Kebiasaan Buruk Mengganggu Produktivitas? Kenali Dampak dan Cara Mengendalikannya!

Rubrik Kata
Satu Persen
12 Mar 2021
kebiasaan buruk mengganggu produktivitas
kebiasaan buruk mengganggu produktivitas

Gue sering bertanya mengenai satu hal. Kenapa ya semua orang bisa memiliki pencapaian yang berbeda, padahal waktu yang mereka miliki sama? Termasuk diri gue sendiri. Terkadang, gue sering cemas melihat pencapaian teman sebaya yang sangat jauh dari gue. Sebenarnya apa yang salah? Kenapa mereka bisa berhasil sementara gue engga?

Setelah gue pikir lagi, ada satu hal kuat yang menjadi batu besar dalam perjalanan gue mencapai sesuatu, yaitu kebiasaan yang buruk.

Gue yakin, bukan hanya gue yang terjebak dalam siklus habit yang sangat merugikan ini. Setiap orang pasti punya atau setidaknya pernah mengalami hal yang sama. Entah itu menunda-nunda pekerjaan, menyepelekan suatu hal, sulit memulai sesuatu, atau bahkan kebiasaan buruk lain yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan seperti mengonsumsi makanan gak sehat, merokok, dan terbiasa melihat ponsel berjam-jam.

Sebenarnya apa sih yang membuat kebiasaan buruk itu terbentuk dan gak bisa lepas dari diri kita? Bagaimana dampaknya terhadap kehidupan kita? dan bagaimana cara mengendalikan kebiasaan agar menuntun kita menuju keberhasilan yang kita inginkan? Yuk simak artikel berikut!

cara membentuk kebiasaan yang baik
kebiasaan buruk mengganggu produktivitas

Lebih dekat dengan kebiasaan, apa itu kebiasaan/habits?

Kebiasaan adalah sesuatu yang kita lakukan secara otomatis karena telah melalui proses pengulangan yang terus-menerus, sehingga sudah menjadi bagian dari diri kita sendiri. Kebanyakan, sebuah kebiasaan atau habit ini terbentuk tanpa kita sadari, sehingga kita sendiri pun gak bisa langsung mengendalikan kebiasaan yang kita miliki.

Habits yang dimiliki setiap orang juga berbeda-beda, tergantung pembiasaan apa yang mereka bentuk. Contoh sederhananya adalah bahasa. Seperti yang kita kuasai bersama, bahasa Indonesia adalah bahasa yang setiap hari kita pakai. Tubuh kita sudah terbiasa dengan habit tersebut, makanya kita bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik secara otomatis. Lain halnya dengan kawan kita yang sehari-harinya menggunakan bahasa Inggris. Jika mengutarakan pendapat atau menjawab pertanyaan menggunakan bahasa Inggris, bukan karena dia sok Inggris, tetapi karena pembiasaan dia yang membuatnya secara otomatis menggunakan bahasa tersebut dalam berbicara.

Bisa dibayangkan sekuat apa pembiasaan bahasa yang kita miliki? Kita bisa berbicara secara lancar dan jelas tanpa struggling. Bahkan, kadang apa yang kita ucapkan keluar begitu saja dari mulut kita tanpa kita sadari. Coba sekarang bayangkan jika pembiasaan tersebut adalah suatu kebiasaan buruk. Tentu kita juga bisa melakukan kebiasaan buruk tersebut secara terus menerus tanpa kita sadari dan tanpa bisa kita kendalikan.

Mengapa seseorang bisa memiliki kebiasaan yang buruk?

Gue ambil contoh dari kasus gue sendiri. Gue selama ini bergelut dengan kebiasaan prokrastinasi. Banyak banget waktu yang gue buang karena merasa “Ah, nanti juga bisa”. Pemikiran gue itu yang membuat gue melakukan aksi yang linier dengan apa yang gue bayangkan. Ketika tanggung jawab yang tertunda itu semakin lama semakin mendekati tenggat, tentu gue merasa tertekan. Namun, setelah semua terlewati, muncul kepuasan di dalam diri gue. “Tuh, bisa kan”, pikir gue. Begitu diberi tugas lain, gue pun melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Jadi, hal itu gue lakukan terus menerus karena mendapatkan kepuasan yang sama meski tahu kalau menunda pekerjaan akan mengganggu produktivitas gue.

Dari kasus gue di atas, gue menelaah kenapa sih kebiasaan buruk bisa lengket banget sama gue? Sampe akhirnya gue menemukan kenapa hal itu bisa terjadi.

Proses pembentukan dari kebiasaan itu sendiri ada 3, yaitu pemikiran, aksi, dan repetisi. Tapi, kunci dari pembiasaan habits ada di tahap akhir, repetisi. Pengulangan atau repetisi inilah yang akan tertanam kuat dalam memori kita, sehingga respons yang nantinya kita keluarkan akan secara otomatis terbentuk karena pembiasaan.

classical conditioning pavlov

Contoh pembentukan habits bisa dilihat dalam Classical Conditioning Ivan Pavlov. Stimulus yang diulang terus menerus akan mengubah respons netral. Anjing mengeluarkan air liur ketika mendengar suara lonceng karena sebelumnya lonceng biasa dibunyikan bersama dengan penyajian makanan. Proses pengulangan tersebut yang membuat respons anjing secara otomatis dapat berubah dan menjadi kebiasaan.

Jika dikaitkan dengan kasus yang sering terjadi pada anak muda zaman sekarang, tentu hal ini menjadi perhatian yang serius. Kita sebagai anak muda harus benar-benar memperhatikan aktivitas yang kita lakukan secara berulang-ulang. Sudahkah aktivitas itu membawa kita pada hal yang baik? Atau justru mengganggu dan menghambat hal-hal lainnya?

Apa saja dampak memelihara kebiasaan buruk?

Memelihara kebiasaan buruk tentu akan menciptakan dampak negatif buat diri kita sendiri. Apa saja dampaknya?

1. Dinilai buruk oleh orang lain

Seperti yang di awal udah gue ulas, habits telah menjadi bagian dari diri kita sendiri. Orang lain tentu akan menilai kita berdasarkan habits kita. Seorang yang cenderung malas-malasan, lamban, sering telat, akan dinilai pemalas oleh orang lain. Dengan begitu, kepercayaan orang terhadap kita juga akan menurun. Hal ini akan berdampak terhadap karir dan dunia pendidikan kita juga. Tidak ada yang nyaman bekerja dalam tim bersama kita. Kesempatan kita berkembang juga semakin kecil.

2. Menghambat produktivitas

Dampak yang satu ini gak perlu diraguin lagi, sih. Kebiasaan buruk yang kita punya kebanyakan akan menghambat dan mengganggu produktivitas. Kalau kita terbiasa menunda-nunda pekerjaan, atau terbiasa gak mengatur waktu dengan baik, waktu yang harusnya kita gunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat jadi terbuang sia-sia. Padahal, jika kita bisa mengendalikan kebiasaan buruk yang kita punya, besar kemungkinan juga kita akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan melakukan banyak kegiatan bermanfaat.

3. Bisa berdampak bagi fisik atau mental

Yang lebih bahayanya, kebiasaan buruk kalau terlalu lama kita pelihara, akan berdampak buruk pula bagi mental ataupun fisik kita. Contoh kebiasaan buruk yang bisa menyerang fisik dan mental orang adalah begadang. Seseorang yang memiliki kebiasaan begadang cenderung kurang konsentrasi dan punya risiko terkena penyakit berbahaya yang besar. Bukan cuma fisik, psikologis pun akan terkena dampaknya. Begadang bisa memicu depresi dan suasana hati yang buruk.

Bagaimana cara membentuk kebiasaan yang baik?

Nah, setelah mengetahui begitu buruknya dampak yang timbul akibat memelihara kebiasaan buruk, pertanyaan selanjutnya adalah, bisa gak sih kita bentuk kebiasaan baik dan menghilangkan kebiasaan buruk kita?

Tentu bisa! Kemampuan membentuk dan mengendalikan kebiasaan merupakan keahlian yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan. Kita juga telah menyadari kalau habits merupakan sesuatu yang bisa menjadi jembatan kita menuju kesuksesan, atau menjadi batu penghambat yang akan menjerumuskan kita ke jurang kegagalan. Maka, sangat perlu keahlian mengendalikan kebiasaan kita, jangan sampai kebiasaan yang mengendalikan kita.

1. Perlu tujuan yang jelas dan kuat

The stronger the WHY, the easier the HOW. Semakin kuat tujuan kita, semakin besar juga motivasi yang ada dalam diri kita. Kita tau motivasi itu sangat penting dalam setiap proses perubahan. Maka, tujuan yang jelas dan kuat akan menjadi pondasi awal dalam perubahan habits yang kita miliki. Kalau pondasinya lemah, gimana bangunannya bisa kokoh?

2. Mulai dengan hal kecil

Biasanya, bagian tersulit dari sesuatu adalah memulai. Banyak yang mengeluh di posisi awal tanpa benar-benar memulai untuk berubah. Padahal, sekecil apapun langkah yang kita buat merupakan proses menuju tujuan kita kan? Without one thousand, we can't get one billion. Jadi, gak perlu menunggu kapan dan harus memulai apa. Mulai aja dengan sesuatu yang kita bisa. Sekecil apapun langkah itu, tetap bernilai.

3. Lakukan repetisi

Pengulangan adalah hal terpenting dalam pembentukan kebiasaan. Kadang, kita mungkin lupa melakukannya karena belum terbiasa, maka buatlah pengingat agar kita bisa berlatih terus untuk membentuk kebiasaan baru. Jika langkah-langkah kecil yang udah kita bentuk kita lakukan terus-menerus, kebiasaan baik akan mulai melekat juga pada diri kita.

4. Beri ruang kegagalan

Jangan terburu-buru. Semua adalah proses dan setiap proses gak ada yang instan. Easy come, easy go. Setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri. Jangan bandingin diri kita dengan keberhasilan orang lain. Apalagi dalam hal mengendalikan habits. Tidak ada jalan pintas selain mencobanya terus menerus. Jika di tengah jalan kebiasaan buruk kita kembali, jangan putus asa dan coba lagi!

5. Harus konsisten

Kebiasaan akan mulai terbentuk selama 20-60 hari. Maka, sangat perlu konsistensi kita untuk membentuk kebiasaan yang baru. Selama kurun waktu tersebut, fokuskan diri kita dalam melakukan hal yang menjadi tujuan kebiasaan baru kita. Jangan lupa memasang pengingat setiap hari karena konsistensi kita sangat penting dalam pembentukan habits.

Jika udah melakukan semua hal di atas dan kebiasaan buruk tetap gak bisa dihilangkan, harus gimana? Gue punya solusi buat lo yang susah banget mengendalikan habits dan menghilangkan kebiasaan buruk. Kunjungi layanan Satu Persen. Di sana lo bisa langsung ngobrol sama mentor berpengalaman dan diskusikan masalah lo lewat sesi konseling. Jangan takut buat konsul, apalagi terkait masalah yang menghambat produktivitas lo.

Yuk mulai pahami diri kita, cari tau apa yang bener-bener kita butuh. Tinggalkan kebiasaan buruk dan mulai bentuk kebiasaan baru yang akan membawa kita menuju keberhasilan yang kita inginkan.

Referensi

Siauw, F. Y. (2013). How to Master Your Habits. Jakarta: AlFatih Press.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.