lain.

Padahal, anak-anak membutuhkan sosok dewasa yang bisa membimbing dan melindungi mereka. Tanpa dasar dan sumber kenyamanan yang kuat, si anak merasa terlena dan terpaksa mencari pelampiasan lainnya. Terlebih, ini bisa memengaruhi pertumbuhan kehidupan anak hingga dewasa.

Di masa dewasa, ada kemungkinan lo mengalami ketakutan yang sama terhadap suatu hubungan. Sebenarnya, lo pengin menerima afeksi yang mendalam dari orang lain. Sementara, ada sisi lainnya yang juga takut dan ingin menghindar dari hubungan tersebut.

Tips Menghadapi Fearful Avoidant Attachment Style

1.Pelajari sikap mindfulness

Pertama, coba pelajari sikap mindfulness untuk memahami emosi diri sendiri. Nanti lo juga bisa melihat pola dan alasan di balik tindakan diri sendiri. Ini merupakan salah satu metode mengenal diri sendiri yang nggak kalah efektif.

Linda Carroll, M.S., terapis spesialis keluarga dan pernikahan, menjelaskan bahwa mindfulness dapat mengatasi tahap awal attachment style ini sehingga hubungan jadi lebih nyaman dan sehat. Justru mengetahui kekurangan dari kedua belah pihak bisa menjadi solusi yang ampuh. So, coba praktekkan mindfulness ini untuk lebih terbuka pada pasangan, ya.

2. Atur komunikasi yang tepat

Gimana kalau masih ada rasa takut untuk terbuka? It’s okay, lo bisa mengatur komunikasi yang tepat sama pasangan. Pastikan ke doi kalau lo butuh waktu dan proses buat bisa merasa nyaman dalam hubungan ini.

Sementara, ada kemungkinan lo nggak sadar menetapkan batasan yang kasat mata demi kenyamanan diri sendiri. Jangan sampai si pasangan malah salah paham, ya. Coba perlahan kasih tahu penyebab ketakutan dan rasa gelisah lo. Lalu, pikirkan solusinya bareng-bareng.

tips menghadapi fearful avoidant attachment style
Source: Ahseeit.com

3. Hargai diri sendiri

Mengingat penjelasan sebelumnya, orang yang mengalami fearful avoidant attachment style ini cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah. Bahkan, sampai terlalu mengkritik harga diri sendiri. Akibatnya, ini menjadi masalah baru dalam hubungan.

Untuk mengatasinya, sisihkan waktu sejenak untuk melakukan self-love talk setiap hari. Lama-kelamaan lo bakal bisa semakin memahami diri sendiri. Di sisi lain, tentunya ini juga bisa menghentikan tabiat merendahkan diri.

Baca Juga: Self-Love: Menghargai Diri Sendiri, Kalau Bukan Kamu Siapa Lagi?
Hargai diri sendiri
Source: Memesfunny

4. Lakukan konseling

Ada saat-saat tertentu di mana lo mungkin bingung menghadapi situasi yang emosional. Khususnya, jika lo sendiri masih belajar untuk memahami avoidant attachment style ini.  Maka dari itu, lo bisa melakukan konseling dengan ahli profesional yang berpengalaman, nih.

Dengan bimbingan yang tepat, lo bisa semakin nyaman untuk terbuka pada diri sendiri dan sesama. Kebetulan Satu Persen punya layanan konseling yang siap menampung semua masalah lo. Bareng para psikolog Satu Persen, lo bakal bisa menemukan solusi untuk mengatasi masalah yang mengganggu sehari-hari.

Langsung klik banner di bawah ini, ya!

CTA-Blog-Post-06-1-16

Buat kalian yang masih penasaran sama tipe attachment style masing-masing, coba ikuti Tes Attachment Style ini dari Satu Persen. Kalau pengin tahu lebih lanjut soal teori attachment style, boleh banget dengerin episode podcast Satu Persen di bawah. Nanti lo bisa kupas tuntas soal attachment style dan dampaknya terhadap hubungan sama pasangan.

Sampai sini dulu ya, Perseners. Akhir kata, pantau terus channel YouTube Satu Persen dan IG @satupersenofficial buat insight menarik lainnya! Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Referensi:

Holland, K. (2019). How Fearful Avoidant Attachment Affects Relationships. Healthline.com. https://www.healthline.com/health/mental-health/fearful-avoidant-attachment#how-to-cope

Vinney, C. (2021). What is Fearful Avoidant Attachment? Verywellmind.com. https://www.verywellmind.com/what-is-fearful-avoidant-attachment-5207986#toc-history-of-attachment-theory

Gonsalves, K. (2021). Understanding The Fearful Avoidant Attachment Style in Relationships. Mindbodygreen.com. https://www.mindbodygreen.com/articles/how-fearful-avoidant-attachment-style-affects-your-sex-life

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.