Bahagia dengan Tidak Membandingkan

Rubrik Kata
Satu Persen
23 Feb 2021
bahagia tidak membandingkan
bahagia tidak membandingkan

Halo Perseners! Kenalin aku Alya!

Sudah memasuki bulan kedua di tahun 2021, pandemi di rumah saja membuat kita meluangkan banyak waktu untuk berpikir dan peduli dengan diri sendiri. Salah satunya adalah memikirkan tentang kebahagiaan. Nah menurut kamu apa sih kebahagiaan itu? Lalu apakah kamu sudah mengetahui tentang kebahagiaanmu?

Bahagia memiliki arti yang luas, pada umumnya bahagia merupakan adanya perasaan senang, kenikmatan, dan kepuasan. Bahagia sendiri mempunyai arti yang berbeda-beda untuk setiap orang. Mungkin menurutmu bahagia adalah jika mempunyai banyak uang, lulus ujian, atau makan pisang goreng, namun bagi orang lain bisa aja kebahagiaan adalah saat berkumpul bersama keluarga atau sekedar duduk di teras sambil minum secangkir kopi hangat.

Nah, ada beberapa orang atau mungkin kamu yang sedang membaca ini masih bingung dan mencari arti kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kamu pernah tidak sudah mencapai sesuatu yang diinginkan, namun rasanya masih saja tidak puas dan menginginkan lebih? Bahkan kamu tidak merasa adanya kebahagiaan di sana. Hal ini membuat kamu bertanya-tanya “apa sebenarnya kebahagiaan itu? Kenapa sampai saat ini aku merasa belum benar-benar bahagia?”

Mungkin, salah satu penyebabnya karena adanya perbandingan, seperti membandingkan diri dengan orang lain.

Sudah sewajarnya kita pasti pernah membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi bagi kita yang sedang di masa-masa Quarter Life Crisis, dimana saat itu banyak banget kekhawatiran yang datang. Entah karena tuntutan dari lingkungan atau diri sendiri.

Dikarenakan tuntutan-tuntutan tersebut membuat kita tanpa sadar membanding-bandingkan diri, sehingga membuat kita mempunyai pikiran seperti “coba gue sukses kayak dia, gue pasti bahagia” atau “kenapa ya teman-teman gue udah berhasil tapi kok gue masih disini-sini aja? Padahal umur kita sama, sekolah kita juga sama” dan pemikiran lain yang bersifat membandingkan dirimu dengan orang lain.

Nah, sebetulnya perbandingan itu baik atau gak sih?

Ada yang bilang perbandingan membantu kita untuk termotivasi menjadi lebih baik, tapi ada juga yang bilang perbandingan itu malah membuat insecure, tidak percaya diri, dan bahkan bisa mengarah ke menyalahkan diri sendiri.

So, di tulisan kali ini aku akan membahas mengenai akibat dari membanding-bandingkan diri dan tips apa saja agar kamu tidak terus-terusan membandingkan diri yang pada akhirnya bisa membuat kamu tidak bahagia.

Seperti yang dikatakan Theodore Roosevelt  bahwa "perbandingan adalah pencuri kegembiraan"

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan aku ingin menceritakan suatu kisah menarik yang kubaca dari buku berjudul Hector and The Search for Happiness. Buku tersebut menceritakan tentang seorang psikiater bernama Hector yang sedang mencari arti kebahagiaan.

bahagia tidak membandingkan
bahagia tidak membandingkan

Di salah satu bagiannya diceritakan bahwa Hector sang psikiater akan pergi mengunjungi negeri Cina menggunakan pesawat terbang. Namun, saat Hector sampai di bandara ada hal yang tidak terduga terjadi, yaitu tempat duduk Hector dipindahkan, yang tadinya berada di kelas ekonomi menjadi kelas bisnis. Tentu Hector merasa senang dan bahagia, karena hal tersebut ia mendapatkan tempat juga pelayanan yang lebih nyaman dibandingkan kelas ekonomi. Siapa coba yang tidak bahagia?

Seperti tujuan awalnya, yaitu mencari arti kebahagiaan, Hector merenungkan arti kebahagiaan yang ia dapatkan saat itu. Hector bertanya-tanya pada dirinya “apakah ia sangat bahagia saat itu?” dan “apakah hal tersebut membuatnya bahagia?

Saat duduk di kursi kelas bisnis, Hector berpikir jika kursi yang ia duduki sama nyamannya dengan kursi yang berada di rumah, namun kenapa kursi yang ia duduki di pesawat kelas bisnis ini lebih terasa membahagiakan dibandingkan kursinya di rumah?

Sambil berpikir Hector melihat orang-orang sekelilingnya dan ia tertegun melihat seseorang yang berada di sampingnya. Orang tersebut duduk dengan raut wajah yang tidak menyenangkan, bisa dibilang raut wajahnya sedang menunjukan bahwa ia tidak suka atau tidak nyaman. Karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya Hector mengajak berbicara orang tersebut dan berkenalan, ternyata orang tersebut bernama Charles.

Di tengah pembicaraan, Hector mengatakan “kursinya sangat nyaman” untuk memancing Charles menjelaskan arti raut wajahnya yang tidak menyenangkan tersebut. Charles langsung aja menjawab pertanyaan Hector dan mengatakan “kursi di kelas utama jauh lebih leluasa dibandingkan ini” dengan jawaban tersebut Hector menjadi mengetahui apa yang membuat Charles memasang raut wajah tidak menyenangkan. Hector pun menyadari bahwa kemungkinan Carles pernah terbang memakai kelas utama (kelas yang lebih baik dan mahal dari kelas bisnis).

Hal tersebut membuat Hector merenung, bayangkan aja Charles dan Hector sama-sama duduk di bangku yang sama, diberikan pelayanan yang sama pula, namun kenapa perasaan mereka berbeda? apakah jika Hector kembali duduk di kelas ekonomi kebahagiaannya akan hilang?

Hector pun mengeluarkan buku catatannya dan menyimpulkan bahwa “membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan”.

Setelah membaca cerita di atas bagaimana pendapatmu?

bahagia tidak membandingkan
bahagia tidak membandingkan

Saat aku membaca cerita tersebut, aku merasa disadarkan bahwa dengan membandingkan-bandingkan membuat kita merasa tidak bahagia.

Nah, salah satu teori yang membahas mengenai perbandingan diri adalah social comparison yang dicetuskan oleh Psikolog Leon Festinger, lebih lengkapnya kamu bisa mampir ke blog Membandingkan Diri: Perilaku Toxic yang Perlu Dihentikan. Dalam teori tersebut dikatakan bahwa perbandingan sosial adalah gagasan bahwa seseorang menentukan nilai sosial dan dirinya berdasarkan bagaimana mereka dibandingkan dengan orang lain.

Hal tersebut menjelaskan bahwa membandingkan diri memang tidak ada salahnya karena pada dasarnya kita sejak lahir sudah secara alami untuk mengevaluasi diri kita sendiri dan orang lain. Di dalam kehidupan kita akan berhadapan dengan orang-orang yang mungkin lebih tinggi dari kita atau sebaliknya, entah itu mengenai kekayaan, kepintaran, atau kesuksesan.

Contohnya, saat  kamu pertama kali memasuki ruang lingkup baru. Di sana mungkin kamu akan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa dan berbeda-beda. Saat itu tentu kamu langsung membandingkan dirimu dengan mereka “wah, mereka keren-keren banget, beda sama aku” tetapi dengan adanya perbandingan tersebut kamu bisa termotivasi untuk terus berkembang, belajar, dan bertumbuh.

Namun, terkadang sebuah perbandingan tidak menghasilkan motivasi pada diri seseorang. Misalnya, perbandingan tersebut terjadi secara terus-menerus dan sudah mengarah ke arah yang negatif, seperti membuatmu insecure, merasa tidak percaya diri, tertekan, dan berakhir pada rasa tidak bahagia. Jika kita sudah merasakan hal-hal yang tidak baik akibat membandingkan diri sudah saatnya untuk diatasi.

bahagia tidak membandingkan
bahagia tidak membandingkan

Jadi bagaimana cara agar tidak membandingkan diri?

Pertama, pertanyakan apa saja yang menjadi pemicu

Jika kamu ingin berhenti untuk terus-terusan membandingkan diri tentunya hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tau apa penyebabnya. Pertanyakan pada dirimu apa yang membuatmu membandingkan diri sehingga membuatmu tidak percaya diri, tertekan, dan insecure. Misalnya, kamu terpicu ketika melihat media sosial orang lain, seperti Linkedin atau Instagram, sehingga kamu membandingkan dirimu.

Kedua, abaikan hal yang tidak seharusnya kamu pikirkan

Setelah mengetahui apa yang menjadi penyebab kamu terus-terusan membandingkan diri, langkah selanjutnya adalah membedakan mana yang seharusnya kamu pikirkan dan abaikan. Beberapa hal yang kita lihat seperti di media sosial terkadang membuat kita terpicu untuk membandingkan diri dengan orang lain, dengan kamu mengabaikannya akan membantu kamu untuk tidak terlalu overthinking dan fokus pada tujuanmu.

Ketiga, melihat kembali apa yang sudah kamu capai

Kita lihat ke belakang sebentar, pikirkan apa saja yang sudah kamu capai sampai saat ini. Terkadang perbandingan membuat kita merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri. Saat kita sibuk membandingkan, kita terlalu fokus pada pencapaian orang lain dibandingkan pencapaian diri kita sendiri.

Jadi, melihat pencapaian akan membantu kamu untuk lebih percaya diri. Melihat pencapaian yang dulu-dulu membuatmu merasa “Wah aku pernah berhasil dan aku pasti bisa”

Keempat, bersyukur

Semuanya tidak berarti tanpa didampingi oleh rasa syukur. Lihatlah Charles, ia tidak bahagia. Seandainya ia menikmati apa yang didapatkannya saat itu dan bersyukur, mungkin ia tidak perlu repot-repot untuk menampilkan raut wajah yang tidak menyenangkan. Jadi, jangan lupa untuk bersyukur ya.

Itu adalah beberapa tips yang bisa kamu gunakan untuk tidak terus-terusan membandingkan diri.

Perlu teman-teman ingat juga, bahwa perbandingan tidak akan pernah selesai dalam perjalanan hidupmu. Akan ada seseorang yang mempunyai kelebihan dibandingkan dirimu dan sebaliknya. Tinggal bagaimana kamu menyikapi perbandingan tersebut. Misalnya, ada beberapa hal yang tidak seharusnya diperbandingkan, seperti membandingkan dirimu dengan orang-orang sukses di luar sana. Terkadang kita lupa jika kesuksesaan yang mereka punya merupakan sebuah hasil dari proses yang mungkin tidak mudah.

Jika kamu bertanya kenapa sih Satu Persen mengangkat topik-topik seperti ini? Mungkin bagi kamu yang sudah sering mendengar youtube atau membaca blog satu persen tahu betul jika Satu Persen mempunyai kekhawatiran akan masyarakat Indonesia yang belum seluruhnya teredukasi mengenai hal-hal, seperti kesehatan mental, self-awareness, self-development, dan lain sebagainya.

Ditambah tidak semua dari kita bisa menghadapi masalah sendirian dan tidak semua dari kita mendapatkan dukungan yang cukup. Jadi untuk membantu masyarakat Indonesia, Satu Persen berperan aktif memberikan layanan yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia melalui layanan konseling, mentoring, ataupun kelas online yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahkan bagi kamu yang berada di luar negeri sekalipun.

Saat kamu merasa sudah sulit untuk menghadapinya sendirian, kamu bisa meminta seorang profesional untuk membantumu. Salah satunya melalui layanan yang ada di Satu Persen, yaitu mentoring. Di sana kamu akan dibantu untuk memecahkan masalah, tidak hanya soal ketidakbahagiaan, tetapi bisa juga mengenai persoalan lain.

Sudah puluhan ribu orang yang terbantu oleh layanan mentoring ini. Benefit yang akan kamu dapatkan juga banyak, seperti psikotes, untuk mengetahui kepribadianmu dan worksheet untuk membantu dalam menyelesaikan masalah.

Jadi, yuk ikut mentoring! Jika tidak sekarang, kapan lagi? Mari berkembang Satu Persen setiap harinya.

Sekian dari aku, terima kasih :)

Referensi

Castrillon, C. (n.d.). Retrieved from Forbes: https://www.forbes.com/sites/carolinecastrillon/2020/11/24/how-to-stop-comparing-yourself-to-others/?sh=667e0f156473

Harmer, S. (n.d.). Retrieved from LifeHack: https://www.lifehack.org/articles/communication/4-reasons-why-you-should-stop-comparing-yourself-others.html

Lelord, F. (2015). Hector and The Search for Happiness. Noura Books.

Webber, R. (2017, November 7). Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/articles/201711/the-comparison-trap




Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.