Penyesalan Tidak Selamanya Buruk: Cara Memaafkan Diri Sendiri

Kesehatan Mental
Ade Chandra Gita Kusuma
3 Nov 2020
Dampak Positif Akibat Penyesalan
Apa Kamu Pernah Merasa Menyesal?

Pernah gak sih kamu semua, Perseners, yang membaca saat ini merasa menyesal saat mengambil sebuah keputusan?

Mulai dari keputusan yang mungkin terkesan sederhana, hingga yang begitu penting di kehidupanmu saat ini.

Seperti memilih jurusan yang salah, kesempatan yang salah, hingga bertahan dengan orang yang salah dan ternyata tidak ada gunanya, pernah?

Tidak berhenti sampai di situ saja, kamu juga pasti pernah akhirnya mengalami sebuah kekecewaan akibat kegagalan yang terjadi karena kesalahan saat mengambil sebuah keputusan di awal tadi.

Hal itu merupakan sebagian kecil dari perjalanan di hidupmu yang sudah membuatmu kecewa, malu, dan marah pada diri sendiri yang terakumulasi menjadi sebuah penyesalan berkepanjangan.

Selanjutnya pikiranmu akan diisi dengan berjuta-juta alasan seandainya, “Seandainya aku gak milih itu”, “Seandainya saja aku ambil tawaran itu”, dan beragam alasan seandainya yang malah membuatmu bingung pada dirimu sendiri.

Ingin marah terus menerus dengan diri sendiri rasanya malah semakin sedih, ingin memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri rasanya susah sekali akibat perasaan menyesal itu berdiam diri tak mau pergi.

Maka tak heran jika yang namanya pendaftaran itu berada di depan dan penyesalan itu datangnya belakangan, tapi apakah penyesalan itu wajar terjadi?

Sangat wajar, dan apakah setiap penyesalan berarti buruk? Nah di artikel kali ini aku akan membahasnya, maka simak terus hingga akhir ya.

Apa itu Penyesalan?

Sebelum membahas lebih jauh terkait penyesalan, berikut aku mau menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud penyesalan.

Menurut Psycnet, dari seorang psikolog sosial, menyatakan bahwa penyesalan adalah keadaan kognitif dan emosional yang menyakitkan karena menyesalkan sesuatu atas kelemahan, kehilangan, atau kesalahan.

Hal ini didukung dengan pernyataan dari Zeelenberg & Pieters (2007) di mana penyesalan merupakan emosi yang memberi arah pada suatu perilaku, di mana dapat digambarkan ketika sebuah ekspektasi yang kita miliki tidak sesuai pada kenyataan yang terjadi.

Rasa penyesalan juga dapat memancing rasa sedih muncul karena stimulus dari ingatan atau pengalaman tidak menyenangkan yang sedang kamu alami, misalnya saat kamu stres akibat salah dalam memilih sebuah jurusan ketika kuliah.

Padahal stresnya tentang salah jurusan tetapi tanpa sadar otak kamu dengan lancangnya malah mengingat sebuah kejadian di masa lalu, di mana sebenarnya bisa saja saat itu kamu memilih jurusan yang lain dan tanpa sadar keluar pernyataan dari dalam diri

“Kenapa ya waktu itu aku gak milih jurusan yang itu aja”.

Penyesalan menurut penelitian yang pernah aku baca juga memiliki dua karakteristik, yaitu penyesalan jangka panjang dan jangka pendek.

Penyesalan jangka pendek dapat muncul dari kesalahan yang kamu lakukan seperti saat kamu berbuat salah yang membuatmu dihukum oleh guru atau dosen, akhirnya kamu menjadi menyesal melakukannya lagi, penyesalan ini sering kita alami.

Kenapa disebut jangka pendek karena umumnya ini tidak bertahan lama sedangkan penyesalan jangka panjang kerap muncul dari tindakan yang tidak kamu lakukan seperti rasa sesal akibat kamu tidak pernah mencobanya, lalu timbul segudang pernyataan “Seandainya…” dalam pikiranmu.

Hal ini jauh lebih membekas ketika kamu tidak mencoba sama sekali, dibanding kamu mencobanya lalu gagal di kemudian hari.

Dampak Positif Akibat Penyesalan

Penyesalan sering dikaitkan dengan kegagalan, kekecewaan, dan perasaan negatif lainnya.

Tanpa kita semua sadari bahwa rasa sesal yang kita rasakan di masa lalu bisa menjadi kekuatan kita di masa depan, karena tidak selamanya penyesalan berarti negatif.

Berikut dampak positif akibat dari rasa sesal yang bisa kamu terapkan di kehidupan:

1. Mengetahui Kemampuan Diri Sendiri

Rasa sesal yang kamu alami baik itu kamu lakukan  atas dasar kesalahanmu sendiri ataupun tidak berani mencoba sesuatu, membuat kamu menjadi sadar akan kemampuan dirimu sendiri.

Penyesalan bisa saja timbul akibat kegagalan yang sudah kamu lakukan. Hal ini akan membuatmu semakin kenal dengan dirimu sendiri, kian meningkatkan self knowledge, self love, dan self care  pada dirimu.

Terlebih kemampuan yang dirimu miliki, sehingga harapannya kamu jadi semakin memaksimalkan potensi yang ada pada dirimu kedepannya.

2. Meminimalisir Kegagalan

Penyesalan yang kamu alami akibat kekecewaan ataupun kegagalan di masa lalu, bisa kamu jadikan evaluasi sebagai bentuk pembelajaran untuk masa depan.

Hal ini bisa membantu kamu ketika mencoba suatu hal yang sama, di mana kamu dapat meminimalisir risiko kegagalan yang ada.

Contohnya, seperti ketika kamu sedang dihadapkan pada ujian tengah semester pada salah satu mata kuliah, nilai kamu sangat rendah akibat kurangnya persiapan yang kamu miliki, maka di ujian akhir semester nanti kamu bisa melakukan evaluasi untuk menyiapkannya dengan matang, agar nilai yang kamu dapatkan bisa semakin berkembang.

3. Mempunyai Sudut Pandang Baru

Penyesalan juga dapat membantu kamu untuk bisa melihat suatu permasalahan baik itu kegagalan ataupun kesalahan di masa lalu, dengan berbagai macam sudut pandang.

Hal ini dapat mempermudah langkahmu ke depannya untuk dapat mengambil sebuah keputusan karena di awal tadi kamu memiliki beragam sudut pandang sehingga kamu bisa jadi jauh lebih matang dalam mengambil sebuah keputusan.

Cara Mengatasi Rasa Menyesal Berlebih

1. Menerima dan Akui Kesalahan

Cara yang paling ampuh dalam mengatasi rasa menyesal berlebihan adalah dengan menerima rasa sesal itu dan akui kesalahan yang membuat penyesalan itu muncul.

Hal ini akan membuatmusadar yang akhirnya kamu dapat lebih mengenal diri sendiri, mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirimu, sehingga harapannya kamu dapat mengevaluasi diri agar tidak mengulanginya lagi.

2. Mengubah Self-Talk Negatif

Ketika penyesalan muncul dalam diri, seringkali pikiran secara tidak sadar mengasosiasikan kata-kata negatif untuk kita konsumsi atau sering disebut self-talk negatif.

Seperti “Masa gini aja gak bisa sih”, “Apa sih yang kamu bisa?”, “Gagal mulu tiap lakuin sesuatu”, dan self-talk negatif lainnya.

Hal ini jika terus menerus dilakukan akan membuat self-love-mu menjadi rendah. Kamu semakin tidak percaya diri, menggerus harga diri, dan akhirnya kamu akan sulit berkembang setiap harinya.

Ubah self-talk negatif menjadi positif seperti “Yauda gapapa lain kali di coba lagi”, “Semangat kamu sudah cukup keras mencoba”, dan lainnya, tapi bukan toxic positivity.

Memang tidak mudah tapi harus kamu coba, agar membuatmu bangkit dari keterpurukan.

Jika sulit untuk kamu lakukan sendiri, Satu Persen di sini dapat membantumu dengan mengikuti layanan online konseling dan mentoring. Melalui layanan ini kamu akan langsung dibantu oleh para mentor dan ahlinya.

3. Melihat Perspektif atau Sudut Pandang Baru

Ketika mengalami penyesalan, perspektif dan sudut pandangmu dalam melihat masalah tersebut tak jarang negatif.

Maka coba ubahlah perspektif penyesalan ini sebagai suatu pelajaran. Pahami dan pelajari keputusan apa yang akhirnya membuatmu menyesal, sehingga ke depannya nanti kamu bisa mengambil keputusan yang tepat.

4. Evaluasi Diri

Setelah melakukan tiga cara di atas, selanjutnya adalah melakukan evaluasi pada diri sendiri dengan melakukan berbagai macam perbaikan tanpa menunda-nundanya.

Semisal kamu memiliki salah pada seseorang sehingga hubunganmu menjadi terpecah yang akhirnya kamu merasa menyesal melakukannya, maka segeralah meminta maaf dan perbaiki hubunganmu dengannya.

Karena biasanya, jika rasa penyesalan yang dirasa cukup dalam, maka bukan hanya orang lain yang kamu sakiti tetapi dirimu sendiri, maka jangan menunda-nunda untuk bisa memaafkan diri sendiri.

5. Mencoba Lagi

Kata orang bijak, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”, maka ketika kamu gagal, menyesal lah karena itu wajar, tetapi secukupnya saja.

Kemudian bangkit untuk terus mencobanya lagi dan lagi, karena Cristiano Ronaldo, pemain bola terbaik kelas dunia saja pernah mengalami yang namanya gagal dalam karirnya tapi karena kerja kerasnya, dia bangkit dari kegagalan, ia mampu menjadi seperti saat ini.

Memang kamu bukan Cristiano Ronaldo tapi kamu tak perlu menjadi dia, kamu cukup menjadi versi terbaik dari dirimu sebelumnya.

Penyesalan memang wajar kamu alami, tapi jangan sampai penyesalan yang kamu rasakan berlarut-larut berdiam di dalam diri.

Sulit memang jika masalah yang kamu alami begitu beratnya, tetapi sulit bukan berarti tidak bisa untuk dilakukan, kamu harus mampu bangkit dan melanjutkan hidup.

Segitu dulu dari aku, akhir kata aku mau menutup artikel ini dengan pernyataan yang coba aku rangkai untuk kamu yang mungkin saat ini sedang merasa gagal atau menyesal akibat ditinggal oleh orang tersayang.

“Hidup akan terus berjalan maka bangkitlah dari keterpurukan akibat rasa penyesalan, ingat segala sesuatu hal yang berlebihan itu dapat merugikan. Jadikan itu semua pembelajaran untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan”.

Kalau kamu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut seputar cara mengatasi rasa penyesalan berlebihan, tonton video Satu Persen berikut ini video menghadapi penyesalan.

Jangan lupa untuk terus mengikuti informasi dari kita dengan follow instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Aku harap lewat membaca artikel ini bisa membuat kamu berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap harinya. Thanks!

kelas-online-memaafkan-berdamai-diri-sendiri

Referensi

Gilovich, T., & Medvec, V. H. 1994. The temporal pattern to the experience of regret. Journal of  Personality and Social Psychology. 67(3): 357-365. https://doi.org/10.1037/0022-3514.67.3.357

Zeelenberg, M, & Pieters, R. 2007. A theory of regret regulation 1.0. Journal of Consumer Psychology. 17(1): 3-18. Diunduh dari https://www/tilburguniversity.edu/upload/ea

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.