Ghosting: Setelah Bertemu, Ada Yang Hilang Tapi Bukan Rindu

Hubungan
Nouvend Setiawan
11 Sep 2020

Kamu sedang melihat-lihat baju di butik yang tidak terlalu ramai. Pegawai toko menyadari keberadaanmu lalu mulai menghampirimu, bertanya “Ada yang bisa dibantu?”

Kamu hanya tertawa kecil lalu berpikir cepat, apa yang harus dilakukan. Akhirnya kamu meraih apapun itu yang ada di dekatmu –yang kebetulan kamu sempat berpikir untuk membelinya-, lalu bertanya pada pegawai tersebut. Kamu berlagak tertarik, lalu pas tahu harganya…

Abort Mission! Kamu langsung mengeluarkan jurus pamungkas “Kalau begitu saya pergi sebentar ya, mau ambil duit.”

Tapi kamu gak pernah kembali ke butik tersebut.

Pernah terjadi padamu? Kurasa banyak dari kita paling tidak pernah mengalami kejadian serupa. Mungkin pada konteks yang berbeda, seperti orderan palsu, persahabatan, atau mungkin juga pacar.

Kamu di-ghost. Di-ghost apa? Dihantu? Bukan! Di-ghost ini berarti kamu ditinggalkan secara penuh. Tanpa penjelasan, tanpa kontak, tanpa pesan, tanpa apapun. Canggung, berakhri begitu saja. Lebih parahnya lagi, kadang orang yang nge-ghost kamu itu masih dapat kamu temui di media sosial maupun dunia nyata.

Sedih, ya? Kenapa ‘sih orang-orang tega nge-ghost? Atau jangan-jangan kamu juga pernah nge-ghost? Kenapa orang-orang melakukan hal itu? Dan yang lebih penting, apa efeknya dan bagaimana menghadapinya?Aku akan menemanimu sebentar untuk mendalami fenomena ghosting ini. Jangan pergi dulu ya! Aku gak mau di-ghost!

Apa Itu Ghosting dan Kenapa Orang Melakukannya?

Seperti yang sudah kutulis sebelumnya, ghosting itu ketika seseorang memutus hubungan dengan orang lain, entah itu kenalan, teman, atau mungkin pacarnya, tanpa adanya penjelasan sama sekali. Ya, tanpa SMS, tanpa telepon, tanpa closure. Menghilang begitu saja. Seperti tidak pernah ada. Apa jangan-jangan beneran hantu, ya?

Kok tega, sih?

Hm, kenapa ya kira-kira? Kok bisa ada orang yang tega untuk memutus hubungan dengan canggung seperti itu seakan-akan tidak terjadi apa-apa?

Alasan utama seseorang melakukan ghosting adalah karena mereka memilih untuk menjaga kenyamanan emosional mereka, sampai pada titik di mana mereka tidak cukup peduli untuk berandai-andai bagaimana perasaan orang yang akan mereka tinggalkan (Vilhauer, 2015). Beberapa sumber lain juga mengatakan hal yang sama. Alih-alih menghadapi situasi sulit yang beresiko menghancurkan kondisi mental seseorang atau bahkan orang yang akan ditinggalkan, beberapa orang memilih untuk melakukan ghosting. Kadang, itu cara terbaik mereka untuk mengakhiri hubungan tanpa harus menyakiti satu sama lain. Kadang mereka bukannya tidak peduli, hanya saja prioritas mereka ada pada diri mereka masing-masing, as we all should do.

Namun perlu kamu tahu bahwa ghosting memiliki dampak yang cukup signifikan bagi yang ditinggalkan (peringatan padamu kalau kamu pernah ghosting seseorang!)

Apa yang Kita Rasakan Ketika Di-Ghost?

Well, a LOT.  Ketika kamu menjalin hubungan dengan banyak orang, kamu sadar tidak sadar mengandalkan pertanda-pertanda tertentu untuk mengambil sikap sosial (Vilhauer, 2015). Contohnya, ketika kamu sedang berkumpul bersama teman, ada yang berulang-ulang mengecek HP-nya. Kamu akan berpikir, apa maksud hal tersebut dan mulai mencoba melakukan sesuatu, seperti menanyakan “Ada apa?”

Atau kamu langsung menyarankan agar kalian bermain sesuatu karena temanmu tadi terlihat bosan. Paham ‘kan? Nah, ketika kamu di-ghost, kamu akan mengalami kondisi yang benar-benar kosong.

Tidak ada penjelasan apapun, tidak ada petunjuk apapun. Apa dia benci sama aku? Apa dia kecelakaan? Apa aku salah ngomong?

The list goes on.

Dampak dari keambiguan ini berbeda bagi tiap orang, khususnya pada orang yang pernah mengalami kejadian serupa yang menggerogoti kepercayaan dirinya. Di-ghost hanya akan menambah garam pada luka. Akan sulit mengembalikan kepercayaan diri ketika kamu berulang kali di-ghost, meski terkadang alasannya sepele.

Ditambah lagi, di era sekarang yang mana online dating sudah semakin marak, fenomena ghosting seakan menjadi hal yang normal. Swipe, janjian, ketemu, terus sudah. Tidak ada kabar lagi setelah itu. Entah siapa yang tidak suka dengan apa, yang jelas tidak ada kali kedua, kali ketiga, atau kali ke berapapun itu.

Menghadapi Ghosting

Dengan maraknya online dating sekarang, ghosting sedikit tidak bisa dihindari. Jadi mau tidak mau kamu harus tahu cara menghadapinya, kalau-kalau kamu sewaktu-waktu bakal di-ghost (aku harap tidak, ya). Tonton video ini dulu, deh, kalau mau sedikit insight.

Yang paling utama adalah, ketahuilah bahwa ketika kamu di-ghost, it’s not about you. Maksudku di sini adalah, ketika seseorang memutuskan untuk ghosting, itu adalah pertanda bahwa mereka tidak mampu untuk mengatasi dengan baik keadaan yang membuat mereka harus memutus hubungan denganmu. Alih-alih mencoba untuk memberikan paling tidak sebuah closure atau penjelasan singkat, mereka memilih untuk meninggalkanmu begitu saja.

Kurang ajar juga ya, ambil cara gampang.

Anyways, your self-worth has nothing to do with them ghosting you. Ketika kamu di-ghost, tidak bisa dipungkiri kamu bakal berpikir macam-macam, tapi percayalah, ini sama sekali bukan soal apakah kamu layak atau tidak. Ini soal ketidakmampuan orang yang ghosting dalam mengatasi keadaan. Jadi ketika kamu di-ghost suatu hari nanti (bukannya mendoakan ya…), ketahuilah bahwa itu masalah mereka. Ya, mungkin ada hal di antara kalian yang membuat mereka harus pergi, namun fakta bahwa mereka pergi tanpa sepatah kata adalah 100% masalah mereka yang tidak bisa mengatasi keadaan. Kalau kamu kesulitan untuk mengatasi masalah self-esteem, mungkin video ini bisa membantu! Oh, ini juga, kurasa akan membantumu membangun kepercayaan diri.

Peranmu di sini, sayangnya, adalah untuk berusaha menerima bahwa people come and go. Beberapa orang masuk dengan paksa, beberapa orang keluar dengan paksa juga. Kamu harus, pertama, menerima kenyataan. Walaupun denial sedikit tidak bisa dihindari, tapi mau tidak mau kamu harus menghindari hal tersebut. Berangan-angan bahwa dia tidak benar-benar ghosting atau rutin mengecek instagramnya/tempat biasa kalian bertemu tidak akan memberikan dampak yang bagus. Hal-hal tersebut hanya akan menghambatmu dalam menerima kenyataan.

Nanti akan ada saatnya kamu melihat kembali ke masa-masa ghosting dan tertawa kecil, sadar sepenuhnya bahwa mereka yang memilih untuk meninggalkanmu tanpa jejak sama sekali itu belum cukup dewasa untuk menghadapi keadaan. Atau, kalau kamu mau optimis, mereka melakukannya demi diri mereka sendiri, dan demi kamu juga.

Semacam tough love gitu, deh.

Jangan Ghosting, Ya!

Ghosting tidak harus terjadi pada awal hubungan. Ghosting bisa terjadi kapan saja. Kamu dicurhatin soal mantannya yang hobi makan sate kambing di depan kuburan bukan sebuah alasan untukmu berpikir bahwa dia sudah cukup dekat untuk melakukan ghosting, maka dari itu dia tidak akan.

Ingat, people come and go. Bijaklah dalam memilih kerabat, dan tolong, ketika kamu dihadapkan pada situasi di mana kamu harus meninggalkan seseorang, pikir-pikirlah lagi sebelum kamu memutuskan untuk ghosting! Lagipula, kita semua ingin menjadi orang yang lebih baik, bukan?

Akhir kata, semoga tulisanku ini berguna ya! Jangan sampai kamu jadi pelaku atau korban ghosting ya! Kalau kamu mau cek tulisanku yang lain, aku sedang menulis cerita di wattpad, judulnya LIGHT dan aku memiliki LINE Official Account tempatku menulis (ID: @ans3035i) Terima kasih banyak!

References

eharmony. (n.d). Ghosting: why it hurts and what you can do about it. Retrieved from love decoded: https://www.eharmony.co.uk/dating-advice/online-dating-unplugged/polter-guys-and-ghoulish-girls-isnt-it-time-we-gave-ghosting-an-exorcism

Locker, M. (2020, February 12). Why Do People Ghost? Relationship Experts Weigh In. Retrieved from Explore Health: https://www.health.com/relationships/why-would-someone-ghost

McQuillan, S. (2020, February 1). Ghosting: What It Is, Why It Hurts, and What You Can Do About It. Retrieved from PSYCOM: https://www.psycom.net/what-is-ghosting

Popescu, A. (2019, January 22). Why People Ghost — and How to Get Over It. Retrieved from The New York Times: https://www.nytimes.com/2019/01/22/smarter-living/why-people-ghost-and-how-to-get-over-it.htmlVilhauer, J. (2015, November 27). Why Ghosting Hurts So Much. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/living-forward/201511/why-ghosting-hurts-so-much




Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.