Filosofi Teras untuk Belajar Menjadi Manusia

Filosofi
Fathan Akbar
21 Mei 2020

Apa lo pernah denger tentang Filosofi Teras sebelumnya? Dalam menjalani hidup, ekspektasi merupakan sesuatu yang penting untuk lo miliki. Melalui ekspektasi, lo terdorong dalam proses mencapai suatu hal. Dalam proses itu, lo cenderung memersepsikan segala sesuatu akan berjalan dengan baik, serta menyampingkan kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Namun, pada realitasnya banyak hal yang kadang gak sesuai dengan ekspektasi diri lo. Misalnya, diputusin pacar, gak lulus mata kuliah, sampai kehilangan pekerjaan. Hal-hal itulah yang memunculkan emosi negatif dalam diri lo. Mulai dari sedih, stres, sampai rasa cemas yang berlebih.

Gue pribadi paham betul betapa gak enaknya merasakan emosi negatif tersebut. Rasanya hari-hari jadi gak tenang karena realitas yang gak sesuai dengan ekspektasi itu. Akibatnya, produktivitas gue jadi terganggu dalam mengerjakan sesuatu, sehingga mengganggu kesehatan mental gue.

Nah, kalo lo mengalami hal yang sama kayak gitu, tenang aja sob! Pada tulisan kali ini gue bakal berbagi sebuah filosofi alternatif yang bisa ngebantu lo dalam menghadapi emosi negatif. Nama filosofi tersebut adalah Filosofi Teras. Penasaran? Yuk simak tulisan gue sampai habis!

Mengenal Filosofi Teras

Mendengar istilah filosofi, mungkin lo langsung, “Ah males gue belajar hal begituan. Itu kan bahasan orang yang udah tua.” “Pasti yang begituan gak bakal masuk ke otak gue.” Eits, tunggu dulu sob, filosofi ini gue jamin gak bakal ngebosenin kok. Soalnya, di sini lo bakal dapet pola pikir yang berguna banget buat lo terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, Filosofi Teras atau yang sering dikenal stoisisme merupakan sebuah aliran filsafat Yunani-Romawi Kuno yang dipelopori oleh Zeno pada tahun 300 SM. Filosofi ini bukanlah sebuah kepercayaan atau agama yang memiliki aturan di dalamnya, melainkan sebuah cara bagi lo dalam memandang hidup secara praktis, sehingga lo bisa menjalani hidup sehari-hari dengan lebih tenteram sob!

Filosofi Teras sendiri juga bersifat universal, artinya dapat aplikasikan di berbagai kondisi serta waktu. Selain itu filosofi ini juga gak bersifat dogmatis, yang berarti gak mutlak kaku dalam ajarannya. Seperti gak ada kewajiban serta larangan dalam penerapannya. Melainkan filosofi ini bersifat adaptif dan mampu diperdebatkan. Oleh karena itu, Filosofi Teras bersifat sangat practical dan bisa diterapkan sehari-hari.

Maka dari itu, Filosofi Teras merupakan suatu filosofi yang bersifat inklusif yang merangkul semua jenis kalangan. Siapapun bisa menerapkan filosofi satu ini tanpa harus bergantung pada status ekonomi dan sosialnya. Harta, tahta, serta wanita bukanlah definisi sukses seorang stoik. Menurut Filosofi Teras, seseorang dianggap sukses saat memiliki rasa tenteram yang gak mudah pudar dalam kondisi apapun.

Tujuan Utama

Filosofi Teras menekankan bahwa pikiran merupakan kekuatan utama diri lo. Dari situ, filosofi ini mengajak lo semua untuk melakukan premeditation malorum, yaitu membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Setelah itu, lo bisa mencoba menanyakan kepada diri lo, “Apakah hal-hal buruk itu di bawah kendali gue?”. Hal ini untuk membedakan mana hal yang bisa lo ubah, dan mana yang enggak. Harapannya, lo bisa hidup dalam perasaan damai serta tenteram sob!

Mungkin lo bakal mikir, “Buat apa sih gue belajar filosofi teras? Emangnya bisa bikin gue lebih kaya raya?” Yup, betul banget, filosofi ini bakal bikin lo jadi kaya raya. Namun, lebih mengarah kepada kekayaan secara emosional dalam diri lo. Di antaranya: 

1. Membebaskan Diri dari Emosi Negatif

Emosi negatif merupakan suatu hal yang gak terhindarkan dalam hidup. Mulai dari sedih, marah, curiga, sampai cemburu. Itu seringkali mengganggu ketenteraman dalam hidup lo. Maka dari itu, Filosofi Teras bermaksud untuk membebaskan lo dari emosi tersebut. Salah satunya dengan memfokuskan diri pada hal yang bisa lo kendalikan, yang bakal gue jelasin di bagian selanjutnya!

2. Mengasah Kebajikan dalam Hidup

Filosofi Teras tak hanya memberikan dampak positif untuk diri lo, melainkan juga kepada orang lain. Terdapat empat kebajikan utama yang ditekankan oleh Filosofi ini, yakni:

  • Kebijaksanaan: kemampuan mengambil keputusan terbaik lewat mempertimbangkan berbagai aspek, contoh: Membuat keputusan bersama dengan penuh pertimbangan
  • Keadilan: kemampuan memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur, contoh: Adil saat menjadi pemimpin untuk orang banyak
  • Keberanian: kemampuan berani berpegang teguh pada prinsip yang lo anggap benar, contoh: Tidak mudah goyah secara pendirian di lingkungan baru
  • Menahan diri: Kemampuan melakukan disiplin, kesederhanaan, serta kontrol diri terhadap nafsu dan emosi, contoh: Mampu menahan amarah saat berkonflik dengan orang lain

Filosofi Teras bukanlah filosofi yang berfungsi bagi lo buat mencari kebahagiaan dalam arti umum. Namun, filosofi ini lebih menekankan lo buat mengontrol emosi negatif serta mengasah kebajikan guna mencapai ketenteraman dalam hidup lo sob!

Implementasi dari Mempelajari Filosofi Teras

Sering kali berfilsafat diartikan sebagai sesuatu yang buruk. Filsafat dinilai dapat menjauhkan lo dari kepercayaan yang lo miliki, misalnya agama. Padahal, gak ada salahnya kok buat lo menjalankan keduanya karena berfilsafat merupakan cara lo dalam memandang hidup. Berkat berfilsafat, lo jadi bisa memantapkan diri dalam menjalankan kepercayaan yang lo miliki tentunya sob!

Nah, terdapat beberapa implementasi yang dapat lo terapkan dari Filosofi Teras ini. Di antaranya:

1. Untuk Belajar Menerima Masa Sulit

Melalui filosofi ini, lo bakal belajar buat menjadi pribadi yang kuat dalam berbagai kondisi sob! Emang sih filosofi ini gak menjanjikan materi apapun buat diri lo, seperti harta kekayaan misalnya. Namun, filosofi ini bisa menawarkan rasa damai serta tenteram yang bertahan lama. Hal ini merupakan sesuatu yang kokoh berakar dari dalam diri lo. Bukan pada hal-hal eksternal yang bisa direnggut dari diri lo kapan aja sob!

Misalnya, lo merasa bahwa pandemi Covid-19 saat ini merupakan masa yang sulit bagi diri lo, sebab lo mungkin jadi korban PHK massal di kantor lo. Nah, melalui filosofi ini, lo jadi belajar untuk berdamai dengan kondisi seperti saat ini. Salah satunya dengan cara membebaskan diri dari emosi negatif.

2. Untuk Menghadapi Ketidakpastian dalam Hidup

Ketidakpastian akan suatu hal cenderung menimbulkan emosi negatif dalam diri lo. Karena lo mungkin jadi bingung tentang apa yang harus lo lakuin. Akibatnya, muncul berbagai rasa cemas dalam pikiran, yang dapat mengganggu lo dalam memproses suatu hal, serta menjauhkan diri lo dari rasa tenteram dan damai sob!

Nah, Filosofi Teras bisa menjadi alternatif lo buat menghadapi ketidakpastian tersebut. Lewat filosofi ini, lo bakal belajar untuk menerima keadaan apapun dalam hidup. Serta fokus dengan apa yang lo bisa lakuin saat ini. Harapannya, lo akan merasa tenteram dan damai di tengah suatu ketidakpastian.

3. Untuk Belajar Memimpin Diri Sendiri

Lo juga bisa belajar gimana caranya menjadi pemimpin yang baik melalui Filosofi Teras ini. Arti pemimpin di sini gak berarti soal organisasi, tim, atau negara, melainkan gimana caranya mengatur kehidupan diri lo dengan baik. Tentunya sebelum lo mengendalikan kehidupan dan orang-orang lain sob!

Filosofi Teras juga membekali lo buat menjadi pemimpin yang tegar akan kegagalan, sebab kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Tinggal gimana diri lo mengartikan hal itu sebagai apa. Bekal tersebut juga berguna bagi jenis pemimpin apapun tentunya sob!

Cara Mengasah Pola Pikir Filosofi Teras

Tentu butuh waktu serta ketekunan buat lo membiasakan berpikir dengan pola pikir Filosofi Teras ini. Soalnya, gak mudah buat mengubah kebiasaan berpikir yang telah ada dalam diri lo. Tapi percaya deh, sekalinya udah terbiasa dengan pola pikir ini, rasa tenteram akan menyertai diri lo karena tentunya lo jadi bisa meregulasi emosi lo dengan baik.

Maka dari itu, lo bisa membiasakan diri buat mengasah pola pikir Filosofi Teras ini. Di antaranya melalui memahami hal berikut ini:

1. Menyadari bahwa Gak Ada yang Namanya Kebetulan

Filosofi Teras melihat alam semesta ini bagaikan jaring-jaring raksasa yang saling berkaitan. Termasuk peristiwa yang lo alami sehari-hari, baik yang bersifat positif maupun negatif. Dalam arti lain, kondisi diri lo saat membaca tulisan detik ini merupakan hasil dari rantai peristiwa yang panjang. Baik itu peristiwa yang “besar” sampai yang terkesan “remeh” sekalipun.

Dari situ, bisa dibilang juga bahwa gak ada sesuatu yang benar-benar “kebetulan”. Semua memiliki sebab akibat tersendiri untuk terjadi. Hal itu mungkin bisa dibilang mirip dengan konsep “takdir”. Bedanya, takdir melibatkan adanya dewa-dewi atau tuhan dalam merancang keterkaitannya, sementara Filosofi Teras menekankan pada keberadaan manusia di alam semesta ini. 

Dengan begitu, lo bisa belajar buat menerima keadaan sepahit apapun itu, sebab di balik suatu kejadian pasti ada alasan yang mungkin belum lo ketahui, bukan? Lo juga jadi belajar buat gak usah terlalu menyesali segala hal yang telah terjadi. Pasti ada alasan tersendiri kenapa lo ngalamin hal tersebut. 

2. Dikotomi Kendali

Filsuf Epictetus pernah berkata, “Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita.” Lo mungkin udah sering mendengar kutipan itu di media sosial. Tetapi mungkin juga lo lupa buat meresapi kutipan Epictetus tersebut sob!

Nah, prinsip itu dinamakan “dikotomi kendali”, bahwa ada hal-hal di dalam hidup yang bisa lo kendalikan, dan ada yang tidak. Maka dari itu, lo bisa mencoba membedakan hal apa sih yang termasuk dalam kendali serta gak dalam kendali lo. Hal yang mungkin bukan dalam kendali lo di antaranya:

  • Tindakan orang lain terhadap lo
  • Opini orang lain
  • Reputasi lo dimata orang banyak
  • Kesehatan lo
  • Kekayaan lo
  • Kondisi saat lo lahir (jenis kelamin, suku, warna kulit)
  • Kondisi alam
  • Dan sebagainya

Hal yang mungkin di bawah kendali lo di antaranya:

  • Pertimbangan, opini, serta persepsi lo akan suatu hal
  • Keinginan diri lo
  • Tujuan diri lo
  • Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan lo sendiri

Lo Bisa Mengendalikan Kebahagiaan Kok!

Nah, Filosofi Teras mengajarkan lo bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari hal yang bisa lo kendalikan. Dalam arti lain, sesuatu yang berasal dari dalam diri lo sob! Sebaliknya, lo gak bisa menggantungkan kebahagiaan lo dengan hal yang gak bisa lo kendalikan, sebab itu lo berarti menyerahkan kebahagiaan diri lo ke pihak/orang lain gak sih?

Contohnya, lo abis nge-post foto liburan di instagram nih. Ternyata, jumlah orang yang nge-like gak sesuai sama ekspektasi lo nih, yang membuat lo jadi gak bahagia. Nah, Filosofi Teras mengajarkan lo bahwa kebahagiaan gak datang dari hal eksternal kayak begitu. Melainkan hal internal yang lo bisa kendalikan. Seperti perasaan bahagia setelah menjalani liburan tersebut, yang mendorong lo buat nge-post foto itu sob!

Penting juga buat lo pahami bahwa “kendali” di sini bukan hanya soal kemampuan “memperoleh”. Melainkan juga kemampuan untuk “mempertahankan” akan suatu hal. Emang sih mungkin kekayaan bisa lo usahain buat mencapainya, tetapi emang lo yakin bisa mempertahankan hal itu sepenuhnya?

3. Kendalikan Interpretasi serta Persepsi Lo

Epictetus juga pernah berkata, “Bukan hal-hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tetapi pertimbangan/pikiran/persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut.” Maksudnya adalah sejatinya segala keresahan serta kekhawatiran diri lo merupakan hasil olah pikir lo sendiri sob! Ini karena segala peristiwa yang lo alami bersifat “netral”. Kok bisa begitu?

Iya begitu, karena seringkali lo memberikan interpretasi otomatis terhadap kejadian yang lo alami. Entah itu interpretasi yang bersifat positif maupun negatif. Nah, lo bisa kok mencoba melawan interpretasi otomatis tersebut biar gak mengganggu pikiran diri lo. Salah satunya melalui fokus pada hal yang lo lihat pertama kali, dan jangan lo tambah-tambahin lagi.

Misalnya, lo lagi terlambat datang ke kelas karena kesiangan, yang bikin lo gak bisa ngisi absen. Dari situ, mungkin di otak lo langsung muncul interpretasi otomatis seperti, “Duh gimana nih kalo jatah absen gue habis dan gak boleh ikut UAS”. Nah, lo bisa melawan interpretasi tersebut dengan memfokuskan apa yang lo alami saat itu. Lewat membuat alternatif interpretasi seperti, “Yaudah mau gimana lagi orang udah gak boleh absen,” “Jadikan kejadian ini sebagai pembelajaran buat gue ke depannya aja.” 

Nah, Filosofi Teras mengajarkan lo bahwa banyak emosi negatif yang lo alami merupakan hasil interpretasi otomatis diri lo. Misalnya, lo lagi dapet peristiwa yang gak menyenangkan nih. Dari situ, lo mungkin secara otomatis merasa diperlakukan gak adil oleh alam semesta, sehingga muncul emosi negatif seperti jengkel, marah, dendam, sampai putus asa.

Makanya, Interpretasi Otomatis Ini Perlu Dilawan

Terus gimana dong cara buat lo melawan interpretasi otomatis tersebut? Nah, terdapat akronim “S-T-A-R” yang bisa ngebantu lo menghadapi hal itu. Di antaranya:

  • STOP: begitu merasakan emosi negatif, lo bisa mencoba berhenti memikirkan sebelum terlalu jauh. 
  • THINK AND ASSESS: setelah menghentikan proses emosi sejenak, lo bisa mulai kembali berpikir. Abis itu, mulai menilai, “Apakah perasaan yang gue rasakan telah sesuai fakta atau belum?”
  • RESPOND: barulah lo coba memikirkan respons apa yang akan lo berikan terhadap situasi tertentu. Respons ini dapat berupa ucapan maupun tindakan.

Contohnya, lo berpikir bahwa pacar lo masih belum move on dari mantannya. Hal itu membuat lo merasa was-was dan gak tenang karena pikiran lo jadi kemana-mana. Nah, lo bisa mencoba berhenti memikirkan hal itu ketika lo merasakan emosi negatif tersebut. Agar menghindari interpretasi otomatis dalam pikiran lo tentunya sob!

Maka dari itu, lo bisa mulai memikirkan, “Bener gak ya pacar gue masih belum move on dari mantannya?” “Jangan-jangan itu cuma asumsi negatif gue doang lagi.” Lo juga bisa menilai apakah pikiran lo tersebut benar-benar fakta, atau hanya asumsi lo semata. Hal ini bertujuan untuk melatih diri lo berpikir secara jernih.

Terakhir, lo bisa menentukan respons apa yang akan lo berikan terhadap pikiran lo tersebut. Lo bisa mempraktekkan dikotomi kendali yang telah gue jelaskan di bagian sebelumnya. Seperti mana hal yang lo bisa kendalikan, dan mana yang tidak. Harapannya, akronim ini bisa membantu lo untuk menghadapi interpretasi otomatis itu.

Yang Perlu Lo Ingat

Perlu diingat bahwa Filosofi Teras ini hanya merupakan salah satu dari banyak filsafat. Tentunya setiap filsafat gak bisa dibandingkan begitu aja, sebab setiap filosofi memiliki latar belakang serta pemikirannya masing-masing. Pada akhirnya, masing-masing pun memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Kalo lo merasa kesulitan buat mempelajari Filosofi Teras, santai aja. Lo bisa nonton video tentang penjelasan selengkapnya di bawah ini. Kalo masih kurang, lo juga bisa ikut online mentoring Satu Persen. Di dalamnya lo bisa menceritakan kesulitan lo tersebut bersama mentor-mentor yang terlatih. Lo bisa ikut online mentoring dengan ngeklik di sini. Jangan lupa buat terus pantengin informasi dari kita dengan follow Instagram Satu Persen di @satupersenofficial, dan tonton video Satu Persen tentang “Filosofi Stoicism: Belajar Menjadi Manusia (Filosofi Teras)”  di YouTube! Jangan lupa buat like, comment, dan subscribe kanal YouTube Satu Persen – Indonesian Life School! Gue harap membaca artikel ini bisa membuat lo berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap harinya. Gua Fathan dari Satu Persen, thanks!

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.