Tren Hustle Culture di Drama Korea Hometown Cha-Cha-Cha: Bahaya kah?

Kesehatan Mental
Dimas Yoga Maha Putra
24 Nov 2021
tren hustle culture - hometown cha-cha-cha
Satu Persen - Tren Hustle Culture

Halo, Perseners! Gimana kabarnya?

Siapa sih yang gak tau drama Korea ‘Hometown Cha-Cha-Cha’ yang lagi hits saat ini di kalangan kawula muda hingga dewasa khususnya di Indonesia? Drama korea satu ini diperankan oleh Shin Min-A (Hyon Hye-Jin) dan Kim Seon-Ho (Hong Du-Sik) yang menceritakan seorang wanita yang pindah dari Seoul ke sebuah desa bernama Gongjin sebagai dokter gigi dan seorang pria yang ahli dalam berbagai bidang pekerjaan.

Kim Seon-Ho berperan sebagai Hong Du-Sik, seorang pemuda desa yang serba bisa dengan banyak kualifikasi kerja. Karakter Hong Du-Sik yang diperankan oleh Kim Seon-Ho ini disambut sebagai pemuda yang hampir sempurna sebagai "pengangguran" yang sibuk, tampan, dan pekerja keras. Padahal, yang dilakukan Hong Du-Sik adalah sebuah gaya hidup toxic, tren kekinian yang payah atau biasa disebut hustle culture.

Nah, di artikel kali ini gue akan membahas tentang hustle culture. Jadi, simak hingga akhir dan jangan lupa buat share ke teman-teman maupun kerabat lo. Selamat membaca!

Tapi sebelumnya, ada pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang, semakin kenal tambah sayang. Jadi, kenalin nama gue Dimsyog (acronym dari Dimas Yoga). Di sini gue sebagai Part-time Blog Writer dari Satu Persen. Simak sampai habis, ya!

Apa Itu Hustle Culture?

Drama Korea Hometown Cha-Cha-Cha
Sumber dari wolipop.detik.com

Hustle culture adalah tren di mana sebuah mentalitas yang harus selalu diuji, bekerja sampai kelelahan adalah sebuah kehormatan, dan pekerjaan serta identitas lo adalah satu dan sama.

Bagi mereka yang masih mencernanya, hustle culture adalah sebuah kebiasaan toxic dan gak sehat yang terkait dengan pekerjaan. Orang-orang meromantisasi diri mereka sebagai pekerja keras siang dan malam. Gak peduli apa yang dia lakukan, dia selalu hidup untuk bekerja, bekerja, dan bekerja.

Sering kali, kesibukan ini berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik. Ada yang mengalami kurang tidur dan insomnia, ada yang kerja kerja kerja terus tipes, dan gak jarang ada yang mengalami depresi.

Dr. M. Tasdik Hasan, peneliti kesehatan mental global, mengatakan, “Hubungan langsung antara kerja berlebihan dan kesehatan mental dapat mengganggu ritme biologis tubuh dan membahayakan kesehatan mental tubuh.”

Konsep kerja keras alias hard working itu gak masalah, tapi kalau berlebihan itu yang buruk. Kita gak perlu memamerkan setiap tetes darah terakhir untuk sebuah pekerjaan, menempatkan diri kita dalam bahaya dan memaksa pekerjaan apa pun untuk menjadi sempurna hanya karena persaingan di antara rekan kerja. Perseners, ingat deh, uangnya gak banyak, kenapa lo ingin bekerja begitu keras?

Hong Du-Sik bukanlah pekerja kantoran yang setiap hari melihat laptopnya seperti lo maupun gue. Dia dalam drama Korea ‘Hometown Cha-Cha-Cha’ lebih tepat disebut sebagai pengangguran. Tapi, Hong Du-Sik bisa apa aja, loh. Mulai dari perbaikan kapal, bartender, juru lelang, perbaikan listrik, agen persewaan gedung, bahkan bekerja semalaman di sauna semua bisa dilakukan.

Gak main-main, Hong Du-Sik juga bersertifikat untuk semua pekerjaan paruh waktunya. Banyak deh, jumlahnya. Jadi, jangan heran jika dia sangat suka memakai rompi dan celana dengan banyak kantong, ya. Karena kantong-kantong itu untuk memasukkan semua sertifikasi dan peralatannya.

Ketika banyak kawula muda kagum melihat sosok Hong Du-Sik saat menonton Hometown Cha-Cha-Cha, gue justru khawatir pria tampan itu akan stres dan sakit karena hustle culture yang dia jalani. Ya, gue tau dia punya hari libur untuk berselancar di pantai, tapi pekerjaan paruh waktunya bener-bener gak masuk akal.

Banyak penelitian atau professional kesehatan yang mengatakan bahwa budaya hustle culture itu bohong. Bekerja keras memang perlu, tetapi hindari memaksakan diri terlalu keras sehingga gak ada waktu luang untuk diri lo. Karena setiap manusia membutuhkan istirahat yang penuh, tak ada salahnya mengambil cuti untuk menghilangkan rasa lelah.

Baca juga: Burnout: Ini Tanda-tanda Kamu Mengalami Kelelahan Emosional

Tanda Lo Harus Memprioritaskan Ulang Diri Lo

prioritizing yourself - memprioritaskan diri sendiri
Sumber dari pixabay.com

Lo semua pasti udah diajari bahwa bekerja keras adalah hal yang baik, jadi bagaimana lo tahu ketika itu sudah menjadi masalah? Menurut Dion Metzger, M.D., seorang psikiater di Atlanta, ini semuanya tentang keseimbangan, dan lo harus memperhatikan skala prioritas lo.

“Lo semua berusaha untuk menyeimbangkan pekerjaan, hubungan, dan kesehatan. Lo akan tahu bahwa hustle culture lo sedang berada di puncaknya ketika mulai menghilangkan satu dari dua lainnya (hubungan dan kesehatan). Lo kurang tidur, makan-makanan gak sehat, atau membatalkan rencana dengan orang yang lo cintai. Inilah saat lo harus menarik garis,” katanya kepada Thrive.

“Skala lo gak lagi seimbang. Ini adalah saat ketika lo perlu mundur dari keramaian dan memprioritaskan ulang keseimbangan untuk mencegah kelelahan.”

Banyak dari kita baru benar-benar mulai menganggap serius kelelahan dan terlalu banyak bekerja ketika kita sakit secara fisik, tetapi kita seharusnya gak pernah sampai ke titik itu. Sebaliknya, waspadai tanda dan gejala kelelahan seperti tidur terganggu, kelelahan terus-menerus, pelupa, membuat kesalahan yang ceroboh, ketidakmampuan berkonsentrasi, dan rasa sakit yang gak dapat dijelaskan.

Jika lo memperhatikannya, hal itu adalah tanda yang jelas bahwa lo perlu memprioritaskan ulang, memperbarui, dan fokus pada kesejahteraan lo sendiri.

Baca juga: Waktu Habis buat Kerja? 5 Cara Menjaga Work-Life Balance

Ada Beberapa Solusi untuk Korban Hustle Culture

solusi hustle culture
Sumber dari pixabay.com

Bahkan, jika lo udah menjadi mangsa budaya hustle culture, sangat mungkin untuk diri lo mengubahnya. Lo dapat menjalani kehidupan dengan seutuhnya dan sambil mempertahankan dan bahkan meningkatkan kesehatan mental lo.

Kuncinya adalah beralih ke solusi standar, yaitu mengubah skala prioritas dalam kehidupan lo. Ini berarti memulai dengan perubahan perilaku kecil, yang lebih mungkin menjadi kebiasaan. Kita menyebutnya micro steps, dan inilah beberapa yang dapat lo coba untuk mengurangi stres dari budaya hustle culture dan untuk menjaga kesehatan mental lo.

Micro steps tersebut antara lain:

1. Nyatakan hari sudah berakhir, bahkan jika lo belum menyelesaikan semuanya

Benar-benar memprioritaskan berarti merasa nyaman dengan ketidaksempurnaan. Ketika lo meluangkan waktu untuk mengisi ulang, lo akan kembali siap untuk menangkap peluang.

Ini akan menjadi tantangan bagi orang-orang yang terbiasa terburu-buru, tetapi ini adalah hal yang penting untuk dimulai.

2. Pergi tidur beberapa menit lebih awal dari biasanya

Bahkan pergi tidur lima menit lebih awal di malam hari akan membuat perbedaan. Perubahan tambahan akan sangat kecil sehingga lo bahkan gak akan menyadarinya, tetapi setelah seminggu dampaknya akan signifikan.

3. Jadwalkan di kalender untuk sesuatu yang penting bagi lo

Baik pergi ke gym, pergi ke galeri seni, atau bertemu teman, menyetel pengingat akan membantu lo membuat diri lo lebih bertanggung jawab.

4. Simpan botol air di meja

Ketika lo selalu melakukan sesuatu, lo biasanya mudah lupa untuk tetap terhidrasi. Plus, mengisi ulang botol lo sepanjang hari akan memberi lo waktu istirahat dan kesempatan yang sangat dibutuhkan untuk menjauh dari meja lo dan terhubung dengan orang lain.

5. Ketika tiba di tempat kerja, berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri, “Kenapa ini penting?”

Penelitian menunjukkan bahwa makna adalah motivator terbaik. Ketika lo mempertimbangkan pentingnya pekerjaan lo dan dampak potensial, ini dapat membantu lo membedakan proyek mana yang benar-benar sepadan dengan waktu dan energi lo.

6. Luangkan waktu untuk tugas-tugas yang penting dengan memasukkan hal-hal yang paling gak penting ke daftar tugas

Jika ada aktivitas atau ambisi setengah hati dalam hidup lo yang menguras energi dan menjauhkan lo dari hal-hal penting, pertimbangkan untuk melepaskannya. Ketika lo memberi diri lo izin untuk melepaskan hal-hal yang gak terlalu lo pedulikan—entah itu belajar Bahasa Inggris atau belajar memasak—lo akan memiliki lebih banyak waktu dan energi tersisa untuk apa yang benar-benar lo hargai.

7. Setiap hari, habiskan waktu untuk orang yang spesial, bahkan jika lo sibuk

Membantu, mendengarkan, atau sekadar hadir untuk orang lain dapat bermanfaat bagi lo dan siapa pun yang lo bantu. Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita menghabiskan waktu untuk orang lain, perasaan kita tentang waktu kita sendiri sebenarnya berkembang dan ketika kita terbiasa bekerja tanpa henti, membuat hubungan yang bermakna dengan orang lain sering kali gagal.

Selain dari beberapa hal yang gue sebutkan sebelumnya, kalau lo merasa bingung apakah lingkungan kerja lo saat ini toxic atau gak dan apakah gaya hidup yang lo jalani toxic atau gak, lo bisa ceritakan keluhan-keluhan yang lo rasakan yang mungkin selama ini hanya lo pendam sendirian kepada tenaga profesional dengan mengikuti layanan konseling bersama Satu Persen.

Masalah-masalah terkait diri dan kehidupan yang sulit terselesaikan dapat dibantu untuk dicari jalan keluarnya dengan konseling ini, lho. Lo bisa klik banner di bawah untuk kepoin dan daftar layanan ini, ya!

CTA-Blog-Post-06-1-20

Selain itu, lo juga bisa mendapatkan informasi lain mengenai Mental Health di channel Youtube Satu Persen. Dan jangan lupa buat dapetin informasi menarik lainnya di Instagram, Podcast, dan blog Satu Persen ini tentunya.

Akhir kata, sekian dulu tulisan dari gue. Semoga informasinya bermanfaat, ya! Dan pastinya, selamat menjalani #HidupSeutuhnya!

Referensi:

Hustle Culture Is Actually Terrible for Our Mental Health. (n.d.). Retrieved November 6, 2021, from https://thriveglobal.com/stories/hustle-culture-constant-work-always-on-mental-health-tips/

Tren Hustle Culture Oleh Hong Du-sik Di Serial ‘Hometown Cha-Cha-Cha’  - Hallo Lifestyle. (n.d.). Retrieved November 6, 2021, from https://lifestyle.hallo.id/tren/pr-1791387762/tren-hustle-culture-oleh-hong-du-sik-di-serial-hometown-cha-cha-cha



Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.