Fase Quarter Life Crisis Dijadikan Alasan untuk Minder?

Rubrik Kata
Chastin Marla Devi
5 Apr 2021
Gambar Satu Persen - Fase Quarter Life Crisis dijadikan alasan untuk Minder?
Gambar Satu Persen - Fase Quarter Life Crisis dijadikan alasan untuk Minder?

Hai guys! Kenalin, namaku Chastin sebagai Blog contributor dari Satu Persen.

Dan aku…… lagi ngalamin yang namanya Quarter Life Crisis

Kalian pasti sering denger kan sama istilah yang satu itu. Yap! Istilah ini udah sering muncul di banyak platform kayak instagram, spotify, twitter, bahkan brand produk. Tapi, kalian sendiri tau nggak sih arti dari Quarter Life Crisis?

Apa kalian bisa ngehubungin Quarter Life Crisis sama kejadian yang sering terjadi di era sekarang? Khususnya di era pandemi, di mana semua aktivitas orang-orang segampang itu bisa diliat di sosmed.

Asli deh, kalo udah paham banget definisi sama gejalanya, bisa aja dengan mudah kalian bilang kalo kalian lagi ada di fase krisis ini. Ya…. soalnya, aku juga gitu sih.

Sekarang umurku 21 tahun, dan ngerasa kok hidup gini-gini aja ya? Sering banget cemas dan minder kalo udah liat pencapaian orang lain, apalagi orang yang seumuran.

“Mereka kok bisa begitu ya?’’

“Kok aku gak berkembang?’’

“Udah jadi mahasiswa semester akhir, tapi kok pengalaman sama skill masih sedikit banget ya?’’

“Kok daftar magang dan volunteer sana sini gak keterima?’’

Kalo kayak gini terus, gimana nanti cari kerja pas udah fresh graduate?

Masih banyak spekulasi yang setiap hari muncul di otak aku tanpa diinterupsi. Sebenernya, kecemasan takut nggak bakal sukses di masa depan nggak bakal terus muncul kalo aku nge-banned sosial media. Ya…. biar ga sering bandingin diri sama orang lain aja.

Tapi, apa bisa di zaman sekarang hidup tanpa internet dan social media?

Gambar life plan hadapi quarter life crisis
Gambar life plan hadapi quarter life crisis

Sering ngerasa cemas sama masa depan di umur 20an ini sering disebut dengan fase Quarter Life Crisis, periode dimana seseorang mencari jati diri sesungguhnya. Biasanya, krisis ini ditandai dengan munculnya kebingungan serta kebimbangan akan kehidupan. Salah satunya disebabkan oleh banyaknya pilihan hidup yang harus dipilih.

Quarter Life Crisis dinilai berdampak pada 86% kaum milenial yang sering merasa nggak nyaman, kesepian, serta depresi dalam hidupnya. Tetapi, fase ini wajar dialami dan menjadi kesempatan seseorang untuk belajar.

Baca Juga: Apa Itu Quarter Life Crisis? Bagaimana Cara Kamu Menghadapinya?

Makin banyak anak muda yang mengalami Quarter Life Crisis, semakin banyak pula anak muda yang berusaha keluar dari zona nyaman dan akhirnya menoreh berbagai prestasi. Hal ini mereka lakuin sebagai bukti dan proses pembelajaran biar nggak ngerasa kalah dan terkekang sama harapan karir di masa depan.

Tapi, banyak pula yang memanfaatkan Quarter Life Crisis ini sebagai wadah buat merasa minder dan nggak pede. Orang-orang yang ngelakuin hal ini cenderung belum siap sama fase dewasa yang bakal dihadapi, nganggep keberhasilan orang lain sebagai bencana, dan salah ngartiin Quarter Life Crisis sebagai fase untuk ”Nggak apa apa jika nggak berkembang, toh masih belajar, masih dalam proses”. Orang yang kayak gitu biasanya jadiin Quarter Life Crisis sebagai alasan untuk minder.

Artikel ini cocok banget buat kamu yang sedang mengalami galau dan dilema akan kemampuan diri sendiri.

Simak terus artikelnya ya!

Tanda Orang mengalami Quarter Life Crisis

1. People think of their 20s as a competition

Sering ngerasa cemas, kekurangan, dan panik sama apa yang orang lain raih. Contohnya, kalo ada temen seangkatan kalian yang karirnya lebih sukses dan kalian ngerasa tertekan, berarti kalian nganggep kalo keberhasilan orang lain merupakan kompetisi dan kalian merasa harus lebih baik atau setara sama dia.

Kalo kalian mikirnya gini terus, kalian bakal bikin diri sendiri ngerasa kurang dan insecure. Padahal apa yang sedang kalian jalani saat ini belum tentu jauh lebih buruk dari orang lain dan nggak bermanfaat sama sekali.

2. Ngerasa selalu salah ambil langkah

Sering ngebandingin diri sendiri sama orang lain adalah akar dari permasalahan yang satu ini. Kalo kita terus terusan ngeliat kesuksesan orang lain tanpa melihat potensi dari diri sendiri, kita bakal terus stuck karena itu…. Lagi-lagi ngerasa kurang hebat. Padahal, starting point hidup orang kan beda beda ya….

Alhasil, kalo keberhasilan orang lain dijadiin patokan buat kita berkembang, ya nggak bakal bisa… Kita bakal terus ngerasa salah ambil langkah.

Toh, diri kita dan diri orang lain itu berbeda…. Dan setiap manusia punya caranya sendiri untuk sukses, walaupun harus dimulai dari nol.

3. Mulai ngerasain yang namanya dilema percintaan

Bukan cuma masalah karir, tapi masalah percintaan juga jadi beban pikiran banget ”Gimana ya aku di masa depan?”. Kekhawatiran tentang pasangan ini biasa dipicu sama keinginan ‘Pengennya tuh happy aja sehabis nikah’.

Nah… pikiran yang kayak gitu bisa nimbulin pertanyaan di otak kayak ”Lebih baik sukses dulu atau menikah dulu?”

Karena menurutku nih ya, bahagianya kita nanti tuh juga ada hubungannya sama pasangan yang suportif dan financially stable. Ya… nggak jarang sih, banyak anak usia 20 sering putus-nyambung karena ngerasa nggak cocok.

That sounds simple but a difficult problem.

Tenang aja, yang penting kamu harus selalu inget :

“Ngerasa gagal dan kalah dalam fase ini pasti ada, tapi jangan dijadiin alasan buat  minder’’

Soalnya menurutku nih, kalo minder tanpa ada usaha buat bangkit setelahnya, kamu bakal susah buat berkembang. Percuma banget, udah ngalamin krisis tapi nggak ada pelajaran yang dipetik dari pengalaman itu.

Minder adalah perasaan saat kamu nggak yakin akan kemampuanmu. Kamu secara nggak sadar menganggap dirimu nggak akan cukup untuk mencapai suatu target tertentu.

“Aku nggak akan bisa jadi lebih baik dari ini, yaudahlah”

“Aku nggak punya kemampuan dan nggak bisa apa-apa”

Gambar ubah quarter life crisis
Gambar ubah quarter life crisis

Cara mengatasi minder di fase krisis

Menerima perasaan dan menyangkal pikiran negatif

Ngerasa minder itu wajar kok. Semua orang yang kamu anggap keren itu juga pernah ngerasa minder di hidupnya.

Belajar nerima perasaan minder yang kamu rasain dari waktu ke waktu adalah bagian dari prosesmu buat memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Menghargai dan menerima pencapaian diri

Coba deh, lihat prestasi yang udah kamu raih dan terus kembangkan, dengan begitu kamu bakal lebih percaya diri dalam mengeksplor bakat serta diri kamu. Hal ini bisa jadi tombak awal buat kamu nyusun jenjang karir kedepannya, lho! Karena kamu udah tau apa yang kamu suka dan apa speciality yang kamu punya.

Baca Juga: Cara Mengatasi Rasa Minder (Tips Buat Kamu yang Suka Minder)

Fokus sama apa yang dikerjain sekarang, jangan malu buat belajar dan bertanya hal baru.

Karena sebenernya, potensi dalam diri setiap manusia itu besar, tinggal bagaimana manusia itu mengatur dan menyikapinya.

Sekali lagi gapapa kok untuk bodo amat sama omongan orang lain, yang penting kalian bisa terus maju.

Tonton Juga: Tips untuk kamu bodo amat

YouTube Satu Persen - Tidak Semua Harus Kamu Pedulikan

Menurut Atwood dan Scholtz (2008) fase Quarter Life Crisis yang ngejadiin seseorang jadi minder disebut dengan fase state of anomie, di mana orang-orang yang beranjak dewasa ngerasa nggak punya “peta” atau arahan yang jelas buat nentuin sikap mereka. Sehingga nimbulin kebingungan dalam hidup mereka.

Saran dari aku, manfaatin fase ini buat bikin “peta” tersendiri versi dirimu. Soalnya, aku juga begitu. Masa Quarter Life Crisis emang susah buat dihadapin, akhirnya aku bikin “peta” versi diriku biar hidupku lebih terarah dan nggak keluar jalur, seperti :

  1. Bikin 50 mimpi di karton besar yang ingin aku capai, hal ini memudahkanku dalam mengambil keputusan juga organisasi apa yang aku pilih.
  2. Nulis to do list dalam jurnal keseharian, sehingga kegiatan yang aku lakuin lebih terkontrol.
  3. Ngerancang life plan dan mewujudkannya.Minimal satu gerakan satu hari. Contoh, dalam 50 mimpi aku nulis pengen punya skor TOEFL 600, maka hal kecil yang aku lakukan tiap hari minimal mengerjakan beberapa latihan reading dan listening.

Karena suatu mimpi yang besar tentu nggak mudah digapai, perlu adanya proses dan movement kecil yang dilakukan.

Kalo kamu memaknai suatu kegagalan sebagai proses untuk pembelajaran dan keep the positive energy, maka kamu bakal lebih mudah ngelewatin masa krisis dalam hidup.

Namun, kalo kamu memaknai suatu kegagalan sebagai suatu kekurangan dan alasan buat tetap minder, maka sulit buat kamu untuk berkembang. tentu dalam posisi ini kamu juga enggan buat keluar dari zona nyaman.

Buatlah suatu kekurangan menjadi kelebihan.

Buat kalian yang sulit nerima keadaan dan ngerasa apa yang dijalanin sekarang nggak sesuai passion, coba dengerin Podcast dari Satu Persen ini ya!

Dengar Juga: Tujuan Hidup yang Tersesat

Jadi, daripada ngejalanin hidup di bawah ekspektasi orang lain, lebih baik pelan-pelan belajar suatu hal yang baru. Gapapa kok, kalau belum tau diri kamu maunya apa, dibidang apa, dan sukanya sama apa. That’s the process of living. kalo kamu kesusahan sama masalah yang menimpa setiap hari, nggak ada salahnya buat dibagi dan cerita sama seseorang. Contohnya, kamu bisa konsultasiin masalahmu di Satu Persen.


Selain itu, kalian juga bisa ikut Tes online Satu Persen , gratis lho!

Banyak problema dalam hidup, tentu banyak pula cara buat mengatasi segala problema tersebut. Jangan takut buat ambil langkah, apalagi terus-terusan minder padahal potensi dalam diri sendiri banyak yang bisa dikembangin.

Tetap semangat ya! Hidup nggak terus berjalan pada fase Quarter Life Crisis. Kehidupan masih panjang, dan masa depan yang cerah lagi nunggu kalian. Yang penting, gak perlu takut buat konseling ya! ^^

#MentalHealthRangerSatuPersen

Regards,

Chastin Marla

CTA-Konsultasi--1--1

References :

Atwood, J. D., & Scholtz, C. (2008). The Quarter-life Time Period: An Age of Indulgence, Crisis or Both? Contemporary Family Therapy, 30(4), 233–250. doi:10.1007/s10591-008-9066-2

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.