Efek Negatif Cancel Culture bagi Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya

Kesehatan Mental
Fathur Rachman
26 Nov 2021
Efek Negatif Cancel Culture bagi Kesehatan Mental
Satu Persen - Efek Negatif Cancel Culture bagi Kesehatan Mental

Halo, Perseners!

Kenalin aku Fathur, Part-time Blog Writer di Satu Persen.

Akhir-akhir ini banyak public figure terkenal yang tertimpa kasus skandal hingga membuat mereka ramai dihujat oleh netizen. Tapi, gimana kalau yang terkena skandal itu adalah artis favorit kalian? Apakah kalian masih ingin menjadi pendukungnya atau malah jadi menghujat karena kesalahannya?

Salah satu contoh kasusnya adalah kasus Kim Seon Ho, artis dari Negeri Ginseng yang terkenal dengan aktingnya di serial drama Korea Hometown Cha-Cha-Cha. Kim Seon Ho menjadi sasaran amarah netizen ketika dituduh memaksa aborsi dan melakukan gaslighting kepada mantan pacarnya. Akibatnya, citra yang sudah dibangunnya selama ini menjadi runtuh karena satu berita buruk tentangnya.

Kemudian ada informasi lanjutan dari Dispatch yang mengatakan bahwa pernyataan dari mantan pacar Kim Seon Ho sebelumnya banyak yang gak sesuai fakta. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Kim Seon Ho tetap harus menghadapi masalah tersebut meskipun sudah mendapatkan simpati dari fansnya kembali.

Kim Seon Ho meme
Sumber: pinterest.com

Perseners tau gak, kalau yang dilakukan netizen ketika memboikot perilaku Kim Seon Ho atas skandalnya itu dinamakan cancel culture?

Istilah cancel culture ini sebenarnya sudah gak asing lagi bagi kalian yang sering bermain di media sosial. Tapi, kali ini aku bakal kasih tau Perseners soal cancel culture lebih lanjut biar kita paham bareng-bareng.

So, tetap baca sampai akhir, yah!

Baca juga: Gaslighting: Bentuk Abusive Relationship yang Mengarah Pada Kekerasan Seksual

Apa itu Cancel Culture?

Jika kita pisahkan terlebih dahulu, “cancel” mempunyai arti membatalkan, sedangkan “culture” sendiri memiliki pengertian sebagai budaya. Maka apa sih sebenarnya makna dari istilah “budaya membatalkan” ini?

Cancel culture adalah tindakan seseorang atau kelompok untuk menolak seseorang karena perilaku atau komentar yang dianggap salah oleh sebagian orang itu hal yang salah dan gak menyenangkan. Akibatnya, seseorang yang terkena cancel culture bisa aja didepak dari ruang lingkup sosialnya sendiri, bahkan dikucilkan oleh banyak orang.

Selain itu, hal gak menyenangkan pada cancel culture biasanya berupa tindakan dan komentar sensitif yang menyinggung tentang seksualitas, rasisme, agama, dan antargolongan (SARA). Misalnya dengan diketahuinya melakukan skandal yang memalukan, pandangan politik yang terlalu ekstrim yang berbeda, ataupun kasus seperti bullying kepada seseorang.

Sementara itu, karena aktivitas media sosial yang telah masif digunakan, membuat orang biasa pun dapat mengalami cancel culture dan sangat berdampak pada kesehatan mental. Nah, berikut hubungan cancel culture dengan kesehatan mental kita.

Dampak yang Dirasakan Korban Cancel Culture

Terlepas dari kebermanfaatan cancel culture untuk memerangi skandal penting dan isu mengenai SARA. Cancel culture juga memiliki dampak gangguan kesehatan mental bagi seorang individu yang menjadi korbannya.

1. Munculnya rasa malu

shy - malu
Sumber: kidsgrid.id

Dilansir dari Vogue, cancel culture sangat berdampak pada rasa malu karena telah diungkapkannya berbagai kesalahannya dan melanggar berbagai aturan sosial yang ada di masyarakat. Rasa malu ini juga akan berdampak pada diri kita secara langsung, bahkan menghantui setiap waktu dan di manapun berada. Misalnya ketika seseorang memviralkan video aib kamu dan menyebarkannya, ataupun hanya karena seutas tweet yang opininya sangat berbeda dengan aturan sosial pada umumnya.

Merasa malu memang wajar dan manusiawi. Tapi dengan adanya rasa malu, membuat seorang yang di­-cancel akan cenderung gak mengulangi perilaku tersebut. Oleh karenanya, orang yang bangkit dari rasa malu akan lebih teliti untuk kedepannya.

2. Rentan terkena cyberbullying

Cyber bullying meme
Sumber: imgflip.com

Media sosial memang sudah menjadi tempat penegakan hukum kedua setelah ruang pengadilan. Dalam beberapa menit seorang yang di-cancel bisa diserang secara verbal oleh ribuan orang secara terus-menerus karena satu kesalahan yang dibuat dalam media sosial. Cyberbullying ini bentuknya bermacam-macam, bisa jadi kamu dihujat oleh kata-kata kasar, diserang oleh komentar sinis, ataupun merendahkan kamu yang membuat kerugian secara pribadi.

Dalam jurnal yang diterbitkan pada tahun 2016, Chris Natalia mengatakan bahwa cyberbullying akan mengganggu kondisi psikis seseorang, bahkan bisa berdampak menyebabkan memakan korban. Hal ini diakibatkan karena adanya tekanan yang diterima secara berkepanjangan dan gak bisa dihandle oleh seorang yang di-cancel.

3. Terkena isolasi sosial dan kesepian

spongebob thinking meme
Sumber: pinterest.com

Terkena isolasi sosial atau dikucilkan dari masyarakat membuat seorang yang di-cancel akan menjadi lebih kesepian. Hal ini akan berdampak untuk memicu stres dan rasa cemas karena harus jauh dari orang terdekat dan lebih banyak merenung dalam kesendirian. Selain itu, kesepian juga akan berdampak kepada kualitas fisik kamu.

Misalnya kamu akan lebih lelah fisiknya karena kesepian membuat kamu lebih susah tidur. Alhasil, seorang yang di-cancel akan sulit untuk bisa produktif pada kesehariannya.

Baca juga: Perbedaan Kesepian dan Kesendirian: Mana yang Berbahaya?

4. Mengharuskan tampil perfeksionis

patrick sempurna meme
Sumber: memegenerator.net

Tentu manusia sendiri adalah makhluk yang gak sempurna. Tapi dalam cancel culture semua orang akan mengabaikan sifat kita yang gak sempurna dan menghalangi potensi kita untuk berkembang.

Di saat seseorang terkena canceling, maka orang tersebut harus secepatnya untuk meminta maaf kesalahannya. Bahkan jika permintaan maaf yang terlalu cepat akan dianggap gak tulus, sedangkan permintaan maaf yang terlalu lama malah dianggap paksaan.

Maka dari itu, seorang yang di-cancel dituntut selalu cemas jika terjadi kesalahan yang sedang menimpannya dan lebih teliti agar tidak mengulangi di lain kesempatan.

5. Mengalami depresi

depression illustration
Sumber: pixabay

Seseorang yang terkena ­cancel culture akan banyak dibilang jahat dan gak berpendidikan. Semakin banyak masyarakat yang bilang kalau kamu itu jahat, maka semakin banyak juga pikiran yang berpotensi menyebabkan kamu depresi. Alhasil, kamu jadi sulit berpikir, kehilangan semangat, menurunnya perasaan

Maka dari itu, seorang yang depresi ketika terjadi cancel culture akan menyebabkan perasaan sedih selama berminggu-minggu. Bahkan setiap bangun kamu akan dilanda oleh rasa takut dan tegang di dada karena dihantui selalu oleh pikiran negatif.

Apa yang Kita Bisa Lakukan?

Sebenarnya banyak cara untuk mengatasi perasaan bersalah ketika kamu mengalami cancel culture. Kita pun gak bisa mengontrol perilaku orang lain melakukan canceling, maka yang paling ampuh adalah mengontrol perasaan dan pikiran kita sendiri. Hal ini juga dilakukan agar kamu gak terjebak dan larut dalam kesedihan akibat terkena canceling.

Selain itu, kamu juga bisa melatih untuk melakukan permintaan maaf di depan umum. Saat melakukan permintaan maaf, kamu gak boleh defensif dan harus mengakui kesalahan dengan tulus kepada korban atau masyarakat yang telah kamu rugikan

Tapi kalau kamu masih sulit untuk melakukan saran-saranku, juga kamu gak bisa menahan dampak akibat cancel culture. Maka aku saranin kamu bisa melakukan konseling ke Satu Persen.

Psikolog Satu Persen juga memiliki lisensi resmi, jadi kamu gak perlu khawatir lagi buat mencoba layanannya. Selain itu, Satu Persen juga punya banyak testimoni yang bisa kamu baca di website-nya. Kalau kamu mau kepoin lebih lanjut tentang layanan konseling Satu Persen, kamu bisa klik banner di bawah ini, ya!

CTA-Blog-Post-06-1-23

Akhir kata, aku Fathur Rachman pamit undur diri. Selamat menjalani #HidupSeutuhnya!

Referensi:

Chris, N. (2016). Remaja, Media Sosial dan Cyberbullying. Jurnal Ilmiah Komunikasi, 5(2), 119–139.

Silverton, L. (2021). All The Reasons Why Cancel Culture Is So Toxic For Our Mental Health. Vogue.Co.Uk. https://www.vogue.co.uk/beauty/article/cancel-culture-toxic-for-mental-health

Rutledge, P. (2021). Cancel Culture: Accountability or Bullying? Psychologytoday.Com. https://www.psychologytoday.com/us/blog/positively-media/202103/cancel-culture-accountability-or-bullying

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.