Kenapa Gen Z Disebut Generasi Paling Banyak Cobaan dalam Sejarah Indonesia?

Calvin Tjandra
15 Jul 2026
Sandwich generation dalam mengatur keuangan.

Namanya Raka. 24 tahun, fresh graduate, kerja di perusahaan mid-size Jakarta. Gajinya Rp5 juta dan tiap bulan dia nyisihin Rp500 ribu buat nabung. Disiplin, konsisten. Tapi di bulan keempat, orang tuanya butuh biaya berobat. Bulan keenam, adiknya perlu uang SPP. Di akhir tahun pertama kerja, saldo Raka sama persis kayak awal tahun.

Realita dalam mengatur keuangan.

Di kantor sebelah ada Bimo. Umurnya sama, gajinya sama, jam kerjanya sama kadang malah Bimo yang pulang lebih malam. Bedanya cuma satu: Bimo nggak punya tanggungan keluarga. Setahun kemudian, saldo Bimo udah cukup buat DP motor dan dana darurat. Saldo Raka? Masih di angka yang sama.

Apakah Raka kurang kerja keras? Belum tentu. Selama bertahun-tahun, narasi "siapa yang kerja keras pasti sukses" dipakai sebagai default penjelasan. Tapi di 2026, Gen Z Indonesia lagi ngalamin sesuatu yang sensitif buat dibilang terang-terangan: ada dua orang yang kerja sama kerasnya, hasilnya beda jauh dan selisihnya bukan dari effort, tapi dari start point.

Ini bukan nyalahin siapa pun. Ini cuma naming the gap yang selama ini dirasakan tapi jarang ada yang berani bilang.

Tiga Beban yang Bikin Start Point Gen Z Beda

Beban pertama: Perbedaan definisi sukses.

Mulai dari yang struktural dulu.

Boomer masuk angkatan kerja di era Orde Baru. Ekonomi tumbuh rata-rata 7% per tahun, dan rasio harga rumah ke gaji tahunan masih sekitar 1–5 kali aja. Beli rumah nggak perlu nyicil puluhan tahun. Millennial masuk kerja di era commodity boom 2000-an, pertumbuhan ekonomi di atas 6%, harga rumah sekitar 5–10x gaji tahunan lebih mahal, tapi masih kebeli pakai KPR 20 tahun.

Sekarang giliran Gen Z hidup dewasa. Pertumbuhan ekonomi stagnan di 5%, sektor informal 59,4% dari total angkatan kerja, pengangguran Gen Z sekitar 16%, dan rasio harga rumah di Jakarta udah menyentuh 13–20 kali gaji tahunan. Artinya, kalau Gen Z mau beli rumah, dia harus nabung seluruh gajinya selama 20 tahun tanpa makan, minum, atau ngekos, baru kebeli.

Tapi angka itu baru separuh cerita. Yang lebih dalam: ini pertama kalinya dalam sejarah modern Indonesia, sebuah generasi secara kolektif menerima bahwa rumah sendiri mungkin nggak akan pernah dimiliki seumur hidup. Generasi sebelumnya punya roadmap yang jelas: kerja → nabung → KPR → rumah → pensiun. Gen Z lihat roadmap itu, hitung angkanya, dan tahu itu udah nggak realistis. Bukan hanya data ekonomi, ini juga menjadi pergeseran identitas generasi, generasi pertama yang harus merevisi definisi "sukses".

Beban kedua: Terlalu cepat jadi sandwich generation.

Survei Pinhome–YouGov Oktober 2024 nunjukin 26% Gen Z udah jadi sandwich generation nanggung kebutuhan rumah tangga orang lain sebelum sempat bangun aset buat diri sendiri. Persis kayak Raka. Raka sandwich gen, Bimo enggak. Effort sama, start point beda.

Di sinilah riset Sendhil Mullainathan (Harvard) dan Eldar Shafir (Princeton) masuk. Di buku Scarcity (2013), mereka nemuin bahwa kondisi kekurangan resource itu literally memakan bandwidth kognitif, efeknya setara kehilangan 13 poin IQ. Jadi kalau Raka susah mikir jernih soal keuangan jangka panjang, itu bukan karena dia bodoh. Otaknya lagi dipajak habis-habisan sama tekanan jangka pendek yang Bimo nggak kena.

Beban ketiga: AI yang makin berkembang.

Ini beban paling baru. Dua tahun lalu belum ada di radar Gen Z Indonesia. PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 (50.000 pekerja global, termasuk 812 responden Indonesia) nemuin pola menarik: 96% pengguna harian GenAI di Indonesia ngelaporin produktivitas naik, 82% ngerasa lebih aman di kerjaannya, dan 72% bahkan ngalamin kenaikan gaji.

Tapi survei yang sama juga nunjukin: hampir sepertiga pekerja entry-level khawatir dampak AI ke masa depan kerjaan mereka. Gen Z yang baru susah payah masuk dunia kerja sekarang harus ngadepin kemungkinan pekerjaan entry-level yang mereka incar justru paling cepet tergeser AI. Double jeopardy: susah masuk, setelah masuk pun nggak aman.

Jadi tiga beban struktural Gen Z: privilege gap dari start point, rumah yang jadi impossible dream, dan AI yang semakin berkembang. Kalau game-nya emang dirancang lebih berat, kerja keras aja nggak cukup. Strategi mainnya yang harus beda.

Gen Z Bukan Malas, Mereka Lagi Milih "Soft Life"

Gen Z malas atau soft life?

Ada narasi yang beredar: Gen Z malas, manja, nggak mau kerja keras kayak generasi sebelumnya. Narasi itu perlu di-challenge.

Yang sebenarnya terjadi di Gen Z Indonesia 2025–2026 bukan quiet quitting, bukan hustle culture, bukan juga menyerah. Yang terjadi adalah gerakan yang aktif dan disengaja, “soft life”. Soft life adalah pilihan sadar buat nolak stres berlebihan dan ngejar quality of life yang lebih tinggi tapi tetep produktif dan penghasilannya jalan. Di TikTok dan X, mereka secara eksplisit bilang: "I don't want a big life, I want a calm life."

Ini penting dimengerti: Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh di always-on culture, kayak notifikasi, overstimulation, performative productivity 24/7. Soft life itu pemberontakan terhadap itu. Bukan kemalasan, tapi strategi regulasi diri.

Sambungin ke sains. Mark Seery, psikolog dari University at Buffalo, publish paper di Journal of Personality and Social Psychology (2010). Dia nge-track lebih dari 2.000 orang dan nemuin hal counter-intuitive: orang yang paling sejahtera secara psikologis bukan yang nggak pernah kena masalah, tapi yang pernah ngalamin adversity dalam dosis moderat dan survive dengan sense of agency. Seery nyebut ini steeling effect, kayak baja yang harus ditempa di suhu tinggi dulu baru jadi kuat.

Kuncinya di sense of agency. Adversity + agency = steeled. Adversity tanpa agency = broken. Itulah kenapa soft life bukan bentuk nyerah. Soft life adalah bentuk agency paling rasional yang bisa diambil Gen Z: "Gue nggak bisa kontrol harga rumah, struktur ekonomi, atau AI. Tapi gue bisa kontrol seberapa banyak stres yang gue ambil tiap hari, dan ke mana gue arahin energi gue." Ini bukan kalah ini pick your battles dengan dukungan ilmiah.

Playbook Keuangan Gen Z, Sesuai Situasi Lo

Tahun 2014, Johannes Haushofer (Princeton) dan Ernst Fehr (University of Zurich) publish paper di jurnal Science berjudul "On the Psychology of Poverty." Temuannya: stres finansial berkepanjangan ngubah level kortisol di otak, dan kortisol tinggi secara kronis bikin otak default ke keputusan jangka pendek. Lo jadi lebih impulsif, bukan karena karakter lo jelek, tapi karena hormon stres lagi ngacak-ngacak prefrontal cortex lo.

Counter-nya? Bikin sistem otomatis supaya lo nggak perlu ngandelin willpower tiap hari. Willpower lo udah habis dipakai buat survive, jangan tambahin beban keputusan, kurangin. Berikut tiga skenario.

1. Sandwich Generation (kayak Raka).

Income lo nutupin lebih dari satu rumah tangga. Prioritas: set boundaries finansial ke keluarga, ini soal sustainability, karena kalau lo burnout dan bangkrut, lo nggak bisa bantu siapa pun. Cari income stream tambahan, sekecil apa pun. Soal investasi, micro-investing rutin dari nominal kecil ngalahin rencana besar yang nggak pernah jalan: Rp50.000 per minggu yang konsisten selama 5 tahun jauh lebih bernilai dari niat investasi Rp10 juta yang nggak pernah kesampaian. Buat ini Mimin pribadi pakai Pluang, karena bisa mulai dari nominal kecil dan nggak kena trading fee, jadi lo nggak perlu nunggu "punya uang lebih" dulu buat mulai.

2. Fresh Graduate di Era AI.

Bagian paling kena AI displacement, tapi paling gampang di-flip jadi keunggulan. Data PwC tadi jelas: yang aktif pakai AI jadi lebih aman, lebih produktif, lebih tinggi gajinya. Prioritas skill lo bukan jadi "lebih kerja keras", tapi jadi AI-leveraged: kuasai satu stack AI yang langsung kepake di kerjaan kayak prompt engineering, automation, atau AI-powered research, dan jadiin itu bagian standar workflow lo. Soal duit: alokasi gaji ke tiga bucket (kebutuhan, dana darurat, investasi), dan pastikan ada porsi yang masuk investasi sebelum lo belanja sisanya. Buat entry point yang low-risk, emas digital atau ETF jadi langkah paling masuk akal berdasarkan data World Gold Council, sepanjang 2025 emas naik sekitar 60%. Dan di Pluang lo bisa mulai dari Rp10.000, jadi nggak ada lagi alasan "belum cukup modal."

3. PHK atau Career Transition.

Momen paling rentan. Prioritas: jangan panik jual aset, orang jual aset di harga rendah karena panik, dan itu timing paling buruk. Audit skill mana yang bisa di-monetize paling cepat, identifikasi mana yang perlu di-upgrade dengan AI, dan bikin struktur rutinitas yang jelas, ketidakpastian tanpa struktur nguras energi lebih dari yang lo kira.

Yang nyambungin ketiga skenario ini: filosofi soft life. Automate, simplify, protect energy. Bukan grind harder, tapi grind smarter.

Catatan: ini bukan saran investasi personal. Instrumen kayak emas digital atau ETF punya risiko masing-masing, dan kondisi tiap orang beda. Pelajari dulu dan sesuaikan sama profil risiko serta tujuan keuangan lo sendiri.

Jadi, Gen Z Generasi Paling Kasian?

Balik lagi ke Raka dan Bimo. Yang ngebedain Raka yang jalan di tempat versus Raka yang mulai bergerak bukan siapa yang lebih kerja keras, tapi siapa yang berani ngakuin bahwa start point-nya emang beda, lalu bikin strategi yang sesuai realita, bukan strategi warisan generasi sebelumnya.

Gen Z bukan generasi paling kasian dalam sejarah Indonesia. Gen Z adalah generasi pertama yang berani naming the gap yang selama ini dirasakan tapi nggak pernah dibilang terang-terangan. Generasi pertama yang harus merevisi tujuan hidup yang dianggap paling basic oleh generasi sebelumnya. Dan generasi pertama yang punya tools buat respons beda: soft life, AI leverage, micro-investing otomatis, dan akses ke aset yang dulu cuma bisa dimiliki orang kaya.

Aplikasi investasi dan trading ke berbagai jenis aset sekaligus.

Dan langkah paling kecil yang bisa lo ambil hari ini bukan nunggu gaji naik atau harga rumah turun, tapi mulai bangun aset dari sekarang, sekecil apa pun. Lo bisa mulai micro-investing atau beli emas digital di Pluang cuma dari Rp10.000, tanpa trading fee, langsung dari HP. Daripada willpower lo habis kepikiran terus, biar sistemnya yang jalan otomatis.

Coba aplikasi Pluang sekarang dengan kode promo SATUPERSEN

Dan kalau lo mau tau lo lagi di fase yang mana dan aspek hidup mana yang perlu diprioritasin sekarang, cek Kurikulum Satu Persen.

Konten ini bertujuan untuk edukasi dan bukan ajakan atau rekomendasi menjual/beli aset tertentu.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


FAQ

Apakah Gen Z benar-benar generasi paling kasian di Indonesia?

Secara struktural, Gen Z menghadapi tiga beban sekaligus: harga rumah yang nggak terjangkau, beban sandwich generation, dan ancaman AI displacement. Tapi mereka juga generasi pertama yang punya tools dan kesadaran buat merespons beda, jadi "paling kasian" kurang tepat dibanding "paling sadar".

Kenapa Gen Z susah beli rumah?

Rasio harga rumah terhadap gaji tahunan di Jakarta sudah mencapai 13–20 kali, dibanding 1–5 kali di era Boomer. Pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan tingginya sektor informal memperberat situasi.

Apa itu soft life dan kenapa Gen Z memilihnya?

Soft life adalah pilihan sadar untuk menolak stres berlebihan demi kualitas hidup yang lebih baik, tanpa berhenti produktif. Buat Gen Z, ini strategi regulasi diri yang rasional, bukan kemalasan.

Bagaimana cara Gen Z mulai investasi dengan modal kecil?

Kuncinya konsisten, bukan besar. Micro-investing rutin, misalnya Rp50.000 per minggu jauh lebih efektif daripada nunggu "punya uang lebih". Aplikasi seperti Pluang memungkinkan lo mulai dari Rp10.000 tanpa trading fee, jadi modal kecil bukan lagi alasan untuk nggak mulai.

Apakah emas digital atau ETF cocok untuk pemula?

Untuk entry point yang relatif low-risk, emas digital dan ETF jadi pilihan masuk akal buat pemula. Sepanjang 2025, harga emas naik sekitar 60% menurut World Gold Council. Tetap pelajari dulu dan sesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan lo sendiri.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.