
Key Takeaways
- Kritik adalah elemen penting dalam pengembangan profesional, namun sering memicu emosi negatif (defensif, marah, atau down).
- Mengelola emosi negatif adalah prasyarat untuk mengubah kritik menjadi masukan konstruktif yang dapat ditindaklanjuti.
- Makassar sebagai pusat perdagangan dan jasa yang kompetitif, menuntut karyawan mampu menerima feedback dengan cepat dan profesional.
- Kunci utama adalah menahan respon emosional instan, memisahkan fakta dari perasaan, dan berpikir terbuka.
- Pelatihan ini membekali karyawan dengan teknik praktis untuk menjaga profesionalisme dan fokus pada solusi.
- Manfaatnya mencakup peningkatan kualitas kerja, hubungan tim yang lebih sehat, dan percepatan jalur karier individu.
Pernahkah Anda menyaksikan seorang karyawan yang kompeten dan berpotensi tinggi, namun kemajuannya terhenti hanya karena ia kesulitan menerima kritik? Atau, mungkin Anda melihat rapat penting yang memanas hanya karena feedback yang bersifat konstruktif direspons dengan sikap defensif atau bahkan emosi marah.
Kritik adalah bagian tak terpisahkan dari lingkungan kerja, terutama di perusahaan yang menjunjung tinggi budaya continuous improvement. Namun, secara naluriah, kritik sering diinterpretasikan oleh otak sebagai serangan pribadi, memicu respons emosional berupa marah, down, atau menyangkal. Ketika emosi negatif ini menguasai, kemampuan untuk berpikir rasional dan melihat nilai dari kritik tersebut akan hilang. Akibatnya, hubungan kerja rusak, dan peluang pengembangan diri pun terlewatkan.
Fenomena ini sangat merugikan, apalagi di lingkungan bisnis yang kompetitif seperti Makassar, di mana kecepatan beradaptasi dan belajar sangat krusial. Perusahaan tidak bisa menunggu karyawan pulih dari respons emosional yang berlebihan setiap kali menerima feedback.
Pelatihan Mengelola Emosi Negatif Saat Menerima Kritik adalah solusi strategis yang dirancang untuk membekali tim Anda dengan emotional intelligence (kecerdasan emosional) yang dibutuhkan. Program ini membantu karyawan mengubah respons emosional menjadi respons profesional yang fokus pada solusi, menjadikan kritik sebagai bahan bakar untuk pertumbuhan karier mereka.

Manfaat Workshop Pengelolaan Emosi untuk Budaya Feedback yang Sehat
Mengembangkan kemampuan mengelola emosi negatif saat menerima kritik adalah keterampilan krusial yang berdampak langsung pada kinerja individu dan kesehatan organisasi.
1. Memastikan Feedback Konstruktif Diterima dan Ditindaklanjuti
Tujuan utama dari kritik adalah perbaikan kinerja. Pelatihan mengajarkan karyawan untuk menahan respon instan dan menggunakan teknik penenangan diri (misalnya, pernapasan) agar dapat mendengarkan isi kritik secara objektif. Kemampuan untuk memisahkan fakta dari perasaan adalah kunci untuk mengidentifikasi masukan yang benar-benar relevan.
Bagi perusahaan, hal ini berarti ROI yang lebih tinggi dari proses performance review dan coaching. Kritik yang disampaikan tidak lagi sia-sia, melainkan diubah menjadi rencana aksi konkret.
2. Meningkatkan Profesionalisme dan Kredibilitas Pribadi
Karyawan yang mampu menerima kritik, bahkan yang disampaikan dengan cara kurang ideal, dengan sikap tenang, terbuka, dan profesional akan dipandang lebih dewasa dan kredibel. Mereka menunjukkan ketahanan mental (resilience) dan kematangan emosional.
Kualitas profesional ini sangat dihargai oleh manajer dan stakeholder eksternal. Karyawan yang responsif secara positif terhadap feedback cenderung lebih cepat dipercaya untuk tanggung jawab yang lebih besar.
3. Mengurangi Risiko Konflik dan Ketegangan Antar-Tim
Emosi negatif yang direspons secara terbuka (seperti sikap defensif yang agresif atau silent treatment) sering memicu konflik berkelanjutan di antara rekan kerja. Pelatihan ini memberikan prosedur komunikasi yang aman, mengajarkan kapan harus mengakhiri diskusi secara sopan jika kritik tidak konstruktif, dan bagaimana meminta waktu jeda sebelum merespons.
Lingkungan kerja menjadi lebih kolaboratif dan rendah konflik, karena feedback dilihat sebagai dialog pengembangan, bukan serangan personal.
4. Mengubah Emosi Negatif Menjadi Motivasi untuk Pertumbuhan
Salah satu teknik utama yang diajarkan adalah reframing atau membingkai ulang kritik. Peserta belajar untuk melihat kritik, bahkan yang pahit, sebagai peluang pertumbuhan dan validasi bahwa perusahaan berinvestasi dalam diri mereka. Energi negatif yang tadinya digunakan untuk defensif kini disalurkan menjadi motivasi untuk peningkatan skill.
Filosofi ini membantu perusahaan menumbuhkan mindset pertumbuhan (growth mindset), di mana setiap hambatan dilihat sebagai langkah menuju penguasaan.
5. Membangun Hubungan Kerja yang Lebih Kuat dan Tulus
Ketika karyawan berani bersikap terbuka dan tidak defensif saat dikritik, hal itu menciptakan kedekatan dengan pemberi kritik. Pemimpin tim merasa lebih nyaman dan berani untuk memberikan feedback yang jujur, yang pada akhirnya mempercepat pengembangan diri karyawan secara tulus.
Hubungan kerja yang didasarkan pada kejujuran dan penerimaan feedback yang sehat adalah fondasi tim yang berkinerja tinggi.
Mengapa Pelatihan Pengelolaan Emosi Kritik Sangat Dibutuhkan di Makassar?
Makassar, sebagai pintu gerbang Indonesia Timur dan pusat perdagangan, memiliki iklim bisnis yang kompetitif dan cepat, yang membuat pengelolaan emosi sangat krusial:
Pertama, budaya kerja yang kompetitif dan hasil-oriented. Perusahaan di Makassar seringkali bekerja dengan target yang ketat, yang berarti feedback harus disampaikan secara cepat dan langsung. Karyawan dituntut untuk mampu memproses feedback ini tanpa baper (bawa perasaan) dan segera mengimplementasikan perbaikan. Respon emosional yang lambat akan menghambat kecepatan operasional.
Kedua, kebutuhan leadership yang kuat di tengah tekanan. Manajer di Makassar seringkali harus memberikan tough feedback di bawah tekanan waktu. Pelatihan ini tidak hanya membantu penerima, tetapi juga membantu manajer untuk memahami bagaimana respons emosional dapat melemahkan niat baik mereka dalam memberikan feedback.
Ketiga, pertumbuhan profesionalisme di lingkungan multikultural. Sebagai pusat regional, tim di Makassar seringkali multikultural, dengan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Pelatihan ini memberikan kerangka profesional yang universal untuk menerima kritik, mengurangi risiko feedback yang salah diinterpretasikan sebagai serangan akibat perbedaan budaya komunikasi.
Dengan membekali karyawan di Makassar dengan skill ini, perusahaan memastikan bahwa mereka dapat beradaptasi, belajar, dan tumbuh lebih cepat daripada kompetitor.

Cara Mengadakan Workshop Pengelolaan Emosi yang Efektif di Perusahaan Anda
Pelatihan ini harus fokus pada kesadaran emosional dan praktik respons yang terstruktur:
Sesuaikan Materi dengan Skenario Kritik Khas Perusahaan Anda
Kumpulkan skenario kritik yang paling umum terjadi (misalnya, feedback dari atasan, feedback dari klien eksternal, atau kritik dari rekan kerja tentang pembagian tugas). Fasilitator harus menggunakan skenario-skenario ini dalam sesi role-playing untuk membuat situasi terasa nyata. Tekankan pada teknik jeda (pausing) sebelum merespons.
Libatkan Fasilitator Ahli Emotional Intelligence dan Konseling
Pilihlah fasilitator yang memiliki latar belakang psikologi atau emotional intelligence. Fasilitator harus mengajarkan dasar-dasar neurologi emosi (mengapa otak kita defensif) dan teknik mindfulness atau relaksasi cepat untuk meredakan emosi di tempat saat kritik dilayangkan.
Ciptakan Ruang Aman untuk Role-Playing dan Refleksi Emosi
Sesi praktik harus dilakukan secara berpasangan, di mana satu berperan sebagai coach yang memberikan kritik, dan yang lain sebagai penerima. Fokus harus diberikan pada analisis emosi yang muncul (sadarilah rasa marah/sedih itu). Debriefing harus berfokus pada bagaimana peserta mengubah narasi internal mereka dari "Saya diserang" menjadi "Ini adalah data yang bisa saya gunakan."
Lakukan Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut: Feedback Log Pribadi
Setelah pelatihan, dorong peserta untuk membuat Jurnal atau Feedback Log pribadi selama satu bulan. Minta mereka mencatat: 1) Kritik yang diterima, 2) Emosi yang muncul, dan 3) Respon yang dipilih (respon yang ideal). Follow-up coaching dapat dilakukan oleh manajer untuk membahas log ini secara konstruktif dan suportif.
Kesimpulan
Kritik adalah alat yang mahal dan berharga untuk pengembangan profesional. Namun, nilainya akan terbuang sia-sia jika emosi negatif menghalangi penerimaannya. Di Makassar, di mana kecepatan dan kualitas kinerja sangat diutamakan, memiliki tim yang mahir dalam mengelola emosi saat dikritik adalah kunci keunggulan kompetitif.
Pelatihan Mengelola Emosi Negatif Saat Menerima Kritik adalah investasi strategis untuk membangun tim yang tangguh secara emosional, profesional, dan memiliki mindset pertumbuhan yang tak tertandingi, siap mengubah setiap kritikan menjadi langkah maju.
Jika Anda tertarik untuk memperdalam lagi kemampuan tim Anda dalam Mengelola Emosi Negatif Saat Menerima Kritik, pertimbangkan untuk mengikuti In-House Training yang kami tawarkan dari Life Skills ID x Satu Persen. Kami menyediakan berbagai program pelatihan yang dirancang khusus sesuai dengan kebutuhan unik perusahaan Anda. Dengan pendekatan yang tepat, workshop ini bisa menjadi investasi terbaik dalam meningkatkan kinerja dan kesejahteraan tim Anda.

Mau tau lebih lanjut tentang pelatihannya? Hubungi Kami untuk Konsultasi:
- WhatsApp: 0851-5079-3079
- Email: [email protected]
- Link Pendaftaran: satu.bio/daftariht-igls
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah pelatihan ini mengajarkan cara memberi kritik, atau hanya cara menerima?Fokus utama adalah cara menerima kritik dengan efektif. Namun, memahami prinsip kritik konstruktif yang baik juga akan membantu peserta merespons secara rasional, sehingga secara tidak langsung mereka juga belajar cara memberikan feedback yang lebih baik di masa depan.
2. Bagaimana cara membedakan kritik konstruktif dari serangan pribadi?Pelatihan mengajarkan cara memisahkan fakta (poin spesifik yang bisa diubah) dari emosi/penilaian pribadi. Jika kritik berfokus pada perilaku atau hasil kerja dan memiliki solusi yang dapat ditindaklanjuti, itu konstruktif. Jika hanya menghakimi karakter, itu cenderung serangan pribadi yang harus disikapi secara berbeda.
3. Apakah skill ini cocok untuk karyawan entry-level?Sangat cocok. Semakin dini karyawan menguasai pengelolaan emosi saat dikritik, semakin cepat jalur pengembangan karier mereka karena mereka akan lebih terbuka terhadap feedback dan belajar lebih cepat.
4. Apakah pelatihan ini bersifat terapi untuk masalah emosi yang serius?Tidak. Pelatihan ini adalah skill development profesional yang memberikan teknik emotional regulation untuk konteks kerja. Jika karyawan menghadapi masalah emosi atau kesehatan mental yang serius, kami akan menyarankan untuk mencari bantuan profesional lebih lanjut.