Mengenal Phobia Lebih Jauh

Pemahaman Diri
Muhammad Rafsan Aryakusumah
20 Mei 2021
Mengenal Lebih Lanjut Soal Phobia
Satu Persen - Mengenal Lebih Lanjut Soal Phobia

Hai, Perseners! Kenalin gua Rafsan, writer baru di Satu Persen!

Di sini, gua mau ngajak kalian untuk ngobrolin soal rasa takut.

Kita mungkin udah kenal nih kalo rasa takut merupakan salah satu mekanisme pertahanan, sebuah insting makhluk hidup untuk bertahan dari ancaman. Contohnya, misal kita lari pas ngeliat hewan buas. Bisa juga sampai ke hal kecil, kayak ngubah jadwal kita dengan alasan ramalan cuaca.

Semua itu kita lakukan karena kita kita merasa nggak aman. Makanya kita sebisa mungkin mencoba buat ngehindarin masalah-masalah tersebut, sekecil apapun itu.

Nah, karena kita menggunakan rasa takut sebagai tolok ukur untuk keamanan diri kita sendiri, kayaknya kita semua bisa sepakat deh kalo rasa takut itu merupakan hal yang logis.

Tapi, tau nggak, ada juga lho rasa takut yang dikategorikan sebagai irrational fear a.k.a rasa takut yang nggak logis. Kalian mungkin mengenalnya dengan istilah lain: phobia.

meme Squidward punya claustrophobia
Photo by Reddit

Squidward misalnya yang punya claustrophobia. Orang dengan claustrophobia akan merasa cemas dan takut ketika berada di ruangan yang sempit, meski sebenarnya ruangan sempit itu nggak mengancam nyawanya sama sekali – jadi bukan karena Santa Claus, ya gais :(

Itu jadi alasan kenapa phobia ini disebut sebagai irrational fear, karena kadang objek atau situasi yang ditakuti itu sebenarnya bukan ancaman sama sekali. Jadi memang gak rasional. Mungkin sekarang kalian jadi nanya, kok bisa sih situasi yang keliatannya nggak berbahaya kaya gitu malah bikin seseorang takut?

Yah, sebenarnya para ahli juga sepakat kalau rasa takut memang sesuatu yang sangat kompleks, jadi cukup susah untuk bisa secara akurat mengidentifikasi alasannya.

Tapi tenang dulu! Itu bukan berarti kita nggak bisa tahu dan ngerti soal phobia. Lo bisa baca lebih lanjut tulisan gua ini kalo kalian mau lebih tau tentang si phobia ini, mulai dari definisi, jenis, penyebab, sampai penanganannya. Langsung aja!

Apa itu phobia?

Menurut American Psychiatric Association, dalam publikasinya yang berjudul Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (2013), phobia – atau fobia dalam Bahasa Indonesia – merupakan jenis gangguan kecemasan yang ditunjukkan dengan rasa takut berlebih terhadap suatu objek atau situasi.

Seseorang dengan phobia terhadap suatu objek, akan memiliki kecenderungan untuk menghindari objek tersebut sebisa mungkin. Dan jika ia dihadapkan dengan phobic object-nya, ia akan mengalami gangguan kecemasan atau ketakutan berlebih, meski dalam beberapa kasus objek yang dimaksud sebenarnya tidak memiliki potensi yang berbahaya – seperti yang gua tulis sebelumnya, rasa takutnya irasional.

Baca juga: Apakah Semua Orang Pasti Punya Phobia?

Apa bedanya phobia dengan rasa takut biasa?

Meski keduanya sama-sama tentang rasa takut, phobia dan ketakutan yang biasa itu berbeda banget temen-temen.

Menurut Reid Wilson, penulis dari buku Don’t Panic sekaligus bagian dari American Psychological Association, kunci untuk membedakan phobia dari rasa takut adalah cara seseorang meresponnya.

Misal, sebagian besar orang yang takut dengan laba-laba, hanya akan merasa kaget ketika mereka sadar ada laba-laba di sekitar mereka. Berbeda dengan orang dengan arachnophobia – phobia akan laba-laba.

Mereka akan merasa terganggu secara fisik dan psikologis yang diikuti dengan rasa takut yang ekstrem – ia bisa jadi menangis, panik, teriak, bahkan lari. Dalam beberapa kasus, kejadian itu bisa saja tetap mempengaruhi orang tersebut bahkan ketika tidak ada laba-laba di sekitarnya.

“Saya memiliki pasien perempuan dengan ketakutan akan laba-laba [arachnophobia], sampai-sampai dia tidak mau keluar saat malam hari, karena ketika malam ia merasa sulit untuk melihat mereka,” ungkapnya lebih lanjut.

Jenis-jenis phobia

Masih berdasarkan jurnal yang gua sebutin sebelumnya, mereka membedakan phobia ke dalam tiga jenis kategori: social phobia, specific phobia, dan agoraphobia.

Social Phobia

Dikenal juga sebagai Social Anxiety Disorder, phobia ini ditunjukan dengan kecemasan berlebih seorang individu terhadap situasi sosial yang melibatkan orang lain. Ketakutan yang dicemaskan ini berasal dari asumsi orang tersebut, dimana ia takut apa yang dia lakukan dapat dinilai negatif oleh orang lain (seperti menimbulkan rasa malu, penolakan, atau ofensif).

Sakit takutnya plus dicampur juga dengan rasa cemas, individu dengan social phobia biasanya akan mencoba menutup dirinya bahkan sampai benar-benar terisolasi dari orang lain.

Eiiitss, tapi jangan salah juga. Social phobia ini nggak sama dengan orang yang berkepribadian introvert, dan nggak sama juga dengan sekedar rasa malu yang pasti umum dialami semua orang.

Baca juga: Cara Mengatasi Gangguan Kecemasan Sosial

Specific Phobia

Namanya cukup self-explanatory juga sih, specific phobia adalah rasa takut berlebih terhadap suatu objek atau situasi spesifik. Specific phobia ini merupakan phobia yang biasanya dimaksud oleh orang-orang saat membicarakan phobia secara umum, seperti phobia pada ruangan sempit (claustrophobia), phobia terhadap anjing (cynophobia), dan lain sebagainya.

Berdasarkan data juga, 75% dari individu dengan specific phobia memiliki lebih dari satu phobia. Dengan sebagian besar diantaranya memiliki phobia terhadap tiga objek atau situasi sekaligus!

Nah, makanya kalau misal kalian merasa memiliki phobia terhadap sesuatu, ada kemungkinan kalian juga memiliki phobia terhadap hal yang lain juga, Perseners!

Agoraphobia

Agoraphobia adalah jenis phobia yang membuat orang cemas dan takut berada di tempat yang ia tidak familiar, yang berkaitan dengan serangan panik. Phobia ini juga bisa jadi disebabkan oleh serangan panik itu sendiri.

Misalkan seseorang mendapat serangan panik di suatu tempat, nah karena ingin menghindari kejadian yang sama berulang, orang tersebut akhirnya mencoba menghindari tempat-tempat dimana dia mengalami serangan panik. Dari kekhawatiran tersebutlah agoraphobia ini bisa muncul.

Nah, para ahli menyimpulkan ada lima kategori situasi yang biasa dihindari oleh orang dengan agoraphobia, dan tiap orang biasanya menghindari dua atau lebih dari lima situasi berikut:

Pertama, saat menggunakan transportasi publik;

Kedua, saat berada di ruangan terbuka;

Ketiga, saat berada di ruangan tertutup;

Keempat, saat mengantre atau berada di keramaian;

Dan kelima, saat berada di luar rumah sendirian.

Karena orang dengan agoraphobia biasanya mengalami ketakutan dan kecemasan berlebih di tempat yang asing, biasanya mereka membutuhkan pendamping untuk dapat merasa lebih tenang.

Faktor penyebab phobia

Jadi apa sih yang bikin phobia itu muncul?

Well, sebenarnya nggak ada hal pasti yang mengakibatkan seseorang memiliki phobia. Para ahli hanya menemukan beberapa hal yang kemungkinan jadi pemicu phobia pada seseorang, diantaranya:

Faktor genetik

Dalam Journal of Anxiety Disorder, ditemukan bahwa meski masih langka, penurunan phobia secara genetik tetap memungkinkan.

Dalam riset yang dilakukan jurnal tersebut misalnya, mereka menemukan bahwa blood-injection-injury phobia (BII) – phobia akan hal yang berhubungan dengan darah, luka, dan suntikan – memiliki kemungkinan paling tinggi untuk diturunkan secara genetik.

Ditambah lagi, riset juga menunjukan kalau keturunan tingkat pertama dari seseorang yang memiliki phobia, mempunyai kemungkinan tiga kali lebih besar untuk memiliki phobia dari orang lain. Menarik juga, ya?

Faktor budaya setempat

Tau nggak kalian kalau ada beberapa phobia yang hanya ditemukan dalam kebudayaan masyarakat tertentu saja?

Contohnya nih ada ataque de nervios di Puerto Rico sama taijin kyofusho di masyarakat keturunan Jepang dan Korea.

Ataque de nervios memiliki gejala yang hampir sama dengan serangan panik, yang lebih umum ditemukan pada perempuan dibanding laki-laki. Bedanya Ataque de Nervios dengan serangan panik, di kasus ini kecemasan dianggap sebagai respons yang wajar bahkan ‘sehat’.

Sementara taijin kyofusho di Jepang, merupakan kebalikan dari social phobia. Kalau dalam social phobia seseorang cenderung merasa nggak enakan di hadapan orang lain, dalam taijin kyofusho kondisinya justru membuat seseorang takut dirinya membuat orang lain merasa malu atau tak nyaman.

Nah, dua kondisi tersebut jadi bukti kalau ada keterkaitan antara kebudayaan masyarakat dengan pengembangan rasa takut menurut para ahli.

Faktor perilaku dan lingkungan

Pengalaman yang dialami seseorang – entah mereka ingat atau nggak – biasanya menjadi penyebab umum untuk beberapa phobia.

Misalnya jika ada seseorang yang mengalami kejadian buruk saat kecil, pengalaman yang mungkin sudah nggak dia ingat itu bisa jadi akar dari phobia yang dimiliki orang tersebut.

Ga cuman pengalaman buruk, kalo seseorang berada di kondisi yang bikin dia stres cukup lama, lama-kelamaan stres itu bisa menghasilkan sebuah phobia buat dia.

Nah FYI nih, karena phobia didasari oleh kecemasan, dan seperti yang kita tau kalau kecemasan itu semakin dihindari akan semakin parah, pada akhirnya bisa-bisa kecemasan itu justru menular ke ranah yang lain sehingga ada kemungkinan untuk menambah phobia baru.

Apakah phobia bisa diobati?

Beberapa ahli berpendapat kalau nggak semua phobia itu perlu diobati. Katanya, cukup dengan menghindari objek atau situasi yang bisa nge-trigger phobia, itu udah cukup banget buat ngontrol masalah ini.

Tapi gimana kalo misalnya ada situasi yang nggak bisa kita hindari? Apa bisa kita nemuin cara buat menghilangkan phobia tersebut?

Jawabannya bisa!

Sebagian besar phobia itu curable, tapi tentu saja nggak bisa dalam sekali pengobatan langsung sembuh. Untuk mengobati phobia, ada beberapa treatment yang seenggaknya perlu dilewati secara berkala. Dan treatment-treatment yang dipakai pun bisa jadi berbeda untuk tiap jenis phobia.

Salah satu treatment yang dianggap ampuh untuk mengatasi phobia adalah konseling. Spesifiknya: cognitive behavioural therapy (CBT). Treatment dengan konseling ini bertujuan untuk membantu seseorang supaya dia bisa mengubah cara berpikir serta perilakunya.

Dengan begitu, diharapkan orang tersebut dapat mengembangkan kemampuan yang praktis untuk mengatasi phobianya.

konseling
Photo by Christina via Unsplash

Konseling di Satu Persen

Nah, sekarang kalian udah kenal lebih jauh lagi ‘kan dengan yang namanya si phobia ini.

Kalau kalian mampir ke artikel ini karena kebetulan kalian punya phobia, atau ada kenalan kalian yang punya phobia, berarti kalian sudah berada di artikel yang tepat!

Seperti yang gua bilang juga sebelumnya, memang sih menghindari phobia kalian itu udah menjadi hal yang cukup buat mengontrol rasa takut kalian. Ya, tapi seperti yang kita tau, ada saatnya rasa takut itu nggak bisa kita hindari lagi dan harus dihadapi.

Satu Persen punya pelayanan konseling yang cocok banget buat kalian yang mau mengatasi phobia. Pastinya, kalian bakal dibantu langsung oleh para ahli lulusan S2 profesi psikolog klinis dewasa, yang bakal nge-guide kalian untuk mengatasi si phobia ini!

Kalian bakal diberikan diagnosa serta asesmen yang mendalam untuk mempermudah perjalanan kalian ini, jadi nggak usah mikir lama-lama dan segera daftar ya!

CTA-Blog

Buat nutup tulisan ini, gua mau pendapat kalian dengan pemaparan gua di atas. Kalau kalian suka, dan memang tertarik dengan isu-isu tentang kesehatan mental, nggak ada salahnya buat ngikutin sosial medianya Satu Persen.

Kenapa?

Biar kalian nggak ketinggalan informasi maupun promo-promo terbaru dari kita yang pastinya bakal ngebantu kalian menuju #HidupSeutuhnya, minimal 1% setiap harinya!

References

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.

Fritscher, L. (2020, March 08). The Different Factors That Cause Certain Phobias to Develop. Retrieved from https://www.verywellmind.com/what-causes-phobias-2671511

Fritscher, L. (n.d.). How Phobias Can Be Affected by Your Culture. Retrieved from https://www.verywellmind.com/culture-specific-phobias-2671910

Hatfield, H. (n.d.). Phobia - fear vs. phobia. Retrieved from https://www.webmd.com/anxiety-panic/features/fear-factor-phobias

Houtem, C. V., Laine, M., Boomsma, D., Ligthart, L., Wijk, A. V., & Jongh, A. D. (2013). A review and meta-analysis of the heritability of specific phobia subtypes and corresponding fears. Journal of Anxiety Disorders, 27(4), 379-388.

NHS. (n.d.). Phobias. Retrieved from https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/phobias/

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.