Burnout: Untuk Kalian yang Lagi Banyak Kerjaan

Rubrik Kata
Satu Persen
1 Mar 2021
burnout banyak kerjaan
burnout banyak kerjaan

Halo! Kenalin, gue Aurell, salah satu Mental Health Rangers dari Satu Persen. Ini artikel pertama gue, nih. Brrr, agak sedikit deg-deg-an, yah. Tapi gue harap artikel ini tetap bisa membantu kalian yang baca, hehe.

Omong-omong, gue mau nanya dulu sama kalian. Selama pandemi ini, kalian merasa nggak, kalau beban kerja kita semakin berat? Contohnya, mahasiswa dikasih banyak tugas sama setiap dosen dengan alasan kita punya banyak waktu luang karena lagi di rumah aja.

Padahal, kenyataannya tuh, nggak kayak gitu. Bisa aja, kalian disuruh jaga adik sama orang tua, beres-beres rumah, masak, dan masih banyak hal lainnya. Jadinya, tanggung jawab kalian nggak cuma tugas kampus aja, tapi masih ada tanggung jawab lain yang menanti.

Karena banyaknya tekanan yang didapatkan dari berbagai aspek kehidupan kita, alhasil kalian mulai merasa stress berlebih yang bisa berujung pada burnout, deh.

Nah, hal ini nih, yang mau gue bahas: Burnout.

burnout banyak kerjaan
Photo by Cup of Couple from Pexels

Bedanya stress dan burnout apa? Bukannya sama, ya?

Jadi sebenarnya, stres dan burnout itu mirip. Hal yang membedakan tuh, tingkat intensitasnya. Maksudnya gimana, sih? Nih, gue coba perjelas lagi ya.

Stress itu lebih kayak kalau kalian lagi di pekan ujian. Kalian bakal merasa tegang pada masa itu, tapi masih mampu untuk melanjutkan. Tegang yang kalian rasakan juga akan hilang setelah pekan ujian selesai. Selain itu, stress yang nggak berlebih, justru bagus banget buat kita, loh! Kenapa? Karena stress itu bisa menstimulasi diri kita. Kita bisa lebih senang dengan hidup kita karena merasa engaged.

Kalau burnout, ibaratnya, sepanjang semester itu pekan ujian. Kalian pasti bakal merasa tegang terus-terusan karena nggak punya jeda untuk istirahat. Akhirnya, untuk menyelesaikannya aja, merasa udah nggak sanggup. Mungkin, memaksakan diri untuk menyelesaikan tugas itu masih bisa, tapi jiwa kalian seakan-akan udah “pergi”. Apa lagi, burnout bisa meningkatkan risiko terkena depresi dan jantung koroner, loh. Jadi, konteks burnout itu udah pasti negatif banget.

Nah, udah ngerti belum sama contoh kasus yang gue gambarin? Semoga udah, ya! Hihi.

Terus...ciri-ciri burnout apa aja, sih?

Kalau melihat ke contoh kasus tadi, burnout bikin kita nggak sanggup lagi buat menyelesaikan tugas karena kita nggak punya istirahat. Nah, kita bisa ambil ciri-ciri burnout dari kasus ini, nih. Yuk, disimak!

Kelelahan sampai fatigue

Emangnya, fatigue kayak gimana, sih? Kalau pengalaman gue sendiri, gue pernah pusing banget sampe harus rebahan dan muncul keringat dingin karena banyak tugas yang deadline-nya mepet padahal udah dikerjain dari jauh-jauh hari. Kalau masih bingung, contoh senderhananya tuh, sebatas tidur udah nggak bisa ngilangin rasa capek dan kopi juga nggak bisa membantu kita buat tetap berfungsi. Parah, ya? Metabolisme tubuh kita jadi terganggu, deh. Huft.

Baca juga: Kamu Sering Begadang? Cari Tau Dampaknya Sekarang!

Cari pelarian

Pelarian apa, sih? Kayak gagal move on aja, ya? Hehe. Tapi, ibarat kita lagi berantem sama pacar, emang mirip, sih. Soalnya, kan, kita pengen kabur dari masalah yang bikin penat. Jadi, kita malah main sosmed terus-terusan, nge-game sampe nggak kenal mandi, seharian maunya rebahan aja, dan hal lainnya. Padahal, tanggung jawab masih ada di depan mata dan bakal ngejar terus sebelum benar-benar diselesaikan.

Rapuh dan mati rasa

Kok bisa, gitu? Gue coba gambarin maksudnya kayak apa pake contoh. Jadi tuh, mood kalian jadi gampang berubah. Misalnya, kalian abis cari pelarian, nih. Senang dong? Tapi abis itu, kalian menyesal karena ingat tugas masih banyak. Terus, kalian cemas dan meragukan kemampuan diri sendiri. Perasaan kalian mulai kacau, deh. Kalau ada yang nanya progress tugasnya udah sampe mana, kalian bisa tiba-tiba nyolot tuh. Tapi abis marah, kalian nangis soalnya bingung kenapa jadi sensitif banget.

Nah, kalau kalian nggak cepat-cepat terima kenyataan, udah deh. Jadinya overthinking. Tau, kan? Kalau overthinking suka mikir yang nggak-nggak? Ini nih, yang bisa menyebabkan mati rasa. Pandangan kalian terhadap dunia jadi sinis. Seakan-akan dunia tuh jadi musuh kalian, perasaan kalian juga bisa jadi flat. “Letupan-letupan kecil”-nya hilang, kalian udah nggak semangat lagi. Kalian jadi kehilangan arah, dan juga marah sama keadaan. Pokoknya, menyesakkan. Kalian pengen cepet-cepet “kabur”.

Baca juga: Arti Overthinking: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Duh, cara mengatasi burnout gimana, ya? Gue nggak mau sampe kayak gitu..

Setelah baca ciri-ciri burnout, dampak buat diri sendiri-nya agak bikin merinding ya, haha. Pasti kalian nggak mau dong kayak gitu. Nih, gue punya sedikit tips and trick buat kalian kalau sudah mencapai tahap burnout. Semoga cocok sama kalian, ya!

Tarik nafas yang banyaaaak

Seperti yang udah gue bilang, burnout membuat kita rapuh secara emosional. Mood kita jadi gampang berubah dan susah banget buat mengontrol hal ini. Akhirnya, kalian bisa jadi gampang panik juga. Nah, tips dari gue adalah tarik nafas dulu, yuk! Jangan lupa buat nikmatin setiap udara yang masuk ke paru-paru kita. Jadi, pelan-pelan aja tarik nafasnya! Coba lakuin itu terus sampe kalian udah merasa tenang.

Melangkah mundur sebentar, yuk!

Nah, kalau kalian udah tenang, coba untuk “melangkah mundur” dulu. Kenapa? Biar kalian bisa melihat the bigger picture-nya. Nih, gue contohin ya. Misal, kalian punya mata kuliah A, B, C, D, dan E. Berarti, udah kebayang nih, kalian punya lima to-do list. Tapi, biasanya kan satu mata kuliah ngasih banyak tugas tuh. Kalian bikin, deh, “anak-anak” dari masing-masing mata kuliah. Nah, kalau udah tau tugasnya sebanyak apa, jangan panik lagi, ya!

Biar nggak panik lagi, kita sortir tugasnya berdasarkan deadline tercepat. Keliatan deh, mana aja tugas yang butuh untuk segera dikerjakan dan mana tugas yang bisa dipikirin nanti aja. Hal ini dilakuin biar beban kalian nggak terlalu berat dalam satu waktu. Bisa dibilang, kalian belajar buat nentuin prioritas. Nah, kalau udah tau prioritasnya apa, kalian bisa mulai kerjain satu-satu deh! Kalian tenang aja sama tugas-tugas lain yang deadline-nya masih lama. Bakal tetap dikerjakan kok. Tapi nanti ya! Jangan dipikirin dulu.

Terima kenyataan

Pokoknya, ini harus bener-bener dilakuin. Kalau nggak, efeknya bakal tetap buruk buat kalian. Gue paham, mungkin kalian masih merasa capek, marah, dan banyak hal lainnya. Tapi, tenang aja ya? This shall pass, too. Semuanya akan berlalu. Kalau pun kalian emang pengen istirahat dulu, bisa kok! Nggak ada yang melarang dan malah sangat dianjurkan. Tapi ingat, jangan kebablasan. Itu aja. Kenapa? Karena kalian punya tanggung jawab yang bakal terus nunggu sebelum kalian selesaikan.

Tapi, kalau kalian memang rasanya udah benar-benar kayak, “Skip banget, deh! Gue udah nggak tau harus ngelakuin apa”, kalian bisa minta bantuan teman, keluarga, atau bantuan profesional, seperti psikolog.

“Ih, ngapain ke psikolog? Masalah gue juga nggak berat-berat amat, nanti gue diapa-apa-in lagi!”

Hayooo, siapa yang mikir kayak gini nih? Tenang aja, psikolog nggak akan gigit, kok! Psikolog itu cuman dengerin kalian cerita tentang masalah kalian. Enak kan, ada yang dengerin? Udah gitu, psikolog juga bisa bantu kalian buat selesaikan masalah yang kalian punya. Kalau pun emang nggak ada masalah, kalian bisa minta tips-tips gitu ke mereka. Pastinya, tipsnya bagus-bagus, deh. Soalnya, mereka kan memang tenaga profesional. Jadi tipsnya pasti maknyuuuss, haha.

Setelah membaca penjelasan gue, kalian nggak perlu takut lagi buat ke psikolog. Kalau memang udah merasa butuh untuk konseling, datang aja ya? Sayangi diri kalian.

You may not know this, tapi kalian sangat sangat sangat berharga.

So, mungkin segini dulu aja dari gue. Semoga artikel pertama gue ini bisa membantu kalian, ya! See you soon.

burnout banyak kerjaan

Referensi

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. Depression: What is burnout? [Updated 2020 Jun 18]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279286/

Meulenberg, R. (2020, September 30). Panic attack during stress and burnout: The fight against panic attacks. Milltain. https://www.google.com/amp/s/milltain.com/stress/panic-attack/amp/

Salvagioni, D. A. J., Melanda, F. N., Mesas, A. E., González, A. D., Gabani, F. L., & Andrade, S. M. (2017). Physical, psychological and occupational consequences of job burnout: A systematic review of prospective studies. PLOS ONE, 12(10), e0185781. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0185781

Singer, T. (2012, March 13). The perfect amount of stress: Stress is a killer and a life force. How can you tell the good from the bad, and too little from too much? Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/articles/201203/the-perfect-amount-stress

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.