Kenapa saat ini Indonesia gak butuh Psikolog dan Psikiater?

Artikel Terbaik
Diaz Ajeng Pradila
16 Okt 2020

Hallo Perseners! Ya, seperti biasa gue muncul buat nemenin lo di akhir minggu, setelah melalui hari-hari kemarin yang cukup melelahkan mungkin. Buat lo yang masih di rumah aja. Apa kabar? Semoga selalu sehat ya! Gimana perjalanan lo di tahun 2020 ini? Gak kerasa ya 2020 tinggal 11 minggu lagi, itu artinya kurang dari tiga bulan lagi udah mau ganti tahun.

Pertanyaannya resolusi apa yang udah lo capai di tahun 2020 ini? Udah tercapai semua belum? Apa banyaknya kejadian di 2020 bikin rencana-rencana lo terhambat? Mungkin tahun 2020 ini menjadi struggle buat banyak orang.

Terlalu banyak kejadian yang terjadi di tahun 2020 ini, kejadian yang terjadi mungkin berdampak untuk kondisi fisik dan mental semua orang; Banyak orang yang struggling untuk mempertahankan kondisi ekonominya; Seluruh dokter di dunia pun lagi berjuang untuk menghadapi pandemi ini, mungkin gak dikit juga yang terganggu kesehatan mentalnya. Tapi, semoga sesulit apapun kondisi sekarang, gue minta lo untuk tetap jaga kesehatan lo fisik dan juga kesehatan mental!

Beberapa waktu lalu media sosial gue penuh sama postingan orang-orang tentang mental health. Yap, banyak orang yang merayakan World Mental Health Day tanggal 10 Oktober kemarin. Special thanks dari gue buat siapapun itu yang udah membantu mengedukasi dan meningkatkan kesadaran netizen tentang mental health.

Walaupun belum berdampak signifikan, gue yakin di luar sana ada orang yang ‘tercerahkan’ setelah baca postingan lo kemarin tentang pentingnya mental health. Apakah setelah ramainya postingan tentang kesehatan mental ini, bisa jadi langkah perubahan untuk kesehatan mental di Indonesia? Oh tentu saja tidak.

Kenapa gue bisa bilang gitu? Ya emang belum bisa merubah keadaan juga kan. Oke dengan upload postingan yang mengedukasi emang bisa meningkatkan kesadaran masyarakat, which is itu adalah masalah yang ada di Indonesia juga. Iya sangat membantu tapi gak cukup kalau cuma sekedar edukasi doang. Apa semua masyarakat udah merata teredukasi? Gimana masyarakat yang di daerah?

Pertanyaannya setelah masyarakat teredukasi dan sadar akan kesehatan mental, terus mau diapain? Berharap semua orang cemas ke psikolog gitu? Atau semua orang yang gak bisa tidur langsung minta obat ke psikiater? Inget, psikolog dan psikiater di Indonesia terbatas loh. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang hampir 260 juta jiwa, Indonesia baru punya sekitar 2500 psikolog klinis dan 600-800 psikiater. Nah, artinya 1 psikiater harus melayani 300.000-400.000 pasien. Padahal WHO menetapkan standar jumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1:30 ribu orang.

Kondisi kesehatan mental di Indonesia itu jauh banget dari kata ideal. Kaya yang udah gue dan kak Andin bahasa di artikel sebelumnya; Dari fasilitas pemerintah yang masih banyak kurangnya; Balik lagi psikolog dan psikiater yang masih sedikit dan gak rata juga persebarannya. 70% psikiater ada di Pulau Jawa dan 40% di antaranya terpusat di Jakarta.

Nih coba lo bayangin, negara Amerika Serikat aja masih gak ideal loh dalam mengatasi masalah mental. Padahal Amerika punya organisasi acuan psikologi bagi hampir semua mahasiswa Psikologi di dunia, termasuk Indonesia, APA (American Psychological Association). Selain itu juga, Amerika Serikat sendiri adalah negara yang melahirkan banyak tokoh psikologi kaya Abraham Maslow, Skinner, Carl Rogers dan tokoh-tokoh lainnya.

Dan baru tahun 2019 lalu, 9 dari 51  negara bagian di Amerika Serikat mewajibkan pendidikan tentang kesehatan mental. Tapi, walaupun udah diwajibkan pendidikan kesehatan mental, masalah kesehatan mental yang ada masih belum bisa teratasi juga.

Di Amerika sendiri, angka orang dewasa yang mengalami depresi dan tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan itu mencapai angka 57,2%. Dan angka ini tidak menurun sejak 2011. Padahal, di Amerika sendiri udah banyak tenaga kesehatan mental profesional yang unggul, tapi masalah kesehatan mental belum juga bisa diatasi.

Hal ini menunjukan bahwa jumlah tenaga kesehatan yang banyak aja gak cukup untuk mengatasi masalah yang ada di Amerika. Karena realitanya sendiri, salah satu penyebab masalah kesehatan mental belum teratasi adalah terbatasnya asuransi dari pemerintah  Amerika Serikat sendiri untuk biaya perawatan.

Amerika Serikat yang termasuk negara kaya dan maju aja belum mampu untuk mengatasi masalah kesehatan mental. Apa kabar Indonesia yang notabene adalah negara berkembang?

Psikolog dan psikiater? Masih sedikit. Asuransi BPJS? masih belum maksimal. Dukungan pemerintah? Masih kurang banget. Apa yakin kalau terus kayak gini masalah kesehatan mental di Indonesia akan teratasi? Mau nyetak psikolog dan psikiater banyak? Ya Amerika Serikat aja, banyak psikiater dan psikolog unggul belum bisa tuh mengatasi masalah kesehatan mental di negaranya. Jumlah psikiater sebanyak apapun kalau gak didukung sama aspek penting lainnya ya sama. Jadi menurut gue Indonesia juga gak bisa kalau cuma ngandelin psikolog dan psikiater doang.

Kenapa saat Indonesia gak bisa ngandelin psikolog dan psikiater?

Awareness masyarakat masih minim tentang kesehatan mental.

Untuk para netizen sih oke kesadaran udah meningkat karena banyaknya konten-konten di media sosial yang mengedukasi pentingnya kesehatan mental. Coba kalau warga biasa yang gak dapet akses internet? Mereka dapet edukasi tentang mental health dari mana? Di sekolah aja gak dapet. Terus, masyarakat yang tinggal di pelosok apa kabar? Apa udah punya kesadaran tentang kesehatan mental? Belum kan? Gimana bisa mengandalkan psikolog/psikiater kalau kesadaran masyarakat aja masih belum merata.

Gak efektif untuk negara berkembang

Untuk negara berkembang, mungkin penyediaan akses serta fasilitas kesehatan mental yang memadai bukan jadi prioritas utama. Masih banyak masalah yang harus dibereskan.

Berharap Indonesia mewajibkan pendidikan kesehatan mental? Ya jangan jauh-jauh ke pendidikan kesehatan mental, pendidikan formal aja masih belum ideal. Sosial ekonomi status masyarakatnya masih menengah ke bawah. Kondisi ekonomi negara juga yang masih banyak PRnya.

Masih banyak gitu masalah yang dipikirkan, selain mikirin masalah kesehatan mental di daerah-daerah atau di pelosok-pelosok. Gak ada tuh program pemerintah yang mewajibkan psikolog dan psikiater untuk praktek di daerah-daerah. Hal ini yang buat tenaga kesehatan Indonesia juga cuma terkonsentrasi di beberapa kota besar aja. Dengan kondisi Indonesia kaya gini masih yakin cuma ngandelin psikolog atau psikiater?

Harga psikolog/psikiater mahal

Buat lo yang pernah konsultasi ke psikolog atau bahkan ke psikiater, mungkin udah tau dengan harganya yang mahal. Dari beberapa sumber yang udah gue rangkum untuk 1 jam konsultasi dengan psikolog itu harga paling rendah adalah Rp150.000,- Bayangin harus berapa banyak uang yang lo keluarin kalau lo konsultasi ke psikolog? Lo cerita sama temen aja gak cukup 1 jam kan? Bahkan, untuk psikolog yang udah senior yang pasti berkualitas bisa sampe 2 juta untuk 1 jamnya. Belum lagi harus beberapa kali bolak-balik biar masalahnya bener-bener teratasi.

Mungkin harga segitu wajar ya untuk jasa yang diberikan psikolog atau psikiater. Harga tadi mungkin bisa jadi patokan untuk mempertahankan kualitas dari psikolog atau psikiaternya juga. Tapi gak semua masyarakat bisa mewajarkan hal itu. Apalagi untuk masyarakat yang emang ada di kondisi ekonomi menengah ke bawah, pasti akan mikir ribuan kali untuk ngeluarin uang sebesar itu. Karena mungkin prioritasnya untuk makan. Dan asuransi yang dikasih pemerintah gak bisa diharapkan juga, karena menurut gue pelayanannya belum maksimal.

Kurangnya support pemerintah

Gue sempet baca beberapa artikel lain yang bilang masih banyak pasien dengan masalah kesehatan mental, mengeluh tentang pelayanan yang diberikan asuransi pemerintah, BPJS. Gak semua rumah sakit bisa menerima pasien BPJS dengan masalah kesehatan mental. Apakah cukup kalau kita cuma mengandalkan support dari negara? Jawabannya gak.

Selain itu banyak fasilitas negara yang lain juga belum mumpuni buat mengatasi masalah mengenai kesehatan mental yang terjadi di saat ini; Suicidal hotline gak aktif, RUU praktisi psikologi belum mencakup semua bidang psikologi, ditambah lagi, sosialisasi dari pemerintahan juga masih kurang.

Dari beberapa yang udah gue sampaikan tadi menurut gue kesehatan mental itu juga masih belum jadi concern pemerintah.

‘Yaudah kalau gitu kita cari pemimpin negara yang memperhatikan kondisi kesehatan mental aja’.

Mau sampe kapan percaya janji-janji calon pemimpin negara? Ups. Ya, mungkin bisa sih suatu saat nanti kita punya pemimpin negara yang  mementingkan kondisi kesehatan mental. Tapi, tetep aja itu gak cocok untuk solusi jangka pendek yang di butuhin sekarang.

Menurut gue, gak bisa kalau kita cuma ngandelin pemerintah untuk obral kursi psikolog dan psikiater. Terbukti kan di Amerika Serikat aja, ternyata jumlah psikolog dan psikiater yang banyak itu bukan berarti bisa mengatasi masalah kan? Dan cara itu bukan kuasa kita juga. Terlalu sulit lah untuk direalisasikan.

Nah, melalui tulisan ini gue gak bermaksud buat menghapus semua psikolog dan psikiater di Indonesia, sama sekali bukan itu maksudnya. Nyatanya pun, kita tetep butuh psikolog dan psikiater di Indonesia. Karena memang mereka punya peran penting dalam keberlangsungan orang dengan masalah kesehatan mental. Cuma, balik lagi untuk negara berkembang kaya Indonesia, gak bisa 100% ngandelin psikolog dan psikiater. Kasian psikolog dan psikiaternya udah cukup banyak beban mereka. Jumlahnya aja masih dikit banget kalau dibandingin sama jumlah penduduk Indonesia. Satu orang dengan masalah kesehatan mental aja butuh berkali-kali treatmennya. Belum lagi harus mengedukasi masyarakat juga. Apakah akan efektif kalau cuma ngandelin psikolog dan psikiater doang?

Jadi, gimana dong cara efektif yang bisa dilakukan di Indonesia dengan mempertimbangkan poin-poin yang gue bahas tadi?

Caranya adalah dengan memberdayakan SDM yang ada. Kaya artikel gue minggu lalu yang bahas tentang profesi apa aja yang bisa diberdayakan untuk bantu masalah kesehatan mental di Indonesia.

Ada beberapa negara lain yang melakukan cara efektif dalam mengatasi masalah kesehatan mental. Caranya dengan task shifting. Kohrt and Mendenhall mengatakan kalau pengalihan tugas atau task shifting adalah solusi inovatif untuk kelangkaan psikiater dan psikolog terlatih di negara-negara berpenghasilan rendah. Menurut NGO kesehatan mental di Afrika, Amref Health Africa, pengalihan tugas ini bisa menjadi jawaban praktis untuk mengatasi kekurangan pekerja kesehatan di sebagian besar negara Afrika.

Task shifting ini memberikan perawatan yang hemat biaya daripada perawatan yang berpusat pada dokter. Meskipun lebih hemat task shifting ini tetap memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi.

Ada fakta yang menarik dari negara Afrika. Faktanya adalah health workers yang ada di Afrika berhasil merawat orang yang mengalami depresi. Para health workers ini pastinya bukan bukan psikolog dan psikiater tapi bisa memberi banyak harapan dan dorongan untuk mereka yang mengalami masalah kesehatan mental. Cara yang mereka lakukan adalah dengan task shifting.

Contoh lainnya negara Inggris. Selain jadi tempat cukur salah satu barbershop di Inggris jadi tempat konsultasi pelanggannya yang punya mental health problems. Sampai akhirnya seorang barber Tom Chapman mendirikan The Lions Barber Collective.

Misinya adalah untuk menciptakan ruang aman non-klinis agar orang khususnya pria nyaman untuk menceritakan masalah yang sedang dialaminya. Karena menurut Tom melakukan perubahan menjadi penting untuk sekarang.

Dan sekarang The Lions Barber Collective ini mencari lebih banyak hair professional untuk mengikuti pelatihan. Gak cuma itu pelatihan ini juga mendapat bantuan dana dari National Health Service. Dengan tujuan agar hair professional yang ada di Inggris bisa membantu dan mendukung pelanggannya menghadapi masalah kesehatan mental. Dan pada akhirnya mencegah kemungkinan bunuh diri juga.

Emang terbukti banyak pelanggannya yang merasa dirinya menjadi lebih baik setelah pergi ke barbershop ini. Nah, seorang barber yang gak punya latar belakang psikologi pun bisa kan dilatih untuk bisa membantu masalah kesehatan mental.

Amerika juga sudah melakukan task shifting. Ya, meskipun masih belum 100% berhasil dalam mengatasi kesehatan mental, di Amerika udah mulai memberdayakan caregivers di panti asuhan untuk memiliki skill konseling. Paling gak ini membantu untuk mengatasi kesehatan mental yang ada di panti gitu. Gak melulu harus langsung mengandalkan psikolog atau psikiater.

Nah, kaya Satu Persen juga udah mulai melakukan task shifting. Satu Persen memberdayakan mahasiswa S1 Psikologi untuk jadi Mentor di Layanan konsultasi bersama mentor Satu Persen. Mentor Satu Persen udah membantu lebih dari 10.000 orang di Indonesia bahkan dari negara lain juga ada. Dan mereka cukup terbantu.

Nih, coba gue ajak lo untuk merenung. Pernah gak sih lo lagi ngerasa overwhelming banget? Akhirnya lo stres sendiri bingung mau ngapain karena udah mumet banget. Terus lo ketemu teman lo atau telepon teman lo. Setelah lo ngobrol sama teman lo pernah kan jadi ngerasa lebih baik?

Itu artinya apa? Ya tanpa sadar sebenernya teman lo bisa nih bantu lo untuk healing dari stres tadi. Lo gak perlu kan langsung datang ke psikiater atau psikolog? Ya memang gak semua teman lo itu bisa diajak cerita. Mungkin lo punya teman yang gak enak diajak ngobrol. Tapi ada kan teman yang emang enak diajak cerita.

Nah, task-shifting ini sebenernya mirip kaya gagasan pak Vikram yang memberdayakan masyarakat awam untuk membantu kesehatan mental di negara berkembang, udah pernah gue ceitain juga di beberapa artikel sebelumnya. Gue yakin kalau Indonesia punya program task shifting ini masalah kesehatan mental bisa lebih cepat teratasi. Selain karena program ini lebih murah kalau dibandingin psikolog dan psikiater, Indonesia juga punya SDM yang cukup banyak untuk dilakukan task shifting. Kaya guru BK, caregivers di panti, social workers juga bisa, atau ya semua orang dengan latar belakang apapun bisa. Asal mereka punya minat dan tertarik untuk bantu orang lain. Mungkin yang menjadi tantangan dari program ini adalah pelatihan yang memadai dan berkelanjutan untuk para health workers atau SDM lainnya.

Nah, Satu Persen punya nih program task shifting ini dengan program Basic Mental Health Training (BMHT). Program ini ditujukan buat orang-orang awam yang gak punya sadar ilmu psikologi sekalipun, bisa memahami, membantu, serta menangani masalah-masalah kesehatan yang ringan. Materi di training serta workshop ini akan diberikan oleh psikolog Satu Persen, oleh karenanya Satu Persen sebenarnya percaya bahwa peran psikolog termasuk krusial dalam proses dijalankannya program ini.

Selain memberikan materi training dan workshop, psikolog Satu Persen serta tim di balik layar BMHT juga membantu mempertahankan kualitas dari program pelatihan ini. Agar pada akhirnya, program ini dapat menghasilkan agen perubahan yang berkualitas juga untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental yang ada. Satu Persen ngajak lo, Perseners untuk ikut menjadi agen perubahan biar kita semua bisa berkontrobusi meningkatkan kualitas kesehatan mental yang ada di Indonesia ini.

Kalau bukan kita siapa lagi?

Cukup itu aja yang bisa gue share buat lo. Akhir kata gue cuma mau ingetin Indonesia itu sangat membutuhkan lo, gue, kita untuk menjadi agen perubahan agar Indonesia lebih sehat secara mental! See you <3

Reference

Kottai, S. R. (2020). Task-shifting in community mental health in Kerala: Tensions and ruptures. Journal Medical Anthropology, 39(6), p. 538-552. https://doi.org/10.1080/01459740.2020.1722122

Leach, A. (2014, 12 May). Task shifting explained: A viable solution to health worker shortage?. The Guardian. Retrieved from: https://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/2014/may/12/task-shifting-health-development-shortage

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.