
Halo Perseners!
Selama ini pernah tidak kamu merasa ada orang lain yang terlalu terlibat dalam hidupmu? Kamu merasa mereka sudah terlalu mencampuri urusan pribadi kamu sampai lewat batas. Dan terkadang kamu membiarkan itu terjadi karena merasa seseorang tersebut berhak akan itu.
Semisalnya pada keluarga yang tinggal setiap hari dengan kamu, pasangan yang selalu bertukar cerita dengan kamu, atau sahabat kamu yang sudah saling mengenal berpuluh-puluh tahun lamanya.
Bagimu mereka mengenal kamu dengan baik, bahkan kamu merasa mereka lebih mengenal dirimu dibandingkan diri kamu sendiri.
Lantas dengan pemikiran tersebut, membuat kamu merasa bergantung dengan mereka. Setiap mengambil keputusan contohnya, kamu seolah-olah seperti membutuhkan campur tangan dari mereka.
Tidak hanya dalam mengambil keputusan, kamu pun takut untuk memberikan batasan antara dirimu dan mereka. Kamu merasa seperti menjadi egois, tidak berperasaan, seorang penyendiri atau berpikir kamu akan kehilangan kesempatan untuk menjalin hubungan yang intim jika memberikan batasan pada mereka yang sudah mengenal dirimu dengan baik.
Padahal tidak seperti itu nyatanya. Setiap dari kita berhak memiliki batasan untuk diri kita sendiri. Batasan ini bisa diartikan sebagai privasi, ruang, atau jarak antara kamu dan mereka. Kamu harus selalu ingat jika tidak ada yang memahami dirimu sebaik dirimu sendiri. Tubuhmu, pikiranmu selalu bersama kamu sepanjang hidupmu.
Kamu berhak untuk menolak jika ada seseorang yang terlalu mencampuri urusanmu, bahkan kamu berhak untuk menolak seseorang yang ingin membantumu.
Semisalnya, kamu berhak untuk meminta keluargamu untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar. Atau kamu berhak untuk meminta pasanganmu, untuk tidak terlalu bertindak seenaknya pada dirimu seperti perlakuan yang berlebihan.

Keberanian untuk memberikan batasan, ruang, jarak antara kamu dan mereka disebut sebagai personal boundaries.
Membentuk personal boundaries akan memberikan kesejahteraan dan kesehatan mental bagi kamu. Jika kamu tidak memiliki personal boundaries antara kamu dan mereka, kamu seperti membiarkan pintu rumahmu tidak terkunci. Orang lain akan masuk ke rumahmu seenaknya, dan mungkin melakukan hal yang tidak pantas, seperti mengambil barangmu.
Kita harus tau kapan menutup dan kapan membuka pintu. Seperti kita mengetahui kapan seseorang sudah melampaui batasan atau tidak.
Nah, Satu Persen sebagai salah satu platform yang berperan dalam kesehatan mental berupaya untuk mengajak kita sama-sama belajar. Bagaimana untuk hidup lebih baik, bagaimana untuk berkembang dan memberikan solusi yang bermanfaat untuk orang banyak.
Dengan salah satu tulisan ini aku bakal mengajak kamu untuk belajar mengenai seperti apa membentuk batasan yang sesuai dan sehat, yang nantinya bisa kamu terapkan dalam hidupmu. Mulai dari menerapkan batasan dari orang terdekatmu seperti keluarga, pasangan, sahabat sampai orang-orang yang hanya bertemu sekilas seperti rekan kerja, atau guru.
Apa itu Personal boundaries?
Apakah kamu sudah pernah mendengar istilah personal boundaries?
Personal boundaries atau batasan diri merupakan sebuah batasan, pedoman atau aturan yang dibuat seseorang dalam mengidentifikasikan cara yang masuk akal, aman, dan diperbolehkan bagi orang lain untuk berperilaku terhadap mereka dan bagaimana mereka akan merespons ketika seseorang melewati batasan tersebut.
Umumnya, personal boundaries diartikan sebagai bentuk batasan seseorang untuk menolak, dan berani mengatakan suka atau tidak suka. Yang berarti kita berani untuk menunjukan yang menurut kita dapat diterima dan tidak dapat diterima.
Kemampuan mengetahui personal boundaries merupakan bentuk pandangan yang sehat. Dengan menetapkan personal boundaries kita peduli terhadap diri kita sendiri. Namun, personal boundaries ada yang sehat dan ada yang buruk, dan tentunya kita harus membentuknya secara sehat.
Personal boundaries tidak hanya dalam bentuk emosional, tetapi bisa dalam bentuk fisik, mental, psikologis dan spiritual, keyakinan, intuisi dan harga diri yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita.
Bentuk Personal Boundaries
- Material boundaries. Materi bisa berupa uang, mobil, pakaian, atau buku. Dengan batasan diri kamu bisa menentukan untuk memberi atau meminjamkan barang-barangmu kepada orang lain.
Misalnya kamu menolak untuk meminjamkan baju kamu kepada saudara, walaupun kamu dengan saudara sudah lama saling mengenal.
- Physical boundaries. Berkaitan dengan ruang pribadi, privasi, dan tubuh kamu. Kamu dapat menentukan apakah seseorang boleh menyentuhmu atau tidak seperti berpegangan tangan atau berpelukan.
- Mental boundaries. Jika sudah berkaitan dengan mental pasti berlaku untuk pikiran, nilai, dan pendapat pribadi kamu.
Kamu bisa bertanya pada diri sendiri, apakah kamu memahami apa yang kamu pikirkan? Dan apakah kamu terbuka akan pendapat orang lain? Jika tidak mungkin batasan emosional kamu belum cukup baik.
- Emotional boundaries. Ini yang paling sering terjadi, antara membedakan emosi dan tanggung jawab kamu dengan orang lain. Dengan batasan yang sehat mencegah kita untuk memberikan nasihat, menyalahkan orang lain atau sebaliknya kita menerima jika disalahkan orang lain.
Misalnya, kamu berhak mengatakan yang sebenarnya jika orang lain menganggap enteng kamu, seperti menyalahkan kamu.
- Sexual boundaries. Menjaga tingkat kenyamanan kamu dengan sentuhan dan aktivitas seksual. Dalam hal ini kamu memiliki hak untuk memilih di mana, kapan, dan dengan siapa untuk melakukannya.
- Spiritual boundaries. Berhubungan dengan keyakinan dan pengalaman kamu dengan tuhan atau spiritual lainnya.
Itu adalah bentuk-bentuk dari personal boundaries yang mungkin sering dijumpai di keseharian kita. Personal boundaries tidak hanya mementingkan bagaimana kamu untuk membentuk batasan, namun personal boundaries yang sehat terbentuk dengan kedua belah pihak yang saling menghargai. Kamu punya hak akan dirimu dan orang lain juga sama seperti itu.
Kenapa kita perlu personal boundaries?
Personal boundaries turut berpengaruh besar terhadap kesejahteraan mental dan termasuk bentuk self-care. Personal boundaries yang sehat mampu untuk membangun identitas diri kamu. Personal boundaries bisa membantu kamu dalam mendefinisikan individualitas dan membantu kamu menunjukan apa yang akan dan tidak akan kamu pertanggung jawabkan, seperti memberi petunjuk apa yang menjadi hak kamu dan mana yang bukan.
Menetapkan personal boundaries yang sehat juga membantu kamu untuk membuat keputusanmu sendiri. Kamu berusaha untuk berpikir mengenai pilihan terbaikmu dengan mendengarkan pendapatmu sendiri, ini bisa juga disebut sebagai inner voice. Dengan begitu kamu dapat membuat keputusan berdasarkan apa yang terbaik untukmu, dan apa yang menjadi pilihanmu tanpa campur tangan orang lain.
Terakhir, membentuk personal boundaries kamu dapat membangun kepercayaan baik dengan keluarga, pasangan, sahabat atau rekan kerjamu. Rasa saling percaya akan tumbuh seiring waktu pada masing-masing individu yang menerapkan personal boundaries.
Lantas bagaimana tips untuk membentuk personal boundaries secara sehat?
Tips membentuk personal boundaries
1. Ketahui batasan
Kamu dapat bertanya pada dirimu sendiri dan merenungkannya. “Apa yang membuatmu tidak nyaman?” atau “Apa yang membuatmu tidak setuju?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kamu untuk mengenali dirimu, dan mengetahui apa yang kamu suka dan tidak suka.
Contohnya, aku merasa tidak nyaman ketika rekan kerja saya menanyakan hal yang bersifat pribadi.
2. Bersikap Tegas
Berani untuk menolak hal yang membuatmu tidak nyaman, berani untuk mengatakan tidak. Sikap seperti itu membantu kamu untuk menghentikan seseorang yang sudah terlalu jauh ikut campur dalam kehidupan kamu.
3. Lakukanlah
Semuanya tidak berarti jika tidak dilakukan. Betul terkadang membuat batasan kamu antara mereka apalagi orang-orang terdekat terkesan egois. Namun kita butuh waktu untuk diri kita sendiri, untuk memahami diri kita sendiri. Kamu bisa menerapkan hal ini dari hal kecil dan komunikasi yang baik.
Pemahaman diri tentang mengetahui apa yang membuatmu nyaman dan tidak membantu kamu untuk menghargai dirimu sendiri.
Untuk menerapkannya personal boundaries diperlukan untuk saling menghargai antara kamu dan mereka. Kamu harus saling paham mengenai apa itu personal boundaries, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berakibat kebencian, kemarahan bahkan sampai permusuhan.
“Dalam pekerjaan atau dalam hubungan pribadi kita, batasan yang buruk menyebabkan kebencian, kemarahan, dan kelelahan” (Nelson, 2016)
Misalnya, kamu ingin sekali menyampaikan hal yang mengganggu pada pasanganmu. Namun, pasanganmu tidak paham akan mengenai batasan. Malah pasanganmu menganggap bahwa batasan yang kamu minta merupakan tanda bahwa kamu tidak lagi mencintainya. Diperlukan adanya komunikasi yang baik agar dapat saling memahami dan menghargai masing-masing batasan.
Bagaimana mengkomunikasikannya?
Gunakan kalimat yang sesuai, kalimat seperti “Kamu harus berhenti menggangguku” itu salah dan menimbulkan kesalahpahaman, kamu bisa gunakan kalimat seperti “aku perlu waktu untuk waktuku sendiri”.
Selain, menggunakan kalimat yang baik. Diperlukannya kejelasan, jadi berikan penjelasan yang tepat pada pasanganmu jika dia tidak paham. Dari situ kemungkinan besar, pasanganmu mulai mengerti kepada dirimu.
Kamu bisa tonton di youtube Satu Persen, bagaimana caranya membentuk komunikasi yang baik. Salah satunya adalah tips membentuk komunikasi asertif. Yang tidak hanya bisa kamu gunakan untuk perihal personal boundaries, tapi bisa kamu gunakan untuk keseluruhan hidupmu.
Jika terasa sulit untuk menciptakan bagaimana membentuk personal boundaries. Kamu bisa meminta bantuan kepada seseorang yang profesional. Life Consultation mempunyai layanan yang sangat berguna untuk membantu kamu, yaitu layanan Life Coaching. Sudah puluhan ribu orang yang menggunakan layanan konsultasi bersama life coach profesional dari Life Consultation. Sudah banyak juga testimoni betapa bergunanya layanan life coaching bagi mereka.
Dengan layanan itu kamu bisa bercerita dan dibantu untuk memecahkan masalah yang kamu miliki, salah satunya mengenai personal boundaries. Gak hanya cerita-cerita aja, kamu juga bakal dapat benefit lainnya seperti tes psikologi, worksheet, dan lembar hasil psikotes.
Kamu bisa banget follow Instagram @konsultasi.satupersen untuk info lebih lanjut.
Jangan lupa buat nantikan terus informasi menarik tentang kesehatan mental dan self development dari Satu persen di channel Youtube Satu Persen. Kamu juga bisa cari tahu berbagai layanan menarik lainnya dari Satu Persen di Instagram, Podcast, dan blog Satu Persen ini tentunya.
Sekian dari aku, aku harap dengan membaca artikel ini kamu bisa berkembang menjadi lebih baik menuju #HidupSeutuhnya, setidaknya Satu Persen setiap harinya
Thank you!!!
Referensi
Darlene Lancer, J. M. (2018, october 8). Retrieved from https://psychcentral.com/lib/what-are-personal-boundaries-how-do-i-get-some/
Joaquin Selva, B. P. (2020, october 16). Retrieved from https://positivepsychology.com/great-self-care-setting-healthy-boundaries/
Katherine, A. (2020). Where to Draw the Line: How to Set Healthy Boundaries Every Day. 18 Agustus 2000.
Margarita Tartakovsky, M. (2018, October 8). Retrieved from https://psychcentral.com/lib/10-way-to-build-and-preserve-better-boundaries/