Smoke

Bilik Sastra
Satu Persen
18 Nov 2020

Setelah berlama-lama dengan ponselnya, terjadi hal yang berbeda. Ada senyum tipis di wajah lelaki itu. Tidak seperti sebelumnya, wajahnya penuh tanya. Namun kali ini, senyum itu menandakan akhirnya gadis yang telah lama ia sukai mengiyakan ajakannya.

Hari itu ia bersiap menemui gadis yang sudah lama dikenalnya, meskipun hanya sebatas di dunia maya. Selama ini mereka tidak pernah bertemu. Bukan karena tak ingin, namun karena alasan yang klasik: sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sang gadis sebenarnya sibuk dengan ribuan tanya di benaknya, apa ia harus menemui lelaki itu? Atau tidak? Dia lebih nyaman berkomunikasi di dunia maya.

Sang lelaki justru sebaliknya, sudah lama ia ingin bertemu sang gadis, namun selalu memperoleh penolakan dengan berbagai alasan. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin sering mereka bertemu, meski hanya sekadar berbalas pesa, mereka semakin merasa sepaham dalam banyak hal. Sang gadis pun luluh dan mengiyakan ajakannya.

Selama perjalanan menuju bioskop, sesuai rencana mereka sebelumnya, mereka akan menonton film yang mereka sukai. Mereka sepakat, yang sampai lebih dulu di bioskop dia yang membeli tiket. Lelaki itu pun sampai lebih dulu. Lebih tepatnya ia pergi lebih awal supaya lebih cepat sampai. Tidak mungkin seorang gadis mentraktirnya, pikirnya.

Seusai membeli tiket ia keluar sejenak dan menunggu di parkiran mal. Dibakarnya sebatang rokok sembari berbalas pesan dengan sang gadis dan menunjukkan foto tiket yang telah ia beli, “Ok sebentar lagi aku sampai,” balas sang gadis. Entah sudah berapa batang rokok yang ia hisap. Kebiasaannya merokok dimulai saat ia mulai merasa dipermainkan perasaan, terutama oleh wanita. Kebiasaannya itu berlanjut hingga sekarang.

Satu batang terakhir tersisa, baru saja ia membakarnya, ponselnya berdering, tertulis nama seorang gadis di ponselnya, Lara. Ternyata itu pesan masuk darinya. Lelaki itu lekas mematikan rokoknya dan segera memakai parfum agar bau rokok tak tercium.

Dia melakukan itu karena sang gadis tidak menyukai seorang perokok. Lelaki itu mengetahuinya dari salah satu pesan saat mereka bertemu di dunia maya. Pada kenyataannya, lelaki itu tidak bisa lepas dari rokok. Tidak lupa ia memakai pengharum mulut. Lelaki itu bergegas dari parkiran dan kembali ke lobi bioskop, tempat mereka akan bertemu.

Sesaat ia menunggu, sebuah kata “Hai” mengalihkan pandangannya. Lelaki itu berusaha bersikap sewajarnya, meski dalam hati ada getar yang entah apa penyebabnya. Tampak asli gadis itu di luar ekspektasinya. Setelahnya tak ada banyak kata dari mereka, hanya sesekali membahas film seri sebelumnya, film yang sekarang akan mereka tonton adalah seri lanjutannya. Lelaki itu bernapas lega karena akhirnya pintu teater terbuka.

Satu jam lebih mereka menonton, keduanya sama-sama terfokus dengan film. Walau begitu, meski terfokus dengan filmnya, ia kebingungan dengan topik apa yang akan dia bahas dengan sang gadis saat film ini usai. Singkat cerita mereka keluar bioskop, hening masih menjadi teman setia mereka. Tak sehangat saat di dunia maya.

Sang gadis yang menunggu sepatah kata dari sang lelaki. Namun sebaliknya sang lelaki tiba-tiba tak tahu apa yang harus ia katakan. Lagi-lagi hal klise yang lelaki itu lakukan, “Makan dulu yuk?” tanya sang lelaki. “Iya boleh,” ucap si perempuan. Sudah begitu. Kalau saja sang hening bisa tertawa, ia pasti sudah terbahak melihat tingkah lelaki itu.

Tibanya mereka di tempat makan nasi goreng langganan sang lelaki. Kali ini tak terlalu hening, ada suara sendok mengaduk sepiring nasi goreng. Padahal malam itu cukup cerah, bintang dan bulan pun bersinar cukup terang. Tapi benak lelaki itu tetap mendung tertutup kabut. Payah sekali. Namun semua itu bukan tanpa alasan, hubungan terakhirnya dengan seorang gadis tiga tahun yang lalu, setelahnya hanya rokok yang ia cium dan hisap. Setelah kekasihnya itu menikah dengan lelaki lain.

Saat hendak memberanikan diri membuka pembicaraan, sang gadis lebih dulu berbicara. Ia mengutarakan isi hatinya, lelaki itu menjawab sebisanya. Dari hal yang sentimen hingga hal receh yang membuat mereka tertawa. Suasana pun akhirnya mencair. Namun sayang, tak bertahan lama.

“Menurut kamu apa itu kasih sayang? Aku seringkali bingung dengan perasaanku sendiri. Aku bingung, melanjutkan cita-cita atau menikah. Sementara sebentar lagi acaranya. Oh iya aku belum cerita, minggu lalu aku dilamar, sebenarnya paksaan dari keluarga, karena kami sudah lama berpacaran, dan mereka pikir ini waktunya,” terang si perempuan. Ia lanjut bertanya, “Menurut kamu gimana?”.

“Apanya?” lelaki itu kebingungan.

“Yang barusan, masa lupa”.

“Oh itu”.

Lelaki itu semakin bingung, dia hanya bisa terdiam. Apa maksud gadis di sampingnya menceritakan hal itu. Sang gadis masih menunggu jawaban. Lelaki itu pun menjawab dengan bijak, seperti yang dilakukannya di dunia maya.

“Sebenarnya, semua keputusan ada di kamu, kamu yang lebih mengenalnya”. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, apa ia tak memikirkan perasaan sang lelaki. Terlebih sungguh aneh ia baru menceritakannya, selama ini sang lelaki berpikir gadis itu belum mempunyai pasangan.

Apa mungkin selama ini dia sekadar mencari teman diskusi? Ribuan tanya mulai muncul di benak lelaki itu. Selanjutnya hanya obrolan-obrolan yang menyesakkan sang lelaki tanpa ada perasaan bersalah dari sang gadis yang sebenarnya entah polos atau bodoh.

Setibanya lelaki itu di rumah, ia kembali membakar rokok sembari berpikir dengan kejadian hari ini. Dua bulan lebih mereka berbincang di dunia maya, merasa ada kecocokan lalu memutuskan untuk bertemu, lalu dihancurkan dengan satu kali pertemuan. Lelaki itu masih tidak mengerti untuk apa semua ini.

Ia memandangi rokok di lengannya yang semakin pendek terus terbakar menjadi abu. Ia pun tertawa kecil.

“Hidupku sama denganmu, sobat! Hadir hanya untuk dibakar. Begitu pun dengan ingatan buruk sepanjang hidupku, ingatan itu ada untuk aku bakar di waktu yang tepat,"

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.