Stres vs Depresi: Ini Perbedaannya Menurut Psikolog

Kesehatan Mental
Dimas Yoga Maha Putra
19 Okt 2021
Perbedaan stres dan depresi menurut psikolog
Satu Persen - Apa Sih Bedanya Stres dan Depresi?

Halo, Perseners! Gimana kabarnya?

Sebelum lo membaca artikel ini, gue mau ngasih trigger duluan kalau beberapa hal yang gue bawain di sini bakalan mengandung bahasan yang sensitif. Jadi, buat lo yang mudah ke-triggered mungkin bisa persiapkan diri lo lebih dulu atau bisa juga coba baca artikel-artikel yang lain aja, ya.

Setiap masalah di dalam kehidupan ini baik itu masalah kecil atau besar pasti bisa membuat orang yang mengalaminya merasa sedih, tertekan, dan berujung menjadi stres. Sebagai contoh, terjebak di jalanan yang sangat macet dan penuh dengan suara klakson dari berbagai kendaraan pun dapat memicu stres.

Meski demikian, bakalan lebih baik kalau kita gak boleh menyepelekan hal yang menurut berbagai orang itu sepele loh, Perseners. Karena perasaan tertekan karena stres berkepanjangan kalau gak segera ditangani oleh ahlinya bisa mengakibatkan masalah yang lebih serius lagi terkait dengan kesehatan mental, yaitu depresi.

Depresi ini sendiri bisa berakibat fatal banget bagi penderitanya, loh. Tanpa adanya awareness dan penanganan yang tepat, depresi bisa mengganggu jalannya kehidupan sehari-hari dari penderitanya. Gak cuma itu aja, hal yang paling ditakutkan adalah penderitanya bisa aja melakukan hal-hal diluar kendali seperti self-harm, emosi yang selalu membara, dan yang lebih parahnya adalah melakukan bunuh diri. Kalau begini, harus diperhatikan banget kan, Perseners?

Namun sayangnya nih, masih banyak orang awam di luaran sana yang menganggap depresi sebagai bentuk dari stres biasa sehingga hal ini jadi terlambat buat ditangani. Akibatnya, sewaktu ditangani ternyata tingkat depresinya udah ada di tahap yang sangat parah.

Lalu, apa sih bedanya stres dan depresi? Nah, di artikel kali ini gue akan membahas seputaran apa itu stres dan depresi menurut psikolog serta perbedaan dari keduanya.

Tapi sebelumnya, ada pepatah bilang, "Tak kenal maka tak sayang, semakin kenal tambah sayang." Jadi, kenalin nama gue Dimsyog (acronym dari Dimas Yoga) dan di sini gue sebagai Part-time Blog Writer dari Satu Persen.

Oke deh, sekarang yuk langsung simak aja artikelnya sampai akhir dan jangan lupa buat share ke teman-teman maupun kerabat lo. Selamat membaca, Perseners!

Baca juga: Kenalan sama Gejala Gangguan Depresi

So, apa itu stres?

Di dalam dunia psikologi, ada banyak macam-macam istilah psikologis populer yang sering dikaitkan sebagai stres. Gambaran secara umumnya, kata “stres” mengacu pada suatu kondisi dimana seseorang mengalami tuntutan emosional yang berlebihan dan/atau periode yang membuat mereka sulit untuk berfungsi secara efektif di semua bidang kehidupan mereka.

Nah, kondisi ini bisa menyebabkan munculnya banyak gejala seperti depresi, kelelahan kronis, gampang marah, kecemasan, impotensi, dan kualitas kerja yang buruk (Richards, 2010). Dan karenanya, Ardani (2007) juga mendefinisikan stres sebagai gangguan fisik dan psikologis.

Sementara menurut Sarafino (1994), stres didefinisikan sebagai kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dan lingkungannya. Interaksi ini menyebabkan adanya persepsi kesenjangan antara kebutuhan yang muncul pada situasi yang berasal dari sistem biologis, kesejahteraan sosial dan psikologis seseorang.

Jadi nih, bisa dibilang stres adalah tekanan internal, eksternal dan kondisi menyusahkan lainnya dalam hidup.

So, definisi yang bisa gue simpulkan soal stres adalah suatu kondisi atau keadaan dimana lo merasa kalau tuntutan yang ada pada diri lo itu berlebihan sehingga membuat lo sulit berfungsi secara maksimal.

stres dan depresi
Sumber: memes.com

Sebaliknya, kalau depresi itu apa?

Dilansir Psychiatric Dictionary, ed.4 (Hinsie dan Campbel, 1970), mereka menjelaskan kalau di dalam dunia psikiatri konsep depresi diartikan sebagai sebuah sindrom klinik yang ditandai dengan menurunnya perasaan, kesukaran berfikir, dan kelambatan aktivitas psikomotor.

Depresi juga bisa berarti penurunan perasaan atau kesedihan, sehingga hanya merupakan gejala. Depresi juga bisa terjadi pada rata-rata orang sebagai respon emosional yang normal terhadap rasa kehilangan, gangguan dalam hubungan interpersonal yang dekat, posisi atau gengsi, keuangan, dan sebagainya.

Menurut Veronica Adesla, psikolog klinis dari Personal Growth, depresi adalah masalah kesehatan mental serius yang bisa menyebabkan perasaan sedih selama berminggu-minggu atau bahkan bertahun-tahun. Depresi sering kali disebabkan oleh emosi yang udah lama terpendam dan akhirnya berkobar pada saat bersamaan.

Karenanya, para penderita depresi juga digambarkan sering kali merasa sedih dan kalah, mudah lelah, kehilangan semangat atau motivasi, atau bahkan memiliki keinginan untuk bunuh diri.

depresi
Sumber: listkota.com
Baca juga: Stres Berat: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Lalu, apa perbedaan gejala stres dan depresi? Gimana cara menanganinya?

depresi dan stres
Sumber: me.me


Stres dan depresi tentunya memiliki gejala yang berbeda. Dan dengan melihat beberapa perbedaan gejala dari keduanya, gue harap Perseners bisa lebih aware dan memberikan pertolongan kepada orang-orang maupun keluarga terdekat yang menunjukkan gejala-gejala serupa.

Oke deh, kalau gitu ayo kita langsung ngebahas gejalanya lebih dulu. Di bawah ini, gue udah tulisin beberapa gejala yang dialami seseorang ketika sedang merasa stres:

  • Perasaan tidak terkendali dan kewalahan,
  • Menghindari orang lain, bahkan teman dekat dan keluarga,
  • Mudah gelisah, frustasi dan dalam suasana hati yang buruk,
  • Sulit untuk fokus,
  • Sakit kepala,
  • Gangguan pencernaan, termasuk mual, diare, atau sembelit,
  • Sulit tidur atau insomnia.

Selanjutnya, di bawah ini ada beberapa gejala yang dialami oleh seseorang ketika sedang merasa depresi:

  • Merasa tidak berdaya dan putus asa,
  • Hilangnya rasa percaya diri dan harga diri,
  • Selalu takut,
  • Sulit untuk fokus,
  • Menghindari orang lain, termasuk teman dekat,
  • Makan lebih sedikit atau lebih dari biasanya,
  • Sulit tidur, misalnya tidak bisa tidur atau bahkan tidur lebih lama dari biasanya,
  • Menyakiti diri sendiri,
  • Tidak ada lagi menikmati hal-hal yang biasanya menarik dan menyenangkan, seperti keengganan untuk menekuni hobi,
  • Sering-seringlah berpikir tentang kematian,
  • Memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Kalau udah tau gejala-gejalanya, sekarang kita bakal ngebahas tentang cara mengatasinya. Mengatasi stres sebenarnya melibatkan perubahan gaya hidup, jadi berikut adalah hal-hal yang bisa lo lakukan:

  • Berolahraga secara teratur,
  • Pelaksanaan diet seimbang,
  • Membatasi konsumsi kafein dan alkohol,
  • Berlatih teknik relaksasi seperti yoga dan meditasi,
  • Lakukan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan,
  • Melakukan hal-hal positif seperti berkumpul dengan teman, bermain game, menonton film, bermain musik, berkebun, dan sebagainya,
  • Gunakan jurnal atau blog sebagai sarana untuk mengekspresikan kesedihan dan emosi lo,
  • Melakukan konsultasi dan pemeriksaan tambahan dengan psikiater untuk memungkinkan perawatan yang memadai.

Stres umumnya tidak memerlukan bantuan psikiater dan bisa dikelola melalui aktivitas santai seperti liburan, meditasi, atau yoga. Sementara itu, depresi harus ditangani oleh psikiater karena diperlukan obat-obatan tertentu untuk mengobatinya. Umumnya, dokter akan meresepkan obat-obatan seperti antidepresan.

Karena jenis-jenis antidepresan ada banyak banget, sebaiknya lo konsultasikan ke psikiater buat menemukan jenis antidepresan yang tepat sesuai kondisi lo. Penting buat diketahui kalau obat untuk depresi harus diminum sesuai dengan dosis dan durasi yang direkomendasikan oleh psikiater lo. Selain minum obat, penderita depresi juga harus menjalani psikoterapi atau terapi perilaku kognitif dari psikolog atau psikiater.

Perlu diingat ya guys, dari beberapa hal diatas dapat disimpulkan kalau stres dan depresi bukanlah gangguan mental yang bisa hilang begitu saja. Jadi, jangan remehkan kondisi ini, ya.

Segera temui dokter atau ahli kesehatan mental lainnya kalau lo atau orang yang lo cintai mengalami stres dan depresi yang terus-menerus, apalagi jika disertai pikiran untuk bunuh diri. Dengan cara ini, lo bisa mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat berdasarkan stres dan depresi lo. Jangan biarkan stres dan depresi mempengaruhi hidup lo selamanya, ya!

Oh iya, lo juga bisa berkonsultasi dengan psikolog loh, salah satunya dengan Psikolog Satu Persen. Di Satu Persen, lo akan mendapatkan 1 jam konseling dengan psikolog, tes psikotes, asesmen pra-konseling, lembar kerja, dan tentu saja terapi.

Psikolog Satu Persen juga memiliki lisensi resmi, jadi lo gak perlu khawatir lagi buat mencoba layanannya. Selain itu, Satu Persen juga punya banyak testimoni yang bisa lo baca di website-nya. Kalau lo mau kepoin lebih lanjut tentang layanan konseling Satu Persen, lo bisa klik di sini, ya!

Jika lo masih ragu untuk mengikuti layanan konseling, lo juga bisa mencoba tes gratis dari kita lebih dulu. Dengan tes ini, lo bakal tau layanan konsultasi mana yang terbaik untuk masalah lo. Caranya gampang banget, lo cukup klik aja di sini.

Akhir kata, sekian dulu tulisan dari gue dan semoga informasinya bermanfaat, ya! Buat lo yang lagi mengalami atau sedang berada di fase stres atau depresi, semoga lo bisa berhenti ngerasain hal-hal kayak gini lagi. Gue tau ini pasti berat banget buat lo, tapi semoga aja lo bisa cepat pulih, ya :)

Jangan lupa juga buat follow Instagram @satupersenofficial dan Channel Youtube Satu Persen buat dapat informasi menarik tentang kesehatan mental dan pengembangan diri. Buat contohnya, lo bisa simak video tentang stres berat di bawah ini buat dapetin penjelasan lebih mendalamnya.

Referensi

Perbedaan Stres dan Depresi, Bagaimana Cara Menganginya? (n.d.). Retrieved October 2, 2021, from https://www.sehatq.com/artikel/sering-dianggap-sama-ini-perbedaan-stres-dan-depresi

Hadinoto, S. (1976). PSIKOSA DEPRESI REAKTIF(Psychotic Depressive Reaction). Berkala Ilmu Kedokteran, 8(1976).

Kenali Perbedaan Stres dan Depresi yang Kerap Dianggap Sama Halaman all - Kompas.com. (n.d.). Retrieved October 2, 2021, from https://health.kompas.com/read/2020/02/08/090000568/kenali-perbedaan-stres-dan-depresi-yang-kerap-dianggap-sama?page=all

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.