Nanti Kita Cerita Tentang Hidup Seutuhnya

Artikel Terbaik
Keysha Arum Perdana
11 Des 2020

Halo, teman-teman! Selamat datang di artikel aku yang ketiga.

Sebelum masuk ke topik pembahasan, siapa di antara kalian yang waktu kecil (atau bahkan sampai sekarang) suka sama film-film buatan Disney? Karena pas banget nih, aku mau bahas sedikit soal salah satu film Disney yang lagi hype banget, yaitu Mulan.

Jadi, seperti yang kalian tahu kalau film Mulan ini belum lama dibuat versi live actionnya dan baru banget ditayangin secara online streaming. Mungkin kita recalling sedikit dulu kali ya soal cerita film Mulan ini.

Karena aku belum nonton versi live actionnya, jadi yang aku ceritakan di sini versi animasinya ya. Film ini menceritakan tentang seorang pendekar perempuan yang berasal dari Cina yang bernama Mulan. Sebelum memutuskan untuk menjadi pendekar dan bergabung di dalam perang untuk melawan Shan Yu, Mulan merupakan anak tunggal dari Fa Zhou dan Fa Li.

Singkatnya, pada saat itu Mulan “dipaksa” oleh keluarganya untuk bersikap seperti selayaknya perempuan. Namun, ketika melakukan hal tersebut Mulan justru merasa ngga seperti dirinya. Akhirnya, Mulan memutuskan untuk menggantikan ayahnya, Fa Zhou, dan menyamar sebagai laki-laki di dalam pasukan perang tersebut.

Nah, ketika scene ini dinyanyikan salah satu lagu favorit aku yang judulnya Reflection. Lagu ini yang kemudian dijadikan sebagai soundtrack utama dari film Mulan yang dinyanyikan oleh Christina Aguilera.

Kira-kira seperti ini liriknya:

“Look at me
You may think you see
Who I really am
But you'll never know me
Every day
It's as if I play a part
Now I see
If I wear a mask
I can fool the world
But I cannot fool my heart”

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, beberapa baris dari lirik lagu tersebut menceritakan tentang seseorang yang merasa palsu akan dirinya sendiri. Ia merasa kalau selama ia hanya memainkan peran dan memakai topeng sehingga orang lain ngga akan ada yang pernah tahu diri dia yang asli itu siapa.

Namun, meskipun ia berhasil “mengelabuhi dunia”, ia ngga bisa membohongi dirinya sendiri.

Ketika membaca penjelasan di atas, mungkin banyak dari kalian yang pernah mengalami situasi seperti itu juga. Merasa kalau selama ini “being fake” dan menyembunyikan diri kalian yang sebenarnya ketika berada dalam situasi sosial.

Wajah yang kalian presentasikan bisa saja berbeda bergantung dengan situasi dan dengan siapa kalian berinteraksi. Pada saat melakukan hal ini, mungkin kalian ngga bermaksud untuk memalsukan jati diri sendiri, tetapi kalian melakukan ini secara sadar karena adanya keinginan untuk diterima oleh publik.

Menurut teori yang dicetuskan oleh Carl Jung atau dikenal dengan Jungian Archetypes, wajah yang kalian tunjukkan di hadapan publik tersebut dinamakan sebagai persona. Setiap orang pasti memiliki persona yang berbeda-beda.

Sebenarnya, persona itu bukan merupakan suatu hal buruk. Sah-sah aja kok kalau kalian memiliki “ideal self” versi kalian sendiri dan sangat wajar apabila kalian memiliki keinginan untuk terlihat “normal” di mata publik, karena hal ini pun memang sebenarnya diperlukan apalagi ketika kalian berada dalam lingkungan pekerjaan.

Misalnya, kalian bekerja sebagai auditor. Profesi auditor ini secara ngga langsung mengharuskan kalian untuk memiliki attitude dan berpenampilan profesional. Attitude yang harus dimiliki seorang auditor seperti professional skepticism, independensi, dan critical mind.

Penampilan yang profesional juga diperlukan karena kalian akan berhubungan dengan klien, partner, Board of Directors, Audit Committee, dan berbagai orang penting lainnya.

Penampilan profesional di sini, ya misalnya memakai kemeja dan celana panjang ketika bekerja. Dalam hal ini, menyesuaikan penampilan itu penting. Karena kalau ngga, justru kalian akan dianggap sebagai orang yang ngga bisa menempatkan diri.

Bayangin aja deh, masa iya kalian ketemu orang-orang penting hanya pakai celana pendek dan kaos oblong? Ngga etis juga kan jatuhnya kalau seperti itu.

Karena adanya tuntutan pekerjaan, mau ngga mau image yang kalian bangun juga menyesuaikan dengan pekerjaan tersebut. Kalian melakukan hal ini secara sadar karena kalian ingin membangun image sebagai orang yang capable dan profesional ketika bekerja.

Jika dianalogikan, ketika kalian menggunakan “persona” ibaratnya kalian sedang menjadi aktor/aktris yang memainkan suatu peran tertentu. Memainkan peran ngga menandakan bahwa kalian itu fake. Jadi, instead of, mengganggap diri kalian sendiri atau orang lain itu fake ketika menggunakan “persona, anggap aja kalau kalian itu orang yang adaptable.

Ketika memainkan peran, kalian bisa bebas memilih. Apakah kalian ingin memainkan peran dan membangun image sebagai orang yang kalem, cerdas, bold, outspoken, dan masih banyak lagi.

Peran yang kalian mainkan ini berfungsi sebagai “pelindung” bagi ego kalian dari image yang negatif, atau biasa dikenal sebagai sisi gelap (shadow-self).

Sesuai dengan namanya, shadow-self ini merupakan bagian tergelap yang ada di dalam diri setiap orang. Hal ini dapat berupa kelemahan diri yang paling ngga disukai, trauma masa lalu, emosi negatif, dan berbagai hal negatif lainnya.

Sumber: @pride_nyasha (Instagram)

Contoh hal negatif yang berada pada shadow-self seperti kemarahan akibat adanya kejadian masa lampau, sehingga secara ngga sadar membuat inner child kalian terluka. Karena shadow-self ini berada di alam bawah sadar (unconscious mind), maka besar kemungkinan juga kalian akan merepresi (repression) kemarahan tersebut.

Situasi yang kurang menyenangkan tersebut secara ngga sadar kalian pendam sebagai bentuk pertahanan diri, namun hal tersebut berbahaya karena bisa saja sewaktu-waktu membludak dan malah kalian proyeksikan ke orang lain.

Namun, kebanyakan dari orang masih merasa takut untuk benar-benar mengekspresikan shadow self tersebut, termasuk juga aku pribadi. Karena, memang untuk mengekspresikan sisi tersebut bukanlah hal yang mudah dan dibutuhkan keberanian.

Hal lain yang menyebabkan kita sulit untuk mengekspresikan shadow self tersebut adalah karena lingkungan sosial kita secara ngga langsung hanya menerima orang-orang yang memiliki label “good person”. Padahal, definisi “good person” itu sendiri relatif dan kenyataannya semua orang memang memiliki dua sisi; baik dan buruk.

Meskipun menakutkan, kita sebagai individu perlu belajar untuk menerima dan memahami shadow self tersebut karena bagaimanapun juga sisi itu merupakan bagian dari diri kita. Ngga apa-apa kok kalau saat ini kalian belum sepenuhnya menerima atau paham sama shadow-self kalian sendiri.

Menurut aku pribadi, untuk bisa dealing dengan shadow self sepenuhnya merupakan lifetime learning yang harus dilakukan oleh diri kita masing-masing.

Memang benar, manusia sebagai makhluk sosial pasti memiliki keinginan untuk selalu diterima di dalam lingkungannya dan hal tersebut menyebabkan banyak dari kalian yang memakai persona.

Ketika kalian memakai persona, ada kalanya hal tersebut bermanfaat bagi kalian karena dengan begitu menandakan bahwa kalian memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Akan tetapi, persona yang kalian gunakan ini dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri apabila kalian terlalu larut ke dalamnya, sehingga menyebabkan hilangnya sense of self atau disebut juga dengan true self. Gampangnya, kalian jadi ngga kenal diri kalian yang sebenarnya itu siapa.

Carl Jung menyebutkan di dalam teorinya, bahwa true self merupakan gabungan dari persona, ego, shadow self, dan animus/anima. Persona dan ego mewakili sisi consciousness dari suatu individu, sedangkan shadow self dan animus/anima mewakili sisi unconsciousness dari suatu individu.

Agar true self tersebut dapat terbentuk, perlu terjadi integrasi antara sisi consciousness dan unconsciousness melalui proses yang dinamakan individuasi.

Ketika integrasi tersebut sudah terjadi, pada saat itulah kita sebagai individu berhasil melakukan yang namanya self-love. Hal inilah yang nantinya akan membantu semua orang untuk bisa hidup seutuhnya.

Menurut aku pribadi, mencintai diri sendiri itu ketika kita sebagai manusia bisa menerima diri kita secara penuh, termasuk menerima sisi gelap (shadow-self) yang ada di dalam diri.

Karena ketika kita bisa menerima kedua sisi tersebut (baik dan buruk), artinya kita ngga memberikan judgment apa pun ke diri sendiri dan disitulah kita udah berhasil menerapkan self-love.

Sebagai salah satu Life School terbesar di Indonesia, Satu Persen memiliki concern yang sangat tinggi untuk membantu kalian menuju hidup seutuhnya. Karena, memang pada kenyataannya untuk mencapai hidup seutuhnya itu bukan lah hal yang mudah dan butuh proses. Jadi, yuk, kita sama-sama berusaha untuk menjadi lebih baik, seenggaknya satu persen setiap harinya.

Bahayanya Ketika Melakukan Repression terhadap Shadow-self

Repression merupakan istilah yang sering digunakan di dalam dunia psikologi yang diartikan sebagai suatu proses untuk menjauhkan keinginan atau pikiran yang ngga dapat diterima. Seperti kesedihan, kehilangan, atau kegagalan ke alam bawah sadar (unconscious mind) yang bertujuan untuk mencegah atau meminimalkan perasaan cemas (anxiety).

Hal ini sesuai dengan teori dari Carl Jung bahwa ketika terjadi ketidakharmonisan antara unconscious mind dan conscious mind, maka dapat menyebabkan masalah psikologis.

Ketika kalian melakukan repression terhadap shadow-self, hal tersebut jelas berbahaya karena akan menimbulkan terjadinya psychological projection.

Gampangnya, psychological projection ini merupakan salah satu bentuk dari self defense mechanism. Ketika hal ini terjadi kalian akan secara ngga sadar memproyeksikan emosi atau perasaan negatif yang dirasakan kepada lawan bicara.

Misal, ketika kalian sedang bercerita kepada teman kalian bahwa kalian ingin mendaftar di salah satu universitas ternama. Lalu, teman kalian bilang “Nilai lo kan pas-pasan, mana bisa? Yang realistis aja kalo daftar” kalimat itu secara ngga langsung merupakan proyeksi dari insecurity dia ke diri kalian.

Mungkin aja pada saat itu teman kalian ini pernah ditolak sama universitas favoritnya ketika mendaftar dan hal tersebut membuat dia merasa insecure. Secara ngga sadar, teman kalian ini jadi memproyeksikan insecurity tersebut ke kalian melalui kalimat yang kurang menyenangkan.

Menurut Karen R. Koenig, seorang psikoterapis berlisensi, proyeksi bertujuan sebagai mekanisme pertahanan untuk menjauhkan ketidaknyamanan tentang diri kita sendiri dan di luar kesadaran kita.

Seorang psikolog, Michael Brustein, juga berpendapat bahwa proyeksi ini biasanya dilakukan oleh orang yang merasa rendah diri (inferior) dan memiliki harga diri yang rendah (low self-esteem). Dalam skala yang lebih luas, contoh dari proyeksi tersebut seperti rasisme dan homofobia.

Perlu diketahui bahwa shadow-self akan muncul ketika ada faktor pemicu. Pada saat pertama kali shadow-self ini muncul, mungkin kalian ngga akan sadar kalau sisi gelap tersebut ada pada diri kalian.

Misal, ketika kalian dikritik atau ada orang yang perkataanya terkesan menjatuhkan, kalian secara otomatis menjadi short-tempered dan memproyeksikan hal tersebut kepada orang lain, padahal dalam sehari-hari biasanya kalian dikenal sebagai orang yang sabar dan hampir ngga pernah marah.

Kalau di antara kalian ada yang pernah mengalami kejadian serupa, bisa jadi short-tempered itu adalah shadow-self kalian. Short-tempered tersebut muncul karena ada faktor pemicunya yaitu kritikan dan perkataan dari orang lain yang menjatuhkan.

Apabila kalian merasa mudah untuk terpancing emosi dan menjadi short-tempered, kalian bisa menonton salah satu video di channel Youtube Satu Persen yang membahas mengenai cara mengendalikan rasa marah.

Sebenarnya, memiliki shadow-self bukanlah suatu aib atau hal yang memalukan. Tapi, memang seringkali diri kita sendiri pun malu untuk mengakui shadow-self yang ada pada diri kita.

Sering kali juga, kita bahkan menolak untuk “berkenalan” dengan sisi tersebut. Wajar kok kalau kalian merasa seperti itu, karena sampai detik ini pun aku juga masih dalam proses “berkenalan” sama shadow-self diri aku sendiri.

Jujur, emang rasanya ngga enak banget ketika pertama kali sadar kalau di dalam diri kita ini ada sisi lain yang sangat gelap. Pada fase ini, kita akan merasa frustrasi, asing, self-critical, dan bahkan ngga kenal sama diri kita sendiri. Menganggap bahwa shadow-self yang muncul ke permukaan sebagai sisi yang jahat dan membuat kita ngga nyaman.

Hal tersebut dikarenakan selama ini kita selalu melihat diri kita dari persepsi orang lain, padahal apa yang dilihat orang lain dari persepsi mereka hanyalah persona belaka.

When we ignore our shadow, we think we ourselves but the fact we don’t. Shadow-self tersebut adalah selayaknya teman yang seharusnya dirangkul dan bukan dijauhi. Ketika kalian lari dari shadow-self tersebut, sama aja artinya kalian lari dari diri kalian sendiri.

Kenapa sih penting untuk memahami shadow-self diri kita sendiri?

Seperti halnya pada penjelasan aku di atas bahwa dengan memahami shadow-self tersebut akan membantu kalian dalam proses mencintai diri sendiri (self-love). Self-love itu prosesnya ngga mudah dan butuh waktu lama. Masing-masing orang memiliki journey yang berbeda untuk benar-benar bisa menerapkan self-love dan hidup seutuhnya.

Ketika kalian bisa menerima segala sisi yang ada di dalam diri sendiri–baik dan buruk, maka kalian juga akan bisa menerima segala sisi yang ada pada orang lain. Kalian akan menjadi lebih grounded dan lebih mudah untuk berempati dengan orang lain, karena kalian paham betul bagaimana rasanya untuk memiliki suatu kelebihan dan kekurangan pada waktu yang bersamaan.

Dengan berempati dengan orang lain, hal ini dapat meningkatkan kualitas dari hubungan yang kalian miliki, baik hubungan dalam keluarga, pasangan, pertemanan, atau pekerjaan.

Sumber: @consuelo.verona (Instagram)‌‌

Gimana caranya untuk membangun awareness dan dealing dengan shadow-self itu?

1. Kontemplasi

Kontemplasi diartikan sebagai merenung atau berpikir dengan sepenuh perhatian. Yuk, ajak diri kalian sendiri buat diam sejenak untuk memproses segala emosi yang kalian rasakan! Cari tempat yang membuat kalian senyaman mungkin untuk melakukan hal ini.

Pernah ngga sih, kalian merasa kalau dunia ini tuh terlalu hiruk pikuk? Semuaya berjalan serba cepat yang sering kali membuat kita lupa untuk memproses segala sesuatu yang kita rasakan. Kita terlalu fokus untuk survive di dunia luar, sampai-sampai lupa untuk memanusiakan diri sendiri.

Ada kalanya kita perlu untuk “being slow down” atau bahkan “pause” sejenak sekedar untuk mengecek diri sendiri. Kontemplasi akan membantu kita untuk memfokuskan seluruh perhatian ke dalam diri.

Untuk beberapa orang, cara ini mungkin memang sulit dilakukan ketika awal-awal mencoba. Apalagi untuk orang-orang yang memiliki kepribadian ekstrovert pasti akan memerlukan lebih banyak effort untuk menginternalisasi segala sesuatu.

Sebagai seorang ekstrovert, aku pribadi mengalami kesulitan pada saat awal-awal mencoba untuk berkontemplasi. Karena memang secara natural orang-orang ekstrovert akan lebih mudah untuk mengekspresikan keluar suatu emosi dibandingkan menginternalisasi.

Sangat energy draining bagi seorang ekstrovert untuk menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri dalam durasi yang sangat lama. Jadi, instead of, berkontemplasi aku pribadi memang akan lebih nyaman untuk bercerita ke teman-teman terdekat ketika merasakan suatu emosi negatif.

Perlu diingat bahwa tiap-tiap ekstrovert mungkin akan memiliki pengalaman yang berbeda untuk dealing dengan emosi negatifnya, kerena cerita di atas tersebut hanyalah pengalaman aku pribadi. Kalau kalian masih bingung seputar fakta atau mitos mengenai orang-orang berkepribadian ekstrovert, kalian bisa menonton video di bawah ini.

Namun, hanya karena aku merasa kurang nyaman untuk berkontemplasi bukan berarti hal itu ngga penting. Berkontemplasi itu penting. Karena hanya ketika kita berkontemplasi kita bisa “reaching out”  sisi lain dari diri kita yang sebelumnya ngga pernah kita temui termasuk shadow-self tersebut.

Ada trik yang biasa aku lakukan dan mungkin bisa kalian coba juga, yaitu dengan mendengarkan musik-musik instrumental agar bisa lebih fokus ketika melakukan kontemplasi.

It helps me to penetrate my busy mind.

Ketika otak kita tenang, akan lebih mudah untuk memproses segala informasi. Kita akan bisa berpikir secara rasional dan ngga judgmental terhadap diri kita sendiri, hal tersebut secara otomatis juga akan membantu kita untuk memproses emosi negatif dan melihat emosi tersebut dari perspektif yang berbeda.

2. Journaling

Selain kontemplasi, cara lain yang bisa kalian lakukan adalah dengan journaling. Buat kalian yang kesulitan untuk mengenali emosi yang kalian rasakan, journaling ini bisa sangat membantu.

Dengan melakukan hal ini, akan membantu kalian untuk mengelaborasi emosi-emosi tersebut ke dalam bentuk tulisan, sehingga kalian akan lebih mudah untuk memproses situasi yang sedang kalian alami.

Selain itu, journaling ini juga dapat membantu untuk menelusuri emotional journey kalian.

Berkenalan dan menerima shadow-self dimulai dengan proses memahami emosi negatif yang kita rasakan. Ketika kalian merasakan emosi negatif, jangan langsung mentah-mentah ditolak. Wajar kok kalau pada saat itu mungkin kalian merasa ngga nyaman, but i’ts ok.

Kalau kata salah satu band favorit aku, namanya The Night Game di lagunya yang berjudul Die a Little:

“What killed me yesterday
Baby, it's still a part of me
I had to die a little,
to learn to survive a little”

Maksud dari lirik tersebut adalah, segala macam hal-hal ngga menyenangkan yang pernah kita alami–baik itu emosi negatif, trauma masa lalu, kesalahan yang pernah kalian perbuat, kegagalan, dan lain sebagainya itu tetap menjadi bagian dari diri kalian. Karena, kalau hal tersebut ngga terjadi, kalian mungkin ngga akan pernah menjadi kalian yang seperti sekarang ini.

Jadi, kalau kalian mau survive, kalau kalian mau menjadi pribadi yang lebih mature, pasti akan ada masa di mana kalian harus “die a little” dulu. Dalam konteks ini, “die a little” tersebut adalah proses untuk berkenalan dan memahami shadow-self kalian sendiri.

Perlu diingat bahwa kedua cara di atas hanyalah cara yang paling sering aku gunakan. Kalau kalian ada preferensi cara lain yang lebih cocok, boleh banget kok untuk dicoba.

Selain itu, kalian juga bisa mendaftar konsultasi bersama mentor Satu Persen jika dirasa memerlukan bantuan tenaga profesional untuk mengatasi masalah yang sedang kalian alami.

Konseling merupakan layanan konsultasi one-on-one dengan Psikolog Satu Persen untuk mengatasi masalah kehidupan yang menggangu kehidupan sehari-hari dan membahayakan dirumu atau orang lain.

Semoga kalian ngga pusing ya baca tulisan aku kali ini karena memang topiknya agak berat dan lumayan banyak. Aku harap, sedikit tulisan yang aku bagikan ini bisa membantu kalian dalam proses untuk mengenali dan mencintai diri sendiri sehingga nantinya akan lebih mudah bagi kalian menuju #HidupSeutuhnya.

Kamu bisa mendapatkan informasi menarik lainnya tentang kesehatan mental dan self development di channel YouTube Satu Persen dan jangan lupa informasi menarik lainnya yang bisa kamu dapatkan di Instagram, Podcast, dan blog Satu Persen ini tentunya.

Jika tertarik, kalian juga bisa membagikan cerita dengan teman-teman di Satu Persen. Karena siapa tahu dari sepenggal cerita yang kalian bagikan tersebut bisa menjadi inspirasi bagi orang banyak.

Sekian dari aku, semoga artikel ini bisa membuat kamu berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap harinya!

Selamat menjalani aktivitas ya! Stay healthy, stay safe & stay sane!

Referensi:

Cherry, Kendra. 2020. “The 4 Major Jungian Archetypes.” Verywell Mind. Diakses 3 Desember 2020. https://www.verywellmind.com/what-are-jungs-4-major-archetypes-2795439.

Jacobson, Sheri. 2017. “Your ‘Shadow’ Self – What It Is, And How It Can Help You.” Harley Therapy. Diakses 3 Desember 2020. https://www.harleytherapy.co.uk/counselling/shadow-self.htm

Jeffrey, Scott. t.t. “A Definitive Guide to Jungian Shadow Work: How to Get to Know and Integrate Your Dark Side”. CEOsage. Diakses 3 desember 2020. https://scottjeffrey.com/shadow-work/#Ignore_the_Shadow_At_Your_Own_Peril

Jeffrey, Scott. t.t. “Reclaim Your Real Magic by Using this Advanced Psychological Method”. CEOsage. Diakses 3 Desember 2020. https://scottjeffrey.com/psychological-projection/

Lindberg, Sara. 2018. “It’s Not Me, It’s You: Projection Explained in Human Terms”. Healthline. Diakses 3 Desember 2020. https://www.healthline.com/health/projection-psychology

Stead, Harry J. 2019. “4 Carl Jung Theories Explained: Persona, Shadow, Anima/Animus, The Self.” Medium. Diakses 3 Desember 2020. https://medium.com/personal-growth/4-carl-jung-theories-explained-persona-shadow-anima-animus-the-self-4ab6df8f7971

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.