Key Takeaways:
- Kebaikan vs People Pleasing: Sadari bedanya; "Kebaikan" itu pilihan sadar untuk membantu, sedangkan "People Pleasing" adalah dorongan rasa takut ditolak atau takut konflik.
- The Fawn Response: Secara psikologis, kebiasaan ini seringkali merupakan respon trauma (Fawn) untuk mencari keamanan dengan cara menyenangkan orang lain yang dianggap dominan.
- Teknik "Beli Waktu": Jangan langsung jawab "Ya" saat dimintai tolong; biasakan meminta waktu untuk mengecek jadwal agar kamu bisa berpikir rasional, bukan emosional.
- Menetapkan Batasan: Berani berkata "Tidak" pada tugas yang bukan tanggung jawabmu justru akan meningkatkan respek orang lain terhadap profesionalitas dan waktumu.
Pendahuluan
Pernah nggak sih, kamu lagi dikejar deadline pekerjaanmu sendiri, tiba-tiba rekan kerjamu datang minta tolong mengerjakan tugasnya, dan mulutmu otomatis bilang, "Boleh, sini aku bantu," padahal hatimu berteriak, "JANGAN! AKU SIBUK!"? Akhirnya, kamu pulang paling malam, lembur mengerjakan tugas orang lain, sementara orang yang kamu bantu sudah pulang tenggo dan update instastory lagi nongkrong. Rasanya kesal, lelah, dan merasa dimanfaatkan.

Kamu mungkin berpikir, "Aku cuma mau jadi orang baik," atau "Aku takut nanti dibilang nggak asik/sombong." Tapi hati-hati, di dunia kerja, kebiasaan "asal bapak senang" ini bisa jadi bumerang mematikan. Kamu bukan jadi pahlawan, tapi jadi "keranjang sampah" tugas-tugas yang orang lain malas kerjakan. Di artikel ini, kita akan bedah fenomena people pleasing dari kacamata psikologi. Aku mau ajak kamu belajar seni berkata "Tidak" dengan elegan, supaya kamu bisa kembali memegang kendali atas waktumu tanpa merasa bersalah.
Kenapa Kita Susah Bilang "Enggak"?
Dalam psikologi, perilaku people pleasing sering dikaitkan dengan Fawn Response (respon menjilat/menyenangkan). Ini adalah mekanisme pertahanan diri. Bawah sadarmu berpikir: "Kalau aku menyenangkan mereka, mereka nggak akan menyakiti/menolak aku."
Jadi, akarnya adalah Rasa Takut, bukan kebaikan hati yang tulus. Jika dibiarkan, ini akan menggerus harga dirimu. Rekan kerja akan melihatmu sebagai orang yang "gampang disuruh", bukan profesional yang punya pendirian.
Yuk, kita putus siklus ini dengan 5 langkah taktis.
1. Kenali Tanda Fisik "Penolakan Batin"
Seringkali mulut kita bilang "Iya", tapi tubuh kita bilang "Tidak".
Dengarkan Sinyal Tubuh
Lain kali saat ada yang minta tolong, perhatikan reaksi fisikmu sebelum menjawab.
- Apakah dadamu sesak?
- Apakah rahangmu mengeras?
- Apakah perutmu mulas? Itu adalah sinyal merah dari tubuhmu. Jangan abaikan. Jika sinyal itu muncul, itu artinya permintaan tersebut melanggar batasan energimu. Jadikan sensasi fisik ini sebagai "alarm" untuk mengerem jawaban "Iya" yang otomatis.
2. Gunakan Teknik "Buying Time" (Membeli Waktu)
Kesalahan fatal people pleaser adalah menjawab impulsif saat itu juga. Saat kita ditekan, otak emosional kita panik dan langsung setuju demi meredakan ketegangan.
Skrip Penunda Jawaban
Jangan langsung jawab Ya atau Tidak. Jawablah dengan "Nanti". Katakan: "Boleh aku cek to-do list aku dulu? Nanti 10 menit lagi aku kabari ya."Jeda 10 menit ini krusial. Ini memberi waktu bagi otak rasionalmu untuk bekerja: "Apakah aku benar-benar punya waktu?", "Apakah ini job desc-ku?". Seringkali setelah 10 menit, keberanianmu untuk menolak sudah terkumpul, atau kamu sadar bahwa kamu memang tidak sanggup.
3. Ubah Mindset: Menolak Tugas = Menjaga Kualitas
Kamu takut menolak karena takut dianggap malas atau tidak kompeten. Padahal, menerima semua tugas justru bikin kamu tidak kompeten karena fokusmu terpecah.
Framing Ulang "Tidak"
Lihatlah kata "Tidak" sebagai cara kamu melindungi kualitas kerjamu yang utama. Saat kamu menolak tugas tambahan yang nggak penting, kamu sebenarnya sedang bilang "Ya" pada prioritas perusahaan yang lebih besar. Bos yang cerdas lebih suka karyawan yang fokus pada 3 tugas berdampak besar, daripada karyawan yang mengerjakan 10 tugas tapi hasilnya "kentang" semua.
4. Latihan Skrip Penolakan yang Asertif (Sandwich Method)
Menolak itu nggak harus galak. Kamu bisa tetap sopan tapi tegas dengan metode Sandwich: Positif - Penolakan - Solusi.
Contoh Skrip
- Positif: "Wah, makasih ya udah percaya sama aku buat handle proyek ini."
- Penolakan: "Tapi sori banget, minggu ini aku lagi fokus penuh ngejar target laporan bulanan, jadi belum bisa bantu."
- Solusi/Alternatif: "Mungkin kamu bisa tanya ke Budi? Setahuku dia lagi agak longgar." Dengan cara ini, kamu menolak permintaannya, bukan menolak orangnya. Hubungan tetap baik, batasan tetap tegak.
5. Siap dengan Ketidaknyamanan (Tolerating Discomfort)
Ini bagian terberat. Saat kamu mulai berubah dari "Yes Man" menjadi orang yang punya prinsip, orang-orang di sekitarmu mungkin akan kaget atau bahkan kesal.
Jangan Minta Maaf Berlebihan
Mereka kesal bukan karena kamu jahat, tapi karena mereka kehilangan kenyamanan (biasanya bisa lempar tugas ke kamu, sekarang nggak bisa). Itu masalah mereka, bukan masalahmu. Tahan rasa "nggak enak hati" itu. Rasa bersalah itu cuma sementara. Jangan minta maaf berlebihan. Cukup "Maaf ya nggak bisa," satu kali saja. Jangan "Aduh maaf banget ya, duh jadi nggak enak, maaf ya...". Itu membuatmu terlihat lemah dan mudah digoyahkan. Berdirilah tegak dengan keputusanmu.
Penutup
Berhenti jadi people pleaser di kantor bukan berarti kamu berubah jadi orang jahat yang egois. Itu artinya kamu menghargai dirimu sendiri, waktumu, dan kontrak kerjamu.
Ingat, kamu mengajari orang lain cara memperlakukanmu. Kalau kamu selalu menyediakan diri untuk diinjak, orang akan menginjak. Tapi kalau kamu membangun pagar yang jelas, orang akan mengetuk pintu dengan sopan. Jadilah profesional yang disegani karena karyanya, bukan dimanfaatkan karena kebaikannya.
Ingin Tahu Kenapa Kamu Punya Bakat "People Pleaser"?
Ternyata, kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain itu bisa dilihat dari desain kepribadianmu, lho (misalnya dalam Human Design, ada yang disebut Open Solar Plexus atau Open Heart).
Kalau kamu ingin membedah "cetak biru" dirimu supaya tahu di mana titik lemah dan titik kuatmu dalam menetapkan batasan, yuk ikutan webinar ini.
Daftar sekarang di Webinar Satu Persen: "Belajar Life Planning lewat Human Design dan Psikologi"

Kenapa wajib ikut? Di webinar ini, kamu nggak cuma dapet teori, tapi bisa latihan langsung dan diskusi bareng mentor ahli. Kita akan bantu kamu mengenali pola aslimu sehingga kamu bisa menyusun strategi karir dan relasi yang lebih sehat dan autentik!