Solusi Biar Ngga Galau Memilih Karier: Pilih Passion atau Uang ?

Pemahaman Diri
Rebecca Meliani Sembiring
7 Sep 2020

Sering nggak sih kamu mendengar pertanyaan: Apa sih cita-citamu? Jawabanmu mungkin beragam. Mungkin ada di antara kamu yang bermimpi ingin jadi dokter, insinyur, pengusaha, atau tidak muluk-muluk— menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Hmm… membicarakan soal masa depan memang kadang membingungkan. Pasalnya, terkadang kita tidak benar-benar tahu nih apa yang sebenarnya kita inginkan— atau mungkin kita sebenarnya tahu sih apa hal yang membahagiakan untuk kita kerjakan, tetapi bingung apakah profesinya akan menghasilkan uang. Lantas, apa nih yang harus kita pilih? Tenang… buat kamu yang sedang galau memikirkan pilihan jurusan kuliah atau buat kamu freshgraduate yang bingung akan pilihan karier yang harus kamu pilih, tulisan ini buat kamu. Semoga tulisan ini bisa membantu kamu mendapat insight lebih banyak dalam menentukan pilihan ya!

Hmm… tetapi sebetulnya, mana sih yang lebih penting?

Jawabannya… keduanya sama-sama penting. Uang dan passion adalah dua elemen penting yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan karier. Passion berperan sebagai pembakar semangat— memberikan dorongan dan emosi yang kuat dalam melakukan sesuatu meskipun dihadang tantangan atau hambatan sepanjang prosesnya.  Tanpa hadirnya passion, tentu kita tidak akan memiliki keinginan kuat untuk berkembang dan berprestasi di suatu hal. Prestasi dan kemampuanmu dalam menjalankan suatu pekerjaan tentu juga akan mempengaruhi income yang kamu terima. Kalau kamu sudah terkenal akan keahlianmu itu, mungkin saja kamu bisa mendapatkan bayaran di atas rata-rata.

Uang juga adalah aspek yang tak kalah pentingnya, sebuah insentif yang dapat dimanfaatkan atau dibelikan hal-hal yang kamu inginkan dan butuhkan untuk menunjang kehidupanmu. Tak hanya itu, kenyataan bahwa kamu dibayar dalam suatu pekerjaan berarti bidang keahlianmu dibutuhkan oleh orang lain. Bagaimana pun juga, selain sebagai bentuk aktualisasi diri, karier adalah bukti kontribusimu untuk masyarakat yang lebih luas, bukan?

Pertanyaan yang seharusnya muncul adalah apakah benar kita harus selalu memilih salah satunya? Apakah kita tidak dapat memilih keduanya? Tentu bisa. Dunia tidak sehitam putih itu, terkadang kita tidak harus memilih antara A dan B tetapi dapat mendapatkan keduanya sekaligus.  Hanya saja tidak semua hal yang menjadi passion buatmu dapat menghasilkan uang dan sebaliknya, tidak semua hal yang dapat menghasilkan uang adalah hal-hal yang kamu senangi untuk dikerjakan. Jadi, kamu harus memilih irisan dari keduanya.

Bukannya “follow your passion” itu adalah yang terpenting ya? Nominal uang kan akan selalu mengikuti….


A picture containing person, sitting, train, parked

Description automatically generated


Ternyata, gagasan super optimis ini tidak selalu tepat, lho. Realitanya, dunia ini penuh dengan hal-hal hal yang tidak dapat ditebak— termasuk kebutuhan masyarakat akan profesi yang kita lakoni. Sebagai contoh, kamu punya passion di bidang public speaking. Kamu punya profesi menjadi MC di banyak pentas seni atau perayaan ulang tahun. Jelas, pekerjaan ini sesuai dengan passion-mu dan mampu menghasilkan uang. Namun, saat tiba-tiba pandemi menyerang dan acara berkumpul-kumpul dilarang, ketika segala acara pentas seni atau perayaan ulang tahun dibatalkan, kebutuhan akan jasamu menyusut sekali. Akibatnya, mungkin kamu tidak lagi mendapatkan panggilan job sebagai MC. Melalui contoh ini, kamu dapat memahami bahwa banyak sekali aspek eksternal yang mempengaruhi kebutuhan akan profesi kita— yang lantas juga mempengaruhi source of income kita. Oleh karena itu, fleksibilitas untuk dapat menyesuaikan diri agar mendapatkan keseimbangan di antara uang dan passion selalu penting.

Selain daripada aspek eksternal yang berubah-ubah dan sulit ditebak, ada juga nih hasil riset yang membahas soal bagaimana persepsi kita soal passion bisa membawa kita ke dalam beberapa kesulitan pengembangan karier. Survei terbaru Deloitte kepada 3000 pegawai penuh waktu di US menyatakan bahwa hanya 20% dari antara mereka yang menyatakan bahwa diri mereka tidak benar-benar passionate melakukan apa yang menjadi pekerjaan mereka. Riset lainnya bahkan menyatakan bahwa kita sebenarnya tidak benar-benar tahu bagaimana cara menentukan passion kita. Berikut hal-hal sebaiknya dipahami sebelum menentukan passion menurut Jon M. Jachimowicz dan tim:

  1. Jangan menunggu sampai kamu menemukan passion-mu!

Mungkin banyak di antara kita yang resah karena belum tahu apa sih sebenarnya passion-mu. Mungkin ada juga yang bingung karena belum mendapatkan karier yang sesuai dengan passion yang dimiliki. Kenyataannya, passion bukan hal yang menetap. Sebaliknya, passion itu bertumbuh seiring dengan eksperimen kita mencoba berbagai macam hal. Bisa jadi kita mencoba suatu hal yang sama sekali baru dan lantas merasa cocok melakukannya. Saat mungkin passion kita terdahulu berganti menjadi yang baru.

Jangan limitasi dirimu untuk menentukan passion dari hal-hal yang sudah pernah kamu rasakan atau coba sebelumnya. Daripada menggunakan mindset bahwa passion adalah suatu hal yang menetap sedari awal dan tidak dapat berubah lagi, lihatlah passion sebagai sesuatu yang dapat berkembang seiring kamu mencoba dan melakukan sesuatu. Intinya, jangan buat “passion” sebagai penghalang untuk mengeksplor banyak hal baru.

2. Fokus kepada hal-hal yang kamu pedulikan, bukan hal-hal yang hanya membuatmu senang.

Passion seringkali dilekatkan dengan kesenangan. Padahal, passion tidak hanya berbicara soal itu, tetapi juga soal nilai-nilai hidup dan dampak yang ingin kita berikan kepada orang lain. Berdasarkan riset, orang-orang yang percaya passion adalah cara untuk mencapai kesenangan ternyata cenderung kurang sukses mencapai karier yang diinginkannya daripada orang-orang yang mengasosiasikan passion kepada hal-hal yang penting baginya. Sebabnya, mindset terhadap passion yang dilekatkan dengan kesenangan semata membuat banyak orang tidak sanggup bertahan dalam kesulitan yang mengiringi hal tersebut. Padahal, kesulitan akan selalu ada dalam kehidupan kita.

Wah, ternyata passion tidak selalu tepat untuk dijadikan landasan utama pilihan karier ya. Jika pendekatan kita terhadap passion salah, mungkin saja akan menutup banyak kemungkinan hal yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita kelak.

Lantas, bagaimana sih cara menemukan irisan antara passion dan uang?

Kamu bisa melakukan pemetaan terhadap kedua hal tersebut dengan menggunakan prinsip IKIGAI. Pernah dengar soal IKIGAI sebelumnya? Yap, IKIGAI adalah prinsip hidup orang Jepang yang dipercaya mampu menumbuhkan semangat hidup mereka karena mereka telah mengetahui tujuan dan alasan hidup mereka. Bagi beberapa orang, IKIGAI disebut juga dengan healthy passion karena tidak hanya memperhatikan hal-hal yang kita sukai untuk kerjakan, tetapi juga hal-hal yang bisa kita lakukan dengan baik, hal-hal yang dibutuhkan oleh dunia, dan hal yang dapat menghasilkan pundi-pundi uang untuk kita. IKIGAI membuktikan bahwa passion tidak dapat berdiri sendirian.

A close up of a logo

Description automatically generated


Passion sendiri adalah irisan dari hal-hal yang kita cintai dan dapat kita lakukan dengan baik. Meskipun demikian, belum tentu hal tersebut benar-benar dibutuhkan oleh orang banyak dan dapat menghasilkan uang untuk kita. Jika ternyata tidak dibutuhkan, kita tidak dapat menghidupi diri dari passion tersebut sehingga passion tersebut akan menjadi hobi atau kesenangan semata. Sebaliknya, jika kamu mempertimbangkan keempat aspek tersebut secara keseluruhan, tentu kamu mampu mendapatkan sebuah profesi yang mampu memenuhi keempatnya. Jadi, jangan lupa untuk mengisi keempat pertanyaan tersebut untuk setelahnya mencari dan menemukan irisannya. Selanjutnya, jangan lupa untuk be flexible. Terkadang, kita menganggap diri kita tidak akan suka atau tidak akan cocok mengerjakan sesuatu semata-mata karena kita belum pernah mencoba melakukannya. Oleh karena itu, siapkan ruang-ruang untuk bereksperimen dengan berbagai pilihan karier sehingga kamu dapat memetakan IKIGAI-mu dengan lebih baik. Jika ternyata kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan apa yang kamu bayangkan dan tidak mendukung berjalannya IKIGAI-mu, be flexible juga. Mungkin ada banyak pekerjaan alternatif yang juga merupakan irisan dari keempat hal tersebut yang belum terpikir olehmu. Misalnya dalam kasus MC tadi, kamu bisa mencoba menjadi pemandu acara Webinar atau online event atau mencoba peruntungan sharing di social media seperti Youtube dan Instagram. Who knows? Akan ada banyak peluang dan peruntungan baru yang datang kepadamu jika kamu terus terbuka menerima semua itu.

Mengatasi kegalauan soal masa depan memang tidak mudah dan seringkali dirundung ketidakpastian. Semoga artikel ini dapat membantumu mendapatkan perspektif baru dalam melakukannya. Masih penasaran soal IKIGAI tadi? Tenang aja, Satu Persen juga punya artikel yang mengupas tuntas soal IKIGAI di blog Satu Persen.

Selan itu, follow instagram Satu Persen @satupersenofficial untuk dapat info-info menarik tentang mentoring dan kelas online dan buat kamu yang pengen nonton video youtube Satu Persen juga bisa nonton disini, jangan lupa like, komen dan suscribe channelnya!

Semoga artikel ini dapat membantumu untuk menjadi lebih baik, setidaknya Satu Persen setiap harinya, menuju hidup seutuhnya.

Referensi:

Jachimowicz, J. (2019, October 15). 3 Reasons It's So Hard to "Follow Your Passion". Retrieved September 04, 2020, from https://hbr.org/2019/10/3-reasons-its-so-hard-to-follow-your-passion

Moeller, J., Ph.D. (2017, May 15). Passion 101. Retrieved September 04, 2020, from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/passion-101/201705/passion-101-0

Myers, C. (2018, February 23). How To Find Your Ikigai And Transform Your Outlook On Life And Business. Retrieved September 04, 2020, from https://www.forbes.com/sites/chrismyers/2018/02/23/how-to-find-your-ikigai-and-transform-your-outlook-on-life-and-business/

Sumber foto:

https://thumbor.forbes.com/thumbor/fit-in/1200x0/filters%3Aformat%28jpg%29/https%3A%2F%2Fblogs-images.forbes.com%2Fchrismyers%2Ffiles%2F2018%2F02%2Fikigai-1.png

https://unsplash.com/photos/TamMbr4okv4



Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.