Kenapa Orang Bisa Percaya Dengan Konspirasi

Pemahaman Diri
Nouvend Setiawan
16 Sep 2020

"Kenapa COVID-19 itu pasti ulah elite global!"

"Vaksin COVID-19 itu adalah usaha menanamkan chip pada tubuh kita!"

"Ini semua ulah elit global! elite global! elite global!"

Itu, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang berbunyi serupa. Kurasa kita tidak akan bisa lepas dari yang namanya teori konspirasi ketika ada sesuatu yang ‘besar’ terjadi di dunia ini. Apa sih, teori konspirasi itu? Teori konspirasi adalah sebuah teori yang menjelaskan bahwa sebuah kejadian dilatar belakangi oleh organisasi yang besar, meskipun ketika ada penjelasan lain yang lebih memungkinkan untuk menjadi kebenaran.

Bagi beberapa orang, teori konspirasi terdengar konyol dan tidak dapat dipercaya. Mungkin kamu pun pernah bertemu dengan seseorang yang mempercayai sebuah teori konspirasi dan berpikir, kok bisa, sih, dia percaya begituan? Well, mereka juga sama bingungnya denganmu, kenapa sih, dia gak percaya kalau ini tuh beneran?

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah ada cara untuk menyelesaikan masalah ini? Karena, jujur saja, teori konspirasi lebih banyak menimbulkan masalah daripada solusi, bukan? Untuk mengetahui bagaimana respon kita seharusnya terhadap orang-orang yang percaya dengan teori konspirasi, ada baiknya kita mengetahui mengapa orang-orang bisa percaya dengan teori konspirasi.

Hasrat Akan Kejelasan dan Kepastian

Wow, ingin kepastian. Sudah seperti di-PHP-in gebetan saja. Jokes aside, menurut Karen Douglas dan rekan-rekannya dalam jurnal mereka yang berjudul The Psychology of Conspiracy Theories, ada tiga kategori alasan mengapa orang bisa percaya dengan teori konspirasi, yang pertama adalah keinginan akan kejelasan dan kepastian.

Ketika sebuah peristiwa terjadi, sudah sewajarnya kita sebagai manusia menginginkan penjelasan. Dari hal sesederhana kenapa bisa mati lampu saat kamu ingin mengerjakan tugas hingga hal sebesar pandemi yang sedang kita alami ini. Kita tidak hanya menginginkan penjelasan, namun kita juga mencari penjelasan tersebut, dan bagi beberapa orang, teori konspirasi memberikan ”jawaban” akan situasi yang mereka alami.

Kebingungan dan ketidakjelasan adalah kondisi yang tidak menyenangkan, dan teori konspirasi memberikan kenyamanan bagi orang-orang mencari jawaban. Ditambah lagi, orang-orang yang mencari jawaban melalui teori konspirasi ini memiliki keinginan untuk tetap percaya terhadap teori konspirasi yang mereka dapatkan. Itu, digabung dengan kenyamanan psikologis yang diberikan oleh teori konspirasi. Aku pun sering mengalami ketidakpastian dalam hidup, dan pandemi ini sesungguhnya tidak membantu dalam mengatasi ketidakpastian itu. Namun aku, dan juga kamu, harus selalu siap untuk menghadapi ketidakpastian dalam hidup, oleh karena itu, aku rasa kamu perlu tahu cara melatih mental agar kita siap menghadapi ketidakpastian dalam hidup!

Hasrat akan Keamanan dan Kendali

Yang kedua adalah hasrat akan keamanan dan kendali. Setiap orang ingin merasa bahwa hidup mereka teratur, bahwa mereka memegang kendali penuh akan hidup mereka. Dengan hadirnya teori konspirasi di tengah ketidakjelasan peristiwa di dalam hidup mereka (contohnya 2020 yang ada-ada aja tiap bulannya), orang-orang akan merasa lebih aman, lebih terkendali. Terlebih lagi ketika lawan dari teori konspirasi itu adalah kebenaran yang membuat hidup menjadi sulit. Ambil saja contoh misalnya ada teori konspirasi yang mengatakan bahwa COVID-19 adalah ulah elit global, bahwa virus corona hanya bohongan dan ‘tidak semematikan itu’, maka seseorang tidak perlu mengubah gaya hidupnya dan tetap hidup seperti biasa. Karena, yah, siapa sih, yang mau hidup susah?

Hasrat akan Citra Diri

Sederhananya, mereka tidak mau image mereka jatuh. Orang-orang yang percaya dengan teori konspirasi akan merasa bahwa mereka memiliki sebuah pengetahuan yang khusus, yang tidak semua orang tau. Hal ini menimbulkan dampak positif bagi citra diri mereka. Menurut peneliti van Prooijen (2016), orang-orang yang percaya akan teori konspirasi seringnya adalah orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yang tidak stabil dan orang-orang yang merasa they belong to nowhere. Molding dan rekan-rekannya (2016) juga mengatakan bahwa mereka yang percaya dalam teori konspirasi lebih sering tergolong dalam orang-orang yang terisolasi secara sosial, dan teori konspirasi serta komunitasnya memberikan sense of belonging terhadap orang-orang ini. Hmm, jangan sampai ini terjadi padamu, ya! Jika kamu merasa kurang diterima oleh lingkunganmu, ketahuilah bahwa sejatinya kamu itu berharga. Don’t let anyone tell you otherwise! Cintailah dirimu sendiri, dan jika kamu merasa kesulitan, aku bisa membantumu.

Prasangka (Bias) dan Pola

Selain tiga hal di atas, proses kita mengolah informasi juga berperan dalam alasan seseorang dapat percaya dengan teori konspirasi. Confirmation Bias adalah salah satu prasangka kognitif yang paling kuat dalam proses kita mengolah informasi (Buckley, 2015). Sering dengar istilah cherry-picking, gak? Nah, secara alami memiliki kecenderungan untuk lebih percaya hal-hal yang mendukung apa yang sudah kita percayai dibandingkan dengan hal yang berkontradiksi dengan hal yang kita percayai, terlepas dari benar-tidaknya hal tersebut, ditambah lagi situasi yang kadang sangat rumit membuat kita semakin rentan terhadap hal ini .

Proportionality Bias juga berperan penting. Singkatnya, prasangka ini membuat kita berpikir bahwa kejadian yang besar semestinya dilatarbelakangi oleh hal yang besar juga, seperti sebuah organisasi jahat yang menyutradarai sebuah kejadian penting (Buckley, 2015).

Kita sebagai manusia juga memiliki kelihaian dalam melihat pola-pola tertentu, tetapi kadang kita terlalu memaksakan pola tersebut sehingga kita melihat koneksi yang sebenarnya tidak ada. Kita dapat melihat kebetulan-kebetulan atau potongan-potongan fakta dari sebuah kejadian yang rumit dan mulai membuat cerita dari prasangka kita akan hadirnya kebetulan tersebut (Tilley, 2019).

Terus Harus Bagaimana?

Sayangnya, tidak ada cara jitu untuk untuk mengatasi hal ini. Teori konspirasi didorong oleh orang-orang yang menyebarkannya, bukan oleh fakta itu sendiri, dan orang-orang yang percaya teori konspirasi seringnya berfokus pada pemikiran bahwa “Berita resmi itu palsu” daripada “Apakah Teori Konspirasi Ini Benar Sepenuhnya?”

Hal yang dapat kamu lakukan adalah untuk tidak lelah mengingatkan dan meyakinkan orang-orang yang percaya dengan teori konspirasi (kalau kamu sendiri percaya bahwa teori konspirasi itu salah, karena tidak semua teori konspirasi itu salah, loh) bahwa ada hal-hal yang sudah jelas mematahkan teori mereka, apalagi ketika dengan mempercayai teori konspirasi itu dapat mengancam keselamatan orang lain.

Nahhh, kalo diantara kamu ada yang merasa terlalu overthinking dengan adanya berita-berita yang bermunculan selama ini maka ada baiknya buat kamu untuk bisa terus mengasah pemikiran kritismu. Terakhir supaya kamu ngga ketinggalan info-info dan promo-promo seputar layanan dari Satu Persen kamu juga bisa follow instagram kami di @satupersenofficial.

Akhir kata, semoga tulisanku ini berguna, ya! Remember! Take everything with a grain of salt!

Konsultasi Satu Persen Psikolog

References

Buckley, T. (2015, July 1). Why Do Some People Believe in Conspiracy Theories? Retrieved from Scientific American: https://www.scientificamerican.com/article/why-do-some-people-believe-in-conspiracy-theories/

Grohol, J. M. (2020, August 19). A psychologist explains why people believe conspiracy theories more readily during uncertain times. Retrieved from Business Insider: https://www.businessinsider.com/psychologist-explains-why-people-believe-conspiracy-theories-during-uncertain-times-2020-4?r=US&IR=T

Ludden, D. (2018, January 6). Why Do People Believe in Conspiracy Theories? Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/talking-apes/201801/why-do-people-believe-in-conspiracy-theories

Tilley, J. (2019, February 12). Why so many people believe conspiracy theories. Retrieved from BBC: https://www.bbc.com/news/world-47144738








Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.