Introvert vs Anti Sosial: Apakah Sama?

Pemahaman Diri
Hana Nuralifiah
24 Mei 2021
Satu Persen - Introvert vs Anti Sosial: Apakah Sama?

Halo, Perseners! How’s life?

Kenalin, nama gue Hana, Associate Writer dari Satu Persen. Dan, sekadar fun fact, gue adalah seorang introvert. Bener-bener seorang introvert yang sisi ekstrovert-nya sedikit banget, hampir gak keliatan. Ada yang sama kayak gue?

Sebagai sesama introvert, tentunya ada banyak hal yang bisa kita relate bersama. Gak jarang, perilaku introvert kita malah disalah pahami orang lain. Beberapa stereotip gak benar yang melekat pada anak introvert kadang emang bikin resah. Salah satunya, banyak yang kerap nyamain introvert dengan anti sosial.

Lho, bukannya emang sama?

Mungkin ada beberapa dari lo yang mikir kayak begitu. Well, berdasarkan yang gue amati, kebanyakan orang memahami “anti sosial” atau “ansos” sebagai orang yang kurang bersosialisasi. Kalo lo mendefinisikan “anti sosial” seperti itu, gue gak heran sih kalo lo menyamakan istilah tersebut dengan introvert.

Tapi, menurut gue kesalahpahaman ini harus segera dilurusin, nih. Faktanya, introvert dan anti sosial itu gak sama. Jadi, sebenernya kurang tepat kalo ngatain anak introvert dengan sebutan “ansos”.

Nah, buat lo yang baru tahu kalo keduanya gak sama, pastinya jadi penasaran banget gak sih? Tenang, gue bakal coba buat menjawab rasa ingin tahu lo di artikel kali ini, ya! :)

Sebenernya, introvert itu apa sih?

Cenderungnya, orang memahami introvert sebagai orang yang pendiam. Gak suka ketemu orang. Udah, sesimpel itu aja. Sedangkan ekstrovert adalah kebalikannya. Padahal, ekstrovert dan introvert bukan tentang pendiam atau suka ngomong.

Teori tentang dua tipe kepribadian ini dipopulerkan oleh seorang psikoanalis bernama Carl Jung pada tahun 1920. Dalam bukunya, beliau menjelaskan bahwa perbedaan antara ekstrovert dan introvert terletak pada cara mereka dalam memperoleh energi. Orang-orang ekstrovert mendapatkan energi dari stimulus dunia luar, seperti tempat, orang-orang, interaksi, dan lain-lain.

Sedangkan, orang dengan kepribadian introvert justru mendapatkan energi saat dia sedang sendirian. Terlalu banyak nerima stimulus dari dunia luar bikin mereka gampang capek dan kurang bersemangat. Mereka cenderungnya lebih menyenangi sesuatu yang berasal dari dalam diri, seperti pikiran, ide-ide, perasaan, dan lain-lain.

Baca Juga: Extrovert vs Introvert, Mana yang Lebih Baik?

Nah, karena sering kewalahan sama stimulus eksternal tersebut, orang introvert mungkin aja punya kecenderungan seperti lebih suka sendiri, lebih pendiam, merasa cukup hanya dengan sedikit teman dekat, dan lain sebagainya. Tapi, nyatanya banyak ditemukan orang introvert yang suka berbaur. Banyak juga yang punya banyak teman dan senang memperluas relasi mereka.

Artinya, ekstrovert dan introvert emang gak ditentukan dari seberapa pendiam mereka, atau seberapa banyak teman yang mereka punya. Intinya, introvert adalah tipe kepribadian manusia yang cuma perlu waktu sendirian buat recharge energi. Karenanya, menjadi orang yang introvert adalah sesuatu yang normal-normal aja dan gak perlu diubah, kok.

Anti sosial, istilah yang kerap disamakan dengan introvert

Introvert merupakan salah satu tipe kepribadian manusia. Nah, sedangkan kalo anti sosial itu bukan, guys. Anti sosial termasuk ke dalam gangguan kepribadian yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain apabila dibiarkan.

Anti sosial, atau yang bisa juga disebut sebagai Anti Social Personality Disorder (ASPD), adalah kondisi di mana seseorang terus-terusan mengabaikan norma yang seharusnya diikuti. Mereka mengabaikan hukum, memanipulasi orang lain untuk kepentingan pribadi, dan melanggar hak orang lain. Mereka juga kurang punya empati maupun rasa menyesal setelah merugikan orang lain.

Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay

Untuk didiagnosa ASPD, seseorang seenggaknya harus berusia 18 tahun. Pada masa kanak-kanak, sering ditemukan penderita ASPD mempunyai gejala suka menyiksa hewan. Sedangkan, gejala ASPD pada orang dewasa antara lain suka memanipulasi, berbohong, mencuri, bertindak agresif, melanggar hukum, mengabaikan keselamatan, gak merasakan penyesalan, dan pandai menarik hati orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Sayangnya, penyebab pasti dari anti sosial masih belum diketahui nih, guys. Selain itu, anti sosial juga merupakan gangguan kepribadian yang gak bisa disembuhkan. Ditemukan pula bahwa penderita ASPD berisiko lebih tinggi dalam menyalahgunakan zat. Pengobatan dan psikoterapi mungkin dapat membantu penderita buat meredakan gejalanya.

Jadi, anti sosial adalah kondisi serius yang gak bisa didiagnosa sendiri. Tentunya, mereka perlu ditangani oleh tenaga profesional dan gak bisa menjalani aktivitas harian dengan normal seperti halnya orang introvert. Gimana? Udah keliatan bedanya kan, Perseners?

Perbedaan introvert dan anti sosial

Setelah nyimak informasi mengenai introvert dan anti sosial, pastinya lo udah paham dong bedanya? Yuk, kita simpulin bareng-bareng!

1. Introvert adalah tipe kepribadian, sedangkan anti sosial adalah gangguan kepribadian

Seperti yang udah gue jelasin di atas, introvert merupakan salah satu dari tipe kepribadian manusia. Setiap individu itu berbeda, dan karenanya kita unik dengan cara kita masing-masing. Oleh karena itu, menjadi introvert bukan sesuatu yang harus kita ubah.

Sedangkan, anti sosial adalah gangguan kepribadian. Anti sosial harus ditangani supaya gejalanya gak membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Jangan sampe dibiarin aja, apalagi diwajarin sebagai salah satu kepribadian manusia.

2. Introvert menyendiri untuk mengisi ulang energi, sedangkan anti sosial gak perlu melakukan hal tersebut

Panggilan “ansos” biasanya kedengeran sama orang introvert pas lagi duduk sendirian, atau pas nolak ajakan nongkrong. Padahal, membutuhkan waktu sendiri gak ada hubungannya dengan anti sosial. Mereka mungkin cuma mau recharge energi setelah menjalani hari yang panjang dan ketemu banyak orang.

Orang yang anti sosial bisa jadi introvert, tapi bisa juga ekstrovert, lho. Mereka bisa aja banyak bergaul, menjadi orang paling menarik di tongkrongan, dan memanipulasi orang lain dengan mudahnya. Jadi, anti sosial sama sekali gak sama dengan introvert dalam menikmati kesendirian.

3. Anti sosial cenderung kurang berempati, sedangkan introvert bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain

Orang anti sosial yang kurang atau bahkan gak punya empati ini membuat hubungan mereka dengan orang lain menjadi gak sehat. Soalnya, mereka emang gak aware sama hak orang lain. Akhirnya, penderita anti sosial ini bisa aja memanfaatkan orang lain tanpa memedulikan perasaan mereka.

Sedangkan, menjadi introvert gak ada hubungannya dengan kurang empati. Mereka tetap bisa berhubungan baik dengan orang lain. Bahkan, sebuah studi menemukan bahwa orang introvert cenderung lebih perasa dan menghargai pertemanan yang emosional, meskipun hanya dengan satu atau dua teman aja.

Coba Juga: Tes Attachment Style

Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay

Yap, introvert dan anti sosial itu gak sama ya, guys! Gak ada yang salah menjadi seorang introvert. Meski demikian, bukan berarti introvert gak punya masalah. Justru karena kesalahpahaman (salah satunya sering dikira “ansos”) yang sering terjadi, mungkin aja kalian punya satu dua keluhan yang perlu dibicarain.

Nah, lo bisa banget konsultasiin masalah yang lo alami sebagai orang introvert bareng mentor lewat layanan mentoring Satu Persen, lho! Dengan layanan mentoring ini, lo bisa ceritain masalah non-klinis lo sama mentor dan cari solusinya bareng-bareng. Gak cuma itu, lo juga bakalan diajak buat mengenali diri sendiri, bahwa diri lo yang introvert itu juga hebat dan berharga :)

Selain itu, lo juga bakalan dapetin fasilitas berupa catatan konsultasi, worksheet, dan berbagai tes buat menunjang proses konsultasi lo. Oke banget, kan? Yuk klik aja link di bawah ini, in case lo tertarik dan mau tau infonya lebih jauh.

CTA-Blog--5--2

Btw, ini bukan pertama kalinya Satu Persen ngomongin soal introvert. Yuk, kepoin juga video YouTube yang pernah diposting sama Satu Persen tentang miskonsepsi introvert dan ekstrovert. Alias belajar langsung dari teorinya, lho!

Alright, then. Segitu dulu tulisan gue kali ini. Harapan gue sih, lo gak menyalahpahami lagi antara introvert dan anti sosial setelah baca artikel ini. Kurang-kurangin deh, labelin orang lain dengan stereotip yang belum tentu benar. Mending kita banyakin memahami, baik diri sendiri maupun orang lain. Dan yang paling penting, apapun tipe kepribadian lo, jangan lupa buat selalu berkembang, ya! Minimal Satu Persen setiap hari menuju #HidupSeutuhnya :)

Akhir kata, thanks a million!

Referensi

Kivi, R. (May 30, 2019). Antisocial Personality Disorder. Retrieved on May 14, 2021 from https://www.healthline.com/health/antisocial-personality-disorder.

Holland, K. (July 31, 2018). Are You an Introvert? Here’s How to Tell. Retrieved on May 14, 2021 from https://www.healthline.com/health/what-is-an-introvert.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.