Solusi untuk Masalah Sistem Pendidikan: Perspektif Satu Persen

Artikel Terbaik
Diaz Ajeng Pradila
6 Nov 2020

Halo, Perseners! Lumayan ya liburan panjang minggu lalu bisa bikin tubuh lo istirahat sejenak.

Sesuai janji gue minggu lalu, di tulisan minggu ini gue akan coba menjawab sebenernya apa sih yang bisa jadi solusi untuk masalah sistem pendidikan ini?

Kali ini gue akan coba sharing beberapa hal yang bisa jadi solusi dari masalah sistem pendidikan. Gue harap dengan lo baca tulisan gue ini, lo akan punya perspektif yang berbeda. Dan mungkin kalau lo punya ide untuk solusi permasalahan sistem pendidikan bisa lo share ke gue juga.

Lo juga bisa tweet dan kasih pandangan lo terkait tulisan gue ini atau terkait permasalahan sistem pendidikan saat ini. Jangan lupa untuk tag akun Twitternya Satu Persen di @satupersen_id.

Template-Benner-Blog-Content-Brandingpendidikan-1

Kalau lo masih ingat, minggu lalu gue udah coba kupas masalah apa aja yang sebenernya terjadi dalam sistem pendidikan saat ini. Kalau bisa gue simpulkan, secara garis besar masalah sistem pendidikan saat ini adalah belum bisa mencetak siswa-siswi lulusannya untuk siap menghadapi tuntutan zaman.

Apa yang jadi tuntutan zaman? Kemajuan iptek, banyaknya lapangan pekerjaan yang sudah digantikan robot, skill yang dibutuhkan industri saat ini yang gak relevan sama ilmu yang didapat di sekolah, dan masih banyak lagi.

Perubahan zaman yang terjadi membuat kebutuhan lapangan kerja itu juga berubah. Gue rasa bahkan kayak youtuber, selebgram, atau influencer juga bisa disebut sebagai pekerjaan. Apakah skill yang diperlukan untuk mendapat pekerjaan itu diajarkan di sekolah? Belum, kan?

Banyak juga perusahaan yang mengubah sistem jadi berbasis online semua. Kayak ojek online, e-commerce belanja online, belajar online, nemu jodoh pun sekarang juga bisa online! Jadi, banyak pekerjaan yang udah mulai bisa digantikan sama robot.

Mungkin dulu lo masih lihat mas-mas atau mbak-mbak penjaga pintu tol, tapi coba sekarang lihat? Tol mana sekarang yang masih nyimpen orang untuk jagain pintu? Udah gak ada, kan? Terus sekarang juga udah mulai banyak ATM yang bisa setor tunai, kemungkinan besar ke depannya pekerjaan teller bank juga akan digantikan sama mesin ATM ini.

Apakah siswa-siswi yang udah lulus bisa beradaptasi sama robot-robot nanti? Apa sekolah akan menyiapkan itu? Gue rasa sih belum.

Penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) yang dijadikan rujukan dunia dalam menakar kualitas pendidikan di berbagai negara, menjelaskan bahwa negara Finlandia unggul dalam tiga aspek penilaian. Hal itu menunjukkan kalau Finlandia adalah  negara terbaik dalam sistem pendidikan.

Sistem pendidikan Finlandia pun menurut gue gak ribet-ribet banget. Mereka cuma mengedepankan kualitas gurunya. Gak ada UN, jam sekolahnya pendek, gak banyak aturan, serta bahan ajar disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan siswa. Siswa di sana nggak dipaksa untuk belajar semua mata pelajaran. Bahkan, mereka difalitasi untuk mengembangkan minat dan bakat di luar jam pelajaran!

Apakah Indonesia bisa melakukan hal yang sama?

Untuk melakukannya butuh banget peran dari semua pihak. Mau pemerintah, guru, dan bahkan orang tua juga sebagai fasilitator siswanya. Gunanya apa? Kalau semua pihak ikut terlibat, gue yakin Indonesia akan lebih siap menghadapi perubahan zaman yang terjadi.

1. Peran Orang tua

Gak bisa dipungkiri kalau peran orang tua dalam pendidikan anak itu sangat penting, sama pentingnya dengan peran orang tua dalam perkembangan anak. Menurut Erikson, seorang tokoh psikologi perkembangan, hal pertama yang akan dipelajari oleh seorang anak saat baru lahir adalah rasa percaya.

Rasa percaya ini harus dibangun oleh orang tua. Mereka harus bisa membuat anak merasa percaya dan merasa bahwa dunia itu aman untuk si anak. Kalau rasa percaya udah berhasil dibangun, anak akan merasa aman dan merasa terlindung selama hidupnya. Sebaliknya kalau rasa percaya gagal dibangun atau anak ngerasa gak percaya sama orang tuanya sejak bayi, anak cenderung akan menghindar untuk membangun hubungan yang dilandaskan rasa saling percaya, sepanjang hidupnya.

Jadi, sekali lagi gue tekankan peran orang tua sangat menentukan masa depan anaknya. Begitu juga dalam dunia pendidikan. Bisa dibilang guru pertama kita itu ya orang tua. Karena sebelum kita masuk sekolah ya kita dididik sama orang tua dulu. Baru abis itu orang tua lo menyekolahkan dari TK dulu, abis itu SD, SMP dan seterusnya.

Kebayang gak sih kalau orang tua kita gak aware tentang pentingnya pendidikan? Kayak, yaudah lo lahir ke dunia ini cuma diajarin makan minum, that's it lo dibiarin aja gitu. Gak disuruh sekolah bahkan di rumah pun gak diajarin apa-apa sama orang tuanya. Gimana lo siap menghadapi kehidupan saat lo udah gede nanti? Pasti akan struggle banget.

Mungkin di sudut Indonesia masih ada yang mengalami seperti itu. Data tahun 2019 dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan pun menunjukan sebanyak 4.586.332 anak di Indonesia tidak mendapat akses pendidikan di sekolah formal. Ini bisa terjadi ya mungkin karena kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan juga rendah.

Makanya peran orang tua adalah sebagai solusi pertama untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Tingkatkan dulu kesadaran pentingnya pendidikan. Caranya gimana? Nah, mungkin ini akan masuk ke solusi yang kedua.

2. Peran Guru

Peran guru sebagai pelaku pendidikan tentunya memberikan dampak langsung. Guru bisa membantu meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan. Karena masih banyak loh guru yang cuek, siswanya gak masuk sekolah dibiarin aja. Padahal menurut gue, guru sangat memungkinkan untuk mempertahankan siswanya untuk tetap sekolah. Banyak pepatah yang bilang “Kalau kesuksesan seorang guru itu dinilai dari seberapa banyak siswanya yang sukses”. Jadi kalau siswanya gagal? Salah siapa?

Cara guru mengajar juga mungkin bisa diubah untuk solusi memperbaiki sistem pendidikan. Menurut gue, di zaman sekarang cara seorang guru mengajar itu gak bisa disamain kaya cara mengajar 10 tahun lalu. Butuh pembaharuan metode belajar-mengajar. Udah gak bisa lagi tuh guru pake metode maksa siswanya untuk hafalan.

Contohnya gue deh, waktu SD guru matematika gue itu super duper galak. Terkenal suka ngejewer siswa. Kan serem, ya? Belum aja ngerjain soal udah keringat dingin duluan kalau ada jadwal Ibu ini ngajar.

Entah dapat trik dari mana, suatu saat ibu ini ngajarin muridnya perkalian dengan cara menghafal. Jadi, gue sama temen-temen itu wajib hafal perkalian 1 x 1 sampe 10 x 10. Kebayang ya, gurunya galak, pelajarannya gak asik, disuruh ngehafalin pula! Gimana gak kerja keras tuh otak gue dulu? Apakah itu efektif? Menurut gue sih kurang.

Bahkan ada teman gue yang dijewer karena gak hafal-hafal! Terus apa yang terjadi? Bukannya hafal malah nangis teman guenya huhu. Padahal menurut Skinner, seorang tokoh psikologi pendidikan, penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.

Hukuman itu bukan untuk mendisiplinkan siswa, hukuman diberikan itu biar siswa tuh tau konsekuensi dari apa yang dia lakukan. Contoh siswa gak ngerjain PR misalnya, dikasih hukuman dengan dikasih tugas tambahan lagi. Siswa juga dikasih tau kalau ini adalah konsekuensinya karena gak ngerjain PR. Bukan malah dimarahin karena gak ngerjain PR, atau kayak temen gue tadi dijewer karena gak hafal perkalian.

Metode mengajar dengan maksa siswa untuk hafal pun kurang tepat deh. Pasti ada cara lain yang lebih efektif. Coba sekarang kalau gue tanya buat lo penggemarnya JKT48 yang member-nya banyak banget itu, pasti hafal kalau disuruh sebutin. Atau para Army, coba sebutin semua personilnya BTS pasti tau. Ada yang ngajarin gak gimana caranya supaya hafal? Gak, kan! Tapi bisa tuh hafal, walaupun menurut gue mukanya mirip semua haha.

Yang bisa disimpulkan apa? Orang bisa hafal muka BTS dengan mudah itu ya karena orang itu punya minat, tertarik sama hal itu. Kalau gue susah hafal perkalian ya karena gue gak minat, gurunya pun gak bikin muridnya tertarik. Jadi menurut gue kuncinya adalah bikin siswa-siswi ini berminat dan tertarik dulu sama pelajarannya, bukan malah maksa untuk hafal. Mungkin itu bisa jadi trik baru yang bisa dicoba para guru yang lagi baca sekarang ya.

3. Peran Pemerintah

Solusi terakhir yang bisa kita harapkan adalah dari Pemerintah. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi harus bisa membuat sistem pendidikan berjalan efektif. Mengingat masih banyak anak yang gak sekolah di Indonesia, Pemerintah harus lebih gencar lagi menyosialisasikan pentingnya pendidikan. Karena Pemerintah-lah yang punya akses untuk melakukan itu semua.

Pemerintah punya akses untuk menyosialisasikan pendidikan ke semua daerah, yang terpencil sekalipun. Pastiin sosialisasi dilakukan mencakup semua daerah, mau orang di Jawa sampai Papua sekalipun punya kesadaran yang sama akan pentingnya pendidikan.

Peran pemerintah sangat besar dalam mengubah sistem pendidikan. Kayak pemerintah bisa melakukan perubahan kurikulum berkali-kali dalam jangka waktu yang deketan. Ganti menteri ganti kebijakan ganti kurikulum, entah apa maksud dan tujuan di baliknya.

Ya, sebenernya sah-sah aja sih untuk mengganti kurikulum, tapi coba dipastikan lagi apakah semua sekolah itu ngerti dengan kurikulum yang baru? Apa guru ngerti gimana cara mengaplikasikan kurikulumnya? Itu yang mungkin sekarang harus diperhatikan oleh Pemerintah juga.

Dengan diangkatnya bapak Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, diharapkan bisa bawa inovasi yang lebih baru untuk pendidikan di negeri ini. Seperti yang udah kita tahu, di awal masa jabatannya pak Nadiem udah membuat rencana pembaharuan untuk pendidikan di Indonesia.

Lo juga mungkin udah dengar kalau tahun 2021 Ujian Nasional (UN) akan berubah nama menjadi Asesmen Kompetensi. Gue pribadi sangat berharap cara ini bisa jadi solusi efektif untuk sistem pendidikan di Indonesia.

Pak Nadiem bilang kalau Asesmen Kompetensi ini adalah bentuk penyederhanaan dari UN, bahkan bisa dibilang juga mengganti sistem UN. Asesmen Kompetensi berfokus pada penilaian yang dilakukan oleh Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA), seperti literasi/membaca, numerasi/berhitung, dan survei karakter. Diharapkan asesmen kompetensi ini juga bisa meningkatkan nilai PISA Indonesia yang ada di urutan bawah.

Menurut gue hal itu cukup relate sama kebutuhan industri sekarang. Jadi, siswa gak disuruh dikit-dikit menghafal, tapi lebih didorong untuk jadi siswa yang berkarakter. Karena dengan begitu diharapkan siswa akan memiliki attitude yang baik, di mana hal itu penting untuk bisa survive di dunia pekerjaan saat ini.

“Semua ikan itu pintar berenang, tapi kalau kamu menilai ikan dari cara dia memanjat pohon, ikan itu akan merasa bodoh seumur hidupnya” - Albert Einstein

Pak Nadiem juga lagi berusaha mengatasi masalah pendidikan di Indonesia dengan istilah “Merdeka Belajar”. menurut Pak Nadiem, siswa itu butuh diasah kemampuan bernalarnya, kemampuan menyelesaikan masalah, menemukan solusi, serta memiliki pemikiran kritis dan kepekaan sosial yang tinggi.

Konsep ini akan mengubah metode belajar-mengajar menjadi multi-arah, sehingga bisa membuat proses belajar lebih inovatif, kreatif, dan kolaboratif. Bukan cuma siswa dengerin guru ngajar doang kayak gue dulu hehe.

Inovasi yang sangat bagus tentu akan menyegarkan sistem pendidikan juga. Tapi pertanyaannya, kapan semua inovasi itu bisa efektif terealisasikan? Butuh waktu yang lama dan ini gak mudah.

Pendidikan di Indonesia bisa sukses ketika semua pihak bisa berkolaborasi satu sama lain. Orang tua mendukung, guru memadai, pemerintah pun memfasilitasi, atau bahkan dari pihak swasta juga berkontribusi. Cukup sulit memang untuk dilakukan tapi gue yakin kita bisa, Indonesia bisa.

Terus apa solusi yang mungkin dilakukan oleh kita dalam waktu dekat?

Jawabannya adalah berubah mulai dari diri lo sendiri. Sederhana bukan? Menurut gue ini solusi yang paling memungkinkan untuk masalah sistem pendidikan saat ini. Mulai aja dari diri lo sendiri.

Buat lo siswa-siswa atau mahasiswa di manapun, yuk mulai aware kalau pasar industri saat ini udah berubah dan lo harus menyiapkan diri lo untuk menghadapinya. Its okay kalau lo masih diajarin pelajaran yang gak relevan, terima aja dulu. Sabar, Pemerintah juga lagi berusaha memperbaikinya, kok.

Tapi lo juga gak bisa diem doang, mungkin yang harus lo, gue, kita sama-sama lakukan adalah:

1. Yakin kalau sistem pendidikan di Indonesia akan jadi lebih baik

Kalau kata kak Evan semuanya itu berawal dari mindset dulu, kalau kita gak yakin bakal bisa ya mau sampai kapanpun gak akan bisa. Yuk kita harus sama-sama yakin kalau kita bisa mengubah sistem pendidikan jadi lebih baik. Kita yakin bisa merealisasikan itu mulai dari diri kita sendiri.

Mungkin lo sekarang mikir ‘ah gak mungkin bisa berubah sistem pendidikan mah, punya kuasa apa gue’. Eits, jangan salah! Kalau banyak orang yakin dan optimis, hal yang awalnya gak mungkin bisa jadi mungkin.

2. Fokus mengembangkan diri

Setelah lo yakin, mulai sekarang lo coba mempelajari skill-skill baru yang lo minati. Skill gimana bikin YouTube channel mungkin, skill public speaking, atau apapun deh skill yang penting dalam hidup dan gak lo dapat dari sekolah.

Jangan pernah ragu untuk mempelajari hal baru, se-simple lo nonton video Satu Persen di YouTube misalnya. Atau lo ikut webinar dan Kelas Online Satu Persen tentang mengatur waktu. Di situ banyak banget hal-hal penting yang bisa lo pelajari untuk menunjang kehidupan lo nanti. Lo bisa kenal diri lo, bisa punya tujuan hidup yang terarah, dan relasi yang sehat juga.

3. Menjadi Agen Perubahan

Setelah lo melakukan step kedua dengan melakukan pengembangan diri, lo bisa jadi Agen Perubahan juga. Gimana caranya? Lo bisa ajak teman, keluarga, atau orang di sekitar lo untuk ikut melakukan pengembangan diri.

Lo bisa ajak mereka untuk punya self-knowledge yang lebih baik juga. Ajak mereka untuk punya skill baru yang penting dalam kehidupan. Biar lebih banyak orang yang siap untuk menghadapi hidup. Kalau satu teman lo bisa jadi lebih baik juga karena lo ajak, nanti dia ajak temannya yang lain. Temannya yang lain ajak temannya lagi, terus menerus kaya gitu.

Gue yakin dengan cara ini orang-orang lulusan S1 bahkan siswa lulusan pendidikan formal sekalipun bisa lebih siap menghadapi dan beradaptasi dengan perkembangan industri kayak sekarang. Tentunya karena kita semua udah dibekali skill-skill yang penting untuk hidup.

Kayak Satu Persen yang udah menjadi Agen Perubahan saat ini. Mulai dari Kak Evan yang ngajak teman-temannya berkontribusi melakukan perubahan untuk Indonesia, sampai akhirnya sekarang gue dan temen-temen Satu Persons @kerjadisatupersen yang udah bisa berkontribusi bikin konten-konten buat lo semua, Perseners.

Satu Persen - Indonesia Life School

Gak hanya sebatas biro psikologi yang punya channel YouTube doang, Satu Persen juga berdiri dengan kurikulum yang fokus untuk mengajarkan hal-hal penting untuk kehidupan yang gak diajarkan di sekolah. So, Satu Persen sebagai Life School terbesar di Indonesia adalah wadah yang tepat.

Kurikulum Satu Persen berdasarkan dari dua hal yang penting; pertama, kesadaran akan masalah serta kedua, fundamental dan basic skill. Dua hal yang sangat penting untuk lo jadiin dasar dulu, sebelum lo melakukan yang lain. Dengan bikin konten-konten di YouTube, Webinar mengatasi overthinking misalnya, atau Kelas Online, Satu Persen membantu lo untuk memenuhi dua hal penting ini.

Karena ketika lo udah sadar kalau lo punya masalah, hal itu akan memudahkan lo untuk menyelesaikannya. Ditambah ketika lo punya basic skill yang bikin lo punya sikap dan penalaran kognitif yang baik, akhirnya akan membuat lo lebih mudah juga untuk mempelajari hal yang lebih sulit nantinya.

Setelah dua hal penting ini dilalui, Satu Persen akan membantu menyelesaikan semua masalah yang lo alami. Tujuannya biar lo bisa berfungsi secara efektif dalam menjalani hidup baik itu fisik maupun mental lo. Layanan konsultasi akan membantu lo di dalam hal ini.

Misalnya lo ada masalah sama pacar, terus lo diputusin. Abis diputusin lo sakit karena gak mau makan. Coba lo konsultasi dulu sama mentor Satu Persen. Kalau masih belum teratasi juga tenang Satu Persen punya Psikolog yang bisa bantu lo ngatasin masalah lo.

Setelah lo berhasil melalui masalah yang terjadi, Satu Persen akan bimbing lo untuk lebih bisa mengenal diri lo sendiri. Lo akan tau apa yang sebenernya lo mau, apa tujuan hidup lo?

Setelah lo udah mengenal bisa berhubungan baik dengan diri lo sendiri, lo juga akan tau gimana caranya berhubungan baik dengan orang lain. Gimana caranya berkomunikasi sama keluarga, berhubungan sama teman, pasangan, atau lingkungan lo di kantor sekalipun.

Abis itu apa? Lo akan tau gimana cara mencapai tujuan hidup lo. Tau peta karir yang harus lo ikutin. Lo pun bisa mencapai sukses versi diri lo sendiri. Ngerasa puas atas pencapaian lo selama ini.

Setelah semua kebutuhan lo juga bisa lo penuhin dan lo udah mencapai titik puncak, lo akan lebih mudah untuk berkontribusi ke orang lain, Indonesia, bahkan dunia!

Oleh karena itu, jangan pernah sedikit pun lo ragu untuk belajar hal baru, skill baru, dan belajar tentang diri lo sendiri. Lo harus berkembang paling gak 1% setiap harinya.

Satu Persen lahir untuk bantu lo mengembangkan diri, seenggaknya 1% setiap harinya. Bantu belajar hal baru, skill baru, belajar juga tentang diri lo sendiri yang bikin lo lebih siap menghadapi dunia saat ini dan tentunya mencapai #hidupseutuhnya.

Referensi

Maharani, T. (2019, Desember 13). Klarifikasi Nadiem Makarim: UN Tidak Dihapus, Hanya Diganti. Kompas.com. Retrieved from: https://nasional.kompas.com/read/2019/12/13/08224851/klarifikasi-nadiem-makarim-un-tidak-dihapus-hanya-diganti

Kelas Pintar. (2019, 11 October). Kenapa Finlandia Jadi Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik. Retrieved form: https://www.kelaspintar.id/blog/inspirasi/kenapa-finlandia-jadi-negara-dengan-sistem-pendidikan-terbaik-1506/

Papalia, D. E., Feldman, R. D., & Martorell, G. (2014). Experience human development (13th ed.). New York, McGraw-Hill.

Savitri, N. (2019, July 23). Partisipasi Pendidikan Naik Tapi Jutaan Anak Indonesia Masih Putus Sekolah. ABC News Indonesia. Retrieved from: https://www.abc.net.au/indonesian/2019-07-24/partisipasi-pendidikan-naik-namun-jutaan-anak-indonesia-masih-p/11340620

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.