Emosi Itu Bukan Marah! (Mari Mengenal Emosi)

Kesehatan Mental
Nouvend Setiawan
15 Sep 2020

Pernah gak sih, kamu habis tengkar dengan seseorang atau baru saja melihat sebuah postingan di Instagram yang membuatmu…. emosi?

Duh, emosi banget aku ini!!!!” gumammu pada dirimu sendiri. Pasti pernah dong, entah baru-baru ini atau mungkin beberapa bulan yang lalu.

Orang-orang suka mengasosiasikan kata “emosi” dengan “marah”. Ketika melihat seseorang yang “emosi”, kita sering berpikir orang itu sedang marah, atau paling tidak sedang terlihat marah bagi kita. Namun tahukah kamu sebenarnya bahwa ketika seseorang “emosi”, itu bukan berarti dia marah, melainkan sejatinya bahwa dia merasakan luapan perasaan yang begitu bercampur aduk, tumpang tindih dalam waktu yang bisa dibilang singkat?

Bahkan KBBI mengatakan hal yang sama. Bahwa emosi adalah n 1 luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; 2 keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yang bersifat subjektif); 3 cak marah;

Pengertian “marah” pun adalah sebuah ragam cakapan, tidak baku. Ya… bukan berarti salah juga, ya.

Nah, dengan mengetahui hal tersebut, aku akan bercerita sedikit tentang emosi. Mungkin kamu, atau bahkan aku, bisa mendapatkan sedikit insight dari apa yang akan aku tuliskan. Apa itu emosi?  Apa saja yang mempengaruhi emosi? Dan yang kurasa paling menarik, bagaimana memanfaatkan emosi kita untuk mencapai kebaikan dalam hidup?

Yuk, kita mulai!


Apa Itu Emosi?

Sebenarnya ada begitu banyak pengertian tentang emosi dikarenakan konsep emosi selalu berubah seiring berjalannya waktu dan untuk membicarakannya butuh waktu yang sangat banyak. Ada banyak teori yang membahas tentang emosi, dan hasilnya menarik-menarik. Namun aku akan mengutip satu pengertian emosi menurut Don Hockenbury dan Sandra E. Hockenbury dalam bukunya “Discovering Psychology”, emosi adalah kondisi psikologi yang kompleks yang mencakup tiga komponen berbeda, yaitu pengalaman subjektif, respon fisiologis, dan respon perilaku/ekspresif (Cherry, 2019).

Wow, terdengar ilmiah sekali. Robert C. Solomon dalam artikelnya juga menulis bahwa emosi adalah pengalaman kompleks akan kesadaran, sensasi jasmani, dan perilaku yang mencerminkan pemaknaan perseorangan terhadap sebuah kejadian, keadaan, atau peristiwa.

Sederhananya, emosi adalah (kumpulan) perasaan terhadap sesuatu yang dipengaruhi subjektivitas kita, respon tubuh kita, dan respon perilaku kita. Tiga hal ini mempengaruhi emosi kita dengan caranya masing-masing.

Subjektivitas mengacu pada bagaimana suatu hal yang membuatmu sedih, belum tentu membuat orang lain sedih. Respon tubuh kita mengacu pada bagaimana kondisi fisiologis bisa menjadi petunjuk akan emosi seseorang, contohnya ketika kamu gemetaran saat malam-malam melewati koridor toilet perempuan yang dirumorkan berhantu di malam hari, kamu akan mengaosiasikan bahwa kamu takut karena kamu gemetaran atau mungkin kamu gemetaran karena kamu takut.

Respon perilaku mengacu pada perilaku atau ekspresi seseorang ketika merasakan suatu emosi. Contohnya mungkin kamu sudah tahu. Bayangkan ketika seseorang tersenyum saat kamu menyenggol dan menjatuhkan makanannya. Apakah dia beneran tidak mempermasalahkannya? Atau dia hanya ingin cepat-cepat mengakhiri interaksi kalian? Apakah dia marah, sedih, atau mungkin kecewa?

Hal-hal yang menjadi petunjuk untuk menginterpretasikan emosi seseorang (baik dirimu sendiri maupun orang lain) ini penting bagimu untuk diketahui. Ketika kamu sering atau bahkan mungkin mahir dalam menginterpretasikan emosi seseorang, ini berarti emotional intelligence-mu tinggi.

Apa Itu Emotional Intelligence?

Emotional Intelligence atau EQ adalah kemampuan untuk mengerti dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain dan menggunakannya untuk berinteraksi dengan efektif (Segal, Smith, Robinson, & Shubin, 2019).

Memiliki EQ yang baik berarti memiliki pengelolaan emosi yang baik dengan lingkunganmu. Kamu bsia menghindari situasi-situasi yang tidak diinginkan seperti dikatain tidak peka karena kamu gagal take a hint dari temanmu yang sudah mengedipkan mata agar kamu bekerja sama untuk berbohong sedikit dalam usaha nge-prank temanmu yang lain. Berbeda dengan IQ, EQ tidak punya parameter atau standar yang bisa dipakai untuk mengaktan bahwa EQ-mu rendah atau tinggi. Menurutku, Emotional Intelligence is a skill you hone as you live.

Ada beberapa aspek penting dalam EQ yang perlu kamu perhatikan. Yang pertama adalah kesadaran emosional. Ini maksudnya adalah kamu harus bisa menyadari dan mengetahui emosimu sendiri dan orang lain, bagaimana mereka mempengaruhimu dan emosi apa yang muncul ketika kamu berada di dalam suatu keadaan tertentu. Dengan menyadari kondisi emosionalmu, kamu dapat menilai dirimu lebih baik dan mengambil keputusan yang tepat dalam kondisi tertentu terlepas dari banyaknya emosi yang menghujanimu.

Dengan menyadari dan mengetahui emosi orang lain, atau berempati, kamu dapat mengira-ngira tindakan apa yang dapat kamu ambil dalam situasi tertentu. Terdengar sulit, tetapi kalau kamu terus berusaha menajamkan hal ini, kamu pasti bisa memiliki kesadaran emosi yang baik. Tonton video ini untuk mendapat insight lebih banyak soal tips mengontrol emosi!

Yang kedua adalah manajemen diri. Ini maksudnya adalah kamu mampu untuk mengatur emosi yang sedang kamu rasakan, menghindari pemikiran impulsif, dan memanfaatkan emosi yang kamu rasakan untuk mengambil keputusan yang positif.

Bayangkan sebuah situasi yang cukup berat secara emosional, katakanlah pacarmu tiba-tiba meng-upload foto bersama orang lain dengan intimasi yang bisa dibilang sama atau bahkan ngalah-ngalahin kamu dan pacarmu. Kamu mungkin akan termakan oleh luapan emosi, entah itu marah, kecewa, jijik, bingung, penasaran, apapun itu.

Ketika kamu berada dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk mengatur emosimu sangatlah penting. Jangan biarkan emosimu menguasai dirimu, namun cobalah untuk tenang, ketahui bahwa emosi yang kamu dapatkan itu respon yang manusiawi dari peristiwa tersebut, dan mulailah memproses peristiwa itu dengan kepala dingin.

Gunakan emosi-emosi yang kamu rasakan menjadi “bensin”mu. Gunakan amarahmu untuk semangat mencari tahu siapa orang di foto tersebut, gunakan rasa kecewamu untuk mengingat hal-hal baik yang sudah terjadi, dan seterusnya. Tidak bisa dipungkiri memang terkadang kita kalah dari emosi, tapi aku harap kamu, aku, dan kita semua terus berusaha untuk memiliki EQ yang baik! Aku punya tips dalam manajemen emosi, yuk tonton video ini!

Yang terakhir adalah manajemen hubungan. Ketika kamu sudah lebih mahir dalam mengatur emosimu sendiri, bukan hal yang mustahil bagimu untuk bisa mengatur hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu dengan lebih baik. Kamu paham dirimu dan kamu berempati pada orang lain. Hal ini akan memberikanmu informasi-informasi untuk membantumu mengambil keputusan dalam menjalani hubungan dengan orang lain. Nah, kalau kamu ingin mengetahui kualitas hubunganmu dengan pasangan, kamu bisa mencoba Tes Relationship Quality.

Video ini bisa membantumu dalam mengetahui cara memahami emosi diri sendiri dan orang lain.

Jadi, Emosi Itu Penting Apa Tidak?

Hm… kalau kamu jawab tidak… aku bisa-bisa merasa “emosi”, loh. Hehe, bercanda!

Oke jadi begitulah, tentang emosi. Kita memiliki sangat banyak emosi yang kita rasakan tiap harinya. Cukup sulit untuk mendefinisikan emosi yang kita rasakan karena sejatinya kita merasakan emosi itu selalu dalam sebuah spektrum yang tidak terlihat ujungnya. Kalau kamu perlu bantuan dalam manajemen emosi, coba deh ikut layanan mentoring online Satu Persen. Kamu bisa bercerita mengenai masalahmu one-on-one kepada mentor.

Akhir kata, semoga tulisanku ini berguna ya! Kalau kamu mau cek tulisanku yang lain, aku sedang menulis cerita di wattpad, judulnya LIGHT dan aku memiliki LINE Official Account tempatku menulis (ID: @ans3035i) Terima kasih banyak!

Konsultasi Satu Persen Psikolog

References

Cherry, K. (2019, July 17). Emotions and Types of Emotional Responses. Retrieved from verywellmind: https://www.verywellmind.com/what-are-emotions-2795178

Psychology Today. (n.d). Emotional Intelligence. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/intl/basics/emotional-intelligence

Segal, J., Smith, M., Robinson, L., & Shubin, J. (2019, October). Improving Emotional Intelligence (EQ). Retrieved from HelpGuide: https://www.helpguide.org/articles/mental-health/emotional-intelligence-eq.htm

Solomon, R. C. (n.d). Emotion. Retrieved from Britannica: https://www.britannica.com/science/emotion


Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.