Mengenal Guilt Trip, Salah Satu Bentuk Manipulasi dalam Hubungan Toxic

Hubungan
Afifah Iftah Nurul Isnaini
8 Feb 2022
mengenal guilt trip
Satu Persen - Guilt Trip

Perseners, pernah terlibat hubungan sama seseorang yang seolah bikin kalian ngerasa bersalah? Lantaran, tindakan atau kata-katanya selalu mengungkit kesalahan kalian di masa lalu. Atau malah membuat kalian seolah-olah merasa tanggung jawab atas sesuatu yang gak kalian lakukan.

Misalnya dia lagi marah, tapi pas ditanya kenapa, jawabnya gak ada apa-apa. Bikin bingung sendiri jadinya. Saat kalian bikin salah, mungkin dia suka nyindir, “Gapapa, kan kamu emang orangnya (nyebut kesalahan)” atau malah ngungkit kebaikannya, “Aku udah banyak berkorban buat kamu. Masak aku terus yang sabar?”

Hmm, tahu gak sih kalo perilaku kaya gitu termasuk dalam kategori toxic relationship? Dalam psikologi, perilaku ini dikenal dengan guilt trip.

Kali ini aku, Fifi, part-time blog writer di Satu Persen, bakal jelasin ke kalian apa itu guilt trip, ciri-ciri, dan cara mengatasinya. So, baca artikelnya sampai selesai, ya.

guilt trip
Cr. Freepik.com

Apa itu Guilt Trip?

Guilt trip adalah bentuk perilaku manipulasi yang bertujuan membuat orang lain merasa bersalah atau bertanggung jawab untuk mengubah perilaku atau keputusan tertentu. Di sisi lain, sang pelaku juga seakan ingin mengontrol tindakan orang lain. Karena perasaan bersalah yang timbul bisa membuat pelaku mengontrol pikiran, perilaku, dan perasaan korbannya.

Guilt trip bukan cuma terjadi dalam hubungan romantis. Dalam hubungan yang melibatkan perasaan emosional, sepeti pertemanan, hubungan profesional, atau keluarga pun, perilaku guilt trip ini bisa muncul. Pelakunya bisa saja sengaja membuat korban merasa bersalah, atau bisa juga dilakukan tanpa sengaja karena terbiasa dengan tindakan-tindakan yang membuat orang lain merasa bersalah.

Sikap manipulatif dari pelaku ini cenderung membuat korban merasa bingung. Perasaan bersalah dari korban juga akan membuat mereka semakin terjebak dalam hubungan dengan pelaku. Biasanya ciri-ciri dari guilt trip sulit dibedakan. Apakah pelaku memang sedang memanipulasi atau korban benar-benar melakukan kesalahan?

Ciri-Ciri Perilaku Guilt Trip

ciri-ciri guilt trip
Cr. Freepik.com

Perilaku guilt trip yang umumnya dilakukan oleh pelaku adalah mengungkit kesalahan korban. Ada kemungkinan pelaku juga akan merasa sudah lebih banyak melakukan pengorbanan dibandingkan korban. Hal ini bertujuan untuk membuat korbannya merasa lebih buruk atau berutang budi dengan segala kebaikan dari pelaku.

Pelaku juga mungkin melakukan silent treatment ketika ada masalah. Misalnya, pelaku menunjukkan sikap dingin dan ekspresi seolah marah, tapi kemudian menyangkal jika dia marah. Hal ini dilakukan supaya korban merasa kebingungan dan berusaha memperbaiki diri.

Ketika korban ingin menyelesaikan masalah, pelaku cenderung tidak peduli. Mungkin pelaku akan menunjukkan gestur dan ekspresi yang seolah-olah enggan mendengarkan, seperti buang muka, mendengus, atau menyilangkan tangan. Dengan begitu, pelaku dapat menghindari konflik agar ia nggak perlu berdebat dengan korban untuk mencapai tujuannya. lakukan dengan tujuan menghindari konflik. Karena perasaan bersalah dan bingung dari korban, mereka bisa mencapai tujuannya tanpa harus berdebat.

Guilt trip memang bisa membuat korban berubah sesuai harapan pelaku, tapi perilaku ini juga memberikan dampak negatif bagi hubungan. Tanpa komunikasi dalam penyelesaian masalah, ini bisa menumpuk rasa marah pada diri korban.

Baca Juga: Apa Itu Toxic Relationship? Bagaimana Cara Mengatasinya?

Dampak Perilaku Guilt Trip

1. Menimbulkan Kebencian

dampak guilt trip
Cr. Freepik.com

Menyelesaikan atau menghindari masalah dengan melakukan guilt trip bisa menimbulkan kebencian terhadap pelaku. Korban bisa saja melakukan introspeksi terhadap dirinya, tapi tanpa adanya penjelasan dan perundungan terus menerus, ini tentu membuat korban merasa marah.

2. Jadi Bumerang

Guilt trip yang dilakukan sesekali mungkin bisa diterima atau dimaklumi oleh pasangan. Tapi, kalau perilaku ini berulang kali dilakukan, maka besar kemungkinan membuat pasangan marah. Terdapat beragam pelampiasan rasa marah, Kemarahan yang diluapkan bisa beraneka ragam, salah satunya adalah dengan memberontak. Kondisi ini justru malah jadi bumerang untuk pelaku. Pasangan bukannya berubah sesuai dengan harapan, melainkan sebaliknya.

Contoh, si pelaku guilt trip tidak suka kalau pasangannya tidak menjawab pesan. Tapi, karena terlalu sering disalahkan dan dipojokkan, justru pasangannya ini semakin memberontak. Bisa saja dia baru membalas pesan besok atau bahkan lusa. Tindakan ini dilakukan untuk membalas perilaku dari pelaku.

3. Gangguan Kesehatan Mental

Perasaan bersalah yang berlebihan bisa menyebabkan beberapa gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, obsesif kompulsif, bahkan mengarah pada depresi. Perasaan bersalah ditambah dengan rasa penasaran bisa menimbulkan gejala-gejala yang berhubungan dengan fisik secara langsung. Mulai dari ketegangan otot, insomnia, mual, hingga jantung berdebar-debar.

4. Menarik Diri Dari Lingkungan Sosial

Seiring dengan intensitas perilaku guilt trip yang meningkat, korban mungkin akan lebih sering merasa malu dan rendah diri. Mereka mungkin berspekulasi akan melakukan banyak kesalahan lain ke depannya. Hal ini tentu memengaruhi tingkat kepercayaan diri sehingga membuat mereka merasa was-was dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Lingkungan yang positif bisa menjadi solusi penting untuk korban. Melindungi diri sendiri dari perilaku manipulatif juga perlu jadi prioritas sebelum menjalin relasi. Tapi, kalau saat ini ada yang merasa menjadi korban guilt trip, sebaiknya segera mencari solusi untuk menyikapi hal tersebut. Jangan sampai hubungan yang dijalani justru berdampak buruk bagi diri sendiri.

Baca Juga: Kunci Membangun Hubungan Agar Terhindar Toxic Relationship

Cara Mengatasi Perilaku Guilt Trip

cara mengatasi guilt trip
Cr. memegenerator

Cara mengatasi guilt trip pertama yang perlu dilakukan adalah memvalidasi perasaan pelaku. Guilt trip bisa saja terjadi karena pelaku merasa terabaikan. Dengan memvalidasi perasaannya, korban bisa membuat mereka merasa diperhatikan dan diberi ruang untuk berekspresi.

Kalau cara tersebut belum berhasil, maka sebaiknya bersikap terus terang. Perilaku pelaku mungkin bisa membuat korban bingung dan sedih. Sebaliknya, korban juga bisa merasa marah atau jengkel dengan perilaku tersebut.

Melalui komunikasi dua arah, korban bisa membuat diri sendiri dan pasangan saling mengerti satu sama lain. Ditambah korban juga harus siap untuk mengingatkan jika pasangan mulai melakukan guilt trip lagi. Karena, mungkin akan susah untuk mengubah kebiasaan mereka.

Ingin Konsultasi Dengan Ahli-nya?

Karena guilt trip berpotensi  menimbulkan gangguan kesehatan mental, maka konsultasi dengan psikolog atau mentor diperlukan. Terlebih, jika perasaan bersalah sampai menimbulkan stres, depresi, atau gangguan pada kegiatan sehari-hari. Nah, aku saranin buat coba layanan konseling dari Satu Persen ini. Kamu juga bisa coba layanan terbaru di Satu Persen yaitu konseling pasangan kalo kamu ngerasa butuh ini.

CTA-Blog-Post-06-1-16

Kalo kamu masih bingung dengan kondisi mentalmu saat ini, apakah stres yang kamu rasakan ada di tahap ringan atau parah, kamu bisa coba Tes Keparahan Stres ini secara gratis.

Buat kamu yang merasa saat ini menjalani Toxic Relationship dan bingung bagaimana menyikapinya, coba tonton video Youtube Satu Persen ini biar kamu bisa dapet insight buat masalahmu.

Oke, cukup sekian dulu untuk artikel kali ini. Terima kasih banyak kalian udah baca sampai selesai, ya. Sampai ketemu di artikel berikutnya.

Referensi:

Cherry, K. 2021. What Is a Guilt Trip? Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-a-guilt-trip-5192249#:~:text=A%20guilt%20trip%20involves%20causing,or%20take%20a%20specific%20action.

Raypole, C. 2020. Think Guilt-Tripping Isn’t a Big Deal? Think Again. Healthline. https://www.healthline.com/health/relationships/guilt-trip

Winch, G. 2013. 7 Ways To Get Out of Guilt Trip. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-squeaky-wheel/201305/7-ways-get-out-guilt-trips

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.