Move On: Proses yang Tidak Mudah tapi Pasti

Hubungan
Nouvend Setiawan
11 Sep 2020

Jarimu menari-nari di atas layar ponsel, berselancar di dunia maya, berpindah dari satu sosial media ke sosial media yang lainnya. Kamu melihat temanmu meng-upload foto (yang katanya) relationship goals bersama pasangannya. Kamu berhenti sejenak sambil tersenyum kecil, lalu tiba-tiba di pikiranmu , muncul sosok dia.

Iya, dia. Siapa lagi? Kamu yang paling tahu. Dia yang belakangan ini membuatmu merasakan campuran emosi yang tidak masuk akal, yang merusak jam tidurmu, yang membuatmu kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal yang dulu kau sukai.

Iya, dia. Dia yang seakan-akan memaksamu untuk move on. Karena apa daya, semesta pun tidak merestui kamu dan dirinya. Kamu hanya bisa melihat sosoknya perlahan menjauh, atau bahkan malah tetap berada dekat, sambil menciptakan jarak yang tak kasat mata.

Move on. Dua kata, beribu usaha yang gagal. Move on, terdengar gampang, namun sulit dilakukan. Kamu bisa membuang semua hal yang mengingatkanmu padanya atau block dia dari media sosial. Namun di penghujung hari kamu akan menemukan dirimu berbaring di atas kasur, secara tidak sadar memikirkan dia. “Apa kabar ya, dia?”

Ayolah! Move on itu memang sulit, tapi kamu perlu tahu cara agar move on-mu tidak rusak dengan hai setitik (tapi ya, siapa juga yang tidak goyah ketika dia kembali hadir di hidupmu, untuk alasan yang entah apa?) Izinkan aku untuk membawamu ke dalam perjalanan singkat, membahas bagaimana agar kamu bisa move on dengan lebih efektif.

1. Mengapa Move on Itu Sulit?

Sebentar, sepertinya tidak perlu aku beri nomor, deh. Ini ‘kan bukan daftar yang berurutan. Tapi tidak apa. Oke kembali ke move on, pertanyaan klasik yang dilontarkan oleh hampir semua orang:

“Kok susah ya, move on?” Jawabannya ada banyak. Sangat banyak. Tapi mari mulai dengan hal yang ilmiah.

Zeigarnik Effect. Teori ini secara garis besar menjelaskan bahwa manusia cenderung mengingat hal-hal yang belum selesai/tidak diselesaikan alih-alih hal-hal yang sudah selesai. (Psychologist World, 2020; Cherry, 2019)

You see where I’m going, right?

Dalam hal hubungan, tentu saja “hal yang belum/tidak selesai” ini adalah proses kamu mendapatkan dia atau proses mempertahankan dia (sedih ya. Eh, tapi aku juga begitu). Ketika proses ini belum selesai atau tidak selesai, otakmu akan cenderung lebih mudah dan sering mengingat hal ini, membuatmu berulang kali mendapati dirimu memikirkan kembali tentang dia.

Sayangnya (jangan baper baca kata sayang ya), yang menentukan apakah proses ini selesai atau tidak itu kamu sendiri. Itu yang membuat kamu seringkali berpikir, “Masih ada kesempatan”, atau “Dia benar-benar cinta sejatiku! We’re match made in heaven!”, dan banyak hal lainnya. Kalau sudah begini, sulit juga ya? Lantas bagaimana untuk bisa move on dengan efektif? Apakah ada jawaban textbook dari pertanyaan tersebut? Tentu saja tidak, karena setiap orang memiliki preferensi treatment yang berbeda-beda. Namun aku akan memberikan beberapa tips yang kemungkinan besar akan bekerja untuk membantumu move on.

2. Move on Tidak Boleh Terus Bersedih

Bukan, maksudnya bukan kamu melepas kepalamu terus digantung seperti jemuran (mirip kamu digantungin dia, ya. Oke maaf). Maksudku di sini, kamu harus bisa terus merubah kondisi sedihmu menjadi kondisi yang positif. Ciptakan mindset yang bisa membalikkan pemikiran seperti “Apa sebenarnya memang aku yang kurang cocok sama dia ya….” menjadi “Kejadian ini berarti aku memiliki seseorang yang lebih baik lagi di masa depan!” Satu Persen punya tips soal mindset, mungkin kamu harus menonton video ini.

Terlihat sederhana ya? Tapi aku tahu kamu tahu ini tidak sesederhana itu. Yang bisa kamu lakukan hanya mencoba terus. Mungkin beberapa kali akan tunduk pada pikiran negatifmu, namun aku percaya you can turn the table.

3. Tetapi Move on Bukan Berarti Harus Selalu Tersenyum

Boleh, kamu boleh bersedih. Mungkin kamu ingin menangis, atau berteriak, atau sekadar berbaring menatap langit-langit kamar tanpa melakukan apa-apa. Kamu harus membiarkan perasaan-perasaan sedih itu mengalir. Jangan ditolak, jangan diabaikan. Rasakanlah perasaan sedih itu, biarkan dia keluar dari tubuhmu. Peluklah sensasi patah hati itu, belajarlah dari perasaan tersebut sebelum kamu melepaskannya dan mengucapkan selamat tinggal, sebelum kamu menyambut hari yang lebih baik.

Bicarakan dengan teman, keluarga, atau kerabat jika perlu. Luapkan emosimu lewat tulisan, musik, atau karya seni lainnya. Yang jelas, jangan kamu kunci di dalam hatimu  sendiri.

4. Move on Tidak Selalu Berarti Cerita Yang Selesai

Hah? Maksudnya apa? Tenang, biar kujelaskan.

Terkadang, move on berarti kamu harus berusaha melupakan orang yang bahkan tidak harus berusaha untuk melupakanmu. Ya, aku berbicara tentang cerita yang berakhir begitu saja. Tentang perbedaan yang tidak akan bisa disamakan, tentang  perasaan yang bahkan tidak pernah sampai. Kamu harus bisa menerima bahwa dia tidak selalu berhutang penjelasan atau permintaan maaf padamu, begitu juga halnya denganmu.

Ada kalanya hubungan atau usaha mengejar berakhir begitu saja, penyebabnya mungkin agama, prinsip hidup, restu orang tua, apapun itu. Sayangnya kadang kamu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. I’m here to tell you its fine. It’s difficult to swallow but it is what it is. Dia tidak harus mengerti, kamu juga tidak harus mengerti. Jika memang dia dan kamu tidak cocok, mengapa harus memaksakan diri sambil menyakiti hati?

Some things are just not meant to be. Yang bisa kamu lakukan adalah menerima kebenaran tersebut, menyambutnya dengan lapang dada, dan bergerak maju menuju masa depan yang lebih cerah.

5. Self-Care Harus Dilakukan dalam Usaha Untuk Move on

Yes! Ini adalah hal yang penting buat kamu! Self-care adalah hal yang penting karena kamu pasti lelah dengan semua malam-malam sunyi yang ditemani aura sendu. Lelah dengan constant reminder bahwa dia ada di luar sana, mungkin sedang baik-baik saja. Stop, hentikan dulu semua itu sejenak, lalu sayangi dirimu sendiri. Nah, kamu juga bisa nih mencoba Tes Self-care supaya paham cara terbaik merawat diri sebagai bentuk rasa sayang ke diri sendiri.

Entahlah, mungkin itu berarti kamu pergi membeli es krim, atau bermain game dengan teman-teman, atau membaca buku yang kau sukai. Lakukan hal-hal yang bisa menggantikan posisi dia sebagai penghasil dopamin! Aku rasa kamu pun pasti sudah tahu, dopamin berkaitan erat dengan rasa bahagia dan kesenangan diri (Putra, 2019).  

Maka dari itu, sangat penting untuk perlahan-lahan (cepat juga boleh, kalau itu bekerja lebih baik denganmu) menggantikan dia dengan hal-hal lain yang akan memberikanmu asupan dopamine dan rasa bahagia! Atau mungkin, mungkin saja, kamu mencari orang yang baru. Satu Persen punya tips buat kamu kalau memang kamu mau mencari pengganti dia, yuk tonton video ini

Yes! Aku Sudah Selesai Move on!

…ya aku juga berharap seperti itu, sih. Hahaha, tapi tenang saja! Tips-tips yang aku berikan di atas sudah memberikanku efek yang cukup besar! Aku membagikannya denganmu karena aku juga tahu, betapa move on itu sebuah hal yang sangat menguras jiwa dan raga.

Kalau kamu merasa butuh bantuan supaya bisa move on, coba saja ikut layanan mentoring online di Satu Persen. Kamu bisa curhat ke mentor tanpa khawatir di-jugde. Ceritakan saja semua keluh-kesahmu sehingga mentor bisa membantumu menemukan cara terbaik untuk move on.

Jika  kamu masih butuh tips lain, kamu bisa melihat post ini dan menonton video ini dari Satu Persen untuk lebih lanjut menambah insight terkait Move on!

Ingat! Dia tidak seharusnya memegang kendali penuh atas kebahagiaanmu!

Akhir kata, semoga tulisanku ini bisa berguna buatmu ya! Kalau kamu mau cek tulisanku yang lain, aku juga sedang menulis cerita di wattpad, judulnya LIGHT. Terima kasih banyak!

References

Cassibry, K. (2020, February 13). What Is Love? The Psychology of Love and Crushes. Retrieved from INPATHY: https://inpathybulletin.com/the-psychology-of-love-and-crushes/

Cherry, K. (2019, March 11). An Overview of the Zeigarnik Effect and Memory. Retrieved from verywellmind: https://www.verywellmind.com/zeigarnik-effect-memory-overview-4175150

Healthline. (2018, August 31). How to Let Go of Things from the Past. Retrieved from heathline: https://www.healthline.com/health/how-to-let-go#1

Miller, K., & Siclait, A. (2019, August 9). 17 Ways To Get Over A Crush Once And For All. Retrieved from Women'sHealth: https://www.womenshealthmag.com/relationships/a25565273/how-to-get-over-a-crush/

Psychologist World. (2020). The Zeigarnik Effect Explained. Retrieved from Psychologist World: https://www.psychologistworld.com/memory/zeigarnik-effect-interruptions-memory#references

Putra, A. (2019, December 21). Berkenalan dengan Dopamin, Sang Senyawa Kebahagiaan Otak. Retrieved from SehatQ: https://www.sehatq.com/artikel/dopamin-adalah-senyawa-kebahagiaan-otak-bagaimana-meningkatkannya

Ratson, M. (2017, December 6). Why Is It So Hard To Get Over A Breakup? Retrieved from Huffpost: https://www.huffpost.com/entry/why-is-it-so-hard-to-get-_3_b_12422508

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.