Patah Hati Akibat Putus Cinta? Ini Solusinya

Hubungan
Rebecca Meliani Sembiring
18 Agt 2020
solusi patah hati akibat putus cinta

Jatuh cinta, berjuta rasanya. Rasanya, hanya dengan kehadiran si dia, kamu mampu bahagia. Bersama dengannya, harimu terasa indah. Ketika bergandengan tangan bersama, rasanya dunia hanya milik berdua. Tidak pernah terlintas kata perpisahan di pikiranmu. Kamu ingin menjaga kebahagiaan ini selamanya— kebahagiaan yang tidak berujung dan selalu menetap.

Namun, kamu dan dia mulai berubah perlahan-lahan. Kamu bahkan tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi—sebenarnya apa yang salah? Satu hal yang kamu tahu, kebahagiaan yang kamu miliki sebelumnya tak lagi sama. “Setidaknya ini belum benar-benar berakhir,” pikirmu sembari berusaha keras memperbaiki hubungan yang ada.

Pada akhirnya, kamu sadar bahwa tidak ada yang dapat kamu lakukan. Kamu benar-benar hancur. Kamu seakan tidak lagi punya semangat untuk menjalani hari-hari. Apapun yang kamu lakukan, bahkan makan dan tidur, kamu selalu teringat dirinya. Sebenarnya, apa sih yang sedang kamu lalui? Ya, kamu sedang putus cinta.

Sebenarnya apa saja yang bisa dirasakan ketika sedang putus cinta?

Kalau kamu sedang galau karena putus cinta, kamu membaca artikel yang tepat. Sebelum kamu merasa sakit hati sendirian, berikut ada beberapa gejala yang menurut penelitian ahli psikologi banyak dirasakan  orang-orang di seluruh belahan bumi ketika sedang putus cinta.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa rasa kehilangan yang dirasakan dapat bermacam-macam, bergantung kepada pandangan orang tersebut terkait hubungannya. Buat orang-orang yang percaya bahwa jodoh adalah bagian dari takdir misalnya, kemungkinan tidak merasakan rasa kehilangan seintens orang-orang yang percaya sebaliknya. Hal-hal yang disebabkan oleh rasa kehilangan ini juga bisa beragam. Kira-kira, hal yang kamu rasakan itu yang mana, ya?

1. Sulit Tidur

Kesulitan tidur adalah hal yang paling umum dirasakan ketika putus cinta. Penelitian juga membuktikan bahwa jumlah orang yang mengalami kesulitan tidur akibat rasa kehilangan yang mendalam lebih banyak dibandingkan yang tidak. Kesulitan tidur ini umumnya disebabkan oleh terusnya bermunculan pikiran tentang dia yang telah pergi atau mimpi-mimpi tentangnya. Apakah kamu juga demikian?

2. Pikiran Negatif Bermunculan

Ketika putus cinta, kamu mulai banyak berpikir tentang penyebab kandasnya hubunganmu. Dalam proses ini, kamu kerap kali justru menjadi overthink dan melihat segala sesuatu secara negatif. Pikiran-pikiran negatif yang mendominasi bisa membuahkan bayangan-bayangan negatif di kepalamu. Misalnya, kamu berpikir kamu tidak cukup baik untungnya. Kamu jadi mulai membayangkan hal-hal buruk tentang dirimu, misalnya kamu menganggap kamu tidak cantik, tidak perhatian, dan lain-lain. Pikiran-pikiran dan bayangan negatif membuat jantungmu berdetak lebih cepat dan kamu pun jadi sulit tidur. Bahkan, upayamu menekan segala bayangan dan pikiran negatif yang ada di kepalamu justru membuatmu mimpi buruk. Wah, rasanya tentu sangat sulit ya?

3. Sindrom “Patah Hati”

Sering merasa nyeri di dada ketika kehilangan sosok yang kamu sayang? Ya, inilah yang disebut sindrom “patah hati”. Meskipun rasa sakit yang kamu rasakan mirip dengan serangan jantung yang sebenarnya, rasa sakit akibat sindrom ini dapat membaik lebih cepat. Kondisi ini juga disebut stress cardiomyopathy atau “takotsubo cardiomyopathy”, sebuah fenomena adanya abonormalitas aktivitas jantung meskipun tidak ditemukan adanya penyumbatan arteri, tidak seperti serangan jantung biasanya. Jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama, hal ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan gangguan lainnya. Jadi, jika kamu merasakan demikian, menangkan diri adalah hal yang penting untuk dilakukan.

Mengapa putus cinta rasanya sangat menyakitkan?

Riset psikologi banyak dilakukan untuk menemukan bentuk atau alasan yang menggambarkan sebenarnya apa yang terjadi ketika kita sedang putus cinta. Kita menganggap hubungan sebagai elemen pengatur kebutuhan bersosial kita. Seperti yang kita tahu, manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Ketika interaksi dan sosialisasi sudah menjadi semakin karib dan dekat, kita menjalin hubungan yang mengikat dengan orang lain, entah dalam level teman, sahabat, atau bahkan pacar. Hubungan yang mengikat ini juga mempengaruhi pola kehidupan kita sehari-hari: keseharian yang kita lakukan,  mood kita, pola makan kita, jadwal tidur kita, pokoknya banyak hal deh! Nggak percaya?

Misalnya saja kamu punya rutinitas bersama pacar yaitu makan bersama setiap jam istirahat atau weekend, kamu jadi melekatkan aktivitas makan dengan kebersamaan bersama pacar. Alhasil, ketika kamu berpisah dengannya, kamu jadi bingung ketika harus makan sendirian karena momen-momen kebersamaan sudah tidak dapat dirasakan lagi. Nah, kebingungan-kebingungan yang kamu rasakan akibat kehilangan kontrol akan pola yang kamu lakukan sehari-hari ini sangat berpengaruh terhadap tingkat perhatian dan konsentrasimu dalam aktivitas lain sehari-hari. Momen-momen kebingungan ini lah yang biasanya kamu sebut sebagai “galau”.

Tak hanya itu, hubungan seperti pacaran juga membantu menjaga kestabilan psikologi kita. Kamu merasa aman dan nyaman bersama dengan si dia dan kamu juga merasa dapat memberikan pengaruh serupa untuknya. Rasa aman dan nyaman ini dapat tercipta dari segala indra yang kalian miliki, mulai dari peraba, penciuman, dan pengelihatan. Bahkan menurut penelitian yang dilakukan Sbarra dan Hazan, segala sinyal yang tertangkap oleh indra tersebut dapat mengatur dan mensinkronisasi ritme tubuh. Alhasil, ketika sistem pengaturan ini hilang, kestabilan fisik dan psikologi kita pun goyang. Inilah yang menyebabkan kita merasa galau, lelah, mudah kesal, susah tidur, dan tidak nafsu makan. Wah, ternyata terbiasa bersama membuat perpisahan terasa semakin sulit ya?

Cara mengatasi sakit hati akibat putus cinta

Rasa sakit hati yang berlarut-larut dapat membawa pengaruh yang tidak sehat untuk dirimu, secara fisik maupun psikologi. Oleh karena itu, setelah kamu mempelajari gejala dan sebabnya, penting banget nih untuk tahu cara-cara apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Menurut ahli, Allison Abrams, LCSW-R, berikut cara-cara yang bisa kamu lakukan:

1. Terima rasa sakit yang kau rasakan

Putus cinta tentu akan membawa kesedihan yang mendalam. Meskipun kamu sangat ingin lepas dari perasaan ini, penting untuk menerima rasa sakitmu, tidak mengurangi atau menghilangkannya secara paksa. Seringkali kita terjebak untuk mengikuti pandangan kelewat positif orang-orang di sekitar kita yang meminta kita untuk tetap “kuat” dan “baik-baik saja”, bahkan menganggap rasa sedih yang kita rasakan terlalu “berlebihan”. Padahal, rasa sakit itu hanya dirasakan dan dimengerti kamu seorang.

Jadi, dibandingkan menuruti omongan orang di sekitar— mencoba menekan rasa sakit kita dengan alkohol, makanan, dan pekerjaan yang menumpuk— kamu dapat menerima dirimu untuk merasa sedih. Tindakanmu menekan perasaan itu hanyalah memperlambat upaya penyembuhanmu. Menangislah jika kamu ingin menangis dan jangan lupa mintalah penguatan dari teman, keluarga, atau bahkan tenaga professional jika kamu membutuhkannya.

2. Lepaskan harapan yang salah dan gambaran palsu

Saat kamu kembali mengenang waktu-waktu bersamanya, seringkali kamu membiarkan harapan untuk kembali bersama menghantui pikiranmu. Kamu bahkan mulai merasa ia akan berubah dan kembali bersamamu lagi, kemudian menjadikan segala tindakannya bagian dari pembenaran dugaanmu itu. Misalnya, ketika ia membagikan lagu yang didengarkannya di tengah malam, kamu pikir lagu itu untuk megenangmu. Sayangnya, harapan ini mungkin akan terasa menyenangkan sementara, tetapi akan menimbulkan damage yang besar di kemudian hari. Hanya ketika kamu dapat lepas dari delusimu, kamu bisa benar-benar mengalami proses penyembuhan dari patah hatimu.

Kamu juga sangat mungkin meromantisasi dan mengingat segala hal baik yang kamu miliki dengannya sebelumnya, hanya mengingat segala hal baik tanpa hal buruk yang pernah kamu alami. Akibatnya, kamu jadi semakin sulit melupakannya. Dalam kasus ini, penting untuk melakukan reality check, memastikan apa yang kamu ingat benar-benar kebenarannya.

3. Hindari self-blame, self-doubts, dan self-criticism

Ketika kamu putus cinta, kamu kerap kali melekatkan alasan putusmu dengan dirimu sendiri. “Apakah aku salah?” “Apakah aku kurang perhatian?” “Apakah aku salah bicara?” Kamu selalu merasa kamu tidak cukup baik untuk mejaga hubunganmu dengannya. Hal ini dapat mempengaruhi hubunganmu selanjutnya— kamu akan seringkali mempertanyakan apakah kamu layak mendapatkan cinta orang lain. Oleh karena itu, kamu harus perlahan-lahan mencoba menerima keadaan yang ada bukan karena kesalahanmu atau kesalahannya, tetapi karena memang hubunganmu tidak dapat bertahan demikian.

No feeling lasts forever. Bagaimana pun kamu merasa sedih dan menderita karena putus cinta, kamu harus meyakini bahwa kebahagiaan sebentar lagi akan datang menghampiri. Rasa sakit akan berkurang seiring berjalannya waktu. Ingatlah, bahwa hubungan yang gagal akan membawamu lebih dekat ke hubungan yang lebih baik.

Tapi, kalau kamu masih merasa kesulitan dan akhirnya jadi menganggu kehidupan kamu, baiknya kamu segera cari bantuan ke profesional.

Nah, sekarang Satu Persen juga menyediakan layanan Konseling 1-on-1 dengan Psikolog. Di konseling ini kamu bakal dapet tes psikologi supaya kamu bisa tau gambaran kondisi kamu saat ini. Berikutnya, kamu juga akan dapat asesmen mendalam dan sampe akhirnya kamu dapet worksheet dan terapi yang bakal disesuaiin sama hasil tes dan asesmen supaya bisa ngebantu kamu secara tepat.

Konseling-Mentoring-Psikolog-Satu-Persen-11

Jangan lupa untuk membaca tulisan Satu Persen lainnya untuk belajar lebih lanjut soal self-healing. Semoga tulisan ini membantumu untuk menghadapi putus cinta dengan baik dan menjadi Satu Persen lebih baik setiap harinya!

Referensi

Abrams, A. (2019, May 07). 5 Essential Steps to Recovery from Heartbreak. Retrieved August 15, 2020, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/nurturing-self-compassion/201905/5-essential-steps-recovery-heartbreak

Field, T. (2011). Romantic Breakups, Heartbreak and Bereavement—Romantic Breakups. Psychology, 02(04), 382-387. doi:10.4236/psych.2011.24060

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.