Anak Fatherless Lebih Rentan Terjebak dalam Hubungan Toxic?

Dilsa Ad'ha
11 Mar 2025

Key Takeaways

  • Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah (fatherless) sering kali mengalami dampak psikologis seperti ketidakamanan emosional, kesulitan mengelola emosi, dan rendahnya kepercayaan diri.
  • Kondisi ini bisa bikin mereka lebih rentan terjebak dalam hubungan toxic di masa dewasa.
  • Kurangnya panutan serta pola cinta yang tidak sehat bisa memengaruhi cara mereka membangun dan mempertahankan relasi.
  • Penting banget buat menyadari pola ini supaya lo bisa memutus rantai toxic relationship dan mulai hidup yang lebih sehat secara emosional.

Pernah gak sih lo ngerasa ada yang "kurang" dalam diri lo tapi gak bisa lo jelasin dengan kata-kata? Mungkin lo tumbuh di lingkungan yang ibaratnya lengkap—ada keluarga, ada teman, sekolah juga lancar—tapi tetap ngerasa hampa, gampang banget insecure, atau susah percaya sama orang lain. Bisa jadi, ini berkaitan sama masa kecil lo yang fatherless.

Istilah fatherless bukan cuma tentang ketiadaan fisik seorang ayah aja, tapi juga bisa berarti sosok ayah yang hadir tapi gak benar-benar terlibat secara emosional. Dan ternyata, kondisi ini bukan hal yang sepele. Berdasarkan banyak studi dan observasi psikologis, anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang suportif sering kali mengalami tantangan mental dan sosial yang cukup serius.

Gue pribadi juga cukup banyak ngobrol sama temen-temen yang ngerasa dampak fatherless ini gede banget. Mulai dari perasaan “gak cukup baik” di mata orang lain, gampang merasa ditinggalkan, sampai pola cinta yang selalu berakhir toxic. Dan sedihnya, banyak dari mereka gak sadar kalo ini semua punya akar dari masa kecil yang kurang figur ayah.

Anak-anak fatherless sering kali tumbuh tanpa fondasi emosional yang stabil. Akibatnya, mereka susah ngebangun kepercayaan diri, sering merasa cemas ditinggalkan, dan punya standar cinta yang gak sehat. Bahkan menurut kompasiana, banyak anak perempuan fatherless punya kecenderungan buat mencari sosok “ayah pengganti” dalam pasangan mereka, yang kadang malah jadi jalan masuk ke hubungan yang manipulatif dan merugikan.

Kalau lo sekarang lagi berada di hubungan yang bikin lo capek secara mental, overthinking tiap malam, ngerasa lo yang selalu salah, atau bahkan gak bisa keluar dari hubungan itu meskipun tahu itu gak sehat—coba deh refleksiin lagi. Bisa jadi, lo secara gak sadar mengulang pola yang terbentuk sejak kecil.

Tapi kabar baiknya, lo gak sendirian. Dan lebih penting lagi: kondisi ini bisa diubah. Lo bisa belajar mengenali luka masa lalu lo, menyembuhkannya, dan ngebangun ulang relasi yang lebih sehat dan sadar. Caranya? Kita bahas di bagian selanjutnya.

Luka Batin yang Bikin Kita Gampang Terjebak Cinta Toxic

Gue tahu ini bukan hal yang gampang buat diakui, tapi jujur aja—banyak dari kita yang hidupnya kayak ngulang skenario cinta yang sama, lagi dan lagi. Kita ketemu orang yang salah, jatuh cinta, lalu tersakiti. Dan tanpa sadar, kita terus balik ke pola itu. Nah, kalo lo tumbuh tanpa sosok ayah yang hadir dan suportif, besar kemungkinan luka batin dari masa kecil ikut andil dalam pola hubungan lo sekarang.

Ketidakamanan emosional jadi salah satu dampak paling umum dari fatherless. Anak-anak yang dibesarkan tanpa ayah cenderung mengalami rasa takut ditinggalkan dan susah percaya sama orang lain (1, 3). Ketika lo tumbuh tanpa mendapatkan validasi atau kasih sayang dari sosok laki-laki dewasa pertama dalam hidup lo, rasa "gue gak layak dicintai" bisa jadi terbentuk dari sana.

Efeknya? Lo jadi gampang nerima cinta seadanya. Bahkan kalau itu menyakitkan.

Selain itu, ada juga kesulitan dalam mengelola emosi. Anak fatherless cenderung lebih mudah marah, lebih impulsif, atau justru menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa gak ngerti gimana cara mengekspresikan emosi mereka dengan sehat (6, 9). Dan ini berpengaruh langsung ke cara lo menjalin relasi. Lo jadi terlalu takut untuk kehilangan, jadi terlalu banyak memberi tanpa tahu batas, atau bahkan jadi orang yang gak bisa percaya siapa pun, termasuk pasangan sendiri.

Khususnya buat perempuan, kurangnya panutan laki-laki yang sehat bikin mereka gak punya referensi yang tepat soal pasangan yang baik itu kayak gimana. Menurut Kompasiana, mereka cenderung tertarik sama laki-laki yang keras, dingin, atau terlalu dominan karena secara gak sadar menganggap itu bentuk cinta. Padahal, bisa jadi itu kontrol, manipulasi, bahkan kekerasan emosional.

Dan yang paling mengkhawatirkan, anak fatherless cenderung mengabaikan dirinya sendiri. Mereka merasa harus terus berjuang untuk dicintai, bahkan di hubungan yang sudah jelas-jelas menyakitkan. Mereka gak percaya bahwa cinta yang sehat itu bisa hadir buat mereka tanpa harus “berusaha keras” atau berubah jadi orang lain (5).

Kondisi ini bisa terus berulang kalau gak disadari dan dibereskan dari akarnya.

Biar Gak Terjebak Lagi, Ini Cara Sembuhin Pola Fatherless

Oke, sampai sini lo mungkin udah mulai ngeh, “Wah, kayaknya ini gue banget.” Dan itu langkah awal yang bagus banget. Kesadaran itu penting, tapi jangan berhenti di situ. Sekarang saatnya lo mulai cari jalan buat sembuh. Ini beberapa hal yang bisa lo mulai lakukan:

1. Kenali Pola dan Akui Luka Lo

Salah satu langkah awal untuk healing adalah ngakuin kalau lo terluka. Lo gak harus marah ke masa lalu atau orang tua lo, tapi lo perlu jujur sama diri sendiri: “Gue butuh bantuan.” Lo juga bisa mulai journaling tentang relasi lo, pengalaman masa kecil, dan emosi yang sering muncul saat lo pacaran. Dari situ, lo bisa mulai melihat pola berulang.

2. Belajar Mengenali Red Flag

Kadang kita terlalu fokus sama “biar dia gak ninggalin gue,” sampai lupa buat tanya ke diri sendiri: “Dia cocok gak buat gue?” Anak fatherless sering terlalu fokus nyenengin orang lain, sampai gak sadar udah dikontrol, dimanipulasi, atau dijatuhin harga dirinya. Belajar untuk tahu mana yang sehat dan mana yang enggak adalah skill yang bisa lo pelajari. Lo bisa mulai dari baca-baca, ikut kelas psikologi dasar, atau diskusi sama orang terpercaya.

3. Bangun Self-Worth dari Dalam

Lo gak butuh orang lain buat bikin lo berharga. Tapi untuk bisa percaya itu, lo perlu waktu dan latihan. Mulai dari hal kecil: validasi diri sendiri, puji pencapaian lo, dan kasih ruang buat ngerasa cukup. Ini proses, tapi penting banget buat ngelindungin lo dari cinta-cinta yang nyakitin.

4. Dapatkan Support dari Profesional

Lo gak harus jalan sendiri. Kalo luka masa lalu ini udah terlalu dalam dan mengganggu banget, lo bisa banget ngobrol sama konselor. Di Satu Persen, lo bisa ikut sesi counseling bareng mentor atau psikolog yang akan bantu lo ngerti akar masalah lo dan cari solusi bareng-bareng. Serius deh, ini investasi terbaik buat diri lo sendiri.

Lagi pengen coba ngobrol dan menyembuhkan luka batin lo secara perlahan? Lo bisa coba Counseling bareng Life Consultation. Gak harus nunggu mental breakdown dulu buat mulai healing.

Kesimpulan

Gue tahu, jadi anak fatherless tuh bukan hal yang lo pilih. Lo gak minta dilahirkan di situasi yang minim kehadiran figur ayah. Tapi lo bisa pilih, mau tetap jalan di pola yang sama, atau mau berhenti, refleksi, dan mulai bangun hidup lo dari titik yang baru.

Gue gak bilang ini gampang. Karena faktanya, luka yang udah kebawa dari kecil itu dalam banget. Dan sering kali, kita gak sadar kalau luka itu ternyata ngontrol keputusan-keputusan penting dalam hidup kita—terutama soal cinta.

Tapi kabar baiknya, lo bisa sembuh. Lo bisa punya relasi yang sehat. Dan lo bisa belajar buat gak nyalahin diri sendiri atas masa lalu lo.

Proses ini bukan soal langsung “move on” dan tiba-tiba bahagia. Ini soal slow healing, yang kadang bentuknya cuma dari hal kecil kayak mulai berani bilang “enggak” saat lo gak nyaman. Atau mulai nulis di jurnal tentang kenapa lo ngerasa cemas setiap kali pasangan lo telat bales chat.

Healing itu proses. Dan lo layak jalanin itu, pelan-pelan, dengan cara lo sendiri.

Di Satu Persen, kita percaya kalau setiap orang bisa tumbuh dan berkembang meski masa lalunya kelam. Kita juga percaya, setiap luka itu bisa sembuh kalau lo kasih perhatian dan usaha. Dan lo gak harus ngadepin semua ini sendirian.

Kalau lo ngerasa berat dan butuh seseorang buat bantuin lo nyusun ulang kepingan hidup yang berantakan, coba deh konsultasi ke profesional. Gak ada yang salah sama minta bantuan. Malah itu bukti kalau lo cukup sayang sama diri sendiri buat nyari jalan keluar.

Yuk, mulai sesi counseling bareng mentor dari Life Consultation. Kadang kita cuma butuh satu langkah kecil buat mulai perjalanan panjang menuju hidup yang lebih sehat. Jadwalin sekarang di satu.bio/yuk-konseling.

Apa Itu Konseling?

Konseling adalah layanan konsultasi one-on-one dengan Psikolog Satu Persen untuk mengatasi masalah kehidupan yang mengganggu kehidupan sehari-hari dan membahayakan dirimu atau orang lain. Dalam sesi konseling, lo akan mendapatkan dukungan dan panduan dari psikolog berpengalaman untuk menghadapi tantangan yang lo hadapi.

Tiga Tanda Kamu Butuh Konseling dengan Psikolog

  • Menyakiti atau membahayakan diri sendiri
  • Menyakiti atau membahayakan orang lain
  • Mengganggu kehidupan sehari-hari

FAQ

Q: Gue fatherless tapi hubungan gue sekarang sehat-sehat aja. Emang pasti anak fatherless bakal terjebak toxic relationship?
A: Enggak, gak semua anak fatherless pasti akan terjebak dalam hubungan toxic. Tapi, kondisi ini bisa bikin lo lebih rentan. Kalau lo udah punya relasi yang sehat, itu berarti lo mungkin udah punya mekanisme coping yang kuat atau pernah dapet figur pengganti yang positif. Tapi tetap penting buat terus evaluasi hubungan dan tumbuh bareng pasangan.

Q: Apa bedanya fatherless sama broken home?
A: Fatherless lebih spesifik ngebahas tentang absennya peran ayah—baik secara fisik maupun emosional. Sementara broken home biasanya merujuk pada keluarga yang gak harmonis atau udah gak utuh, bisa karena perceraian, konflik orang tua, atau hal lainnya. Anak fatherless bisa datang dari keluarga broken home, tapi gak selalu.

Q: Kalau trauma masa kecil gue berat banget, tapi gue gak nyaman cerita ke orang, gimana dong?
A: Valid banget kok ngerasa kayak gitu. Gak semua orang bisa langsung terbuka. Tapi lo tetap bisa mulai dari cara yang paling nyaman buat lo. Misalnya journaling, nulis curhat di notes, atau bahkan mulai dengerin podcast atau video yang ngebahas hal serupa. Dan kalau udah siap, counseling bisa jadi tempat yang aman dan suportif buat mulai cerita.

Q: Emang bisa ya luka fatherless sembuh total?
A: Yang namanya luka, bisa aja gak 100% hilang. Tapi lo bisa belajar hidup berdampingan dengannya tanpa biarin luka itu ngontrol hidup lo. Itu yang disebut healing. Dan kabar baiknya: itu bisa banget lo capai.

Bagikan artikel

Disclaimer

Jika Anda sedang mengalami krisis psikologis yang mengancam hidup Anda, layanan ini tidak direkomendasikan.

Silakan menghubungi 119.