Tips Move On dan Memaafkan Kesalahan Masa Lalu

Essa Fikri Fadilah
30 Jan 2026

Key Takeaways:

  • Memaafkan Bukan Melupakan: Pahami bahwa move on bukan berarti menghapus ingatan (amnesia), tapi melepaskan ikatan emosional yang menyakitkan dari ingatan tersebut.
  • Bahaya Ruminasi: Kebiasaan memutar ulang memori buruk (rumination) di kepala hanya akan memperparah luka tanpa mengubah apa yang sudah terjadi.
  • Pisahkan Identitas dari Kesalahan: Sadari bahwa melakukan kesalahan adalah tindakan (behavior), bukan definisi siapa dirimu (identity); kamu lebih besar dari kesalahanmu.
  • Radical Acceptance: Menerima kenyataan pahit tanpa syarat adalah langkah pertama untuk berhenti menderita dan mulai melangkah maju.

Pendahuluan

Pernah nggak sih, kamu terbangun di jam 3 pagi, lalu tiba-tiba teringat satu kesalahan fatal yang pernah kamu lakukan 5 tahun lalu? Atau mungkin, kamu sering melamun sambil membatin, "Coba dulu aku nggak ambil keputusan itu, pasti hidupku nggak sehancur ini sekarang." Rasanya seperti ada kaset rusak di kepalamu yang terus memutar lagu sedih yang sama berulang-ulang. Dada sesak, hati perih, dan kamu merasa terjebak dalam lorong waktu yang gelap.

Menyimpan penyesalan atau dendam itu ibarat menggenggam bara api; kamu berharap orang lain atau keadaan yang terbakar, tapi nyatanya tanganmu sendiri yang hangus. Kamu ingin sekali move on, tapi rasanya kakimu dirantai oleh bayang-bayang masa lalu. Tenang, perasaan itu valid. Melepaskan itu memang seni yang sulit. Di artikel ini, aku mau menemani kamu belajar caranya meletakkan beban berat itu pelan-pelan. Kita nggak akan lari dari masa lalu, tapi kita akan belajar berdamai dengannya supaya kamu bisa menyambut masa depan dengan tangan terbuka.

Kenapa Kita Susah Melepaskan? (Psikologi Ruminasi)

Secara psikologis, otak kita punya bias negatif. Kita lebih mudah mengingat satu trauma daripada seribu kebahagiaan. Ini mekanisme evolusi untuk bertahan hidup. Tapi di dunia modern, ini memicu Ruminasi—kecenderungan untuk memikirkan penyebab dan akibat masalah secara berlebihan tanpa mencari solusi.

Kamu terjebak karena kamu masih berharap masa lalu bisa berubah. Padahal, satu-satunya yang bisa kita ubah adalah respon kita saat ini. Yuk, kita praktikkan langkah-langkah healing berikut ini.

1. Praktikkan "Radical Acceptance" (Penerimaan Radikal) (H2)

Langkah pertama seringkali yang paling menyakitkan: Mengakui bahwa "Itu sudah terjadi". Kita menderita karena kita menolak kenyataan (denial).

Berhenti Berandai-andai

Hentikan kalimat "Seandainya aku..." atau "Harusnya dia...". Ganti dengan fakta: "Ya, aku memang melakukan kesalahan itu. Ya, hubungan itu memang sudah berakhir. Dan itu sakit sekali."Menerima bukan berarti menyukai kejadiannya. Menerima artinya kamu berhenti memukuli diri sendiri atas sesuatu yang di luar kendalimu. Saat kamu berhenti melawan arus kenyataan, rasa sakit itu mungkin masih ada, tapi penderitaannya akan berkurang drastis.

2. Izinkan Dirimu Berduka (Grieving Process)

Banyak orang gagal move on karena mereka sok kuat. Mereka menekan emosi negatif ke bawah sadar, yang akhirnya meledak jadi penyakit fisik atau mental di kemudian hari.

Emosi Perlu Disalurkan, Bukan Disumbat

Kalau kamu sedih, menangislah. Kalau kamu marah, tulislah di kertas lalu remas kertasnya. Berikan waktu khusus (misalnya 15-30 menit sehari) untuk benar-benar merasakan emosi itu. Bayangkan emosi itu seperti tamu yang datang mengetuk pintu. Bukakan pintu, persilakan duduk sebentar, lalu biarkan dia pergi. Jangan dikunci di dalam, jangan juga diusir paksa. Emosi yang diakui akan lebih cepat mereda (subsides) daripada emosi yang diabaikan.

3. Ubah Sudut Pandang: Kesalahan sebagai Guru

Rasa bersalah yang sehat itu berguna untuk perbaikan diri. Tapi rasa bersalah yang toksik (toxic shame) cuma bikin kamu merasa tidak berharga.

Reframing (Bingkai Ulang)

Coba lihat kesalahan masa lalumu bukan sebagai "bukti kegagalan", tapi sebagai "data pembelajaran". Tanyakan pada dirimu: "Apa satu hal penting yang aku pelajari dari kejadian ini?"Mungkin kamu jadi lebih hati-hati memilih teman? Atau kamu jadi lebih paham batas kemampuanmu? Saat kamu berhasil mengambil hikmahnya (meaning making), memori pahit itu berubah menjadi aset kebijaksanaan. Kamu tumbuh karena luka itu.

4. Ritual Memaafkan Diri Sendiri (Self-Forgiveness)

Seringkali, orang yang paling sulit kita maafkan bukanlah mantan atau musuh, melainkan diri kita sendiri.

Surat untuk Diri di Masa Lalu

Ambil kertas dan pena. Tulis surat untuk versimu yang dulu (yang melakukan kesalahan itu). Katakan dengan welas asih: "Hei aku yang dulu. Aku tahu kamu saat itu sedang bingung/takut/muda. Kamu melakukan yang terbaik yang kamu bisa dengan pemahamanmu saat itu. Aku memaafkanmu. Sekarang, biar aku yang ambil alih."Ini adalah teknik terapi yang sangat powerful untuk memutus rantai kebencian pada diri sendiri. Perlakukan dirimu seperti kamu memperlakukan sahabat kecil yang sedang menangis.

5. Kembali ke "Saat Ini" dengan Mindfulness

Masa lalu hanya ada di ingatan. Masa depan hanya ada di imajinasi. Satu-satunya tempat di mana kehidupan benar-benar terjadi adalah SAAT INI.

Grounding Technique

Saat memori buruk menyerang, gunakan panca indra untuk kembali ke masa kini (Grounding).

  • Apa 5 benda yang bisa aku lihat sekarang?
  • Apa 4 suara yang bisa aku dengar?
  • Apa tekstur baju yang menempel di kulitku? Latihan Mindfulness melatih otakmu untuk keluar dari mode "Time Travel" (masa lalu) dan kembali menikmati napasmu detik ini juga. Kamu akan sadar bahwa saat ini, kamu aman. Saat ini, kamu baik-baik saja.

Penutup

Move on itu bukan garis lurus. Hari ini mungkin kamu merasa lega, besok mungkin kamu teringat lagi dan sedih lagi. Itu wajar, itu bagian dari proses. Jangan marahi dirimu kalau progresmu terasa lambat.

Ingat, lukamu mungkin bukan salahmu, tapi kesembuhanmu adalah tanggung jawabmu. Kamu berhak bahagia. Kamu berhak atas kedamaian pikiran. Dan kedamaian itu dimulai saat kamu berani melepaskan genggamanmu dari masa lalu.

Ingin Belajar Melepaskan Beban Hati Lewat Meditasi?

Teori memaafkan itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan kalau batinmu masih bergejolak. Kadang, kita butuh panduan untuk menenangkan pikiran yang chaos.

Yuk, gabung di sesi meditasi bersama di webinar ini. Kita akan belajar teknik letting go yang sesungguhnya.

Daftar sekarang di Webinar Satu Persen: "Mindfulness and Meditation: How to Accept, Forgive, and Move On"

Kenapa wajib ikut? Di webinar ini, kamu nggak cuma dapet teori, tapi bisa latihan langsung dan diskusi bareng mentor ahli. Kita akan praktik meditasi Forgiveness yang bisa langsung kamu terapkan saat hati terasa berat.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.