Sifat Malu dan Cara Meningkatkan Percaya Diri

Pemahaman Diri
Dyah Ayu Annisa
7 Agt 2020

Sifat malu hampir dimiliki sebagian orang. Misalnya, pernah nggak sih kamu tiba-tiba panik kalo tiba-tiba ditunjuk guru buat jawab pertanyaan, padahal tahu jawabannya. Kalau ketemu orang baru, grogi banget rasanya mau mulai percakapan, bahkan nggak sanggup buat liat mukanya. Terus, pas diajak ngomong nggak berani natap matanya. Kalau kamu pengen mengatasi sifat malu yang berlebihan ini. Nah pas banget nih, kali ini Satu Persen bakal bahas gimana caranya mengatasi sifat malu berlebihan ini.

Apa Definisi Pemalu?

Menurut American Psychological Association (APA), rasa malu itu adalah tendensi atau kecenderungan untuk merasa canggung, khawatir, atau tegang  terutama saat berada di lingkungan sosial, oleh orang yang tidak dikenal (APA.org, n.d.). Biasanya orang-orang yang tergolong sangat pemalu menunjukkan gejala sebagai berikut: seperti berkeringat, jantung yang berdegup kencang, perasaan negatif tentang diri mereka, kekhawatiran tentang gimana orang lain memandang mereka; sampai kepada keinginan buat menjauhi interaksi sosial. Menurut Cooper, orang pemalu memiliki kecenderungan untuk overthinking. Contoh pikirannya: “habis ini aku ngomong apa ya?” “kedengeran lucu nggak ya lawakan aku tadi?” “cara ngomongnya bener gak sih” padahal overthinking ini sebenernya bisa jadi ngasih dampak negatif.

Tau nggak sih sifat malu itu sebenarnya normal. Sifat malu menjadi bermasalah ketika sifat malu mulai mengganggu kehidupan orang tersebut secara signifikan, atau ketika tercipta kondisi di mana mereka justru menghindari apa yang seharusnya mereka lakukan seperti misal menghindari perbincangan dengan teman kerja, kesulitan berinteraksi dan lain sebagainya (Keating, 2019).

Nah, perlu diketahui juga bahwa banyak miskonsepsi terhadap definisi pemalu itu sendiri. Kadang orang tuh suka gak bisa ngebedain antara introvert (introversion), shyness (pemalu), dan social anxiety disorder (gangguan kecemasan sosial). Dari namanya, mungkin ketiganya terkesan mirip. Tapi sebetulnya 3 hal ini itu berbeda.  Menurut Warner (2018) introvert itu adalah dimensi kepribadian, yang membahas tentang bagaimana  cara seseorang melakukan charging energi mereka. Nah, kalo ekstrovert itu ngecharge energinya pas lagi bareng orang, kalo introvert itu ngecharge energinya pas lagi sendirian.

Kalau pemalu adalah kecenderungan orang memiliki ketakutan dilihat secara negatif oleh orang lain. Nah kalau social anxiety disorder, udah masuk ke gangguan mental yang kondisinya itu harus di diagnosa oleh psikolog/psikiater. Jadi kalo gak didiagnosis, kita belum bisa bilang bahwa seseorang punya social anxiety disorder. Makanya jangan mudah melabeli dulu. Emang sih orang yang pemalu biasanya punya kepribadian introvert, tetapi ingat juga bahwa ada juga orang yang pemalu tapi dia extrovert atau orang yang kepribadiannya introvert tapi bukan orang pemalu (Keating, 2019).

Tips and Trik Menghadapi Sifat Malu

Nah, setelah kamu paham apa itu pemalu dan apa perbedaannya dengan introvert dan social anxiety, Satu Persen pengen ngasih tips dan trik untuk menghadapi sifat malu.

1. Fake it until You Make it

Walaupun terdengar seperti mantra penyemangat biasa, ternyata mantra fake it till you make it itu di-back up sama penelitian lho. Menurut Kilduff dan Galinsky (2013) saat orang memfokuskan pikiran mereka terhadap goal yang udah disusun, mereka akan cenderung dipersepsikan lebih asertif, lebih proaktif, dan dipandang punya kepercayaan diri yang tinggi.

2. Coba jangan berekspektasi tinggi sama diri sendiri

Ketika seseorang meletakkan ekspektasi tinggi ke dirinya, maka suara kritik di dalam kepala mereka akan memiliki suara yang lebih keras. Hal ini juga sebetulnya merupakan salah satu ciri dari orang yang pemalu, mereka cenderung punya ekspektasi tinggi dan jadinya gak realistis terhadap dirinya saat ngelakuin sesuatu. Mereka akan lebih “jahat” ketika menilai diri mereka (Carducci, 2009). Makanya, kamu perlu mencoba untuk jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Gapapa kok kalo kamu tadi terbelit pas ngomong. Gapapa kok kalo joke kamu tadi garing. Sadari bahwa orang mungkin gak akan inget apa kesalahan yang kamu lakukan dan kamu selalu bisa menganggap ini sebagai pembelajaran.

3. Coba sadari apa yang terjadi dalam pikiran kamu saat overthinking

Pas overthinking, biasanya kan kita memonitor semua perilaku yang kita lakukan. Kita ngatur gimana harusnya mulut kita bergerak atau gimana kaki dan tangan kita bergerak pas lagi presentasi atau lagi jalan. Nah, di satu sisi, ini bagus karena kamu jadi sadar atas apa yang terjadi saat itu, tapi kalo kamu ngelakuinnya dan merasa khawatir atas hal yang bakal kamu lakuin, mendingan kamu sadar bahwa kekhawatiran itu cuman terjadi di pikiran kamu. Fokus aja sama hal yang lagi kamu lakuin dan fokuslah pada saat itu. Supaya kamu bisa berhenti mengkritik diri kamu sendiri di dalam kepala kamu, yang terkadang bisa jadi cuman asumsi atau kekhawatiran kita doang terhadap hal yang bakal terjadi.

4. Mulailah dengan satu pertanyaan

Berkaitan dengan poin tiga. Menurut Carducci (2009), orang yang  pemalu cenderung berpikir kalau mereka tidak bisa membuat perbincangan yang menarik, yang asyik. Alih-alilh berfokus pada “aku nggak asik ya diajak ngobrol” atau “kayaknya obrolan aku nggak seru ya”, cobalah mulai dengan menggali informasi tentang lawan bicara kamu. Siapa mereka? Apa pekerjaan mereka? Hobi mereka? Hal ini dikarenakan, orang itu suka ketika mereka berbicara tentang diri mereka dan siapa tahu kalian bakal menemukan orang yang punya hobi yang sama dengan kamu atau orang yang menarik.

5. Keluar dari zona nyaman

Salah satu cara untuk mengatasi sifat malu kamu adalah mengembangkan rasa percaya diri di berbagai area dalam kehidupan kamu. Ingat di awal tadi, rasa malu itu wajar. Biasanya hanya terjadi di pikiran. Jadi, pada akhirnya rasa cemas, ketakutan untuk gagal, ketakutan ditolak, dan ketakutan akan dipermalukan itu tidak seharusnya menghentikan langkahmu untuk mengembangkan diri. Kamu harus take action. Seperti kata quotes dari Peter Parker di Spiderman, sometimes all you need is a leap of faith.

Cobalah buat keluar dari zona nyaman kamu dan berpartisipasi aktif di berbagai kegiatan baru, Seperti kata Elsa, Into the Unknown!! Kalo kamu masih SMA, mulailah ikut OSIS atau ekskul yang memaksa kamu untuk banyak berinteraksi dengan orang atau berbicara di depan umum. Untuk kamu yang udah kuliah, coba deh mulai ikut banyak organisasi atau kepanitiaan dan masuk ke divisi yang mengharuskan kamu berhubungan dengan banyak orang. Kalo kamu udah kerja? Tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk ikut kegiatan relawan (volunteer) yang mengharuskan bertemu dengan orang baru.

Nah, tapi dari bahasan tadi, kok kayaknya punya sifat malu itu buruk ya? Eits nggak selamanya buruk kok! Pemalu juga punya beberapa hal positif. Salah satunya adalah waktu mengambil keputusan. Orang pemalu cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengambil keputusan karena biasanya memikirkan apa-apa saja yang akan terjadi. Jadinya kamu cukup mempertimbangkan banyak hal, meskipun kalau berlebihan juga tidak baik.

Nah buat ngatasin rasa malu, kamu juga bisa ikut online mentoring disini kamu bisa curhat atau dikasih solusinya sama mentor dari Satu Persen.

Nah, kalau rasa malu ini akhirnya menganggu kamu, kau bisa segera buat cari bantuan profesional.

Sekaranag Satu Persen juga nyediain layanan Konseling 1-on-1 sama Psikolog. Di konseling ini kamu bakal dapet tes psikologi buat tahu gambaran kondisi kamu saat ini. Kamu juga akan dapet asesmen-pra konseling  yang nantinya dilanjut dengan worksheet dan terapi yang bakal disesuaiin sama hasil tes dan asesmen supaya bisa membantu kamu.

Kalo lo merasa butuh layanan ini, kamu bisa daftar di https://1persen.link/konselingpsikolog-1

Jangan lupa stay tune terus, dan follow sosmed Satu Persen di Youtube, Instagram, dan Twitter, kita bakal update info kelas mentoring dan informasi tentang kesehatan mental dan pengembangan diri disana . Tonton juga video dibawah ini juga buat nambah pengetahuan kamu tentang meningkatkan percaya diri ya.

Referensi

APA.org (n.d.). Shyness. Retrieved from https://www.apa.org/topics/shyness/

Carducci, B.J. (2009). The Psychology of Personality: Viewpoints, Research, and Applications. Hoboken, New Jersey : John Wiley & Sons

Cuncic, A. (2019, September 27th). 10 Good Things About Being Shy. Retrieved from https://www.verywellmind.com/advantages-of-being-shy-3024704

Keating, S. (2019, June 5th). The Science Behind Why Some of Us Are Shy. Retrieved from https://www.bbc.com/future/article/20190604-the-science-behind-why-some-of-us-are-shy

Kilduff, G. J., & Galinsky, A. D. (2013). From the ephemeral to the enduring: How approach-oriented mindsets lead to greater status. Journal of Personality and Social Psychology, 105(5), 816–831. https://doi.org/10.1037/a0033667

Shanley, D. (2018, July 8th). 7 Ways to Overcome Shyness and Social Anxiety. Retrieved from https://psychcentral.com/blog/7-ways-to-overcome-shyness-and-social-anxiety/

Villhauer, J. (2016, December 31st). 4 Ways to Overcame Shyness. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-forward/201612/4-ways-overcome-shynessWarner, C. (2018, December 7th). The Differences Between Shyness, Interoversion and Social Anxiety. Retrieved from https://verilymag.com/2018/12/signs-of-social-anxiety-social-anxiety-disorder-anxiety-introvert

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.